Cerpen Vito Prasetyo (Gorontalo Post, 25 Juni 2022)
ESOK, HIDUP ITU INDAH
SEHARIAN hujan. Langit seakan seperti tandon air yang tak pernah berkurang sedikitpun isinya. Genangan air serta tumpukan sampah di setiap sudut jalan mewarnai kota menjadi kumuh dan kusam.
“ENGKAU KEDINGINAN, ANAKKU.”
Lelaki itu memegang rambut anaknya yang mengurai semrawut, basah diterpa percikan hujan. Rani, anak perempuan yang mulai tumbuh remaja itu, hanya menatap lekat bapaknya, duduk sambil mendekap kedua kakinya.
“SEPERTINYA ENGKAU MULAI MENGGIGIL.”
Mereka sedang berteduh di emperan toko. senja mulai melintas di hadapan mereka. Kemilau lampu jalanan dan rumah-rumah bagai dawai bergetar yang melagukan asmara hujan. Sesekali sorot lampu mobil dan motor menyilaukan tatapan mereka. Hembusan angin bertiup melagukan dingin pada kulit mereka.
Karta, panggilan lelaki itu, menatap tajam setiap sudut bangunan dan jalanan. Entah apa yang dipikirkannya. Dikeluarkannya sebuah bungkusan plastik dari tas kecil yang selalu menggantung di pundaknya. Botol kecil yang berisi air minum pun juga dikeluarkannya. “Makanlah roti ini, Rani”. Disodorkannya bungkusan itu kepada anaknya.
Entah sampai kapan hidup mereka seperti ini. Karta tak mampu menjawabnya. Pikirannya melayang, mengembara. Dari guratan mukanya nampak penyesalan. Dadanya sesak. Tak bisa dibayangkan saat anaknya nanti mulai tumbuh remaja, berjibaku dengan persoalan hidup. Seharusnya Rani hidup dan tumbuh selayaknya gadis remaja, penuh canda dan tawa.
Malam mulai redup, hujan pun mulai reda. Sedikit tergesa Karta menarik tangan Rani, mereka beranjak dari tempat itu. Begitu masuk rumah, karena tergesa dan lelah, napas Karta tidak teratur, ia ingin segera menghempaskan beban berat yang melekat di dadanya. Rumah itu lebih layak disebut gubuk.
Rani segera tertidur pulas dan larut dalam mimpi. Karta duduk di sebuah kursi kayu sambil memandang anaknya. Matanya tak bisa melawan beban berat yang menggumpal di dada. Sesekali pandangannya menatap langit-langit rumah yang penuh jelaga.
Rani betul-betul pulas. Gadis ini telah kehilangan masa remajanya. Waktu untuk bercanda dan bermain bersama teman-teman sebaya harus dilalui dalam pergulatan hidup yang berat. Karta merasa prihatin dengan kondisi anaknya. Dia terbayang kisah masa silam mereka, Rani seakan terbiasa hidup tanpa seorang ibu. Rani begitu tegar dan kuat. Hal itu terpancar dari matanya. Tak pernah sekalipun Rani berkeluh kesah menyesali takdir yang terjadi pada dirinya.
“Bapak, tadi ada petugas pamong praja menanyakan izin surat bedak kita.”
Beberapa waktu lalu, petugas menghampiri tempat usaha mereka yang berada di pinggiran sungai.
“Ya, hanya itu tempat usaha mereka satu-satunya.”
Karta pun sudah paham maksud kedatangan petugas tersebut. “Pasti bertanya tentang surat izin tempat usaha mereka.”
Daerah itu cukup ramai, dan hasil jualan mereka hanya bisa untuk sekadar menyambung hidup sehari-hari.
Pikiran Karta menerawang jauh. Rani yang dibesarkannya seorang diri tak akan pernah tahu siapa dirinya. Tetangga sekitarnya sering merasa heran. Wajah Rani tidak ada kemiripan sedikit pun dengan Karta, yang dipanggilnya bapak. Karta meninggalkan kampung halamannya, ketika Rani masih menetek. Kini mereka tinggal di sebuah rumah petak di pinggiran ibu kota.
“Semestinya engkau tahu anakku,” suara lirih Karta pada dirinya sendiri.
Karta yang bernama asli Karta Bajuri, termasuk sosok yang cukup disegani di kampungnya. Apapun pekerjaan dilakukannya demi untuk keluarganya. Setiap hari ada saja tetangga yang meminta bantuan untuk mengerjakan sesuatu. Karta tak pernah menolak, dan itu membuat tetangganya menjadi segan. Karta tak pernah berhitung dengan hasil yang didapatkannya.
Jika saat itu Karta tidak membela orang-orang kampung ini, mungkin kampung sudah rata dengan tanah, di sini sudah dibangun gedung bertingkat. Orang-orang kecil selalu diperlakukan dengan tidak adil. Sehabis kejadian itu, Karta lebih disegani oleh orang-orang kampung di sekitarnya.
