Oleh Hafis Azhari (Ruangsastra.Com, 23 Februari 2022)
DALAM suatu acara bedah buku Pikiran Orang Indonesia (baca: POI) yang diadakan oleh para mahasiswa Banten, dan dihadiri oleh tokoh masyarakat, ulama, akademisi, ormas hingga kalangan santri di pesantren Al-Bayan, Rangkasbitung, Banten, seorang peserta angkat bicara, menanyakan pendapat saya soal agresi militer Israel ke wilayah Palestina.
Sebagai pembicara utama, saya menganalogikan persoalan itu dengan seorang ibu yang memiliki dua anak, putera dan puteri. Suatu hari si bungsu memecahkan mainan milik kakaknya yang putera, kemudian ia dipukulnya. Maka, dengan spontan si Ibu membela adiknya yang dipukul oleh sang kakak. Biarpun kakaknya itu berdalih bahwa adiknya yang melakukan kesalahan terlebih dahulu. Apalagi, jika mainan itu milik adiknya yang puteri, lalu dipecahkan oleh si kakak, tentu pihak orang tua—bahkan orang tua sedunia—akan memahami di posisi mana mereka harus berpihak.
Dengan analogi itu, maka sikap saya mengenai Palestina dan Israel cukup jelas. Dengan tembok-tembok keras yang menjulang-tinggi, jelas tidak sepadan dibandingkan tomat-tomat pecah yang terlempar ke arahnya. Meskipun si tembok dalam posisi benar, dan tomat dalam posisi salah, tetap saya akan membela tomat, sebagaimana adik perempuan yang memukul kakaknya yang laki-laki. Tidak sepantasnya si kakak membalas dengan pukulan yang sama, apalagi pembalasan itu sampai berlebihan.
Lalu, muncullah karya sastra yang mendramatisasi secara tidak fair dan tidak proporsional, seolah-olah adik balita yang perempuan itu mengancam ingin melukai kakaknya. Sehingga, imajinasi si kakak dihantui oleh ancaman adiknya yang memegang tomat merah itu. Terlebih jika imajinasi itu disusupkan ke dalam pikiran dunia, dengan mendramatisasi bahayanya seorang anak kecil keturunan warga Palestina?
Terkait dengan ini, saya pernah membaca karya seorang penulis terkenal keturunan Israel—yang dipuja-puji oleh sebagian penulis kita—membangun imajinasi publik seolah-olah kita harus membela tembok yang berada di posisi yang benar. Tetapi saya dengan tegas berpendapat, bahwa tidak ada alasan kita membela si kakak putera, yang dengan tega memukul adiknya yang puteri, dengan alasan mainannya pecah. Dengan itu, saya pun menyoal kapasitas sastrawan tersebut, untuk tujuan dan kepentingan apa, karya-karya semacam itu diciptakan dan disebarluaskan?
Analogi yang saya sampaikan di depan hadirin dan tokoh masyarakat Banten, sangat jelas. Dalam banyak kasus kita sering menemukan hal yang esensinya sama. Bagaimana mungkin saya tidak membela para pemuda dan mahasiswa yang berdemonstrasi pada peristiwa Mei 1998—juga peristiwa politik 1965—yang hanya bersenjatakan tomat dan telur, lalu dibalas dengan kekuatan senjata Orde Baru (ABRI), yang identik dengan tembok-tembok beton yang menjulang tinggi. Tentu saja tidak sebanding antara kerikil dan ketapel, jika harus dibalas secara membabi-buta oleh ledakan fosfor berwarna putih berjamur, roket, bom dan tank-tank.
Senjata vs Tubuh Manusia
Mungkin kurang tepat jika hakikat tubuh diibaratkan keong atau kerang laut yang keras. Tetapi, ketika menghadapi kekuatan senjata, tubuh kita ini hanyalah telur yang dikelilingi oleh cangkang-cangkang rapuh. Itulah yang saya tuliskan dalam novel POI yang cover-nya bergambar otak transparan, yang hanya diselubungi batok kepala yang hanya sebesar batok kelapa yang mudah pecah. Bagi saya, setiap individu warga negara, tak lain adalah jiwa-jiwa unik yang merupakan amanat dan titipan Tuhan. Membunuh satu jiwa orang Indonesia, tak ubahnya dengan membunuh jiwa manusia secara keseluruhan.
Kehidupan seorang individu, ibarat bulir-bulir tetesan hujan yang memiliki keunikan tersendiri. Setiap bulir yang jatuh takkan tergantikan. Ia memiliki emosinya sendiri, makna dan sejarahnya sendiri. Ketika ia terserap oleh kehendak kolektif, ia takkan kehilangan integritas keakuan dan individualitasnya.
Dalam novel POI, saya menggambarkan para tokoh—terutama Haris—sedang menghadapi kekuatan sistem yang paralel dengan wujud tembok yang tinggi dan kokoh itu. Sistem seharusnya melindungi dan melayani kita, tetapi dalam banyak kasus ia dapat mengejawantah dengan caranya sendiri, dengan tafsirnya sendiri, tiba-tiba membunuh kita atau menyebabkan kita membunuh orang lain. Hal ini begitu kental pada tokoh “Arif”, yang namanya begitu alim, santun dan islami, tetapi oleh karena sistem, ia mampu melakukan kejahatan yang dingin, efisien dan sistematis.
Ketika dituntut oleh pertanyaan, lalu apa yang bisa dilakukan oleh saya untuk merombak sistem itu? Saya hanya menjawab bahwa kita sebagai penulis, hanya mampu berbuat semampu kita.
