Bangkai Tikus di Bibir Ibu

Cerpen Rahma Syukriah Sy (Kedaulatan Rakyat, 22 April 2022)

AKU melihat bangkai tikus bergelayut di bibir Ibu, akhir-akhir ini aku melihatnya setiap hari. Aku yang malah terheran-heran kenapa orang-orang tak keheranan melihat itu. Apa aku berhalusinasi?

Pernah aku menatap Ibu lekat-lekat, sambil memikirkan setiap kalimat yang keluar dari mulut Ibu. Benar bangkai tikus itu bergelayut di bibir Ibu. Kecil sekali, mungkin sejenis celurut, mungil, tapi baunya jangan ditanya, ketika Ibu berbicara, menggerutu bahkan mendehem pun, busuknya nyata sampai ke hidungku.

Aku tak tahu kapan persisnya bangkai tikus itu bergelayut di sana. Mungkin ketika ibu bicara, “Kok bisa SC, sih, Sita? Kan udah Ibu bilang jangan males, rajin jalan pagi!” Duh, baunya sungguh tengik.

Lamunanku sebentar tadi dibuyarkan oleh tangisan Jingga, anakku. Baru tiga bulan umurnya, selama itu pula Ibu tinggal bersamaku.

“Sita… Anakmu itu, lho, nangis terus.” Belum sampai Ibu berjalan menuju kamarku, bau busuk kembali tercium.

Teriakan Ibu kuabaikan, lalu kugendong Jingga hendak menyusuinya. Sebentar saja Jingga tenang, kemudian ia menangis lagi. Kembali kutawarkan ASI, semakin kusodorkan semakin Jingga berteriak kencang. Sebenarnya sudah berulang kali ini terjadi, tapi aku berusaha kuat menyusui Jingga secara langsung, kadang kususui sambil digendong, berbaring, sambil ditimang-timang. Kali ini nihil.

Ibu datang tergesa-gesa membawa dot dan langsung merampas Jingga dari pangkuanku. “Sini! Sama Ibu aja. Kemarin Ibu kasih minum mau. Jingga tu ndak kenyang nyusu sama kamu, orang kempes gitu, mana ada gizinya.”

“Itu air apa, Bu?”

“Teh manis, Jingga suka, kan? Kemarin suka ya, Sayang?” Ibu menimang-nimang Jingga sambil memegangi dot yang disedot dengan lahap oleh Jingga.

Sebentar saja teh manis itu sudah dilahap habis. Ibu menarik ujung dot dari mulut Jingga, tangisannya kembali, mulutnya mencari-cari.

Ibu memberikan Jingga kepadaku, berlalu pergi entah ke mana, lalu secepat kilat datang kembali.

Tampak mulut Ibu bergerak-gerak mengunyah sesuatu, sementara Jingga tangisnya semakin menjadi-jadi. Sambil menggendong Jingga Ibu merapatkan mulutnya pada mulut Jingga. Tangis jingga tenang, lalu ikut pula melumat sesuatu yang diberikan mulut Ibu tadi.

“Itu apa, Bu?”

Ndak usah kaget begitu, ini cuma pisang.”

“Ya ampun, Bu. Berapa kali Sita bilang, Jingga baru boleh makan nanti, kalau sudah enam bulan dan teh manis itu….”

Tak mampu lagi aku melanjutkan kata-kata. Ibu bersikukuh Jingga lapar dan haus, dan ASI yang kuberikan tidak cukup. Percuma selama ini berdebat tentang teori bingung puting dan MP-ASI dini. Selalu Ibu katakan, “Dulu Ibu selalu begitu, kalian adik beradik baik-baik saja, ndak ada yang mati muda.”

***

Orang-orang terheran-heran melihatku tergeletak di lantai bersimbah darah karena berupaya menggunting mulutku sendiri, mereka tak mengerti. Aku tengah mencari-cari bangkai tikus yang sebelumnya melekat di bibir Ibu.

Aku sudah mencarinya di mulut Ibu, memakai gunting bunga, menggoroknya hingga ke pangkal rahang, anehnya bangkai tikus itu tak ada lagi di sana. Jingga masih menangis, kugendong ia, sementara Ibu terkapar, aku curiga mungkin saja bangkai tikus itu berpindah ke mulut Jingga. Bukankah tadi Ibu menyuapi pisang yang Ibu kunyah lalu langsung menempelkan mulutnya pada Jingga. Tengah jingga menganga menangis sekuat tenaga, dengan gunting yang sama kucabik mulutnya, mengorek-ngorek lidah mungilnya, kubalik-balik. Tak ada.

Aku curiga, bangkai tikus yang kulihat bergelayut di bibir Ibu, berpindah ke bibirku. ***

.

.

Jatiwaringin, 07 Februari 2022

*) Rahma Syukriah Sy, penikmat puisi dan karya sastra yang menghabiskan hari-hari bermain bersama dua buah hati yang lucu-lucu dan adik-adik di Rumah Belajar Ka Rahma.

.

Bangkai Tikus di Bibir Ibu. Bangkai Tikus di Bibir Ibu. Bangkai Tikus di Bibir Ibu.

Arsip Cerpen di Indonesia