Cerpen Maya Susi Indrawati (Pontianak Post, 16 Januari 2022)
AKU berjalan malas-malasan keluar kamar. Suami yang membangunkanku untuk salat subuh sudah melaju dengan motornya menuju masjid terdekat. Setelah membersihkan diri, aku pun menunaikan kewajiban. Lalu, seperti biasa menjalankan rutinitas sehari-hari. Mencuci piring dan baju kotor, menanak nasi, dan menyiapkan keperluan orang seisi rumah. Sungguh, kegiatan berulang yang sangat membosankan.
Hari ini ulang tahunku, usiaku sudah 37 tahun. Usia yang cukup dewasa kalau tidak mau dibilang tua. Namun, keadaanku begini-begini saja. Tidak ada prestasi yang membanggakan. Tidak ada perolehan yang besar. Kendaraan masih roda dua, pun lebih sering mogoknya. Jalan-jalan ke luar pulau atau keluar negeri? Keluar kecamatan saja sudah dua tahun tidak kujalani. Semua gara-gara pandemi. Sebenarnya, Covid 19 itu alasan saja. Karena inti yang sebenarnya, karena tidak ada dana.
Tidak ada kejutan di subuh buta. Entah kado berisi ponsel baru, motor baru, ataupun buket uang seperti yang sedang viral. Sebuah kue tart atau sebatang cokelat saat makan malam romantis di restoran? Mungkin sebuah kecupan? Ah, aku jadi senyum sendiri. Terlalu banyak berkhayal membuatku jadi malu sekaligus geli. Aku sadar, tidak mungkin semua kudapatkan. Cerita seperti itu hanya terjadi pada teman-temanku di media sosial. Kadang aku berpikir, betapa beruntungnya mereka, mendapatkan suami yang romantis juga kaya-raya.
Kegusaran hati berimbas sampai siang. Aku jadi uring-uringan. Melakukan pekerjaan setengah hati. Senyum pun nyaris hilang. Anak-anak menjadi korban omelan. Sesekali aku malah mendaratkan cubitan. Belum lagi bentakan. Huh, aku merasa hari ulang tahun ini menjadi buruk sekali.
“Mengapa muka berubah jadi lemon? Asam?” Bang De, suamiku, pun menegur.
“Kehabisan gula!” jawabku kasar.
Bang De hanya tersenyum. Lalu bergurau lagi dengan anaknya. Aku jadi makin keki.
“Suami ndak peka,” rutukku sendiri. Aku memilih menyendiri ke ruang depan. Ponsel tidak lupa aku bawa dalam genggaman.
Mbak Sri, tetangga sebelah rumah pengasuh anakku yang kecil lewat di depan teras. Bakul besar di punggung tampak susah payah dipikulnya. Aku yakin, itu pasti berat sekali. Mbak Sri memang berjualan keliling desa. Hasil kebun memenuhi bakulnya. Sayuran hutan seperti pakis dan rebung pun turut serta menemani daun singkong dan ubinya. Jualan memang mata pencahariannya. Membantu suami yang sudah ringkih dan tidak kuat lagi bekerja. Ditambah lagi sakit-sakitan, butuh biaya membeli obat dan ongkos jasa pengobatan. Berat sekali cobaan Mbak Sri. Padahal usianya lumayan muda, sekitar lima tahunan saja lebih tua dariku. Namun, tanggung jawabnya lebih besar dibandingkan perempuan lain.
“Sayurnya, Kak Asih.”
“Ada apa jak ni?” ujarku menghampiri.
“Banyak, silakan dilihat,” Mbak Sri menurunkan bakulnya yang masih penuh. Aku mengambil sebungkus sayur nangka matang. Seikat ubi nampaknya enak digoreng sore ini. Setelah menerima uang pembayaran, Mbak Sri pamit pulang. Aku jadi kepikiran, betapa masih lebih baik nasibku. Kerja tidak terlalu menggunakan tenaga, dan gaji rutin kuterima.
Aku kembali melihat ponsel. Menikmati status teman-teman yang tidak hanya berteman di dunia maya, tetapi juga di dunia nyata. Dira mem-posting beberapa foto. Sepertinya sedang liburan. Mobil mewah, kamar hotel dengan fasilitas wah, serta anak sekaligus orang tuanya. Dira adalah sahabat sekaligus teman main sewaktu kecil. Keluarganya memang orang berada, jadi liburan seperti ini tentu saja sudah biasa. Tunggu, mana foto suaminya? Kenapa tidak ikut serta? Oh iya, aku baru mendapat kabar bahwa kemarin hubungan Dira dan suaminya sedang tidak baik-baik saja.
