Cerpen Imam Wahyudi (Suara Merdeka, 16 Oktober 2022)
NAMANYA Misnanto, tetapi banyak orang memanggilnya dengan sebutan Pawiro Bledek. Bicaranya lugas, keras, dan meledak-ledak. Banyak orang yang segan dan takut kepadanya. Namun akhir-akhir ini, lelaki itu terlihat ketakutan. Orang dekatnya pernah memberanikan diri bertanya, mengapa ia begitu.
Pawiro Bledek menjawab gugup, “Aku takut sekali. Suara itu berdengung-dengung, seperti sekumpulan lebah. Mengikutiku. Terus mengikutiku….”
Orang dekatnya tak tahu benar maksud tuannya itu, hanya menebak-nebak saja, dan menceritakan kepada temannya, kemudian temannya itu menceritakan lagi kepada yang dikenalnya, begitu seterusnya hingga terjadi kasak-kusuk, Pawiro Bledek sudah gila. Ia terlihat linglung dan ketakutan bila bertemu dengan orang-orang.
“Ia stres gara-gara kalah dalam pemilihan lurah kemarin?!”
“Kayaknya memang benar begitu, uangnya habis banyak tetapi tak jadi juga.”
“Padahal di atas kertas ia unggul lho! Kok bisa kalah ya?”
“Tak tahulah, sekarang zamannya sudah beda, semua dikendalikan oleh komputer. Lewat apa itu namanya?! Internet, atau apalah! Pawiro Bledek kalah karena terlalu percaya diri, tak sadar kalau keadaan telah berubah.”
“Kasihan, istrinya sekarang juga kabur meninggalkan dia.”
Begitulah, obrolan simpang-siur tentang Pawiro Bledek berembus ke mana-mana. Entah berita itu benar atau salah, orang-orang tak peduli. Mereka senang mendapat hiburan cerita menarik dan melibatkan tokoh terpandang di daerah itu. Bisa melupakan beban hidup yang berat pada masa yang tak mudah ini.
Ya, Pawiro Bledek memang baru saja ikut pemilihan lurah. Dan hasil akhirnya ia kalah telak dari pesaingnya, anak muda pendatang dari daerah lain. Sungguh tak diduga ia bisa kalah, padahal secara kharisma, harta dan yang lainnya ia jauh lebih unggul.
Pawiro Bledek sangat dihormati dan mempunyai wibawa yang tinggi. Tetapi mengapa ia bisa kalah? Konon ia diserang melalui dunia maya, dunia yang tak dikuasai olehnya dan orang-orang di sekelilingnya, hingga namanya menjadi hancur-lebur dan akhirnya tumbang di penghitungan akhir pemilihan lurah.
Pawiro Bledek memang bukan orang berpendidikan tinggi. Tetapi ia tokoh kuat di daerah itu. Bila ada masalah, ia selalu dimintai pendapatnya oleh warga. Dan apabila ada yang tidak beres dengan sesuatu hal, ia selalu bersuara keras hingga pihak-pihak yang bertanggung jawab dengan masalah tersebut ketakutan, dan akhirnya mengikuti jalan pikirannya.
Pawiro Bledek adalah legenda hidup. Dan cerita itu dituturkan dari mulut ke mulut oleh orang-orang tua dahulu. Salah satunya seperti yang diceritakan oleh pamanku, seorang yang dituakan di daerah itu.
“Ia mendapat mukjizat itu pada suatu sore yang kelabu,” begitu pamanku mulai bercerita suatu kali.
Waktu itu hujan turun terus-menerus, berhari-hari. Angin sesekali berkesiur, menerbangkan benda-benda yang dilaluinya. Langit masih saja muram, pertanda hujan akan berlangsung lama. Meski tidak lebat, namun membuat orang-orang lebih suka mendekam di dalam rumah daripada berkeliaran di luar. Tetapi tidak begitu bagi Misnanto, lelaki muda yang terkenal pendiam di desa itu.
“Aku mau mencari rumput dulu buat kambing-kambing kita, Mak….” ia pamit kepada emaknya.
“Hujan-hujan begini? Tunggulah sampai hujan reda!” pinta emaknya.
“Nggak apa-apa, Mak. Hujannya tidak begitu deras. Aku kasihan dengan kambing-kambing kita. Terus saja mengembik minta makan.” Ia tak mengindahkan kata-kata emaknya.
Misnanto keluar rumah, menyambar arit, wungkal dan keranjang rumput di dekat pawon. Tanpa jas hujan atau apa pun yang bisa melindunginya dari terpaan hujan. Ia berjalan pasti menuju selatan desa. Ternyata sampai batas desa, perlahan hujan mengendurkan curahnya, hanya menyisakan rintik gerimis. Misnanto tersenyum, mempercepat langkahnya menuju tanah persawahan, tempat ia biasa mencari rumput.
