Hidup Lebih dari Sekadar Kesedihan

Cerpen Koko Hendri Lubis (Suara Merdeka, 29 Mei 2022)

ANDIK merasa merangkak-rangkak. Pada sebuah rol panjang. Berguguranlah rambut ke bumi. Sementara lembar catatan menipis. Jam dinding mengeloneng gelisah. Bergetar daun jendela. Adalah dedaun patah. [1]

Andik adalah seorang pegawai administrasi di salah satu gudang beras di pinggiran Kota Medan. Rutinitas hariannya hanya mencatat berapa ton beras yang telah masuk dan ke luar dari dalam gudang. Selain itu, ia selalu mendengar keluh-kesah dan obrolan para sopir truk yang luar biasa banyak cengkuneknya. Contohnya, dari soal pungutan liar petugas keamanan, jalan rusak, hingga perempuan lacur yang selalu menggoda di tiap kedai peristirahatan. Kiranya keberanian sudah terenggut dari lubuk hati mereka: tak berdaya melawan nasib.

Memang berat jadi pegawai rendahan. Gaji kecil. Tak sepadan dengan kerja yang terkadang ia jalani sampai masuk hitungan lembur. Pulang ke rumah, keletihan langsung menyergap. Suara tangisan anak, istri yang terus-menerus protes karena harga bahan pokok melonjak sudah cukup untuk membuatnya murung. Kemelaratan sudah di ambang mata. Apakah kondisi ini bisa bertahan dengan lebih lama?

Andik juga manusia biasa yang seringkali dikejar kegelisahan.

Gajinya sebesar dua juta lima ratus ribu rupiah, tak sesuai dengan upah minimum yang ditetapkan oleh pemerintah kota. Meskipun begitu, toke kami berkilah, jika tak sanggup ikut irama, silakan mundur. Masih banyak orang antre mau bekerja asalkan dapat gaji untuk menyambung hidup. Akhirnya, Andik terpaksa mengalah dan memilih untuk bertahan. Sebab, mencari kerja pada masa sekarang luar biasa sulitnya. Semua pintu kantor seolah-olah tertutup. Kecuali jika ada hubungan keluarga dengan petinggi kantor yang bersangkutan.

Andik rupanya menerima tambahan lain dari imbalan lembur yang jumlahnya tidak seberapa. Para sopir terkadang memberikan semacam “uang rokok” ketika mereka mendapatkan sewa mendadak untuk mengangkut barang di tengah perjalanan. Uang itu semacam bentuk solidaritas di antara kami yang merasa sudah seperti saudara kandung. Nah, cobalah bayangkan, dengan uang segitu, mana cukup untuk membiayai hidup sehari-hari. Ditambah pula kewajiban harus membayar listrik, air, dan membeli paket pulsa internet istrinya. Soal terakhir ini memang ia mengalah, dan sadar diri. Biarlah android istrinya terus “menyala” supaya dia betah di dalam rumah. Andik sudah bersyukur punya telepon seluler model lama yang kalau terjatuh dari kantung masih tahan dan berfungsi dengan normal.

***

Beberapa tahun lalu, mertuanya memang masih mengirim uang tambahan dari hasil penjualan kulit manis di kampung. Belakangan jadi terhenti sama sekali. Bisnis kulit manis menjadi sunyi. Harga jualnya di pasaran merosot tajam. Andik kecewa dengan retorika menteri pertanian yang punya banyak cerita untuk membantu dan mendukung penjualan hasil bumi petani. Ternyata, tidak lebih dari pepesan kosong belaka yang muncul di salah satu siaran televisi. Faktanya, banyak kebun, sawah, yang terbengkalai ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya. Para petani muda kini berbondong-bondong ke kota memeras tenaganya dengan cara bekerja serabutan.

Sekarang Andik terpaksa berjuang sendirian. Tak ada yang mendukung, apalagi menolong dalam hal keuangan. Mulailah ia gali lubang tutup lubang. Terkadang, baru pertengahan bulan, gaji sudah habis. Utang makin bertumpuk.

Istrinya pun sekarang jadi sering marah-marah tanpa sebab. Suaranya menggelegar, dan sering kali disertai tangisan. Nasihat dari jiran yang mengatakan, kalau ada masalah lebih baik ditelan saja, daripada dimuntahkan akan membuat malu terasa menyiksa batin. Pernah aku menyuruh Andik untuk bersabar, namun tak diacuhkan. Ia butuh ketenangan. Rasa damai, tak ada di dalam rumah.

Suatu sore, ia duduk berhadapan dengan istrinya di ruang tamu. Istrinya menatap Andik dengan sedih dan berkata, “Kapan kita bisa punya uang lebih sedikit untuk pergi nonton ke bioskop, makan di restoran, atau beli baju baru? Aku malu karena Si Ana, Wati, dan Mila, baju-bajunya selalu berganti mengikuti tren.”

Andik menjawab polos dan berusaha untuk menenangkan Lily.

“Kau lucu Lily. Kau kan bukan anak kecil lagi yang harus punya baju baru. Lihat sendiri, tiap hari aku mencari uang dengan bekerja keras untuk mengubah keadaan.”

