Stigmata

Cerpen Fransiska Eka (Koran Tempo, 29 Mei 2022)

TETA, saat aku menulis ini, angin panas bulan Mei bertiup kencang, menyusup lewat lubang ventilasi, seolah hendak menampar diri. Alir udara seperti mengandung muatan gelisah yang tak biasa. Di kejauhan terdengar suara anjing-anjing melolong bersahut-sahutan. Malam purnama.

Atasanku, Daniel, meminta berita singkat saja, bukan reportase panjang. Aku telah menulisnya. Tugasku di kota ini selesai. Besok, aku bisa pulang, menumpang bus selama delapan jam, sebelum tiba di kamar kos, makan, mandi, dan istirahat.

Waktu menunjukkan pukul 21.22. Seharusnya aku tidur. Tapi hasil wawancara dengan para narasumber bukan sesuatu yang mudah dibuang begitu saja. Orang-orang yang kutanyai memberikan cerita dan pandangan yang menarik. Sayang jika dibuang.

Kuputuskan menuliskannya untukmu, barangkali bisa menjadi pembanding berita singkat yang akan kau baca lusa, di halaman pertama. Berita itu dilengkapi foto Veronika Lima yang tengah terbaring kaku seperti mayat di atas tempat tidur yang diletakkan di ruang tamu rumahnya agar orang-orang di kota bisa mengunjungi ia kapan saja.

Kau bisa lihat di foto itu, puluhan orang mengelilinginya, memegang lilin yang bernyala. Saat aku mengambil foto, orang-orang tengah berdoa rosario di sekeliling tempat tidur Veronika. Suasananya ganjil. Biasanya, kita hanya berdoa rosario di sekitar jenazah, bukan?

Veronika Lima menjelma seperti jenazah, padahal ia masih hidup. Ia hanya terlalu lemas untuk bisa bergerak bebas.

***

Romo Diego, Pastor Paroki San Juan

Tidak ada yang istimewa pada sosok Veronika Lima. Saya mengingatnya sebagai perempuan tua, mama-mama, yang hidup sebatang kara. Tubuhnya pendek, kurus, dan punggungnya bungkuk. Menurut pegawai kantor paroki, umurnya kira-kira 50 tahun dan pekerjaannya berladang. Veronika Lima tidak pernah menikah. Ia juga tidak mengangkat anak. Hal ini sungguh aneh, di luar kebiasaan orang kita. Biasanya, kalau ada perempuan yang tidak menikah, ia tinggal dengan saudaranya. Atau mengangkat anak. Sekadar untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan, misalnya sakit atau kematian. Tak mungkin seorang yang sakit tidak butuh orang lain untuk merawatnya, kan? Bagaimana jika tiba-tiba saja mati? Siapa yang akan mengurus jenazahnya? Apalagi ia juga tidak punya saudara kandung. Ia hanya punya sepupu-sepupu, yang tak lagi peduli kepadanya. Barangkali karena ia miskin dan terkenal sedikit sinting. Meski begitu, katanya, Veronika bukan tipe orang yang menyusahkan.

Dia tinggal di rumahnya sendiri, warisan dari ibunya. Meski rumah warisan itu bermasalah, karena hak waris seharusnya jatuh kepada anak lelaki yang sulung, tak seorang pun mengganggunya perihal urusan rumah itu. Bisa jadi karena mereka tahu Veronika Lima tak akan mewariskan rumah itu kepada siapa pun setelah dia meninggal. Maka, daripada ribut, lebih bijak menunggu sampai ia meninggal sebelum mengambil kembali hak waris yang telanjur diberikan kepada orang yang salah. Beberapa tetangganya menduga, gara-gara kekeliruan soal hak waris itulah, hidup Veronika Lima diikat semacam kutukan: tidak menikah, menjadi sinting, dan hidup sendirian saja dalam kemiskinannya. Para tetangga yang menduga-duga itu yakin kerabat Veronika main dukun, melancarkan kutuk, dan mengirim teluh. Saya tak sepenuhnya setuju.