Belasan tahun silam, istri Karta meninggal dunia saat melahirkan. Begitu pilu perasaan Karta. Ia tak mampu membayar biaya persalinan istrinya. Untung anaknya lahir selamat, namun sayangnya harus menjalani perawatan khusus di rumah sakit. Karta sedih tiada tara. Entah apa yang terjadi seandainya tidak ada seseorang yang menolongnya. Orang ini mendatanginya kemudian meminta bayi merah Karta untuk diasuhnya sebagai anak adopsi.
“Jangan pernah engkau tampakkan kesedihan yang kita alami,” demikian kata-kata terakhir dari istrinya kala itu.
Kalimat itu terus terngiang di benaknya, ia rindu pada bayi merah itu, anak kandungnya. Pastilah usianya kini tidak terpaut jauh dengan Rani. Kerinduan itu bagai gunung tinggi yang sulit didaki. Meski Rani telah mengisi kesepiannya, namun pikirannya tetap berkecamuk. Bagaimana jika suatu saat ia pergi untuk selama-lamanya, sementara Rani tidak pernah tahu siapa sebenarnya orangtua kandungnya?
Entah apa yang mendorong nalurinya hingga akhirnya ia memilih tingggal di daerah kumuh. Kampung halamannya menyisakan banyak catatan buruk. Ia ingin pergi jauh dari bayangan gelap. Ia hanya tahu kampungnya kini bernama Rawa Bangke, tempat dimana ia menemukan sosok bayi kecil yang terbungkus kain dan kardus, di dekat timbunan sampah. Ia menamakan anak itu Rani.
Setahun silam, ketika Rani asyik bermain bersama teman sebayanya, Rani hampir tergilas sebuah mobil. Saat itu seorang anak turun dari mobil yang hampir menabraknya, dan buru-buru menghampiri Rani dan menolongnya. Kejadian itu hanya beberapa meter dari tempat duduk Karta. Emosi yang menguasai Karta seketika luruh saat anak yang menolong Rani menatapnya begitu lekat. “Kenapa anak itu begitu mirip dengan istriku?” gumam Karta dalam hati.
“Kenapa Bapak tiba-tiba meneteskan airmata?” tanya Rani. Karta hanya menggeleng.
Udara malam yang mulai lembab terus membasahi pikiran Karta. Sekali lagi dipandangnya Rani yang tertidur di dekatnya. “Engkau memang bukan darah dagingku, tetapi telah melekat pada napasku,” Karta tersenyum kecil.
Perjalanan malam menyiksa mata dan tubuh Karta. Saat fajar hampir tiba ia tak bisa lagi menahan keletihannya. Akhirnya Karta jatuh tergeletak di atas tikar. Senyap. Tak ada lagi pertengkaran pikiran yang membebani Karta. Ketika fajar mulai menguak, angin dan bias sinar matahari saling berkejaran menyentuh rerimbunan daun. Napas Karta tak lagi naik-turun. Napas itu kini menghilang.
Seorang gadis yang sebaya dengan Rani datang menghampiri usai pemakaman Karta. Gadis itu meneteskan air mata. Dia berbisik ke telinga Rani. “Sesungguhnya, bapak yang dimakamkan itu adalah bapak kandungku.”
Sepuluh tahun kemudian, langit Kota Jakarta masih tetap sama. Sinarnya terus berapi menyengat kulit-kulit tubuh. Rani bukan lagi gadis kecil yang tumbuh di pinggiran kota. Ia tak lagi akrab dengan sampah kumuh dan kusam. Rani kini tinggal di sebuah apartemen yang tergolong mewah. Wajahnya kini bersinar. Namun begitu, Rani tetaplah seorang gadis yang sederhana.
Rani ingat betul kata-kata terakhir Karta sebelum meninggalkan dirinya. “Esok hidup itu indah!” Lelaki yang belakangan diketahui hanyalah seorang bapak angkat, namun memiliki kasih sayang tulus. Rani takkan pernah melupakan perjuangan Karta. Setiap sebulan sekali atau paling lama tiga bulan, Rani berziarah ke kuburan Karta.
Sesungguhnya ada beban berat yang mengganjal hati Rani. “Siapa sebetulnya kedua orang tuaku?” Meskipun begitu ia sama sekali tidak ingin menafikan keberadaan Karta. Lelaki itulah yang membuatnya menjadi kuat. Kini anak kandung Karta, Septiana Ningrum, yang kerap datang mengunjungi Rani.
Hidup ini memang penuh dengan teka-teki. Ibarat roda yang berputar dan menggelinding, kadang berada di atas, kadang di bawah. Hitam tidak selamanya tentang gelap, dan putih tidak selamanya tentang terang. Bagi Rani inilah filosofi yang mengakar dalam dada bapaknya, Karta. Tetapi perjalanan hidup ini memang panjang. Pada setiap penghujung pekan ia rajin menyusuri sudut-sudut kota, mencari informasi keberadaan kedua orang tua kandungnya. Rani adalah perempuan yang hidup dari dua cinta berbeda. ***
.
.
Vito Prasetyo. Bergiat di penulisan sastra sejak 1983 dan peminat budaya. Tahun 2021, karyanya masuk dalam Nominasi Puisi Anugerah Sastra Litera.
.
Anakku Hidup dari Cinta Berbeda. Anakku Hidup dari Cinta Berbeda. Anakku Hidup dari Cinta Berbeda.