Cerpen Pasini (Kedaulatan Rakyat, 09 September 2022)
“JANGANKAN sepuluh. Aku bahkan bisa menuliskannya minimal seratus!” jawabku dengan lantang.
Ki Dullah tersenyum kecil. Dua sudut bibirnya membentuk lengkung, mempertegas kerutan di wajahnya yang nyaris merata. Jika KTP berdasar fakta, maka Februari lalu usianya genap sembilan puluh.
Sebagai orang kuno—begitu aku menyebutnya—segala sesuatu cukup dicatat dalam ingatan, sebelum kemudian digusur lupa. Tanggal kelahiran, pun tanggal pernikahan. Sering kali tak ada sejarah administrasinya. Seiring laku zaman dan itu dianggap perlu, maka data yang dimasukkan dalam urusan surat-menyurat akhirnya dibuat dengan mengira.
Aku pernah menemukan di KTP pula, usia Emak sepuluh tahun lebih tua daripada usia Bapak. Dan itu menggelikan. Karena dalam salah satu cerita mereka, Bapak masih ingat betul bahwa ia merengek pada Simbah untuk ikut kenduri brokohan menyambut kelahiran Emak. Karena mereka hidup bertetangga. Tetapi Bapak dilarang karena habis dikhitan. Tidak boleh banyak bergerak.
Tetapi aku tidak ingin membahas terlalu jauh dua orang yang sudah berpulang dan beralam dengan tenang. Ini tentang seseorang yang lain. Seseorang yang semestinya tidak keluar dari rahim Emak dan menumbalkan nyawanya. Ia berusia jelang paruh abad dan seonggok janin tiba-tiba bermuara di perutnya.
“Kita gugurkan saja,” kata Bapak dengan suara parau. Ia baru saja menambatkan predikat Simbah dengan kehadiran cucu pertama dari anak pambarep-nya, ketika tiba-tiba Emak sering masuk angin dan tidak kunjung sembuh dengan punggung dikeriki koin. Aku sebagai satu-satunya anak yang masih tinggal dengan orangtua lantas memboncengnya ke bidan.
“Tidak, Pak. Akan kurawat sebagaimana tiga abangnya yang lain. Ia akan menceriakan hari tua kita.”
Dan buah dari kebersikerasan Emak adalah nyawanya sendiri. Terjadi pendarahan hebat dan bayi dengan keterbelakangan mental adalah pembayar harga yang tidak sepadan. Bapak semakin sering sakit-sakitan dan menyusul berpulang. Kedua abangku punya serentetan alasan agar lepas tangan.
Jadi menurutku, kelahiran idiot itu adalah sebuah kesalahan. Dan dosa pertamanya tentu saja karena ia merepotkanku. Dosa-dosa berikutnya adalah bertubi-tubi kenakalan yang ia lakukan.
Tentu ia mempunyai sebuah nama. Tetapi aku memanggilnya dengan Buto. Karena badannya bongsor. Karena makannya banyak. Setara dengan makan kuli bangunan berpenghasilan seratus ribu sehari. Tetapi biaya yang aku keluarkan untuk membayar kebadungan Buto dalam setiap harinya lebih dari upah kuli.
“Ia melempari Gawok. Kakinya pincang. Sebagai ayam aduan, cacat adalah fatal.”
“Kemarin ia mendorong anakku dalam pertandingan bola. Anakku jatuh. Pelipisnya berdarah. Aku membawanya ke puskesmas. Sampai lima jahitan.”
Hampir setiap pulang kerja, ada saja aduan tetangga. Dan aku bersikap tak ubahnya kerbau. Hanya bisa manggut-manggut. Tak bisa menolak dengan berapa pun nominal yang mereka sebutkan. Aku semakin miskin. Bujang lapuk miskin, tepatnya. Karena tak ada seorang perempuan pun yang mau kunikahi dengan pertimbangan pasti diajak merawat Buto seumur hidupnya.
Setiap kali membuat ulah dan membuatku ketiban masalah, aku memaki-maki Buto. Menendangnya. Menempelengnya. Memukulnya. Dan ia menangis meraung-raung. Berjanji kapok. Tapi kenyataannya, kapok lombok. Alias mengulangi kembali.
Hingga suatu hari Ki Dullah mampir ke rumah kami. Dua kali dalam setahun beliau pulang kampung dan ziarah ke makam Simbah. Jelang bulan Sura dan Lebaran. Ia adalah kakak Bapak dan menjadi pemimpin pondok pesantren di Sukabumi. Beberapa bulan lalu dalam sebuah kepulangannya tidak sempat mampir karena ada undangan mengisi tausiyah, hanya menitipkan cukup banyak oleh-oleh untukku dan Buto lewat seorang santri yang diutusnya.
Kali ini mungkin Ki Dullah tidak dikejar waktu. Aku menerimanya di ruang tamu dengan dua cangkir kopi dan sepiring singkong rebus kegemarannya. Mulutku tak henti-henti mengeluhkan kerepotanku mengurus Buto. Aki menyimaknya dengan wajah tenang dan berujung permintaan agar aku menuliskan sepuluh dosa Buto kepadaku.
“Le,” panggil Aki sambil menyambut kertas berisi tulisan tanganku.
“Njih, Ki.”
“Dosa-dosa adikmu kepadamu yang kau tulis di kertas ini, di yaumul hisab nanti, akan bisa meringankan dosa-dosamu, akan bisa menambah amalmu, akan bisa mengantarmu ke salah satu pintu surga, kalau kau bisa memaafkannya. Kalau kau bisa ikhlas merawatnya.”
Mataku bersitatap dengan mata Aki. Wajahnya seterang purnama. Membuatku tidak tahan dengan kesilauannya. Aku menunduk. Bagai orang yang kalah judi. ***
.
.
*) Pasini, mitra BPS Kabupaten Ngawi sebagai tenaga entri data, menulis cerpen yang pernah tersiar di sejumlah media cetak dan daring.
.
Sepuluh Dosa. Sepuluh Dosa.