Lily menengadahkan wajahnya ke langit-langit. Kemudian, ia balik menatap Andik dengan tajam. Suaranya jadi meninggi.

“Apa kau tak malu melihat anakmu, Najib, yang hampir saban hari merengek-rengek minta jajan dan dibelikan gawai baru?”

“Itu hanya perasaanmu saja. Tidak mungkin Najib yang jarang bicara minta dibelikan gawai.”

Kali ini timpalan Lily terasa menohok, “Cakap seorang ibu tak mungkin bohong.”

***

Lily terus saja melukai perasaan Andik dengan cara meradang pada hari-hari mendatang.

“Ternyata kau punya perempuan simpanan lain. Buktinya malam ini pulang terlambat. Najib yang jenuh, jadi tertidur karena menunggumu.”

Ia mencoba membantah tuduhan Lily.

“Bukan karena ada perempuan lain. Tetapi ikut rombongan menjenguk Jono ke rumah sakit. Dia sopir kesayangan toke yang sepeda motornya ditabrak tukang becak mesin.”

Mendengar itu, Lily melengos pergi, dan masuk ke kamar. Andik seperti merasa sia-sia dan tak dihargai. Seharusnya Lily tak menyalahkan siapa pun dan jangan berprasangka negatif.

***

Andik sebenarnya ingin lari untuk mencari bentuk kehidupan yang lain. Barangkali dengan cara itu, ia bisa bahagia. Akan tetapi, aku dan Yoki seorang sopir truk yang akrab dengan kami, mencoba memberi nasihat.

“Andik, kau berpaling, dan lari dari Lily pun tak akan menyelesaikan masalah. Perempuan di mana-mana sama, sulit untuk dimengerti. Aku saja yang telah berumah tangga selama dua puluh lima tahun lebih, masih sering bingung menebak kemauan istri.” Kataku sambil mengembuskan asap rokok ke atas langit.

Ia tidak segera menanggapi ucapanku itu. Malahan ia mengambil sebatang rokok, dan menyalakan geretan.

Kemudian Yoki menarik napas panjang. Giliran dia memberikan pendapat.

“Kita bisa mengabaikan istri, tetapi tidak dapat mengabaikan sesuatu yang lebih besar dari itu, yaitu anak,” sambung Yoki.

Andik manggut-manggut. Memang kewajiban terhadap anak yang membuatnya bisa bertahan sampai sekarang terhadap Lily. Biar bagaimanapun, ia tak sampai hati meninggalkan Najib. Meskipun keadaan ini terasa menyakitkan.

“Lantas apa yang harus aku perbuat?”

Saran Yoki memunculkan harapan.

“Bujuk Lily untuk pergi menonton film di bioskop bersama Najib. Selama ini mungkin kau tak pernah membawanya jalan-jalan.”

Andik mengerutkan dahi sambil menelan ludah.

“Toke belum ada rencana menyuruh lembur. Jadi, belum ada uang masuk.”

“Soal itu tak usah kau khawatirkan.” Yoki segera mengambil dua lembar uang seratus ribuan dari dalam dompetnya. “Nah, terimalah uang ini. Kita perlu belajar dari pengalaman.”

“Aku belum tahu kapan bisa membayarnya Yoki.”

Yoki mengangkat bahu, dan tersenyum.

“Tak usah kau pikirkan itu. Sama-sama sepenanggungan, jangan terlalu berhitung.”

“Baiklah kalau begitu. Terima kasih.”

Tak lama, kedengaran suara mekanik truk memanggil aku dan Yoki dari balik pintu ruangan. Mendengar itu, kami kompak bergegas pergi tanpa mengucap sepatah kata pun.

***

Beberapa bulan kemudian, Lily hamil lagi. Berita buruknya, pertahanan keuangan keluarga mereka kembali jebol karena ulah Lily sendiri. Dengan dalih untuk menambah penghasilan, Lily mau saja mengikuti saran teman-temannya untuk bergabung dengan bisnis berjenis “arisan berantai”.

Bukannya untung yang dapat, malahan merugi. Dia terperosok ke dalam sistem yang sengaja diciptakan perusahaan untuk mengail keuntungan dari para anggotanya. Iming-iming ke luar negeri gratis, jika target merekrut nasabah baru tercapai, membuat Lily kalap dan dibuai angan-angan.

Dia memasukkan emasnya ke pajak gadai sebagai tambahan untuk membuat kaki-kaki baru di arisan itu. Tak disangka, bisnis seperti ini saat ditawarkan ke mana-mana tidak terlalu laku. Orang tidak terlalu tergiur dengan skema keuntungan yang tidak masuk akal karena maraknya berita investasi bodong di berbagai media.

Kondisi makin diperparah karena perusahaan sering mengeluarkan peraturan baru yang ketat bagi anggota yang tak mencapai target. Malas untuk memulai dari awal lagi, Lily menyatakan keluar. Kegagalan mengail cuan besar membuatnya trauma.

Dalam kondisi yang susah dan penuh dengan “kesempitan”, anak perempuan mereka lahir dengan selamat.

