Keluarga Lulu (1)

Cerbung Alimuddin (Analisa, 15 Desember 2013)

PAGI sudah mau terang tanah. Mami sejak lima menit lalu sibuk menggedor-gedor daun pintu kamar Lulu. Ini hari Kamis, bukan Minggu!

“Bangun Lu… Lulu…” jerit Mami tak tanggung-tanggung.

“Kali aja Cak Cucu cudah meninggal, Mi,” komen Cica yang sudah kelas satu sckolah dasar, namun masih cadel itu.

“Cak Cucu… Cak Cucu… Cicak udah meninggal ya? Kok nggak pamit-pamit sih?”

Gedebuk…! Gedebuk…!

Sesaat Cica turut memukul-niukul pintu kamar Lulu. Tapi tak lama bocah itu ingat, ia harus lekas ke kamar untuk mandi dan tentu saja mencuci wajah kinclongnya. Ih, kecil-kecil genit ya?

“Nggak mungkin, Sayang. Kakakmu itu masih banyak dosa. Belum lagi hutang budi sama Mami. Kayaknya masih lama deh, hehe… Umur tiga puluh kayaknya Kakakmu itu baru dipanggil,” ucap Mami sambil masih menggedor-gedor.

Ini anak ke mana sih? Apa betul-betul meninggal ya? Rugi banget deh saya kalau anak itu meninggal muda. Dia ‘kan belum beliin saya macam-macam perhiasan, hihi…

Cica sudah di depan kamar mandi sempat berteriak sebelum masuk ke dalam ruangan sempit itu, “Mi… kalo Cak Cucu meninggal, kita buat pesta besar ya? Kita undang Peterpan sekalian Miii… Kita buat panggung yang besar. Sayang Cak Cucu nggak bisa liat Peterpan ya Mi…?”

Si Mami ngikik mendengar cclotehan anak bontotnya itu.

“Hush! Ada orang meninggal kok diundang Peterpan buat nyanyi?! Kita undang Gigi dong! Biar Arman Maulana jingkrak-jigkrak di panggung. Pasti kakakmu Lulu tambah iri, hihi….”

“Cici… Cici….” Ini suara tertawa Cica. Maklum, masih cadel. Jadi seenak hidung mengubah suara tawa, hehe…

Lantas kran air dihidupkan Cica. Dan terdengarlah bunyi yang mendesing-desing. Sing… Sing…Sing… Sing…

Maka Cica bernyanyi dengan lengkingan keras. Maklum, saingannya kelas kakap bo! Kran air, hahaha…

.

Oh pacarku…

Mengapa pergi meninggalkanku

Padahal aku masih sayang kamu

Kok kamu pergi meninggalkanku

.

Oh pacarku

Mengapa pergi meninggalkanku

Terajana… Terajana..

Ah, ah mandi madu

Kok kamu kamu pergi meninggalkanku…

.

Jelas saja Mami geleng-geleng kepala mendengar jerit Cica itu. Anak sekarang genit-genit ya? Lagunya serba cinta, batin si Mami.

Bunyi teng-teng enam kali menyadarkan Mami apa yang harus dilakukan, pekerjaan Mami belum tuntas tadi. Mana sudah jam enam lagi.

“Lu… bangun Lu… kamu kan belum sembahyang subuh, Lu…”

“Lu… Bangun dong! Ada gosip baru yang pengen Mami diskusikan sama kamu…”

Hihi… Mami rupanya mau bergosip di pagi tidak buta.

Tuk-luk! Tok-lok! Gedubrak… Gedubriikk…

.

Peluk aku cium aku…

Bawa aku ke rumahmu

Peluk aku cium aku…

Beli aku liontin indah

 .

Peluk aku cium aku

Ajak aku ke Kuta Bali

Peluk aku cium aku

….

.

Notes penting: buat yang merasa adalah penyanyi asli, harap maklum. Kesalahan lirik bukan pada diri penulis. Melainkan pada Cica yang statusnya adalah penyanyi kamar mandi cap Gajah. Jika mau menuntut, langsung saja berhubungan yang bersangkutan. Kalau mau melempar bom molotov, juga langsung dengan Cica. Mohon diperhatikan, jangan sampai memakan korban nyawa selain Cica.

