Dongeng Sebelum Tidur

Cerpen Seno Gumira Ajidarma (Kompas, 22 Januari 1995)

“JADI, mereka tidur sambil memandang rembulan, Mama?”

Ibunya hanya tersenyum, memandang ke luar jendela. Ada rembulan di luar sana.

“Kututup gordennya, Sari?”

“Biarkan begitu, Mama, aku ingin memandang rembulan itu, seperti mereka.”

Ibunya menahan sesuatu yang hampir dikatakannya. Lantas mengecup pipi Sari.

“Selamat tidur, Sari.”

“Selamat malam, Mama.”

Lantas ibunya mematikan lampu, menutup pintu, meninggalkan Sari sendirian.

Sari memiringkan kepalanya, matanya berkedip-kedip memandang rembulan. Ia sama sekali tidak bisa tidur.

Malam ini cerita ibunya lain sama sekali. Barangkali karena simpanan cerita ibunya sudah habis. Dari ibunya Sari telah mendengar hampir semua cerita. Sejak berumur lima tahun, ibunya biasa bercerita sebelum tidur, karena kalau tidak, Sari tidak bisa tidur. Kini Sari sudah berumur sepuluh tahun. Sudah sekitar 1.825 cerita didengarnya, dan semua menempel baik-baik di kepala Sari yang terlatih—ia tidak mau mendengarkan cerita ulangan.

Ibunya, seorang wanita karier yang sibuk, sesibuk-sibuknya tetap berusaha menceritakan sebuah dongeng kepada anaknya sebelum tidur. Jika ia berada di luar kota, atau di luar negeri, ia menelepon tepat pada waktunya untuk bercerita. Kalau ia mesti mengadakan perjalanan panjang, dengan pesawat terbang semalam suntuk misalnya, ia meninggalkan dongengnya dalam rekaman. Ibunya itu bisa bercerita dengan menarik, habis dulunya suka main sandiwara sih. Sari sungguh beruntung.

Namun setelah selama lima tahun bercerita setiap malam, persediaan ceritanya habis. Ia sudah menghabiskan kisah Seribu Satu Malam, ia sudah mengingat-ingat sebisanya semua fabel Aesop, bahkan juga cerita wayang lengkap dengan segenap carangan-nya, tapi tak juga ia temukan satu saja yang belum diceritakannya kepada Sari.

“Barangkali aku sudah mulai tua,” keluhnya kepada sopir.

“Ah, tua bagaimana sih, Nyonya, yang menaksir juga masih banyak begitu kok.”

“Huss!”

Bener lho, itu kata sopir-sopir teman saya.”

“Aku ini ditaksir sopir-sopir?”

“Bukan begitu Nyonya, sopir-sopir itu menceritakan kembali omongan tuannya.”

“Jadi yang naksir aku tuan-tuan mereka?”

“Iya!”

“Hmmhh! Ora sudi!”

“Lho, siapa yang bilang harus sudi?”

“Apa mereka tidak tahu aku ini punya suami?”

“Lha itu, makanya?”

“Makanya kenapa?”

“Malah kepingin!”

“O, dasar gemblung!”

“Orang Jakarta, kan, memang gemblung, Nyonya.”

“Ah, sudahlah, yang jelas aku ini baru bingung, kehabisan cerita buat Sari. Anak itu kok ya hapal semua cerita yang sudah kuceritakan. Bingung aku. Coba, semua versi cerita Asal Mula Padi dari Jawa, Bali, Lombok, sampai Irian sudah kuceritakan, aku tidak bisa mengingat cerita apa-apa lagi sekarang. Katak Hendak Jadi Lembu sudah. Burung Pungguk Merindukan Bulan sudah. Calon Arang sudah. Bandung Bandawasa sudah. Sangkuriang sudah. Asal Mula Gunung Batok juga sudah. Aku sudah tidak punya cerita lagi, sudah lupa, sudah tua, apa kuputerin laser-disc saja, kuputerin Beauty and the Beast begitu?”

“Lho jangan Nyonya, dongeng seorang ibu sebelum tidur itu lain dengan laser-disc yang mekanis, diputar untuk siapa pun keluarnya sama, Nyonya boleh saja canggih, tapi harus tetap jadi manusia. Bercerita kepada anak tetap harus ada hubungan personal.”

“Eh, kamu kok pinter?”

We lha, jelek-jelek gini, kan, drop-out dari universitas lho Nyonya.”

“Wah, universitas mana?”

“Salatiga!”

“Universitas Salatiga? Drop-out apa dipecat?”

“Aduh Nyonya, mbok jangan menyindir.”

“Siapa yang menyindir? Kamu yang merasa sendiri kok!”

Sebelum tiba di rumah, sopir yang jebolan universitas itu berhasil meyakinkan ia punya majikan, agar mengarang saja cerita untuk Sari. Ibu Sari setuju. Masalahnya, ia tidak merasa bisa mengarang. Pandai bercerita tidak harus berarti pandai mengarang bukan?

“Tapi aku tidak bisa mengarang.”

“Ah, kalau cuma cerita menarik, di koran juga banyak.”

“Itu bukan cerita, itu berita.”

“Berita itu juga cerita kan, Nyonya, maksud saya juga bisa diceritakan?”

“Apa ada berita menarik di koran?”

“Lha itu masalahnya Nyonya, apa ada berita menarik di koran?”

Mobil sudah hampir sampai rumah.

