Sekar

Cerpen Fajar Irawati (Suara Merdeka, 19 Desember 2021)

AKU tidak menyangka, ternyata selama ini aku dibohongi oleh seseorang yang sangat aku sayangi. Sakit sekali rasanya, setelah kami sudah dekat ternyata dia sudah membohongiku dengan semua ceritanya selama ini. Sekar.!

“Maaf, Mama lebih memilih ibu kandung sendiri daripada Mama harus memilihmu. Silakan kamu tinggalkan rumah ini. Mama akan mengantarkanmu kembali ke rumah orang tuamu,” kataku.

“Maafkan Sekar, Ma. Sekar tidak akan mengulanginya lagi,” pintanya memelas.

“Saya sudah memaafkanmu, Sekar. Tapi keputusan Mama sudah bulat untuk mengembalikanmu kepada orang tuamu.”

Dengan isak tangis, aku mengambil salah satu tas baju yang tersimpan di lemari dan keberikan kepada Sekar untuk mengemas baju-bajunya.

“Silakan kemas baju-bajumu. Mama akan menunggumu,” kataku sambil menyerahkan tas baju kepada Sekar.

Sekar masuk ke dalam kamar dan mengemas baju-bajunya, sementara aku duduk di sofa di ruang keluarga sambil menunggunya.

Sekar keluar dari kamarnya dengan menenteng tas yang berisi baju-bajunya.

“Sudah siap? Ayo, Mama antar kamu pulang!”

Aku menyetir mobil dan Sekar duduk di sampingku. Dalam perjalanan menuju rumah Sekar, kami hanya diam tanpa sepatah kata pun.

Sebelum kami berangkat, aku sudah memberi kabar kepada orang tua kandung Sekar bahwa dengan berat hati keluarga kami akan mengembalikan dia.

***

Kuketuk pintu yang sudah terkelupas catnya. Gubuk reyot itu ditempati oleh keluarga yang benar-benar kekurangan.

Sambil menunggu penghuni rumah keluar, aku berdiri seraya melihat sekeliling rumah yang benar-benar kumuh. Sekar hanya duduk menunduk dan menangis di kursi kayu yang sudah lapuk.

“Silahkan masuk,” seorang perempuan tua dengan baju usangnya membuka pintu.

“Sekar! Kebangeten temenan koe. Koe dieman-eman nang wong sing gelem ngrumati koe malahan koe nggawe lara ati. Kebangetn temenan koe, Sekar.”

Kulihat Sekar hanya menunduk dan menangis.

Oalah, Bu. Ngapurane anak kula nggih, Bu.”

Nggih, Bu. Mboten napa-napa.”

“Begini, Bu. Saya mohon maaf. Hari ini saya kembalikan Sekar kepada Ibu. Ibu mungkin yang lebih tahu cara mendidik Sekar, karena Ibu adalah ibu kandungnya. Mohon maaf apabila saya dan keluarga tidak bisa melanjutkan merawat Sekar,” kataku sambil menahan sesak di dada.

Nggih, Bu. Kami juga minta maaf, Sekar sudah merepotkan keluarga Ibu.”

“Ibu, saya tidak akan berlama-lama di sini. Saya harus pulang karena masih banyak urusan yang harus saya kerjakan.”

Kulihat Sekar menangis dengan sesenggukan. Sebenarnya aku tidak tega meninggalkan Sekar. Sebenarnya aku masih sayang dia.

***

Sudah lama Ibu mengeluhkan tentang sikap dan perkataan Sekar. Namun, aku selalu mengabaikannya. Karena mungkin itu hanya perasaan orang tua yang terlalu sensitif terhadap sikap anak remaja. Aku tidak tahu ketika ibu menjalani hari-harinya bersama Sekar, karena selama ini aku bekerja.

Selama ini Sekar tinggal bersama kami, karena aku merasa kasihan dengannya. Aku bertemu dengan Sekar di sebuah kedai es di dekat rumahku. Saat itu, Sekar sedang duduk dan menangis. Kudekati anak kecil itu dan menanyakan mengapa dia menangis.

“Kenapa, Nak?” tanyaku.

