Musim Kematian

Cerpen Kak Ian (Radar Mojokerto, 04 September 2022)

SEBAGAI Pak RT, Mukim sudah beberapa hari ini disibuki mengurusi warganya. Tapi saat ia melakukan hal itu, di sudut matanya selalu terbendung gumpalan air bening yang tertahankan. Sampai-sampai wajahnya yang teduh selalu menampakan kemuraman. Ya, bagaimana tidak muram wajah Mukim saat itu?

Bayangkan dalam seminggu ini Mukim harus mengurusi warganya yang mati. Hanya beda dua atau tiga hari saja—dalam seminggu itu warganya ada (saja) yang menghembuskan nafas. Walaupun sebenarnya ia tidak tega apalagi saat harus menyiarkan berita duka di mulut toa musala terdekat. Tapi sebagai tokoh warga yang disegani ia pun harus melawan rasa kesedihannya itu, demi keprofesionalan dirinya sebagai ketua RT.

Belum lama ini Mukim harus kembali menyiarkankan berita kematian yang datang dari warganya. Tidak jauh dari kediamannya, hanya dibatasi lima rumah warga. Ternyata warganya yang tutup usia itu adalah warga pendatang. Mereka baru tiga bulan menetap di kampung di mana Mukim tinggal.

Dan yang tutup usia itu adalah seorang suami yang meninggalkan seorang anak berusia lima bulan dan seorang istri yang masih muda. Kematiannya karena kecelakaan. Ada mobil mewah menabrak si almarhum yang saat itu sedang membawa motor membeli popok untuk anaknya itu. Namun takdir pun tidak bisa dielakkan, akhirnya meninggal di tempat.

Menurut warga setempat, mereka baru menikah dua tahun. Betapa sedihnya Mukim saat salah satu dari pasangan suami-istri itu harus terpisah karena maut. Terlebih yang ditinggalkan itu adalah seorang istri. Usianya juga masih sangat muda, baru 27 tahun, ketika Mukim mengetahuinya saat mengurusi kepindahan mereka menjadi warganya.

Tentu hal itu pun sangat terpukul bagi yang ditinggalkan. Harus mengurusi anak yang baru enam bulan seorang diri bagi seorang istri. Namun Mukim lagi-lagi harus mengalahkan rasa kesedihannya—dan dirinya akhirnya menyiarkan juga berita duka itu.

Padahal Mukim baru kemarin, baru tiga hari menyiarkankan berita duka. Berita kematian warganya. Tak lain warganya yang menghembuskan nafas itu adalah Pak Ridwan, seorang pesiunan guru yang suka main catur bersama Mukim. Pensiunan guru itu mati karena terjatuh dari kamar mandi. Menurut keluarganya karena stroke Pak Ridwan saat itu kambuh. Akhirnya tidak tertolong lagi.

Mukim akhirnya harus menyiarkan juga berita kematian pensiunan guru itu. Walaupun ia sangat dekat dengan si almarhum dan sebagai ketua RT yang tugasnya menyiarkan berita duka akhirnya dijalankan pula. Walaupun sebenarnya dalam hatinya ia tersedu sedan.

Sebagai manusia Mukim hanya bisa pasrah—dan takdirlah yang menentukan. Selang beberapa hari kemudian. Tepat seminggu bila dihitung dari kematian dua warganya yang lebih dulu. Kini Mukim menyiarkan berita kematian kembali.

Sebenarnya Mukim ingin menolak untuk menyiarkan kabar kematian itu. Sebab, ia sudah tidak sanggup lagi. Namun saat ia ingin sejenak berhenti untuk melakukan hal itu. Warganya tidak satu pun yang bisa menggantikan dirinya. Lagi-lagi ia harus menerima kenyataan itu.

Bukan itu saja, Layla, almarhumah istrinya—yang lebih dulu meninggalkan dirinya, di saat Mukim belum genap menjadi ketua RT pernah berpesan. “Tugas kita sebagai manusia di dunia ini untuk saling melayani pada sesama. Apalagi sebagai ketua RT, itu sudah barang tentu sudah menjadi tanggung jawab. Maka lakukanlah selagi kita mampu. Ikhlaskan dan tuluskan apa pun yang kita perbuat.”

Tetiba Mukim teringat pada pesan mendiang istrinya. Ternyata saat menekuri ucapan itu ia pun kembali teringat pada kisah Sang Nabi yang ditinggal oleh kematian orang-orang yang disayanginya dan dicintainya itu. Sang Nabi harus merelakan kepergian istrinya, kakeknya serta sahabatnya. Lalu kenapa Mukim tidak setabah junjungannya itu?

Mukim mengetahui hal itu juga dari ceramah Ustaz Kadir saban malam Jumat di majlis taklim bapak-bapak yang ia ikuti. Akhirnya Mukim kembali teringat kisah kehidupan Sang Nabi itu. Haruskah Mukim berhenti untuk menyiarkan berita duka bila ada warganya yang tutup usia? Dan haruskah ia pula berhenti menjadi ketua RT?

Esokkan harinya, saat Mukim ingin ke kantor kelurahan untuk mengurusi KTP dan Kartu Keluarga serta dokumen lainnya untuk warganya. Tetiba batuk keras menghantam dirinya. Saat itu dari mulutnya keluar darah segar, banyak sekali. Lalu dirinya limbung. Matanya seketika itu gelap gulita. Dan…, bruk! Ia terjatuh tanpa rasa dan sadar diri.

Tapi ketika Mukim terbangun. Ternyata di depannya sudah berdiri mendiang istrinya. Istrinya itu tersenyum pada Mukim. Kemudian meraih tangan Mukim untuk mengajaknya ke sebuah taman keabadian bersama-sama.

Mukim pun tersenyum bahagia apalagi yang mengajaknya adalah istrinya. Walaupun dirinya saat itu sedang ditangisi oleh sanak saudara dan warganya di ruang tamu serta sampai di pelataran rumahnya. Tapi saat mereka sedang menangisi kepergian Mukim si Ketua RT itu, terdengar sayup-sayup berita kematiannya dari moncong mulut toa musala. Tapi orang-orang tidak tahu jika di musala itu tidak ada satu pun orang yang menyiarkan kematiannya.

Kalau begitu siapa dia? ***

.

.

KAK IAN. Penulis, aktifis anak dan penikmat sastra. Bergiat di Komunitas Pembatas Buku Jakarta. Karya-karyanya sudah termaktub di koran nasional dan lokal di antaranya Koran Tempo, Kompas Minggu Nusantara Bertutur, Solopos, Suara Merdeka, Merapi, Fajar, Riau Pos, Padang Ekspres, Haluan, Singgalang, Radar Surabaya, Radar Banyuwangi, Radar Bromo, Radar Madiun, Sinar Indonesia Baru, Pontianak Post, Medan Pos, Malang Post, Majalah Balai Bahasa Lampung Kelasa, Majalah Utusan, Majalah Ummi, Majalah Anak Kiddo, dll. Karya terakhirnya, “Kumpulan Cerita Remaja: Malaikat yang Jatuh Cinta pada Pandangan Pertama.” Penerbit Mecca, Desember 2019. Kumpulan Cerpen: “Hikayat Kota Lockdown”, Penerbit Sinar Pena Amala, Agustus 2020.

.

Musim Kematian. Musim Kematian. Musim Kematian. Musim Kematian.

Arsip Cerpen di Indonesia