Cerpen Henny Widyaning Fatmasari (Suara Merdeka, 17 Juli 2022)
“BAPAK kalah, Nduk. Jangan pernah berhenti berjuang untuk menggapai cita-cita,” seloroh lelaki paruh baya yang selalu jadi alasan perjuangannya.
Ara spontan memeluk erat tubuh lelaki kesayangannya. Tubuh yang dulu gagah perkasa telah habis digerogoti usia.
“Tidak ada yang kalah atau menang, Pak. Yang ada mau atau tidak mau menerima perubahan,” katanya mempererat pelukannya.
Gadis usia dua puluh dua itu mengedarkan pandangannya. Netranya beradu dengan hamparan hijau perbukitan yang tidak jauh berbeda sejak kakinya beranjak pergi dari sini. Satu yang tak lagi sama, aksara yang sukses ia tanamkan pada perempuan-perempuan di Wadaslintang telah mengikis sedikit demi sedikit pemahaman sempit mereka tentang ilmu.
Bunga di beranda yang dulu ia tinggalkan berupa tunas, kini rimbun menghiasi halaman rumahnya. Warna ungu pucat mengintip dari balik ranting pohon mangga sebagai tumbuhan inangnya. Anggrek bulan yang gersang dan tak berbunga mulai bermekaran di Wadaslintang.
***
“Bukan laki-laki yang hendak kami lawan, tetapi pendapat kolot dan adat usang.”
Kalimat bijak dari pahlawan emansipasi wanita itu menghujam ke palung jiwa terdalam Ara sejak ia temukan apa sesungguhnya makna cita-cita. Gadis berparas ayu itu menentang keras pendapat bapaknya yang selalu menggemakan slogan “dapur, sumur, kasur” bagi anak perempuan pada era modernitas yang begitu merajalela.
Menurut Bapak, perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi. Toh selebihnya mereka akan bertualang mencari bekal dan pelajaran hidup untuk berumah tangga: memasak, menjahit, memanen ikan nila, atau terkadang membantu para suami bertani.
Daerah tempat tinggalnya terletak di daerah perbukitan yang cukup sulit dijangkau, membuat masyarakatnya sedikit tertutup atas perubahan zaman. Walaupun tidak sepenuhnya. Sebagian kecil dari mereka ada yang sudah melek teknologi dan memanfaatkan gawai sebagai alat komunikasi.
Sebagai seorang carik di desanya, Bapak termasuk salah satu warga yang beruntung mempunyai ponsel dan laptop untuk kepentingan pekerjaan. Ara terkadang kurang paham apa yang menyebabkan pola pikir bapaknya masih cenderung kolot dan kuno.
Sejak kakak-kakak mahasiswa dari Universitas Negeri Semarang melakukan KKN di desanya lima tahun silam, Ara mengubah total pemikirannya.
Saat itu usianya masih belia, tiga belas tahun. Namun otaknya cukup cerdas memahami bahwa di desanya nyaris sebagian besar kaum perempuan tidak dapat membaca dan menulis alias buta aksara, termasuk ibu dan bibinya.
Diam-diam Ara mengekor ketika kakak-kakak itu mengajar para lansia membaca, menulis dan berhitung. Semua terekam dengan sempurna dalam memorinya.
Alih-alih berpangku tangan dengan takdir yang telah digariskan, gadis berkulit kuning langsat itu berontak dan menyuarakan hasrat untuk melanjutkan pendidikan.
“Poko’e Bapak ndak setuju. Nggo ngopo kowe sekolah dhuwur-dhuwur yen engkone yo tetep nang umah wae.” Waktu itu bapaknya terkejut setengah mati sewaktu ia mengutarakan maksud berkuliah ke Kota Semarang selepas kelulusan SMA.
“Aku jarang sekali meminta apa-apa pada Bapak. Tolong, Pak, kali ini dukunglah cita-citaku. Aku berjanji tidak akan mengecewakan Bapak dan Ibu. Aku pasti pulang dan akan mengabdi di desa ini seusai kuliahku selesai.”
“Yen kowe tetep nekat sekolah nang Semarang, goleken duit dhewe. Bapak ora arep mbayari kuliahmu,” tandas Bapak.
Dan di sanalah segala perjuangannya bermula. Di Universitas Negeri Semarang yang menjadi kampus pilihannya, Ara pontang-panting mencari beasiswa untuk membiayai kuliahnya.
Banyak hal yang mesti dipangkas demi sebuah cita-cita. Ara rela hidup di kos yang murah dengan fasilitas seadanya. Yang penting ia masih bisa berteduh dari hujan dan panas.
Saat akhir pekan mahasiswa-mahasiswa lain pergi ke Gramedia atau window shopping ke mal, ia harus cukup puas menyambangi perpustakaan daerah Kota Semarang. Tiga hari sekali saat kuliahnya libur, ia bekerja part time di rumah makan Padang milik Lik Harjo, bapak kosnya.