“Orang tuaku mengusirku, Bu. Mereka sudah tidak sayang lagi denganku. Mereka jahat,” katanya sambil menangis.

“Siapa namamu?”

“Sekar,” jawabnya.

“Ayo, ikut Ibu ke rumah.”

Dia mengangguk dan kuajak dia ke rumah.

***

Sesampainya di rumah, aku menanyakan semua kepadanya. Dia bercerita tentang kisah hidupnya bahwa semua orang sudah tidak sayang dengannya. Aku merasa iba dengan ceritanya, terlebih lagi ketika dia bercerita bahwa ayah tirinya memerkosanya dan ibu kandungnya tidak membelanya.

“Kamu sekolah?” tanyaku.

“Iya, aku kelas delapan SMP.”

“Rumahmu di mana?”

“Di Jalan Sulawesi. Tapi aku tidak mau pulang lagi. Mereka tidak sayang denganku.”

Dari kisah yang diceritakannya, membuat hatiku tergerak ingin menyelamatkannya. Dia masih anak sekolah dan aku ingin masa depannya cerah.

Aku meminta izin kepada ibu dan suamiku untuk mengasuh Sekar. Suamiku yang bekerja di luar kota menyetujuinya, walau ibuku awalnya ragu untuk menerima Sekar. Namun, kemudian ibu menyetujuinya. Kedua anakku sudah besar dan mereka sedang melanjutkan sekolah di luar kota. Jadi, aku tinggal berdua dengan ibuku saja.

***

Aku mencari rumah Sekar untuk mendapatkan izin dari orang tuanya, agar Sekar bisa kurawat seperti anakku sendiri. Setelah menemukan rumah orang tua Sekar, aku sangat prihatin dengan kondisinya. Aku bertemu dengan ibu kandungnya saja. Tetapi aku tidak banyak bicara untuk mengorek tentang Sekar. Aku hanya percaya dengan apa yang sudah Sekar ceritakan kepadaku.

Ibu kandung Sekar mengizinkan aku untuk mengasuhnya. Dia mengatakan bahwa dia sangat senang ada orang yang mau membantu untuk mengasuh salah satu anaknya, karena kondisi ekonominya yang kurang mampu.

***

Hari-hari berlalu. Aku merawat Sekar seperti anak kandungku. Semua kebutuhan kupenuhi. Semakin lama, Sekar terlihat segar dan lebih cantik dibandingkan dengan pertama dulu, saat bertemu pertama kali dengannya.

Aku mengantar dan menjemputnya ke sekolah dengan mobilku. Kita sudah semakin dekat seperti anak dan ibu sebenarnya. Di hadapanku dia terlihat manis dan santun.

“Mama, tadi Sekar dimarahi Pak Guru,” kata Sekar tiba-tiba.

“Loh, kenapa?” tanyaku.

“Sepatu Sek*r seharusnya tidak seperti ini, tapi harus sepatu dengan model yang seperti ini,” kata Sek*r sambil menunjukkan gambar sepatu di marketplace online.

“Ya sudah, sepatu itu dibeli saja,” kataku.

Sepatu baru, baju baru, semuanya kubelikan untuk Sek*r. Mungkin aku sudah telanjur sayang kepadanya.

***

Aku begitu lelah sepulang dari kerja. Setelah membersihkan badan, aku rebahan di sofa panjang sambil menonton televisi.

Ibu mendekatiku sambil berkata, “Ning, Ibu mau cerita.”

“Cerita apa, Bu?” tanyaku.

“Akhir-akhir ini, sikap dan perkataan Sek*r tidak baik. Tolonglah nasihati dia,” kata Ibu.

“Nggak baik bagaimana maksud Ibu?”

“Dia bersikap kasar sama Ibu,” kata Ibu.

“Mungkin dia masih remaja, Bu. Kita perlu mendidik bersama-sama,” kataku.

Ibu hanya diam dan tidak meneruskan perkataannya lagi.

***

Malam itu, aku ingin menengok Sek*r di kamarnya. Terlihat dia sudah tidur nyenyak di tempat tidur dengan selimut baru yang dia minta kepadaku dua hari yang lalu. Seperti anak sendiri, kubelai kepalanya. Kupandangi wajahnya yang ayu dan kusisipkan doa agar masa depannya baik.

