Mudakir dan Wasiat Terakhir

Cerpen Ikrom Rifa’i (Kedaulatan Rakyat, 02 September 2022)

SEIRING kian parahnya penyakit lambung yang diderita, Mudakir berkeyakinan bahwa cepat atau lambat ia akan menemui ajalnya. Ia membayangkan akan melihat dua malaikat turun dari langit, membawa kain kafan dan minyak wangi dari surga. Lalu dengan gerakan yang sukar dijelaskan nalar dan logika, rohnya terlepas begitu saja seperti seekor anak ayam yang menetas dari cangkangnya. Lalu dua malaikat akan melayangkannya ke angkasa. Hingga tak berselang lama, rohnya dikembalikan lagi ke jasadnya dan dua malaikat di alam kubur akan mewawancarainya dengan serangkaian pertanyaan. Tentu, sebelum itu ia telah lebih dahulu diperlihatkan gambaran surga atau neraka—jelas ia membayangkan akan melihat surga.

Keyakinan akan kematian itu diperkuat manakala selepas Asar, Mudakir merasakan denyutan di bagian ubun-ubun. Tiga hari sebelumnya ia juga merasakan denyutan di antara dahi kanan dan kirinya. Ia kemudian teringat perkataan Kiai Amin, sewaktu kecil, dalam sebuah pengajian pernah menyampaikan beberapa tanda-tanda ketika seseorang hendak menemui ajal. “Tiga hari menjelang kematian, pada suatu saat, akan terasa denyutan di antara dahi kanan dan dahi kiri,” kata Kiai Amin. Saat itu, usia Mudakir belum genap dua belas tahun.

Kepada istrinya, Mudakir hanya ingin berwasiat bahwa jika ia mati, ia ingin ayam-ayamnya dirawat dengan baik. Terutama Si Diman, ayam bangkok yang karena kemenangannya di medan laga, ia mampu meminang sang istri. Bagi seorang botoh penyabung ayam yang ulung macam dirinya, bukankah ayam tak ubahnya harta paling berharga yang harus dirawat dan dijaga?

Tapi pada pagi yang tak biasa, Mudakir merasakan sesuatu yang aneh. Ia terbangun dari tidurnya dengan lambung yang tak lagi terasa sakit. Ia terbangun sebagaimana orang yang sehat dan bugar. Ia mampu melihat dengan jelas sorot matahari yang menyelinap lewat jendela kamarnya. Apakah itu artinya ia telah sembuh dan tak akan jadi mati? Ia segera bangun dan memanggil sang istri. Tapi sampai pada panggilan ketiga, tak ada seorang pun yang menyahut.

Ketika Mudakir beranjak dari ranjangnya dan melangkah ke ruang tengah, ia mendapati sesuatu yang janggal. Banyak orang yang bertandang ke rumahnya dengan muka penuh sungkawa. Padahal, keluarganya tidak sedang berduka.

“Aneh. Aku hanya punya firasat akan mati, tapi kenapa orang-orang sudah berbondong ke sini seolah-olah di keluargaku sudah ada yang mati?” batin Mudakir, terheran.

Lantaran firasat kematiannya masih kuat, Mudakir terus berusaha mencari istrinya. Tujuannya tentu hanya satu: menyampaikan wasiatnya agar ketika ia mati, Si Diman dan ayam-ayamnya dirawat dengan baik sebagaimana merawat seorang anak.

Sampai di dapur, Mudakir belum juga menemui istrinya. Malahan, ia melihat para tetangga yang tengah sibuk meramu bumbu. Di sinilah, ia dikejutkan oleh satu hal. Ia melihat Si Diman sedang dirajang dan siap untuk dimasak. Ia yakin betul bahwa itu Si Diman, sebab ia tahu persis bagaimana bentuk tubuh ayam itu, mulai dari ekor, ceker, dan kepalanya.

“Brengsek, siapa yang suruh menyembelih Diman?” Mudakir berteriak histeris. Tapi, tak seorang pun yang mendengar teriaknya. Pada saat yang bersamaan, ia juga mulai menyadari ada yang aneh dalam dirinya. Ternyata kakinya tidak bisa menyentuh lantai. Melayang.

“Ah, jadi aku sudah mati?!” Mudakir makin histeris. Ia sungguh tak tahu, betapa Si Diman akan dijadikan opor ayam untuk hidangan tahlilan kematiannya. ***

.

.

Purbalingga, 2022

*) Ikrom Rifa’i lahir di Purbalingga, 25 Juli 2000. Mahasiswa Universitas Singaperbangsa, Karawang. Bergiat di Komunitas Teater & Sastra Perwira (KATASAPA) Purbalingga.

.

Mudakir dan Wasiat Terakhir. Mudakir dan Wasiat Terakhir.

Arsip Cerpen di Indonesia