Lazimnya, selama empat puluh hari, Lily tidak boleh ke luar rumah. Kondisinya masih lemah. Bisa juga pikirannya masih agak kacau mengingat emasnya yang digadai, telah memasuki masa jatuh tempo. Kalau mau ditebus dari pegadaian, tentu saja belum bisa. Jalan pendeknya harus bayar bunga pinjaman, supaya bisa mendapatkan perpanjangan waktu.

***

Sejak kelahiran bayi yang belum bernama itu, mereka tidur berhimpit-himpitan. Si bayi ditempatkan di tengah tempat tidur di antara Lily dengan Najib. Sedangkan Andik, rebah dengan posisi melintang pada bagian kaki tempat tidur. Bukan Andik tidak mau tidur di bawah dengan tikar, tetapi kondisi lantai yang lembab, kerap membuat tubuhnya masuk angin.

“Terlalu sempit kurasa tempat tidur kita ini,”cetus Lily secara datar.

“Lebih baik matikan lampu, supaya cepat kau tidur.” Andik membalas ucapannya polos.

Dini hari, sering anaknya merengek minta disusui. Dengan keadaan malas untuk duduk, Lily menyusuinya sambil rebahan. Terkadang si bayi megap-megap, napasnya tidak teratur. Lily bersikeras dengan terus menyusuinya. Perintah Andik supaya dia duduk kalau menyusui, tidak dihiraukannya. Setelah menangis kurang lebih setengah jam bahkan lebih saat disusui, barulah anak itu tertidur. Mungkin karena kelelahan, ia jadi berhenti merengek.

Tiga hari menjelang umurnya empat puluh hari, Andik disuruh toke kerja lembur. Toke berpesan secara khusus, akan ada truk yang masuk gudang dari Pelabuhan Belawan. Lewat dini hari, sambil terus mencatat di buku ekspedisi, perasaan Andik mendadak tidak enak. Namun, ia berusaha untuk tidak tertidur.

Pukul dua, tiga truk beriringan masuk ke dalam gudang. Penjaga gudang memerintahkan para tukang angkut yang begadang untuk menurunkan beras dari atas truk. “Andik!” Seorang supir melambai dari jauh. Ia menoleh dan mencoba tersenyum. Ia datang mendekati meja Andik.

“Hari ini aku bawa sekian ton, ini bukti surat jalannya. Tolong ditandatangani,” ujarnya ramah.

“Begini aturannya, aku harus tunggu laporan dari mandor penjaga gudang, baru bisa tanda tangan. Untuk penyesuaian jumlah barang yang ada saja.”

Ia mengangguk dan berkata, “Ya,ya, aku tahu.”

Sehabis itu, ia berlalu karena hendak istirahat. Dua supir lain melakukan hal serupa. Menitipkan bukti surat jalan, dan segera menuju kamar tidur khusus untuk supir yang bekerja lembur.

Tepat pukul lima pagi, pekerjaan selesai, dan Andik bergegas untuk pulang. Sebelum menaiki sepeda motor, Lily menelepon. Suaranya serak.

“Pulanglah cepat ya….”

Buru-buru Andik ngebut dengan sepeda motornya supaya cepat sampai ke rumah.

Begitu sampai depan gang, ia tak bisa masuk. Andik memarkirkan sepeda motor di depan gang, dan sungguh aneh para tetangga telah ramai berkerumun di depan rumahnya.

Andik berjalan cepat. Lily mematung di depan pintu begitu menatapnya.

“Maafkan, aku lalai menjaganya.” Ucap Lily gemetar.

Andik masuk ke dalam dan melihat ke tempat tidur. Wajah bayi perempuan mereka telah membiru. Tak bernapas, apalagi bergerak.

“Oh Nak,” desisnya dengan leher yang serupa dengan orang tercekik, “Kau kenapa?”

Andik datang mendekatinya.

“Tadi malam ibu mengantuk karena menunggu ayah pulang. Kami tidur lebih cepat dari biasanya. Terus, adik bayi dibangunkan ibu karena mau disusui. Tetapi dia diam saja. Tak mau menyahut.”

Andik memeluk Najib dan mengangguk. Habis itu air matanya jatuh seperti hujan deras. Dan, Lily terkesiap. ***

.

.

Amplas-Delitua, Februari 2022.

.

Catatan:

[1] Sajak “Usia” karya Todung Mulya Lubis, (1968).

.

.

Koko Hendri Lubis, lahir 1977 di Kota Medan, salah seorang penulis yang diperhitungkan di Tanah Air. Dikenal sebagai peneliti budaya pop dan tradisi lisan di Sumatera Utara. Beberapa bukunya antara lain Bayo Jambu: Cerita Rakyat dari Mandailing (2014), Si Muntu, Orang Buruk: Sastra Tutur dari Mandailing (2014), Kumpulan Buras Mandailing (2015), Hikayat Si Pogos (2015), dan Pernikahan Tradisional di Mandailing (2016).

.

Hidup Lebih dari Sekadar Kesedihan. Hidup Lebih dari Sekadar Kesedihan. Hidup Lebih dari Sekadar Kesedihan. Hidup Lebih dari Sekadar Kesedihan.

Arsip Cerpen di Indonesia