Cerita Cinta Tanpa Cinta

Cerpen De Eka Putrakha (Radar Mojokerto, 24 April 2022)

BAGINYA perasaan cinta cukuplah untuk dirasa. Tidak perlu dikatakan atau diumbar pada orang yang dicintai. Sebab cinta itu sebuah rasa yang begitu abstrak dan misterius. Oleh karena itu, merasakan cinta baginya suatu hal yang istimewa. Tidak untuk dikatakan, namun untuk disimpan hingga waktu yang tidak dapat ditentukan.

Begitulah yang pertama kali dirasakannya saat-saat akhir masih memakai seragam putih-merah. Merasakan cinta bagi seorang bocah bau kencur untuk pertama kalinya, dan ia hanya sebatas merasakan. Sekali lagi, tidak untuk dikatakan apalagi diumbar.

Dia merasakan tatapan yang tidak biasa dari gadis berambut panjang itu, teman sekelasnya. Mata bulat dan bening itu seolah telah menghipnotisnya berkali-kali. Hampir setiap hari, hampir setiap saat. Lantas ia tidak akan menyiakan waktu di sekolah untuk tidak melihat gadis itu, walaupun sesaat. Walaupun apa yang dirasakannya tidak akan pernah diketahui gadis berlesung pipit itu. Sebab cintanya misterius.

Berkali-kali ia berharap akan disapa oleh gadis itu. Namun, tidak. Gadis itu satu di antara sembilan siswa perempuan di kelasnya, dan dia satu-satunya siswa perempuan yang jarang sekali bercakap dengannya. Ada banyak siswa laki-laki yang telah dipilihnya sendiri untuk diajak mengobrol. Beruntunglah mereka, tapi aku lebih beruntung telah memendam rasa untuknya. Walaupun hanya sebatas perasaan yang tidak ingin dikatakan. Sementara mereka hanya merasakan indahnya pertemanan seperti biasa.

Andaikan waktu itu ia dipasangkan duduk dengan gadis itu pasti akan banyak cerita. Namun, kenyataannya seorang gadis tengil sebangku dan menjadi musuh dengan memberikan garis pada tengah meja agar tidak dilewati oleh apa pun darinya. Entahlah, terkadang apa yang diinginkan tidak sesuai dengan harapan. Menjalani seperti merasakan perasaan cinta yang tidak akan sesuai keinginan. Mungkin salah satu alasannya untuk tidak mengatakan perasaan itu pada gadis yang dipujanya dalam diam.

Hingga satu tahun terakhir itu berlalu dengan ditandai sebuah pengumuman kelulusan. Perpisahan dengan cerita asal muasal perasaannya menjadi ada. Sampai menjadi “tetap ada” dalam ingatannya. Dan ia tidak sepenuhnya yakin akan merasakan perasaan yang sama, tentu—tidak dengan orang yang sama—karena cintanya benar-benar misterius seperti putaran waktu yang tidak bisa diterka.

***

Menjadi lebih dewasa bagi seorang remaja tidaklah mudah. Namun, tidak pula susah. Gelar anak bau kencur perlahan ingin ditinggalkannya. Juga mencoba meninggalkan cerita perasaan sebelumnya. Waktu akan terus berputar dan perasaan akan terus mencari sesuatu untuk mencurahkannya dengan segenap hati.

“Kalian tengah memasuki masa puber. Ditandai dengan adanya ciri-ciri fisik yang bisa kalian lihat dan amati pada tubuh masing-masing.”

Begitu lengkingan suara guru di depan kelas saat itu. Mengenyam bangku sekolah menengah pertama seakan menjadikan para bocah bau kencur—termasuk dirinya—merasa istimewa dengan perubahan yang dijelaskan oleh gurunya itu.

Menuju fase dewasa walaupun istilah masa remaja akan lebih enak didengar. “… dan kalian juga akan merasakan suatu perasaan ketertarikan pada lawan jenis.” terang guru tersebut melanjutkan.

Namun, baginya “merasakan suatu perasaan” itu telah lebih dulu dialaminya. Perasaan cinta atau apalah istilahnya sudah mewarnai hidupnya belakangan ini.

Ia menyadari perasaannya hanya akan dirasakannya sendiri tanpa siapa pun tahu, sebab cintanya misterius. Gadis berambut panjang itu tidak akan ditemuinya lagi setiap hari. Tatapan matanya juga tidak akan menghipnotisnya agar selalu datang ke sekolah.