Sekali lagi Mami geleng-geleng kepala.

“Udah jam enam nih, Lu… Ntar lagi kamu ‘kan ke sekolah. Pulangnya mau sorean… Gosipnya keburu basi nih…”

“Luuuu… Banguuun doong…” Kali ini Mami habis kesabaran hingga terpaksa menjerit sejadi-jadinya.

Dan berhasil!

Bu Suratane, tetangga paling dekat sebelah kiri dengan rumah mereka, kontan nyelutuk dari jendela rumahnya.

“Mami Lulu, sejak kapan di rumah melihara kera? Kok nggak ada syukuran dulu?”

Bu Akrobati, tetangga paling dekat sebelah kanan, yang sering minjam cabe tapi nggak dikembalikan, malah berpantun ria.

.

Nyolong mangga trilili-tralala

Anak nangis digigit kebo

Mami Lulu jadi gorilla

Mantap bo!

.

Lh, si Mami malah terpancing buat meladeni pantun Bu Akrobati barusan. Tapi Mami tidak berpantun ria bo! Melainkan minggat dari depan kamar Lulu dan menarik kaki ke halaman rumah sambil teriak-teriak memanggil nama Bu Akrobati.

“Bu Akrobati, keluar kamu…”

Yang dipanggil belum keluar. Jari jemari Mami gelisah meremas-remas pagar bambu rumah mereka.

Mendadak saja situasi dan kondisi jadi panas.

“Sebentar Mami Lulu… Lagi meeting sama pembantu ini…” jerit Bu Akrobati dari dalam rumahnya.

Tak lama Bu Akrobati keluar ke halaman sehingga perempuan itu bisa melihat Mami Lulu yang sudah bermuka dongkol.

“Kamu nantang saya ya?!” ketus suara Mami Lulu.

“Nantang Mami Lulu, siapa acuutt….”

“Ayo, kalo kamu berani.”

Anak-anak dan suami sudah mengelilingi Bu Akrobati. Kesemua manusia itu menatap Mami dengan tampang menyedihkan.

“Ayo, Bu. Sikat sepatu yang bersih…” teriak suami Bu Akrobati menggelodar- gelodar laksana bara api yang menyala hebat.

“Hidup Ibu… Hidup Ibu…”

Sementara Mami celinguk ke kiri-ke kanan. Satu pun tak ada yang menyemangatinya. Ia ingat Cica. Lulu juga, tapi anak itu pasti masih belum bangun.

“Ca… Keluar dong! Semangati Mami…” teriak Mami yang disambut kekehan keluarga Akrobati.

“Memangnya Mami mau ngapain cih campe perlu disemangati?” rupanya Cica masih di kamar mandi.

“Mami mau duel dengan Bu Akrobati. Makanya cepat keluar dong! Kalo Mami menang, kan kamu juga yang bangga!”

“Aduh, Mi. Cica cagi motong bulu mata ini. Cica semangatin dari dalam kamar mandi caja ya…?”

Mami menghela payah.

“Hiduplah Indonesia caya…”

Cica menunaikan janjinya untuk menyemangati Mami dari dalam kamar mandi.

Ah Cica…

“Ayo segera kita mulai duel ini Mami Lulu…” tantang Bu Akrobati tak sabaran. Nampak perempuan itu mengangkat roknya sedikit.

“Oke, saya duluan ya?” tawar Mami Lulu.

“Nggak masalah. Cepat! Jam tujuh saya mau nonton Puser.”

“Ada peribahasa gini yang bunyinya gini. Gajah mati meninggalkan gading. Harimau mati meninggalkan belang. Kalo manusia mati meninggalkan nama.” Mami Lulu menghembus napas sekilas-dua kilas sambil memikirkan pertanyaan yang payah.

“Pertanyaannya sekarang, siapa nama orang mati tersebut?” ujar Mami Lulu dengan bibir memotong senyum tipis.

Bu Akrobati mengurut kepala sejenak sebelum melontarkan jawaban. “Bisa Amin. Bisa Aminah.”

Mami Lulu manggut-manggut. Secara fair ia mengaku jawaban Bu Akrobati barusan benar adanya.

