Kutukan Pistol Galib

Cerpen D Hardi (Koran Tempo, 16 Oktober 2022)

BILA suatu waktu pistol ini jatuh ke tanganmu, kuburlah ia di ruang tersunyi dari bisikan hati yang gelap.

Colt Revolver terkutuk, yang telah lahir sebelum republik ini lahir dengan variasi logam dan kayu berukir rokoko, kini jatuh erat di genggaman Sabar, yang kerap hilang rasa sabar, hendak memuntahkan pelor dari moncong panas untuk kesekian kali. Nama tak selamanya doa. Moncong buas tinggal sejengkal saja dari jidat Slamet.

“Habis riwayatmu, londo ireng.”

“Aku tak pernah berkhianat!”

Sabar merogoh sesuatu dari saku. Secarik potret belaka. Diacungnya tinggi-tinggi di hadapan para serdadu bawahan. Tampak di sana Slamet semringah menyalami Ratu Wilhelmina.

“Itu jambore kepanduan. Jangan cari-cari alasan, kau.”

“Demi revolusi! Tidak ada ampun buat antek-antek iblis.”

“Revolusi taik kebo, Sabar. Kau hanya dengki aku meminang ….” DOR!

Tak berpanjang-panjang menekan pelatuk. DOR! DOR! Tubuh Slamet, bekas chudanco, atasannya di PETA itu, seketika ambruk. Darahnya lesap membasahi tanah.

Menatap lekat pistol kesayangan, Sabar mendengus, “Betapa wangi tubuhmu.” Aromanya lebih enak dari asap candu. Lebih legit dari asmara bini londo-nya, dari wanita-wanita Belanda dan Indo-Eropa yang habis digarap tubuh dan hartanya sebelum Pasukan Polisi Perjuangan dibantu laskar-laskar menggerebek balai menyerupai harem bekas tawanan Jepang yang sempat dikuasainya.

Sejak memperoleh pistol itu, Sabar ibarat haus darah. Serampangan menuduh dan menangkap siapa saja yang tak disukai walau sesama bumiputra.

“Tidak, hukuman itu pantas bagi mata-mata musuh,” suara itu berbisik kembali; berasal dari genggamannya. “Lebih-lebih, anak priayi itu lancang merebut Marsinah darimu,” desisnya lagi.

Semakin tempo, semakin Sabar percaya pistol yang direbutnya dari seorang Sikh pelarian serdadu Inggris-India itu bukan sembarang pistol. Senjata yang bertuah. Dari giyugun pemalu mewujud komandan macan tempur, tiada pertempuran yang mampu mengempaskannya mundur dan hancur. Berkali-kali Sabar lolos dari kepungan—tentara NICA, atau Sekutu, atau Nasional, atau Komunis, atau siapa pun yang menganggap atau ia anggap musuh. Pistol itu seakan-akan digdaya memberinya kuasa, pangkat, anak buah setia, wibawa, asalkan bersyarat: tumbal nyawa. Hanya lewat ujung telunjuk semata.

“Tak ada musuh paling tengik selain pribumi yang khianat! Tidak ada jalan kompromi dengan maling!” Sabar berapi-api orasi.

Tak lama, Sabar mendapat tugas penting. Dia mesti membunuh lagi. Tahu sasarannya dokter pejuang pemimpin kesatuan yang pernah menolongnya dari incaran Jepang di masa lalu, benak Sabar berkecamuk. Bagi dia, dokter itu sudah seperti kakak sendiri. Sebengis-bengis algojo macan tempur, masih ada secercah sinar dalam kalbu.

“Demi perjuangan, singkirkanlah segala kembang elok jika hanya menjadi duri untuk revolusi,” suara itu datang lagi, lamat-lamat merasuk ke telinga, merayap lirih, menggelitik nurani. Suara dari sepucuk pistol terkutuk.

Berhari-hari Sabar didapati menyepi. Anak buahnya kebingungan seperti kawanan domba kehilangan gembala. Pandangannya melompong, kerap merapal-rapal sendiri. Bagaimana ini, pemimpin kita seperti hilang waras, mereka bisik-bisik.

