Tuhan, Aku Ingin Menjadi Empu

Cerpen Siti Khotimah (Radar Madiun, 05 Desember 2021)

DI suatu sore yang riuh, aku duduk memangku senja. Beberapa orang masih terlihat sibuk mengakhiri sore mereka.

Aku hanya duduk diam di batur. Aku terlihat kepayahan setelah menempuh waktu beberapa jam dari Bandung. Memang aku mengendarai mobil bersama suami dan anakku, namun beban yang sedang aku alami membuat lelah ini seolah tergandakan. Tepat beberapa waktu lalu, baru saja melintas pergi sesosok perempuan yang tak lain adalah tetangga sebelah rumahku. Lastri namanya. Aku masih saja terdiam beberapa saat setelah Lastri selesai menyapaku. Orang yang jarang bertemu denganku, justru melontarkan kalimat yang menurutku sedikit kurang pantas. Masih terulang di dalam memoriku obrolan singkatku dengan Lastri tadi.

“Lama tidak melihatmu Isma, mudik kapan nih?” sapa Lastri.

“Baru sampai tadi malam, Mbak. Apa kabarnya Mbak Lastri?” jawabku. Dia kupanggil mbak karena usianya terpaut empat tahun di atasku.

“Sehat. Wah, sibuk apa sekarang di Bandung, kerja di mana?” Lastri menimpali.

“Belum bekerja lagi, Mbak. Sekarang masih fokus mengurus Ardho. Kasihan, masih kecil,” jawabku lirih.

“Oh, anakmu yang autis itu. Kok tidak kerja? Apa tidak sayang sudah kuliah tinggi-tinggi sampai S-2?” Lastri mulai merespons dengan kalimat berani tanpa peduli perasaan yang diajak bicara.

“Ardho tidak autis, Mbak. Dia hanya hiperaktif,” aku menjawab dengan kesal.

Sepertinya Lastri tidak butuh jawabanku. Dia hanya ingin mencibir. Ah, aku sebenarnya tidak kaget lagi dengan sikap Lastri. Dia terkenal suka berkomentar pedas terhadap lawan bicaranya. Pertanyaan Lastri yang berani tadi membuatku berpikir. Apakah betul yang sudah aku lakukan selama ini? Jangan-jangan memang benar aku menyia-nyiakan ijazahku. Aku pun terdiam.

Lamunanku terbangun seketika. Ardho mengagetkanku dengan datang tiba-tiba. Dia mengalungkan kedua tangannya di leherku dari belakang.

“Ma, ayo masuk, sudah gelap. Ardho takut.”

Dia adalah Ardho, anak semata wayangku yang kini berusia lima tahun. Ardho anak yang sangat ceria, bahkan cenderung hiperaktif. Meskipun begitu, aku dan suamiku sangat menyayanginya. Kami berdua masuk ke dalam rumah. Aku bergegas menyiapkan keperluan salat Ardho dan suamiku.

Aku tidak ikut salat karena sedang dalam masa nifas, bukan karena usai melahirkan. Nifasku kali ini adalah akibat dari keguguran yang mengharuskan tindakan kuret atau pembersihan kantong janin di dalam rahim. Kami sekeluarga sengaja mudik ke kampung halaman di Solo demi menenangkan hatiku. Aku berharap udara Solo yang hangat dapat mengusir kesedihanku.

Aku mendekati suamiku. “Mas Alfiyan kan sudah lelah nyetir. Mas istirahat saja di kamar, biar aku yang menemani Bapak mengobrol sambil menunggu Ardho mengantuk,” pintaku kepada suamiku.

Aku lihat air mukanya terpancar letih hingga aku memintanya untuk beristirahat. Mas Alfiyan kemudian masuk kamar dan kulihat dia langsung mematikan lampu. Aku bergerak memasuki ruang televisi menemui bapak.

Nduk [1], yang sabar, ikhlas, legowo, percaya sama Gusti Allah. Semua yang terjadi pada kita pasti suatu kebaikan.” Bapak mulai menasihatiku pelan-pelan. Beliau memang paling mengerti diriku. Bahkan, tanpa banyak komunikasi pun, beliau selalu paham apa yang aku rasakan.