Soal tidak menikah, barangkali dia memang memilih tidak menikah. Atau patah hati. Atau bisa jadi ia penyuka sesama jenis yang sadar bahwa menikah bukanlah pilihan yang tersedia untuknya. Soal menjadi sinting, barangkali ia memang berbakat sinting. Konon, ibunya juga agak sinting setelah batal dinikahi bapaknya! Soal miskin, ya, hidupnya memang melarat. Setiap hari, ia makan ubi hasil galian di ladangnya. Kadang-kadang saja, kalau mendapat bantuan tetangga, ia makan nasi, lengkap dengan sayuran dan lauk pauk. Tapi banyak orang juga hidup ala kadarnya. Apa kemiskinan adalah kutukan? Rasanya tidak. Tuhan mengasihi si miskin. Tuhan terlahir miskin.

Mungkin saja Tuhan mengasihi Veronika Lima sehingga ia mendapat karunia yang demikian menakjubkan. Mungkin juga apa yang ia alami adalah pekerjaan setan yang haus disembah. Saya masih terus mendoakan hal ini. Jika dari Tuhan, biarlah kehendak Tuhan terjadi. Jika dari setan, semoga Tuhan sendiri yang menghardiknya.

Hanya, saya tak akan melupakan bagaimana setelah menerima hosti, mulutnya tiba-tiba berdarah. Ia berlutut di hadapan saya dan mengulurkan tangannya. Mulutnya membuka, dan saya melihat sekepal daging serta darah. Tercium bau anyir yang ganjil. Tubuh saya tiba-tiba menggigil. Sebelum saya tak sadar, terdengar orang-orang berteriak: bawa dia ke sakristi. Setelahnya, gelap. Tiga hari sudah berlalu. Tapi saya tak akan melupakan kejadian itu. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Veronika? Mengapa orang-orang kini memujanya seperti ia orang kudus? Apakah benar ia mendapat luka-luka Kristus pada tubuhnya?

Ah, betapa banyaknya pertanyaan. Tapi seluruhnya bermuara pada satu pertanyaan besar saja. Apakah yang dialami Veronika Lima adalah mukjizat atau petaka? Pekerjaan Tuhan atau pekerjaan setan? Untuk urusan seperti ini, kita hanya bisa menyerahkan kepada Tuhan. Jika memang dari Tuhan, akan berdampak baik. Jika bukan, akan berakibat buruk dan tak mungkin bertahan lama.

Anna (30), Tetangga Veronika

Saat mama saya melahirkan, hanya ada Veronika di sekitar rumah kami. Bapak dan dua tante saya sedang ke kebun. Ia yang membantu seluruh proses persalinan, termasuk memotong tali pusar. Memang tali pusar saya hampir dimakannya, sama seperti dia memakan daging, tapi mama berteriak dengan kencang, melarang Veronika melakukan hal-hal aneh. Kalau diteriaki, ia gemetar ketakutan dan segera berhenti bertingkah aneh. Tubuhnya berkeringat dan tak jarang ia sesenggukan. Teriakan benar-benar bisa melumpuhkannya sekaligus membuat ia menjadi seperti anjing jinak di sekitar mama.

Setiap hari, saat mama saya belum pindah untuk tinggal di rumah adik perempuan saya yang bungsu, Veronika pasti datang untuk mengobrol. Ada saja urusan-urusan ganjil yang dia ceritakan. Dari soal arwah ibunya yang sering datang menengok dan mengajak ia jalan-jalan, hingga kemungkinan di rumahnya ada sekotak emas yang dikubur ibunya sebelum meninggal.

Mama tak percaya cerita-cerita Veronika, tapi mama menyayanginya seperti adik sendiri. Meski ceritanya sering diulang-ulang, mama selalu mengatakan ceritanya sangat bagus, dan kapan-kapan, ia dan mama harus menggali harta karun yang ada di dalam rumahnya.

Penggalian harta karun tak pernah terjadi. Jika Veronika mulai mengajak, mama balik mengajaknya menyanyikan lagu-lagu Maria dan berdoa. Ia suka lagu Ave Maria. Lama-lama, ia menjadi rajin misa pagi.

Di gereja, ia bisa memandang-mandangi patung Maria dan menggumamkan Ave Maria berulang-ulang. Mama mengatakan Maria adalah ibu, pengganti ibunya yang sudah meninggal. Veronika memanggil Maria dengan panggilan Mama. Kebiasaan ini tak pernah hilang meskipun mama, ibu saya, tidak lagi tinggal di rumah kami.