“Sabar adalah orang yang tahu terima kasih!” Tiba-tiba Sabar berteriak di suatu malam sunyi. Keringat di sekujur badannya bagai pasang. Mengancingi baju satu per satu, Sabar gegas beranjak di kegelapan.

“Mau pergi ke mana?” Perempuan setengah loncos di sampingnya terkaget-kaget, tanpa ada jawaban.

Sabar melesat jauh, berlari, merintih, melangkah jauh, cukup jauh meniti ladang, menerabas hutan berteman cahaya rembulan. Di tepi lereng sebuah bukit yang menghadap jurang, Sabar genggam kekasih iblisnya untuk yang terakhir kali.

Melayanglah ia ke rimba tak bertuan. Ditemukan seorang dari rombongan peranakan yang hijrah dari pulau seberang. Sampailah bertahun-tahun kemudian, pada riwayat di sebuah malam, bukan, bukan sekadar sebuah atau semalam belaka, kecuali nyaris di sepanjang malam, sepanjang hari pada tahun itu, adalah tahun-tahun jahanam penuh luka.

Itu malam terasa sungguh panjang. Lebih panjang dari baris tawanan yang diangkut ke dalam truk bersama iring-iringan Jeep hitam. Tampang-tampang beluwek dengan tatapan kosong kehabisan pikir hendak dibawa ke mana. Hanya hawa dingin di sepanjang jalan meruah gelombang.

Truk berhenti. Orang-orang berseragam turun, berbaur dengan orang-orang tak berseragam yang telah menanti menenteng parang, menuntun beringas para tawanan lewati jalan setapak, memasuki rimbunan hutan yang tampak pekat belaka sampai lamat-lamat terdengar kecipuk arus.

Orang-orang berseragam berhenti buat merokok, lalu bercakap-cakap santai, mencipta siluet di balik cahaya lampu mobil. Di depan sana, sahut-sahutan suara meraung. Pilu.

Seseorang lantas tergopoh datang.

“Lo, sudah beres?”

“Sisanya bapak-bapak saja. Kami capek. Malah ada yang kesurupan.”

“Malam apa ini? Jumat kliwon?” Kawit memutar-mutar silinder peluru di antara kepulan asap keretek.

“Mungkin pada lapar.” Nada lelaki paruh baya seolah-olah menyindir.

“Selesaikan dulu tugas, baru makan.”

“Bergadang terus seminggu ini,” lenguh Bani mengiringi rekannya yang melangkah duluan.

Jasad-jasad dilempar begitu saja ke sungai. Beberapa yang sekarat memelas, memohon ampun. Namun tiada belas kasih ampunan malam itu. Kawit menghampiri seorang lelaki yang, setelah ditilik lebih dekat, itu wajah Darsani, buruh tani tetangga mertuanya yang pernah ia kenal.

“Ini kesempatan akhir kau bertobat.” Kawit menodongkan pistol tanpa rasa emosi.

Lelaki berdarah-darah itu mengangkat wajahnya, dengan terbata-bata bicara, “Bapak bukan Tuhan ….”

DOR!

Malam kembali senyap. “Harga yang pantas untuk pemberontak. Para musuh agama.” Kawit mengamini sayup-sayup gasal itu—suara yang hanya mampu didengar pemiliknya. Suara dari sepucuk pistol yang dia ambil dari seorang tauke paruh waktu lalu.

Sejumlah orang menyasar rumah akong Liem, pemilik toko alat-alat jahit dan penggilingan beras, dan menggasak apa pun seisinya. Kotak kayu jati terkunci gembok besi. Awalnya, Kawit sangka itu perhiasan atau uang. Nyatanya sebuah pistol. Dingin. Tanpa bau. Seperti lama tak terpakai. Anehnya, pelor apa pun cocok bertaut. “Seperti pisau untuk memotong, takdirku melontarkan pelor dari selongsong.”

Bagai perlombaan siapa paling banyak menembak, puluhan, mungkin ratusan, nyawa melayang di tangan Kawit.

Angin zaman pun berubah. Kelak, nyaris dua dekade berselang, suara itu pula yang kemudian merasuki bilik kepala Bonni. Suara yang lebih maut dari letusannya.