“Baik, Pak. Isma akan belajar ikhlas. Isma berusaha menjadi istri yang tegar. Istri yang njunjung dhuwur mendem jero [2], menjunjung rasa syukur dan memendam rasa sakit dalam hati dari takdir apa pun yang Isma terima.”

Aku berusaha menahan air mata yang seakan ingin menerobos keluar, namun aku tahan agar bapak terus melanjutkan bicaranya.

“Alfiyan sudah mulai lembut kan kalau bicara denganmu?” Bapak mulai bertanya serius. Bapak begitu detail memperhatikanku, sampai cara bicara suamiku saja beliau titen [3]. Aku dan Mas Alfiyan memang sudah menikah hampir tujuh tahun. Namun, kami belum begitu mengenal satu sama lain ketika dulu menikah.

“Sekarang Mas Alfiyan sudah banyak berubah, Pak. Terutama kalau bicara. Jadi, Bapak jangan khawatir,” aku menjawab sambil tertunduk.

Mas Alfiyan memang ada keturunan Madura. Bicaranya tegas dan bernada tinggi. Berbeda dengan bapak. Sosok yang aku anggap sebagai contoh laki-laki idaman. Beliau adalah bentuk jatuh cinta pertamaku terhadap laki-laki. Bapak begitu lembut jika bicara. Suaranya pelan namun tetap bersahaja. Hampir semua kalimatnya adalah nasihat dan perwujudan rasa syukur. Tidak pernah sekalipun semasa ibu masih hidup aku mendengar bapak berbicara bernada tinggi kepada ibu.

Ya, bapak dan Mas Alfiyan adalah dua sosok yang berbeda. Seiring berjalannya waktu, aku belajar kuat dan tidak lagi lembek. Mas Alfiyan tetaplah suamiku yang penuh tanggung jawab, tegas, dan berkarisma. Meskipun dia pria kaku dan sedikit galak, namun sebenarnya hatinya baik. Dia tetaplah suamiku yang harus aku hormati dan cintai apa adanya.

Malam menunjukkan pukul 21.00. Ardho masih aktif bermain lego di depan televisi. Ardho sangat menyukai lego. Hanya permainan lego yang dapat membuat dia tenang dan anteng. Dia berbeda dengan anak lainnya. Jika ada istilah “nyentrik”, mungkin ini tepat bagi Ardho. Dia tidak akan memilih permainan yang sama dengan temannya. Tidak juga mengoleksi barang-barang yang sama dengan anak sebayanya. Dia senang mengumpulkan ranting kecil untuk disusun menjadi mainannya sendiri. Terkadang dia menunjukkan sisi hiperaktifnya dengan melompat-lompat sepuluh menit tiada henti hanya karena diberi makanan favoritnya. Itulah Ardho anak spesialku. Biarpun ada yang mencibirnya, dia sebenarnya anak yang cerdas.

“Bapak, terima kasih sudah selalu mendoakan Isma. Isma merasa ringan menjalankan tugas sebagai istri sekaligus ibu. Semua ini tak lepas dari doa-doa Bapak.”

Aku berusaha mengawali pembicaraan setelah beberapa saat obrolan kami terhenti karena Ardho meminta diambilkan air minum.

Nduk, kamu itu perempuan, perempuan itu layaknya empu [4]. Kamu tahu empu kan? Dia orang yang mampu menajamkan besi menjadi keris, pedang, atau pisau yang bermanfaat bagi manusia. Jika besi hanyalah benda yang tumpul, bisa saja bermanfaat tapi tidak banyak. Empu-lah yang menempa besi menjadi tajam sehingga manfaatnya lebih banyak. Nah, dalam keluarga, empu seperti kamulah yang akan menempa anak-anakmu kelak menjadi manusia yang baik dan bermanfaat. Bapak yakin kamu bisa menjadi ibu yang hebat. Membesarkan anak-anakmu kelak menjadi orang yang baik, tangguh, dan sukses. Doakan Bapak berumur panjang ya, supaya bisa menyaksikan kesuksesan cucu-cucu Bapak kelak.”