Sering kali Veronika lewat pada jam lima pagi, hendak ke Gereja, mendengungkan Ave Maria. Ketika pulang, ia biasa bilang: hari ini saya mengobrol dengan Mama, Mama Maria, di gereja. Saya kira, ia berdoa hal-hal yang umum-umum saja seperti kita. Tapi, suatu ketika, saya bertanya tentang apa yang ia obrolkan. Jawabannya membuat bulu kuduk saya berdiri. Saya bilang saya mau ke surga. Mama Maria bilang masih lama, waktu saya masih lama.

“Apa Mama Maria menjawab kau?”

“Ya, tentu saja. Setiap hari.”

Sejak mendengar jawaban itu, saya putuskan untuk tidak bertanya lagi. Alasannya sederhana, Veronika memang sinting. Mengapa saya harus mempercayai omongan orang sinting?

Tapi, beberapa hari lalu, saat hosti dalam mulut Veronika berubah menjadi daging, ingatan itu muncul lagi. Saya… Bagaimana, ya… Saya tidak percaya apa yang terjadi, tapi saya ragu juga atas ketidakpercayaan saya. Jangan-jangan, Veronika yang dianggap sinting ini sebenarnya tidak sinting, tapi mendapat semacam karunia dari Tuhan.

Saya punya sepupu yang berpindah ke Protestan. Ia kadang-kadang bisa bicara bahasa planet dan kejang-kejang, katanya karunia Roh Kudus. Mungkin hal itu juga yang terjadi pada Veronika. Tapi saya tak tahu. Apa yang bisa kita ketahui dengan pasti di dunia ini? Tidak ada…

Meski begitu, saya pasti akan merawat Veronika. Saat ini, dia lemas. Ada bekas paku di telapak tangan dan kakinya. Lambungnya juga berlubang dan mengeluarkan darah. Kasihan nasibnya. Sungguh kasihan. Orang-orang heboh menonton, tapi tidak ada yang mau merawatnya. Dia menjadi seperti monyet yang dilatih untuk bermain topeng monyet saja, dijadikan bahan tontonan.

John (38), Suami Ana

Romo Diego menyuruh saya memeriksa seisi rumah Veronika. Pesannya, perhatikan apakah ada binatang mati di sekitar rumah. Ayam atau anak ayam, tikus, kucing atau bayi kucing, burung merpati, ataupun burung pipit.

Tugas saya adalah memeriksa dengan teliti, seperti polisi. Memang dulu cita-cita saya menjadi polisi, tapi tidak kesampaian. Keluarga tidak bisa menyediakan uang sogokan. Jadi, sekarang saya ikut kapal penangkapan ikan.

Ah, betapa nasib mempermainkan seseorang seenak inginnya sendiri. Seorang remaja yang bercita-cita menjadi polisi malah menjadi bapak-bapak nelayan. Walau demikian, saya bersyukur karena masih bisa hidup.

Saya tidak tahu apa yang terjadi pagi itu di gereja. Yang saya tahu, orang-orang yang ikut misa—jumlahnya sekitar sepuluh orang saja karena bukan misa pada hari Minggu—mengatakan hosti di mulut Veronika berubah menjadi daging.

Karena itulah, Romo Diego, yang sudah kenal dekat dengan semua warga di sini, meminta saya memeriksa. Siapa tahu, dia membunuh binatang, lalu menaruh daging binatang di dalam mulutnya… Siapa tahu…

Agak aneh juga, pikir saya. Veronika adalah perempuan gila. Mana mungkin orang gila bisa merekayasa sesuatu, yang kalau benar adalah rekayasa, itu menunjukkan bahwa pelakunya punya otak canggih karena ia bisa memikirkan cara mengelabui orang lain, punya kemampuan membunuh hewan yang tak bersalah untuk dijadikan alat menipu, serta tidak takut risiko buruk kalau aksinya ketahuan.