Selesai pesta pernikahan, Bonni mendapati sebuah kado tanpa nama. Ketika kado dibuka, dia kegirangan. Betapa cantik benda ini, pikirnya. Bukan sekadar cantik, ia menjadi andalan Bonni dalam bertugas. Kala itu, gemerlap kota mulai terasa rawan. Banyak gali dan aksi-aksi bramacorah mencemaskan. Potong kompas ditempuh. Kota mesti dibersihkan dari coro.

”Gampang. Sisir saja orang-orang bertato.” Moncong pistol berseru.

Ratusan orang akhirnya dikarungi di tepi jalanan, di halaman rumah, lapangan, sungai-sungai, dan ladang. Andaikata kau pernah mendengar: korupsi adalah oli pembangunan. Maka membunuh adalah pelumas pistol galib.

“Mereka bukan anjing. Adili dulu, dong.” Suara-suara berani bermunculan.

“Efek kejut perlu sebagai peringatan. Para bandit, penjahat, hama masyarakat yang mampus itu tentu tak mengindahkan peringatan. Mengangkangi hukum. Kalau melawan, ya, didor! Satu, seratus nyawa hilang demi kebaikan ratusan puluh juta orang cukup setimpal, toh. Lagian ini bukan sembunyi-sembunyi. Koran-koran saja yang mendramatisir begitu!”

Karier Bonni pun naik. Rumahnya gedong, bertengger di kawasan elite. Anak-anaknya lahir melebihi batas Keluarga Berencana. Yakin, sampai cucu-cicit, mereka tak bakalan susah, gumamnya. Istrinya, Sarah, menjalankan bisnis dari usaha supermarket, perhotelan, sampai kosmetik. Anak-anaknya dimasukkan ke sekolah internasional.

“Kau menolong hidupku,” Bonni merenungi jalan mujurnya di malam syahdu, mengelus-elus pistol kesayangan yang tak pernah segores pun terlihat berkarat, “makhluk apa sesungguhnya dikau ini?”

Mujur dapat diraih, malang tak mungkin ditolak. Sekian lama hidup tenang, berita mengejutkan datang dari ayah mertua ketika Bonni sedang serius menonton berita di televisi; mahasiswa telah menduduki gedung parlemen. Jalanan penuh asap. Huru-hara di mana-mana.

“Hah, Opa masuk ICU?!” teriak Sarah di belakang telepon.

Tubuh rentanya diselingi banyak selang, alat pacu jantung, oksigen. Semua keluarga sudah berkumpul. Sadar diri bakal calon mendiang, tiba-tiba sang opa membisiki Bonni, “Kado dariku masih kau simpan?”

“Kado?” Bonni coba mengingat-ingat.

“Pistol tua.”

Bonni terperangah. Rupanya ….

“Salahku. Harusnya kuenyah jauh-jauh benda terkutuk itu dari kehidupan kita, kehidupan kalian. Candu beracun!”

Terlambat sudah; lelaki tua itu dan dirinya. Tiga hari kemarin, dia culik para pentolan demonstran ke pinggiran kota. Itu perintah. Dan sekali lagi, moncong pistol sudah tampak lapar merenggut ajal.

***

Colt Revolver terkutuk, yang telah lahir sebelum republik ini lahir, sekarang jatuh di genggaman seorang jenderal.

“Sungguh menawan.” Dia membuka kado.

“Kata juru lelang, ini senjata punya sejarah panjang. Dan setiap sejarah, mahal harganya,” jelas sang istri berbinar-binar.

“Mahal mana dengan cintamu?”

“Ah, Papa bisa saja. Suka, enggak?”

“Ini hadiah paling romantis, Sayang.”

“Selamat ulang tahun, ya.” ***

.

.

Agustus 2022.

D Hardi adalah seorang cerpenis. Dia tinggal di Bandung. Karya-karyanya tersiar di berbagai media cetak dan digital. Buku kumpulan cerpennya yang telah terbit berjudul Palindrom (Poiesis/2021).

.

Kutukan Pistol Galib. Kutukan Pistol Galib. Kutukan Pistol Galib. Kutukan Pistol Galib.

Arsip Cerpen di Indonesia