Pada kalimat terakhir, suara bapak terdengar berat dan matanya berkaca-kaca. Sebelum bapak menyelesaikan kalimatnya, aku sudah tergugu dari tadi. Bagaimana bisa aku menahan tangis haru setelah mendengar wejangan bapak yang menenangkan dan mendamaikan. Seketika aku terbayang saat begitu beratnya perjuangan bapak membiayai kuliahku. Padahal ekonomi bapak tergolong pas-pasan waktu itu. Wajah-wajah kakakku pun terlukis satu-satu dalam mata tertutupku. Kami, tujuh bersaudara, namun hanya aku si bungsu yang meminta sekolah sampai perguruan tinggi. Mereka semua tidak ada yang keberatan. Bahkan terkadang aku mendengar kakak-kakakku mengalah demi tetap lancarnya uang bulananku.

Semua kesuksesan yang pernah aku raih tidak terlepas dari perjuangan orang tua dan saudara-saudaraku. Aku dan bapak sama-sama tergugu tak bersuara. Kemudian kami meninggalkan ruang televisi dan masuk kamar masing-masing.

Malam semakin pekat. Rumah kami sepi karena semua penghuni telah tertidur pulas. Kecuali aku yang begitu rindu bermunajat pada Allah. Bapak memang selalu bisa menyeretku kembali untuk tetap erat dengan yang Mahakuasa. Aku berzikir sampai kantuk benar-benar mengatupkan dua mataku.

***

Sebelum aku menikah dengan Mas Alfiyan, aku adalah perempuan karier yang sibuk. Aku menjadi manajer di sebuah perusahaan di Solo. Aku juga menjalankan bisnis online dengan dibantu stafku. Pun ada investasi di bidang properti. Hampir tidak ada hari tersisa untuk berlibur. Jika perempuan seusiaku menghabiskan hari liburnya untuk jalan-jalan ke salon atau piknik, tidak demikian denganku. Pada hari Sabtu dan Minggu aku menjadi dosen tamu di perguruan tinggi milik yayasan pondok pesantren di kota tetangga.

Masa saat itu adalah masa kebanggaanku. Impianku menjadi perempuan karier terwujud. Aku senang menghabiskan waktu mudaku untuk kegiatan positif. Aku memaksimalkan waktu untuk menggali potensi diri. Lelahnya hari-hariku juga sebanding dengan materi yang kudapat. Sebagai anak yang berusaha berbakti, aku ingin membantu keluarga. Mulai dari renovasi rumah sampai membelikan bapak kendaraan roda empat. Aku ingin membahagiakan keluarga dan ingin membalas jasa orang tua. Meskipun tidak akan cukup apa yang diberikan oleh seorang anak untuk membalas jasa orang tuanya.

Jalan hidupku yang sedang berada di atas angin seketika roboh ketika Mas Alfiyan menikahiku. Ternyata Mas Alfiyan memintaku turut serta menemaninya merantau di Bandung. Aku pun harus melepaskan karier yang sudah mapan serta usaha yang telah kubangun dengan rekan-rekanku. Sempat mengalami perang batin dan beradu pendapat dengan suami. Namun, karena nasihat dan dukungan dari keluarga, aku pun menurut kata suami.

Aku harus ikhlas melepas semua yang telah kuraih. Saat itu aku merasa suwung [5]. Keadaan di mana seluruh doa telah dilangitkan dan segala upaya telah digayuhkan, namun Allah-lah sang penentu jalan. Bapak juga yang kemudian menguatkan.

Menurut beliau, aku ini bukan hanya sebagai perempuan, namun juga sebagai wanita. Jika perempuan disebut bapak sebagai empu, wanita dalam istilah Jawa adalah wani ditata alias berani diatur. Artinya, wanita akan selalu dituntut untuk bisa menempatkan diri atau diatur oleh keadaan apa pun. Wanita juga harus luwes di mana pun dia ditempatkan.

