Cerita Remaja Namira Hanifa Kalila (Kedaulatan Rakyat, 08 Juli 2022)
PELAJARAN kedua ini tentang mengenal berbagai macam hewan yang ada di Slovenia.
“Perhatikan anak-anak, hewan ini bernama Salamander Pohon Zaitun atau biasa disebut Olm,” kata Ms Wery.
Dijelaskan, Salamander ini merupakan spesies salamander yang buta. Pertama kali ditemukan di dalam Goa Postojna sekitar 30 mil barat daya dari ibu kota Slovenia, Ljubljana. Mereka berkembang biak hanya sekali tiap dekade. Penetasan sudah terjadi pada tahun 2016 lalu. Kala itu seekor betina Salamander Pohon Zaitun mengerami 64 telur, sebanyak 22 di antaranya menetas.
“Memiliki tubuh seperti ular, memiliki tangan, kaki, dan telinga kecil di samping kepalanya. Sekilas memang hampir seperti naga,” jelas Ms Wery.
Satu jam berlalu, saatnya pergantian pelajaran tanpa istirahat.
Di pelajaran ketiga, belajar tentang sejarah dan orang-orang penting yang ada di Slovenia. Setelah pelajaran ketiga, kami pergi ke kantin untuk makan siang.
Sesampainya di kantin, kami harus mengantri berbaris memanjang, di pelajaran ketiga tadi kita keluar terlambat. Maka dari itu kantin sudah ramai. Ketika kita sudah sampai di depan, dan Sou akan mengambil piring.
“Misi dong kalian,” tiba-tiba seseorang bersama kedua temannya memotong antrian kita.
“Heh, main nyerobot antrian aja, antri dong ih!” ucapku kesal.
“Dih cuman diselip tiga orang aja pelit banget,” balasnya sambil mengambil piring.
“Hyra, ini bukan masalah pelit engganya. Seenaknya aja kamu motong antrian orang. Ga pernah diajarin antri ya? Toh udah dipasang tulisan disuruh antri. Masih gabisa baca?” tambah Yari.
“Berisik amat sih, cuman bentar juga,” kata Hyra sambil berjalan menuju meja.
Kami hanya menatapnya kesal dan langsung mengambil makan siang.
Setelah menemukan tempat duduk, kami makan dan seperti biasa, mengobrol bersama.
“Dasar dari dulu tidak pernah berubah!” Yari memulai percakapan.
“Tidak tahu malu, bagaimana bisa siswa seperti mereka ditunjuk mengikuti suatu lomba,” tambah Sou.
“Ah entah lah,” jawab Yari.
Aku hanya diam dan langsung menyantap makananku itu. Aku memang tidak banyak bicara ketika sedang makan. Apalagi jika makanannya enak, maka aku akan lebih banyak diam dari pada mengobrol. Jam makan siang ini memang cukup lama, tapi setelah itu kita akan melanjutkan ke kelas bela diri.
“Anak-anak, segera ke aula yaa!” terdengar suara dari speaker sekolah.
Aku dan teman-teman yang lain segera pergi ke aula.
Kami jalan sambil agak berlari.
“Kalau jalan lihat-lihat dong,” bentak Sou.
Yap, Hyra, dia baru saja menyenggol Sou dan hampir terjatuh. Untungnya Sou langsung menjaga keseimbangan dan Yari di sampingnya membantu memegang lengan Sou.
“Ah anak itu benar-benar tidak berhenti mengganggu kalian ternyata,” ucap Vei.
“Entahlah, dia seperti tidak ada kapoknya,” jawab Yari.
Sampai di aula, kami mencari tempat duduk dan duduk di bagian tengah berjejeran. Dan jam keempat pun dimulai.
Ms Cer menjelaskan titik-titik lemah yang berada di tubuh.
Pelajaran selesai pukul 14.00. Aku, Sou, dan Yari langsung pergi ke dalam kamar setelah mengambil tas yang ada di kelas.
“Huh, hari yang melelahkan,” ucapku sambil merebahkan diri di kasur. “\
“Jangan lupa jam 5 sore nanti,” tambah Sou.