Ini bukanlah akhir, baginya perasaan tidak mengenal akhir. Hanya saja akan ada banyak kemungkinan baru tentang parasaan yang baru pula. Sehingga perlahan akan memundurkan perasaan yang sebelumnya telah ada.

Perasaan cinta memang misterius, perjalanan waktu lebih misterius lagi. Dalam kemisteriusan itu ia mencoba menjaga ingatannya supaya cerita hidup dapat terus berjalan.

Masa pubertas tidaklah menjadi miliknya sendiri. Ada sekian banyak remaja seusianya di sekolah yang mengalami hal itu. Rasa tertarik akan lawan jenis akan mempermudah dalam mengutarakan perasaan hati. Sebab bisa saja seseorang itu akan merasakan hal yang sama.

Tidak seperti saat dirinya mengagumi gadis berambut panjang berlesung pipit di sekolah berseragam putih-merah dulu. Dirinya seolah diajak kembali mengingat bahwa ia bukanlah Si Pengumbar Perasaan. Sebab perasaan cinta cukuplah untuk dirasa. Ia terdiam cukup lama.

***

Putaran waktu terus berjalan. Membentangkan cerita-cerita baru di atas cerita lama yang menjadi perjalanan hidup. Masih penuh kemisteriusan dan waktu begitu cepat berlalu.

Ada sekian banyak cerita yang menjadikan dirinya si pemeran utama dalam cerita itu. Deretan cerita yang dibuatnya sendiri. Bercerita tentang perasaan cinta dalam kebisuan tanpa pernah dikatakan, sebab lagi-lagi baginya cinta tidak untuk diumbar. Itulah kekuatan hatinya menjalani dalam sekian tahun berlalu.

“Kita sekarang sudah sama-sama dewasa. Tidak akan ada alasan lagi untuk fokus belajar. Masa sekolah telah sama-sama kita lewati, hanya masa depan yang belum direncanakan untuk hal ini.”

Dirinya terdiam sejenak menyadari waktu memang paling misterius hingga mempertemukan ia dengan seorang gadis yang tanpa sengaja tidak ingin didekatinya. Hanya perasaan teman.

Seperti layaknya teman laki-laki masa kecilnya dulu bisa mengobrol dengan gadis yang sempat dipujanya dalam diam. Dirinya hanya ingin seperti itu sekarang layaknya seperti teman biasa.

Sama dengan perasaan cinta yang baginya cukup untuk dirasa, tanpa perlu dikatakan atau diumbar pada yang dicintai. Dirinya tidak berkeinginan untuk mengatakan juga tentang ketidaksukaannya.

Entah, mengapa prinsip itu kian melekat dalam hatinya. Lagi-lagi perempuan di hadapannya tidak akan mengetahui kemisteriusan itu. Dan akan masih berharap cintanya akan berbalas.

Satu cara yang ia yakini agar bisa pergi yaitu dengan sebuah kepergian itu sendiri. Tanpa kabar atau cerita yang ingin dikabarkan. Sementara waktu atau untuk selamanya.

***

“Ternyata waktu masih memihak untuk kita bertemu,” ungkap perempuan itu.

Hari ini, hari di mana sudah empat belas tahun berlalu. Perempuan yang bukanlah si gadis berambut panjang yang pertama kali dikenalnya. Perempuan kali ini adalah yang mengutarakan cintanya di ujung perpisahan yang dibuatnya sendiri.

Sementara ia hanya diam, mencacah lembaran ceritanya yang membisu dalam sebuah perasaan. Sebenarnya sampai sekarang tidak ada cinta yang benar-benar melekat di hatinya. ***

.

.

DE EKA PUTRAKHA. Berasal dari Bukittinggi, Sumatera Barat. Profilnya dapat dibaca dalam buku “Ensiklopedi Penulis Indonesia jilid 6” FAM Indonesia. Buku tunggalnya antara lain; Hikayat Sendiri (2018) dan Perayaan Kata-Kata (2019). Tulisannya dimuat lebih dari 100 judul buku antologi serta di berbagai media cetak dan online (Indonesia, Malaysia dan Brunei). Merupakan Pemenang 10 Terbaik “Resensi Buku Peringkat ASEAN 2020” anjuran Persatuan Penyair Malaysia. Dapat dihubungi via Facebook: De Eka Putrakha, instagram: @deekaputrakha.

.

MAKLUMAT
Tulisan dalam bentuk cerpen, puisi, esai, atau resensi bisa dikirim ke opini_darmo@yahoo.com

.

Cerita Cinta Tanpa Cinta. Cerita Cinta Tanpa Cinta. Cerita Cinta Tanpa Cinta.

Arsip Cerpen di Indonesia