Sementara para supporter berhu… ria sebab dilingkup kecewa bejibun. Mereka kira adu jambak atau adu jotos. Makanya selang tak lama, tinggal Mami Lulu dan Bu Akrobati saja dalam duel itu. Tapi keduanya tetap semangat kuda berduel. Tak hirau dengan kondisi sekitar.

“Ciapa menang Mi…” Sekali berdengung suara Cica yang rupanya masih setia di kamar mandi.

“Mami kalah satu kosong Ca… makanya kamu semangatin dong…”

“O… tadi masih kurang ya Mi… Cica semangatin lagi ya…?”

“Mami… cemangat… Cemangat… Hore… Mami anak gembala… hore… Mami…” Entah apa yang disemangati Cica.

“Sekarang giliran saya, Mami Lulu,” kata Bu Akrobati serasa berada di atas angin sebab sudah unggul satu kosong. “Oke!”

“Gini Mami Lulu.” Perempuan empat puluhan itu memegang-megang dagunya.

“Kalo jumpa artis ‘kan acaranya Mimpi Kali Yee. Nah, sekarang kalo jumpa teroris namanya apa? Pasti bingung kan?”

Tanpa pikir panjang Mami langsung menjawab. “Ngebom nih ye?”

Mami pun tersenyum girang. Bu Akrobati mengerut muka sedikit. Soalnya ia yakin super tadi bahwa pertanyaannya barusan tidak akan terjawab.

Kedudukan satu sama. Satu untuk Mami Lulu. Satu untuk Bu Akrobati. Keduanya berimbang.

“Sekarang saya lagi Bu Akrobati. Sudah jatuh tertimpa tangga pula.” Mami menghabiskan peribahasa dengan menyungging senyum. Kali ini Mami yakin lawannya bakalan pusing lima belas keliling.

“Pertanyaannya adalah, berapa benjol yang muncul di muka manusia jatuh itu?”

Leher Mami dipatahkan ke sebelah kiri. Angin pagi menyepoi.

“Pasti tujuh. Nggak salah lagi deh! Mami Lulu nggak usah bohong sama saya deh!”

Si Mami menelan ludah.

Lawannya pada kesempatan ini memang super genius.

Pada kedudukan 12 sama, keduanya memilih secara resmi mencukupkan permainan. Sudah jam tujuh. Mami teringat Lulu. Ya ampyuuun… anak itu apa sudah bangun ya?

Tubuh Mami tergesa masuk ke rumah. Masih Mami dengar air di dalam kamar mandi berdentang-denting. Suara Cica juga belum hilang. Oh, Cica belum keluar dari kamar mandi.

“Ca, kamu kok lama sekali sih mandinya?”

Penasaran juga Mami dengan ulah Cica. Lulu saja yang gadis, paling mandi dalam waktu lima menit sudah kelar. Kecebar-kecebur. Byar-byur. Kata Lulu sih itu adalah upaya penghematan air.

Tapi si Cica kok bisa lama sekali ya? Dia ‘kan masih bocah juga, padahal sudah satu jam-an lho… Ngapain ya tuh anak?

“Ntar lagi ni… Ni Cica lagi pijat wajah… biar awet muda Mi, hihi…” hati- hati sekali Cica ngomong. Takutya proyek perdana pijat wajahnya terbengkalai.

“Memangnya kamu masuk sekolah siang ya?”

Cica tak lagi fokus mendengar pertanyaan Mami. Baginya, pijat wajah yang harus difokuskan!

Mami tiba di pintu kamar Lulu. Didorong-dorong daun pintu coklat itu. Belum terbuka.

Oh God-god my,” desis Mami, maksud Mami adalah ‘oh my God,’ itu.

“Jangan-jangan… Jangan-jangan…”

Hati Mami pun jadi was-was. Perkara telat bangun Lulu memang bukan perkara baru. Si Lulu jawaranya. Namun kalau jam begini belum bangun, patut diwaspadai.

Waspadalah… Waspadalah… (gaya harus sama persis dengan bang Napi)

Lantas Mami tiba-tiba saja terjentik ide untuk mengintip Lulu lewat lubang pintu kamar. Memang kelihatan Lulu di atas tempat tidur. Mami mencoba mengintip dengan memakai konsentrasi tingkat tinggi. Menyimak dengan seksama. Dan hasilnya:

Tidak terdengar ngorok Lulu.