Ya, saya bukanlah penguasa, dan bukan bagian dari sistem kekuasaan. Tetapi, sebagai orang yang memiliki iman, saya dituntut untuk melakukan sesuatu yang bermaslahat bagi umat. Dan melalui bacaan (novel) sedapat mungkin saya akan mengangkat jiwa setiap individu dari keunikan manusia-manusia Indonesia kepada sinar dan cahayanya yang bermartabat.
Seketika itu saya berpikir, bahwa pemuda malang yang dicurigai itu, bahkan ratusan orang yang sambung-menyambung duduk di bangku terdakwa, yang sekujur tubuhnya luka karena penganiayaan, yang sebagian telah menjadi korban-korban Orde Baru hingga tewas, boleh jadi mereka adalah tunas-tunas bangsa yang paling berbakat di negeri ini.
Boleh jadi mereka adalah pemuda-pemuda terbaik harapan bangsa, penegak-penegak keadilan dan perdamaian di dunia ini.
Atau boleh jadi mereka itu calon-calon ilmuwan, ulama dan seniman peraih nobel, yang banyak menyuarakan nasib anak-anak manusia di belahan bumi ini, dan terus berjuang untuk tidak memihak berat-sebelah kepada kekuasaan kosmopolit yang serba terselubung dan serba memakan banyak tumbal dan korban. (POI hal. 102-103)
Problem Politik 1965
Menulis tentang problem politik Indonesia di seputar tahun 1965 adalah tanggung jawab moral yang tak terelakkan. Tugas kita adalah memberi makna baru dan nuansa khusus pada kata-kata dalam susunan bahasa Indonesia yang sudah terhampar. Ada bentangan luas yang ada di hadapan kita. Problem politik 1965 adalah wilayah subur yang tinggal menunggu waktu untuk digarap para penulis milenial kita.
Tujuan dari penulisan novel POI tak lain sebagai peringatan bagi sistem kekuasaan (kapan pun, di mana pun, dan siapa pun pengembannya) agar berhati-hati dalam memperlakukan setiap individu manusia Indonesia, karena perlakuan itulah yang akan menentukan hakikat dirinya di mata sejarah. Saya menyadari sepenuhnya, bahwa itulah tugas dan amanat yang harus dipikul oleh setiap penulis dan intelektual kita.
Pada prinsipnya, kita bekerja sambil terus mengklarifikasi keunikan manusia-manusia Indonesia melalui jalan cerita yang kita goreskan lewat pena. Kita menuliskan perihal kisah-kisah kehidupan dan kematian, suka dan duka, lapang dan sempit, cinta dan keputus-asaan. Kita bisa membuat orang menangis dan gemetar, takut dan berani, sedih dan bahagia, hingga tertawa terbahak-bahak.
Sewaktu kecil, saya menyaksikan mendiang ayah saya duduk di atas sejadah dan berdoa setelah melakukan salat. Ketika saya bertanya, untuk apa kita berdoa, dan siapa yang Ayah doakan. Ia hanya menjawab singkat, bahwa kita perlu berdoa untuk kebaikan nasib hidup kita, baik di dunia maupun di akhirat.
“Apakah untuk umat Islam saja kita berdoa?” tanya saya lagi.
Pandangannya menerawang dan berkaca-kaca, lalu jawabnya, “Untuk kaum muslimin dan seluruh umat manusia.”
Sebagai penulis dan intelektual, kita harus sanggup melampuai keakuan kita, sentimen agama, ras maupun kewarganegaraan kita. Bahkan, kita harus sanggup melampaui wawasan pemikiran tentang fenomena tomat bila dihadapkan dengan tembok-tembok beton yang kokoh dan tinggi. Tak usah bermimpi dan berkhayal untuk memenangkan tembok dan sistem, karena setiap diri kita hanyalah telur yang cangkangnya rapuh.
Kita hanya memiliki harapan, agar mengasah keyakinan bersama, bahwa setiap jiwa manusia memiliki makna yang unik dan otentik yang tak tergantikan dengan makhluk apa pun. Dengan menulis karya sastra, kita bisa memancarkan kehangatan untuk ikut-serta menyatukan jiwa-jiwa manusia secara bersama-sama.
Melalui novel POI, saya ingin menyampaikan pesan itu kepada masyarakat dunia, dan khususnya Indonesia. Sebab, sistem dan tembok tidak memiliki pemikiran semacam itu. Ia hanya punya penafsiran yang didasari oleh “ideologi” yang menekankan identitas kolektif untuk menegasikan yang lain (other).
Berpikir mendalam akan sulit dijumpai oleh tokoh-tokoh semacam Arif yang pernah menjadi kaki-tangan penguasa dan sistem. Hanya orang yang akal sehat dan jiwanya hidup akan mampu mengajukan pertanyaan eksistensial dan berani berpikir secara reflektif. Logika dari pertanyaan eksistensial melampaui cara pandang yang bersifat prosedural dan pragmatis belaka.
Untuk itu, sebagai penulis dan intelektual, hendaknya kita sanggup meluangkan waktu sejenak untuk memikirkan hal yang mendalam sekaligus mendasar ini. Masing-masing dari kita memiliki jiwa yang nyata dan hidup. Kita tidak boleh membiarkan sistem mengeksploitasi dan mendikte hajat hidup kita semua. Sebab, pada hakikatnya bukanlah sistem yang menciptakan kita, melainkan kita sendirilah yang menciptakannya. ***
.
.
Hafis Azhari. Penulis novel Pikiran Orang Indonesia dan Jenderal Tua dan Kucing Belang.
.
.