“Sepertinya Sou sangat bersemangat untuk latihan nanti,” balasku.
“Bukan begitu, karena kita sudah terpilih, maka kita harus berusaha semaksimal mungkin agar tidak mengecewakan Ms Tev,” ucap Sou.
“Ah, itu benar!” yang dikatakan Sou barusan itu memang ada benarnya, tapi aku sangat lelah.
“Kalian ini, lebih baik segera tidur agar tenaga terisi kembali,” kata Yari sambil berjalan keluar kamar mandi.
Kami tertidur dan bangun pukul 15.00, Segera berganti baju memakai baju semacam baju karate dan pergi ke aula. Sudah banyak siswa yang berkumpul dan berbaris rapi di sana.
Ini adalah pelajaran kelima dan selalu ada setiap hari. Di pelajaran ini, kita akan praktek teknik yang diajarkan di pelajaran sebelumnya. Berpasangan dua-dua, aku dan Sou, Yari dan Vei. Pelajaran selesai jam 16.00 dan kami segera masuk ke kamar dan membersihkan diri. Setelah itu bersiap untuk latihan.
Pukul 17.00 tepat kami bertiga segera pergi dan masuk ke aula tempat kita akan latihan. Aula yang kita gunakan berbeda dengan Aula yang digunakan siswa sekarang.
Seharusnya sekarang sudah mulai untuk pelajaran terakhir, yaitu pelajaran tarung, tapi kami bertiga selalu izin jika sudah jadwal untuk latihan.
Di sana sudah terlihat 2 robot seukuran orang dewasa yang akan menjadi lawan kami. Sebut saja robot X dan 0.
Yap, kami selalu latihan bersama robot-robot ini. Robot ini bisa menambah tingkat level sulitnya.
“Hai robot!” sapa Yari.
“Hei mana bisa dia membalas sapaanmu,” ucap Sou.
“Memang tidak bisa kan, aku hanya menyapanya saja,” balas Yari.
“Ah kalian ini,” kataku kesal.
“Kita mulai ya anak-anak,” tiba tiba terdengar suara dari speaker yang ada di dalam aula.
Dan robot langsung bergerak menyiapkan posisi. Tanpa berlama lama kami juga langsung memasang kuda-kuda. Posisi kami saling membelakangi dan membentuk seperti segitiga.
Belum terlalu siap dengan posisi kaki. Tiba-tiba sebuah dentuman datang ke arah kami. Sou dengan cepat membuat tameng transparan untuk melindungi. Untungnya tameng itu cukup kuat sehingga tidak ada lubang atau tergores sedikit pun.
“Zea cepat perhatikan posisimu,” teriak Sou.
Baiklah sekarang aku sudah siap. Melihat dua robot itu mendekat, Sou masih mempertahankan tamengnya, aku dan Yari bersamaan segera mengeluarkan pukulan berdentum ke arah mereka.
Sial, mereka bisa menghindar dan langsung muncul tiga langkah di depan kita. Kami segera menghilang dan pindah ke pojok aula, tanpa jeda kami langsung mengeluarkan pukulan berdentum bersama ke arah robot O.
Dan robot itu terjatuh, tapi tidak lama kemudian bangkit kembali. Mereka menyerang tanpa memberi jeda sedetik pun. Kami segera mengubah strategi dengan berpencar.
***
Besoknya, kami berpapasan dengan Hyra lagi. Tapi anehnya, dia bahkan tidak berkata satu kata pun. Hanya lewat dengan tatapan sinis.
“Lah ngapa lagi tu anak,” ucap Yari setelah berpapasan dengan Hyra.
“Wahah paling dia udah tau kita menang di lomba kemarin,” balas Sou.
“Hahahahah bisa jadi tuh,” kataku.
Dan yaa kami sekolah seperti biasa kembali. ***
.
.
*) Namira Hanifa Kalila, SMPN 10 Yogyakarta.
.
Pelajaran Kedua dan Ketiga. Pelajaran Kedua dan Ketiga. Pelajaran Kedua dan Ketiga.