Hidung Lulu tidak kembang-kempis.

Dada Lulu tidak naik-turun.

Sekali pun Lulu tidak golek-golek.

Diperhatikan selama lima menit, betul saja. Lulu tidak bergerak sedikit pun.

“Ca, kakakmu Lulu betul-betul sudah meninggal, huhu…”

Rada histeris Mami. Biar gimana-gimana, sayang juga si Mami sama anaknya Lulu itu. Nanti kalau ia sudah tua, sekali-kali ingin jemur diri di pantai, siapa yang akan membawanya ya?

“Asyik… Hore…itu berarti Cica bisa bolos sekolah dong…” Sebaliknya Cica jingkrak-jingkrak di kamar mandi.

Mendengar Cica kesenangan, Mami trenyuh juga.

“Asyik juga ya Ca, kalo Lulu betulan meninggal? Berarti pengeluaran Mami tambah menciut dong, hehe… Tapi nggak ada teman gosip lagi dong!” Mami bingung sendiri.

“Ah Cica ‘kan ada. Tinggal diajari dikit, pasti dalam tempo sesingkat-singkatnya. sudah fasih tuh anak.”

Sebenarnya sekarang Cica sudah menunjukkan bakat cemerlang gemilang dalam bergosip-ria. Tapi masih ada kekurangan di sana-sini yang perlu ditambal. Semisal begini.

Mami lagi bergosip ria dengan Lulu. Begini gosip mereka.

“Lu, Bu Jonatek udah melahirkan lagi lho.”

“Ya amplop, yang beneran, Mi? Padahal baru aja melahirkan ya?”

Tiba-tiba masuklah Cica dalam adegan tersebut.

“Siapa sih yang melahirkan, Mi?”

“Bu Jonatek,” sahut Lulu dan Mami kompak.

“Oya?” gaya Cica menanggapi keren amat, sampai kening berkerut segala.

Tapi, mau tahu kelanjutan omongan Cica?

“Kucing rumah kita tiga hari lalu baru melahirkan ya, Mi? Anaknya lucu-lucu, ada yang hitam, Mi. Ada yang putih juga Cak Lulu. Yang hitam itu mau dikasih nama. Namanya Mami. Yang putih Lulu…”

Hihi…

“Luluuu!” Sekali lagi Mami memastikan bahwa benar adanya Lulu di dalam sana. Jika betul muka akan segera dipanggil Pak Ustad.

Lulu bergerak-gerak di alas sana. Bukan karena pengaruh teriakan Mami, tapi Lulu memang sudah puas tidur. Sementara Mami tak tahu bahwa Lulu sudah hidup lagi.

Begitu puas tidur Lulu, sehingga rasa-rasunya ia begitu segar menyongsong pagi. Tapi begitu mata itu melihat angka di jam dinding, jarum pendek di angka tujuh, jarum panjang di angka dua! Itu artinya pukul tujuh lewat sepuluh.

“Oho… Tidak…!” Lulu nestapa selangit. Dua hal yang berkelebat di pikirannya PR Fisika Bu Wutik dan sembahyang subuh.

Di luar Mami kaget setengah hidup. Di kamar mandi Lulu kecewa lumayan.

“Ah, nggak jadi meninggal, ya?”

“Udah bangun Lu, ya? Buka pintu dong. Kamu belum sembahyang subuh kan?”

Sebenarnya itu cuma akal-akalan Mami saja biar bisa masuk kamar Lulu. Setelah itu gosip hangatnya bisa didiskusikan.

“Lulu lagi dapet Mi…” Inginnya Lulu teriak seperti itu, tapi ia ingat baru seminggu lalu ia berdalih halangan. Maminya memang keras perkara sembahyang. Akhirnya Lulu tak jadi berteriak.

Lulu adalah orang yang paling percaya bahwa Tuhan Maha Baik. Maha Pemaaf. Makanya Lulu segera minta ini-itu pada-Nya. Termasuk minta maaf bila sengaja melakukan dosa. ***

.

.

(Bersambung)

.

Keluarga Lulu (1). Keluarga Lulu (1). Keluarga Lulu (1). Keluarga Lulu (1). Keluarga Lulu (1). Keluarga Lulu (1).

Arsip Cerpen di Indonesia