“Aduh, hampir sampai, bagaimana dong?”

“Lihat saja dulu di koran, Nyonya, pasti ada saja satu dua yang bisa dibacakan.”

***

Melewati pintu garasi, Sari sudah menghambur sambil membawa bonekanya.

“Mama malam sekali sih? Sari sudah ngantuk nih.”

“Biasa, kan? Rapat mulur, jalanan macet, tadi, kan, Mama sudah menelepon dari jalan.”

Ibunya menggendong Sari.

“Ayo dong mendongeng, cepetan!”

“Buka sepatu saja belum.”

Sembari masih menggendong, ibunya menyambar koran di meja. Entah koran kapan. Selintas saja disambarnya judul-judul berita. Ketika ia meletakkan Sari di tempat tidur, sambil mencopot sepatu tinggi, dan membuka blazer-nya, sebuah berita menempel di kepalanya. Ia masih mempertimbangkan, apakah berita itu akan disulapnya menjadi sebuah cerita.

“Cerita tentang apa sekarang Mama?”

Ibunya menghela napas. Di manakah batas antara dongeng dan kenyataan?

“Dengarlah Sari, cerita ini dimulai dengan pengakuan seorang ibu.”

Lantas ibunya membaca berita itu.

Saya sudah tinggal di sini sejak usia delapan tahun sampai memiliki tiga anak dan seorang cucu. Tiba-tiba saja, pada usia yang ke-39 sekarang ini—jadi setelah 31 tahun hidup di sini, setelah saya makin merasa bahwa inilah kampung halaman saya, kampung halaman anak-anak dan cucu saya—saya dipaksa pindah dan hanya diberi uang Rp 400.000. Siapa yang tidak marah diperlakukan seperti itu? Adilkah ganti rugi dengan nilai sekecil itu?

Saya bersama suami saya memang tinggal di atas tanah negara. Tapi saya punya KTP, taat membayar PBB dan tak pernah melawan pemerintah. Kini, setelah rumah saya terbakar dan dibongkar, setelah barang-barang kami rusak semua, kami tidak memiliki apa-apa lagi.

Seharusnya mereka tidak membiarkan kami seperti ini.

Kami juga tidak tahu harus ke mana setelah ini.

Apa yang bisa saya lakukan sekarang hanyalah mengungsikan sebagian anak-anak saya. Saya kini menunggu kepastian. Uang Rp 400.000 untuk kontrak sebuah keluarga yang layak, sangat tidak cukup. Uang sebesar itu hanya bisa dipakai untuk kontrak rumah ala kadarnya selama tiga bulan. Ini pun kalau belum naik, dan jika uang itu hanya dipakai untuk kontrak rumah saja. Bagaimana jika kami harus menyewa truk untuk mengangkut sisa barang kami? Saya juga meragukan bisa tinggal di rumah susun. Untuk membayangkan saja belum pernah, apalagi memercayai janji bahwa kami bisa hidup lebih baik di rumah susun itu nanti…. [1]

Lantas, ibunya mencoba bercerita berdasarkan foto-foto yang ada di koran itu, begitu asyik, sampai tak tahu betapa Sari terperangah.

Dongeng-dongeng sebelum tidur yang diceritakan ibunya biasanya sangat romantis, indah, dan menggambarkan suatu alam yang tenang.

Namun kini debu mengepul dalam bayangan Sari, buldoser menggasak tembok-tembok rumah penduduk, dalam waktu singkat satu kampung menjadi rata dengan tanah. Ibu-ibu diseret, anak-anak menangis, dan bapak-bapak berkelahi melawan para petugas. Sari memejamkan mata, tetapi ibunya terus bercerita tentang kebakaran yang berkobar-kobar, jeritan orang-orang yang kehilangan rumah, dan terik matahari yang seakan menjadi lebih menyengat dari biasanya.

Ketika mengakhiri ceritanya, dengan gambaran matahari senja yang bulat, merah, dan besar turun perlahan-lahan di balik siluet jalan layang yang berseliweran, ibunya merasa bagai habis berlari lama sekali dan kini terengah-engah.

“Jadi, mereka tidur sambil memandang rembulan, Mama?”

Sari masih ingat, ibunya hanya tersenyum, memandang rembulan di luar jendela, menahan sesuatu yang hampir dikatakannya, lantas mengecup pipi.

***

Sari memandang rembulan itu. Kali ini dongeng ibunya membuat ia tidak bisa memejamkan matanya sama sekali.

Ayahnya, yang baru pulang menjelang dini hari, terkejut melihat Sari belum tidur ketika membuka pintu kamarnya. Dilihatnya Sari memandang rembulan sambil menyedot ibu jari.

“Ada apa?” Ia bertanya kepada istrinya yang masih menonton CNN.

Istrinya menunjuk koran yang dibacanya tadi. Suaminya membaca selintas.

“Kamu bercerita tentang penggusuran?”

Istrinya tidak menjawab, malah balik bertanya.

“Kamu tidak akan memberedelnya hanya karena membuat Sari tidak bisa tidur, kan?”

Suaminya hanya mendengus. Ia menyingkap gorden, melihat rembulan yang terang di atas pohon palem. ***

.

.

Jakarta, 1 November 1994

.

Catatan:

[1] “Mereka Bicara Soal Benhil”, Republika, Minggu, 16 Oktober 1994, h. 2.

.

Dongeng Sebelum Tidur.

Arsip Cerpen di Indonesia