Prinsip Ara, tidak masalah seberapa besar rasa sakit dan penderitaan dalam perjuangan. Suatu hari ia akan mengerti betapa penderitaan itu telah mengubahnya menjadi sosok yang tangguh pada kemudian hari.
Empat tahun lamanya ia mengarungi gelombang ganas di tanah perantauan. Jauh dari orang-orang terkasih, kerap membuatnya terkadang ingin menyerah. Tak jarang ia merapal doa di sepertiga malam dan menciumi foto keduanya demi mengobati kerinduan pada bapak dan ibu.
Pada hari wisudanya, hanya ibu yang mengantarnya menuju masa depan. Bapak masih memendam kecewa atas kepergiannya dahulu. Yang Ara tak tahu, diam-diam Bapak selalu memantau keadaannya lewat Ibu.
“Titip ini buat anakmu, Bu. Jangan lupa suruh makan yang teratur. Ibu nggak perlu bilang kalau uangnya dari Bapak ya,” kata Bapak menyerahkan beberapa lembar uang seratus ribuan ke tangan Ibu. Dan Ibu pun tersenyum simpul menanggapi ucapan suaminya.
Perjuangan Ara yang tidak kenal lelah mulai membuahkan hasil. Perahu ilmu yang ia nakhodai tinggal mencari dermaga yang tepat untuk bersandar.
“Selamat ya, Ra. Semoga ilmumu berguna nanti ketika kamu terjun ke masyarakat. Ada rencana apa selepas lulus dari sini?” tanya Ibu Anastasya, dosen pembimbingnya.
“Terima kasih banyak, Ibu. Semua berkat kesabaran Ibu dalam membimbing saya selama ini. Saya belum ada rencana apa-apa. Mungkin selepas ini saya pulang kampung dan mengabdikan diri mengajar di sana.”
“Nah kebetulan, saya ada sebuah program pemberantasan buta aksara di wilayah Jawa Tengah. Butuh banyak rekanan mahasiswa untuk melaksanakannya. Jika kamu bersedia, akan saya masukkan namamu dalam daftar mentor yang akan bergabung,” jelas dosen berkacamata itu kepada Ara.
“Tapi, Bu, apakah boleh saya tetap melaksanakan program itu di daerah tempat tinggal saya?” tanya Ara masih sedikit ragu.
“Tentu saja boleh. Program ini kan mencakup wilayah Jawa Tengah, termasuk daerahmu. Saya akan merasa senang, jika kamu bersedia bergabung. Kamu salah satu mahasiswa yang cukup cerdas. Saya yakin pasti kamu bisa,” sahut Ibu Anastasya terus memberi semangat.
Ara bergegas pulang ke kampung halamannya mengabarkan suka-cita dan harapan. Bus jurusan Semarang-Wonosobo yang membawanya pulang berjalan terasa lambat.
Sampai kakinya menginjak halaman rumah, Ara masih gemetar menahan rasa haru. Diketuknya pintu kayu jati yang sama dengan yang ia lalui empat tahun lalu demi sebuah cita-cita dan perjuangan.
“Assalamu ‘alaikum, Ibu, Bapak, Ara pulang.”
“Wa ‘alaikumussalam, masya Allah Nduk. Mimpi apa Ibu semalam melihatmu kembali pulang. Bapak… Bapak, anakmu pulang, Pak!”
Bapak berjalan ke arah ruang tamu dan menghampiri Ara yang masih terpaku di depan pintu.
“Selamat datang kembali, Nduk.” Lalu tangis ketiganya pecah, meluapkan kerinduan bertahun-tahun lamanya.
***
Malam itu rintik gerimis membasahi sebagian wilayah Kecamatan Wadaslintang. Waktu bergerak menuju pukul sebelas malam. Nyaris separuh warga terlelap di bawah langit tanpa bintang. Ara masih terjaga, dilihatnya Bapak yang tengah memejamkan mata di sofa. Di genggamannya ada tiga lembar kertas yang tampak basah.
“Pak, bangun, pindah ke kamar ya. Jangan tidur di sini,” katanya berusaha membangunkan Bapak. Ara mengguncang tubuh Bapak yang terasa agak dingin.
Diambilnya kertas-kertas yang ternyata miliknya sendiri. Ijazah dan sertifikat penghargaan yang telah ia raih selama menempuh pendidikan. Semuanya basah oleh air mata yang masih mengalir di pipi Bapak yang keriput. Saat itu Ara tahu, Bapak pergi selamanya.
Barangkali Bapak punya alasan meninggalkan ia dan Ibu tanpa salam perpisahan. Namun, ada sesak yang mendesak di dalam hatinya. Bapak tidak akan melakukan tugas terakhirnya untuk Ara sebelum esok menjadi milik lelaki lain. ***
.
.
Cilacap, Desember2021
—Henny Widyaning Fatmasari, alumnus Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang. Guru SD Al-Irsyad 01 Cilacap ini sedang menempa diri di komunitas literasi COMPETER Indonesia dan Kepul (Kelas Puisi Alit)
.
Anggrek Bulan. Anggrek Bulan. Anggrek Bulan. Anggrek Bulan.