Mungkinkah Veronika secanggih itu? Setiap hari kerjanya mengobrolkan sesuatu yang tidak masuk akal, menyanyi, ke gereja, berbicara sendiri, dan tertawa-tertawa sendiri, apa mungkin otaknya bekerja?

Tapi saya mencari dan mencari, meski tak juga menemukan. Waktu saya melaporkan hasil pemeriksaan, Romo Diego juga tampak bingung. Orang-orang percaya bahwa yang terjadi pada Veronika adalah mukjizat.

Kabar menyebar dengan cepat. Banyak orang mulai datang. Ada yang minta didoakan, ada yang minta ditumpangi tangan, dan ada juga yang melihat-lihat. Warga di sekitar rumah Veronika, para tetangga, juga berdatangan, sekadar untuk melihat-lihat. Romo Diego hanya datang pada hari pertama.

Setelah tidak ada bukti, Romo tidak lagi datang. Mungkin karena ia tidak percaya. Bagaimanapun juga, menurut cerita yang saya dengar, selama di seminari, para pastor memang sudah dididik untuk tidak percaya hal-hal aneh semacam ini.

Ada bagusnya juga! Kalau apa yang dialami Veronika adalah kegilaan, Romo masih tetap waras. Kalau yang dialami Veronika benar, semoga Tuhan menolong Romo untuk memahami.

Saya sendiri tidak percaya. Mungkin ini pekerjaan setan, yang suka sekali mengganggu orang-orang yang hidupnya sederhana saja dengan keajaiban-keajaiban di luar nalar. Kali ini, setan menggunakan Veronika sebagai alatnya. Semoga Tuhan menyembuhkan Vero.

Simon (60), Koster Gereja

Memang yang ada di dalam mulutnya adalah daging. Saya yang menyuruh Veronika memuntahkan ke piring setelah dia diamankan di sakristi.

Romo Diego tidak sadar. Pingsan! Kaget! Yohan, yang membantu saya setiap hari dan melihat juga apa yang terjadi, juga bisa bersaksi. Daging itu kelihatannya seperti hati ayam, sepotong hati ayam. Baunya pun mirip. Karena itu, saat itu saya langsung menampar Veronika. Perempuan gila penipu! Pasti dia memasukkan daging binatang ke mulutnya.

Saya menyuruh dia bangun dan pulang. Dia bangun dan pulang, tapi diambilnya daging di atas piring, lalu dia mengunyah dan menelannya. Gila!

Orang-orang yang ikut misa menganggap apa yang dia alami adalah mukjizat. Padahal, sudah saya katakan, yang kelihatan adalah potongan hati ayam. Mana mungkin tubuh dan darah Kristus disamakan dengan potongan hati ayam. Ini penghinaan terhadap Tuhan. Dosa perempuan sinting itu lebih berat dari Adam dan Hawa. Sekarang, katanya dia mendapat luka-luka Kristus.

Oh! Hanya Tuhan yang tahu bagaimana caranya dia memaku dirinya sendiri?!

Dunia ini sudah gila!

***

Simon dan Yohan memberikan keterangan yang sama. Potongan daging itu adalah potongan hati ayam segar. Bau, tekstur, dan warnanya persis. Keduanya menyebarkan juga kisah itu, namun tenggelam oleh kenyataan baru, luka-luka Kristus di tubuh Veronika.

Aku sendiri memeriksa luka-luka itu. Memang ada lubang serta ada sedikit darah yang mengalir pada telapak tangan dan kakinya, membasahi perban penutup luka. Tetangga yang memasang perban itu mengatakan darah berbau harum mawar. Tapi aku tidak mencium harum mawar, melainkan anyir darah manusia.

Kebanyakan orang yang datang mengaku mencium aroma mawar, dan itulah yang kutuliskan pada berita, pengakuan orang-orang yang mencium aroma mawar, padahal… Aku tidak mencium aroma mawar…

Aku jadi merasa bersalah sekali, Teta. ***

.

.

Fransiska Eka adalah seorang penulis dan penerjemah. Saat ini dia tinggal di Ende, Nusa Tenggara Timur.

.

Stigmata. Stigmata. Stigmata. Stigmata. Stigmata. Stigmata. Stigmata. Stigmata. Stigmata. Stigmata.

Arsip Cerpen di Indonesia