Aku terus menggulir layar ponsel. Sekarang akun Asifa, adik tingkatku. Pekerjaannya sama denganku, cuma beda kabupaten saja. Asifa sedang presentasi di depan forum, berbicara dengan lancar dan berkarisma. Media sosialnya di-setting sedang siaran langsung. Ribuan mata sedang memandang tentunya. Sekelabat kagum muncul dalam dada. Aku langsung mengingat diri sendiri, lebih sering bekerja di tempat sepi. Lagi-lagi, iri menelusup dalam hati.
Kegiatan kulanjutkan. Foto dari akun temanku sedang berjoget ria. Oh, bukan joget, tetapi senam zumba. Aurat terlihat kemana-mana. Cepat aku menggulir layar. Lagi, orang yang kukenal baik dan teladan. Mengapa ada rokok terselip di jarinya? Tidakkah ia sadar, muridnya bisa saja melihat lalu mencontohnya? Aku tanpa sadar mengucapkan istighfar.
“Jangan suka lihat media sosial. Kalau ndak bisa menyaring berita yang dibaca bisa berbahaya,” Bang De muncul tiba-tiba. Lalu duduk di kursi yang ada di sebelahku.
“Cuma baca-baca berita,” aku berkilah.
“Pelangi itu, Dek, selalu di atas kepala orang lain. Tidak pernah ada di kepala kita.”
Aku diam saja. Bang De sedang dalam mode ceramah. Lebih baik aku mendengarkan daripada nanti kena omelan atau malah terjadi pertengkaran.
“Kondisi orang di media tidak bisa menjadi ukuran. Kalau Adek memaksa, kita pasti selalu merasa kurang. Seharusnya kita banyak memandang ke bawah, kawan-kawan dekat, para tetangga banyak yang susah hidupnya. Hidup kita masih lebih baik dari mereka, jauh lebih baik. Keluarga kita belum pernah kelaparan. Rumah pun ada walaupun kecil dan sempit, tetapi kita ndak kehujanan. Anak-anak masih minum susu, bukan air putih tanpa rasa.”
“Jangan malu naik bus, masih banyak yang tidak bisa jalan karena sakit. Dunia itu cuma sebentar, Dek, ndak ada apa-apanya. Ibadah yang diperbanyak. Jangan ke-pede-an seakan hidup masih lama. Yang muda saja banyak yang berangkat lebih dulu,” Bang De melanjutkan sambi menunjuk ke atas.
Aku menundukkan kepala. Orang di sebelah ini, memang jarang ngomong. Namun, sekali ngomong suka banyak benarnya. Aku menyadari, di usia yang semakin bertambah setiap tahunnya, harusnya aku memperbanyak ibadah. Bukannya sibuk memikirkan hidup yang selalu merasa kurang, tidak pernah cukup. Bukankan itu sifat asli manusia? Harusnya aku bisa menghindarinya. Bukan malah sebaliknya, menuruti hawa nafsu yang tidak pernah ada habisnya.
“Masih banyak yang bisa Adek syukuri,” Bang De menepuk bahuku lembut. Lalu beranjak meninggalkan aku. Suara kumandang azan asar telah terdengar. Aku mengikuti kepergiannya dengan pandangan mata.
Benar. Aku memang hanya kurang bersyukur. Bukankah hidupku sudah banyak sekali kemudahan. Kenapa aku masih merasa kurang? Bukankah jika bersyukur, Allah akan tambahkan nikmatnya? Berlipat ganda? Kenapa aku tidak percaya dengan janji-Nya?
Allah selalu memberikan apa yang hamba butuhkan. Bukan apa yang hamba inginkan. Contohnya Bang De. Ia tidak romantis dengan kata-kata, tetapi perlakuannya kepada istri sangat lembut dan menyayangi. Ia mungkin saja tidak pernah memberikan hadiah, tetapi bukankah ia tidak sungkan memegang sapu dan melipat pakaian? Bang De jarang mengajakku jalan-jalan, tetapi kalau jalan-jalan pantang sendirian. Isteri dan anak-anak wajib ada di boncengan. Suamiku mungkin tidak sehebat suami orang lain, tetapi suamiku yang terbaik pilihan Tuhan.
Orang di luar sana mungkin saja bahagia. Orang di luar sana mungkin saja punya banyak harta. Orang di luar sana mungkin saja punya keduanya, atau malah semuanya. Aku hanya harus mengubah mindset, jangan lihat yang orang punya, tetapi nikmati, jaga, dan syukuri yang aku punya.
Kue ulang tahun, kado dan pesta kejutan mungkin saja tidak akan aku dapatkan selamanya, sepanjang usia. Paling tidak, mulai tahun ini, aku akan menikmati yang aku punya karena bahagia itu sesuai kehendakku, bukan kehendak orang di luar. ***
.
Kisah 19 Desember. Kisah 19 Desember. Kisah 19 Desember. Kisah 19 Desember.
.