***

Hari telah berganti pagi. Ketika pintu dan jendela mulai terbuka, angin kemarau menerobos masuk ke dalam rumah. Terkejutnya aku, tiba-tiba kulihat lantai rumah seluruhnya menjadi putih. Ardho ternyata sudah bangun lebih dulu dan menaburkan bedak tabur ke seluruh lantai rumah.

Aku berusaha mendekati Ardho dengan pelan. “Ardho sayang, kenapa bedaknya ditaburkan semua ke lantai, Nak? Nanti jadi licin lantainya.”

“Ardho mau main perosotan, Ma. Kalau licin kan enak jatuhnya,” Ardho berusaha menjelaskan keadaan sambil terus melakukan kegiatannya.

“Sayang, nanti kita main perosotan di taman saja. Sekarang kita bersihkan dulu bedak yang di lantai ini. Kakek bisa jatuh kalau lantainya licin,” aku memohon pada Ardho sambil memberinya contoh membersihkan.

Orang menyebut Ardho bandel dan nakal. Bagiku dia bukan nakal, melainkan anak yang kreatif dan berani. Hanya saja belum bisa menempatkan. Begitulah aku dalam menyikapi keadaan. Karena saat ini aku menjalani profesi sebagai ibu, sebisa mungkin aku harus banyak belajar tentang parenting [6]. Kondisi ini menuntunku untuk menjadi ibu yang baik bagi Ardho. Seperti kata bapak, bahwa aku ini empu.

“Dek, tadi malam tidur jam berapa? Maaf, Mas tidak menemani,” bisik Mas Alfiyan tiba-tiba. Aku pun kaget dan menengok ke arahnya.

“Tidak apa-apa, Mas. Terima kasih sudah menjadi suami yang baik untuk Isma,” aku membalas bisikannya lalu kututup dengan senyuman. Mas Alfiyan masih terdiam. Mungkin pikirannya berbicara, ada kejadian apa semalam sehingga istrinya berubah romantis.

Walau kini aku tidak lagi menjadi perempuan karier, aku sangat bangga menjadi empu dalam rumah tanggaku. Impianku beberapa tahun lalu untuk menjadi perempuan karier, bagiku, sudah tercapai. Kini, impianku ialah menjadi seorang perempuan yang berhasil dalam rumah tangga seutuhnya. Sebuah impian yang mulia bagiku. Meskipun sulit, namun aku yakin akan selalu ada jalan bagi hamba-hamba yang mau berusaha.

Perempuan yang berhasil dalam rumah tangganya ialah perempuan yang sukses sebagai istri dan ibu. Berhasil menjadi istri yang baik adalah berhasil menjadi pusat manajemen keluarga. Berhasil menjadi ibu yang baik artinya aku berhasil mewujudkan generasi yang baik bagi bangsa. Kesuksesan keluarga adalah dasar bagi kesuksesan suatu bangsa dan peradaban. ***

.

.

Siti Khotimah. Guru yang tinggal di Bandung.

.

Catatan:

[1] “Nduk” dalam adat Jawa adalah panggilan orang tua terhadap anak perempuannya.

[2] “Njunjung dhuwur mendem jero” merupakan bahasa Jawa yang bermakna mengangkat ke atas dan menimbun yang dalam. Ungkapan ini diartikan sebagai manusia yang pandai bersyukur dan pintar menyimpan masalah.

[3] “Titen” adalah bahasa Jawa yang memiliki arti memperhatikan.

[4] Istilah “empu”berasal dari bahasa Melayu klasik yang bermakna gelar kehormatan “tuan” atau orang yang sangat ahli dalam membuat keris.

[5] “Suwung” adalah bahasa Jawa yang berarti kosong, hampa.

[6] “Parenting” adalah cara untuk mengasuh dan mendidik anak.

.

Tuhan, Aku Ingin Menjadi Empu. Tuhan, Aku Ingin Menjadi Empu. Tuhan, Aku Ingin Menjadi Empu. Tuhan, Aku Ingin Menjadi Empu.

Arsip Cerpen di Indonesia