Saat aku akan keluar dari kamar, telepon genggam Sek*r yang tergeletak di meja bergetar. Aku menghentikan langkah. Baru saja akan kuangkat, telepon genggam itu berhenti bergetar. Aku penasaran, siapa yang baru saja menelepon Sek*r?

Aku mengecek panggilan tidak terjawab tadi. Ternyata ada tiga panggilan tak terjawab dari Rangga. Semakin aku penasaran dan kubuka pesan-pesan yang ada di WhatsApp. Banyak pesan dari teman-teman Sek*r.

Agar nyaman membacanya, aku membawa telepon genggam Sek*r ke kamarku. Satu per satu pesan itu kubaca. Semakin lama, tanganku kian bergetar saat membaca pesan-pesan tersebut. Jantungku berdegup keras.

Ya Tuhan, aku tidak menyangka. Di dalam pesan-pesannya, dia mengatakan kepada teman-temannya bahwa dia diperlakukan seperti pembantu oleh keluarga kami. Keluarga kami jahat dan banyak sekali keburukan yang diceritakannya. Padahal itu semua tidak benar.

Malam itu aku tidak bisa tidur. Tak terasa butiran air mataku menetes. Seseorang yang sudah kuanggap seperti anak sendiri, dengan tega mengatakan hal yang tidak benar. Dia memfitnah keluarga kami. Sementara Rangga yang tadi meneleponnya adalah pacarnya. Padahal kukira dia anak yang lugu dan pemalu. Namun, setelah kubaca chat-nya dengan Rangga, sungguh di luar dugaan.

***

Esok pagi, aku hanya terdiam. Sek*r menyapaku lembut. Namun, aku hanya membalas dengan senyum kecut. Aku simpan telepon genggamnya. Biar saja dia mencari. Aku pergi ke kantor seperti biasa. Sementara Sek*r libur karena hari itu hari Sabtu. Seharusnya aku libur, tapi aku harus kerja lembur karena ada tugas yang harus segera diselesaikan.

Seperti hari-hari biasa, aku berangkat ke kantor dengan mengendarai mobil. Di tengah perjalanan, aku lupa membawa flashdisk yang berisi data-data pekerjaan yang harus kuselesaikan. Mau tidak mau, aku harus kembali pulang.

Sesampainya di rumah, aku mendengar keributan.

“Di mana hapeku, Eyang? Pasti Eyang yang mengambilnya! Dasar orang tua peyot!”

Lalu, kulihat dengan mata kepalaku sendiri, Sek*r mendorong ibuku sampai terjatuh.

“Sek*r!” teriakku menghentikannya.

Aku segera memapah dan menatih Ibu untuk duduk di sofa.

“Ini hapemu! Mama yang menyimpannya. Mama sudah tahu sebenarnya tentang kamu. Kamu pembohong, Sek*r!”

“Maafkan Sek*r, Ma,” kata Sek*r sambil menangis.

“Ningrum, kalau Sek*r masih terus di sini, biarlah Ibu yang pergi meninggalkanmu,” kata Ibu sambil menahan sakit.

“Tidak, Bu. Aku akan tetap menjaga Ibu.”

“Mama sudah tidak percaya dengan kamu lagi, Sek*r. Hape ini sebagai bukti bahwa kamu pembohong. Teganya kamu bohongi keluarga kami selama ini.”

***

Kejadian itu membuatku benar-benar terpukul. Perlahan, aku mencoba melupakan Sek*r. Namun, sebenarnya sampai saat ini, aku masih sayang dengannya. Kadang aku merindukannya. Sudahlah, biarlah dia menjadi sebuah cerita dalam hidupku. Aku hanya bisa mendoakannya. Semoga kelak dia berubah menjadi anak yang baik dan mempunyai masa depan yang cerah. ***

.

.

Fajar Irawati, alumnus FKIP Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Purwokerto dan guru di SMP Negeri 4 Cilacap.

.

.

Arsip Cerpen di Indonesia