Lelaki muda itu terdiam sesaat, menatap lahan persawahan luas yang kelabu. Padi menguning merunduk basah dan banyak yang roboh diterpa angin dan air hujan. Musim hujan kali ini datang lebih cepat, sebelum orang-orang selesai memanen padi. Di sana terdapat sawah milik keluarganya, peninggalan dari bapaknya yang telah meninggalkannya sejak ia kecil, menjadi sarana menyambung hidup bagi keluarganya.
Ah, ia dan emaknya sepanjang waktu bersusah-payah mengolah sawah itu. Seluruh tenaga dan pikiran mereka curahkan ke sana. Mudah-mudahan hari segera cerah, dan padi-padi itu bisa diselamatkan.
Misnanto bergegas meniti galengan, menuju ke tengah persawahan. Ia segera berjongkok di galengan yang rumputnya lumayan lebat. Tubuhnya bergesekan dengan batang dan bulir padi di kanan-kiri galengan. Dari jauh tubuhnya seperti tertelan pepadi dan kelabu hujan rintik-rintik. Dengan semangat ia mengayunkan sabitnya, kendati air hujan membasahi sekujur tubuh. Sesekali ia berdiri, mengusap wajah yang terkena air hujan, juga untuk memadatkan rumput yang ada di dalam keranjang.
Suasana terasa begitu lengang dan singup. Seperti ada aura gaib, entah dari mana datangnya. Rintik gerimis yang turun seperti akan mengiringi sebuah peristiwa yang akan terjadi. Mendadak, langit yang hitam seperti terbelah. Seleret sinar mengerikan menyambar area persawahan itu beberapa kali. Guntur menggelegar. Sesosok tubuh menjerit keras, dan tumbang. Bau gosong dan ganjil menyebar sampai ke permukiman penduduk.
Semuanya begitu cepat, dan yang tersisa kemudian adalah sepi. Gerimis perlahan berlalu. Langit jauh dari muram.
Warga desa yang sudah sadar dari rasa terkejut segera berhamburan keluar rumah mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka menuju area persawahan, tempat sumber jeritan mengerikan itu.
“Ada yang tersambar petir. Di tengah sawah.”
“Siapa?!”
“Astaga, itu Misnanto! Anaknya Mak Rebin.”
Suasana menjadi riuh. Lelaki muda itu tersambar petir, namun tubuhnya tidak terlihat terbakar, gosong atau semacamnya. Tubuh itu utuh dan tidak menunjukkan bahwa sesuatu yang dahsyat baru saja terjadi padanya. Ia pingsan cukup lama, seperti tertidur pulas. Sore menjelang azan Maghrib, tubuh itu akhirnya bergerak-gerak.
“Di mana aku?! Siapa kalian?”
Sesaat ia tidak mengenali dirinya. Sampai kemudian tetua desa membawa tubuhnya kembali ke rumah. Mak Rebin meratap-ratap melihat keadaan anaknya yang linglung. Namun itu tidak berlangsung lama, Setelah hari menjadi gelap, dan beberapa orang pintar didatangkan, lelaki muda itu berangsur pulih seperti sediakala.
“Begitulah awal mula ceritanya, Maruto. Setelah anak muda itu tersambar petir dan selamat, perilakunya menjadi lain. Ia yang dulu pendiam dan tertutup menjadi pemberani dan lantang bersuara seperti yang dikenal sekarang. Orang kemudian banyak memanggilnya dengan Pawiro Bledek…,” demikian pamanku memungkasi ceritanya.
“Mengapa dipanggil Pawiro Bledek, Paman? Padahal itu jauh dari nama aslinya?” tanyaku kemudian.
“Ya, Pawiro Bledek. Dulu di area persawahan itu juga pernah ada orang tersambar petir. Namun nahas, nyawanya tidak dapat diselamatkan. Orang itu bernama Dirjo Pawiro, panggilannya Mbah Pawiro. Orangnya galak dan bicaranya meledak-ledak seperti bledek atau halilintar. Banyak orang di desa ini yakin, roh Mbah Pawiro menitis pada Misnanto…,” sahut pamanku sambil mengembuskan rokok klobotnya.
Aku sedikit merinding mendengar cerita pamanku. Namun sebagai generasi yang dibesarkan pada era modern, aku perlahan bisa menguasai keadaan. Orang-orang di desa ini masih percaya mitos dan gampang dipengaruhi dengan cerita-cerita yang sumbernya tak jelas. Aku akan memanfaatkan semua itu, membubuhinya dengan ragam cerita lainnya untuk kepentingan orang yang memanfaatkan jasaku.
Ya, sudah beberapa waktu ini aku menjadi seorang pendengung. Bersama kelompokku aku menyerang dan menjatuhkan lawan politik klienku lewat dunia maya dengan berbagai cerita bohong yang tak jelas sumbernya.
Pawiro Bledek kini telah kalah. Aku adalah lebah yang berdengung mengejarnya itu. ***
.
.
Kulonprogo, November 2021
—Imam Wahyudi, lahir dan menetap di Kulonprogo, DI Yogyakarta. Karya-karyanya berupa cerpen dan cerkak dipublikasikan di beberapa media cetak dan online. Buku antologi terbaru yang memuat cerpennya, Seekor Burung dan Mantan Tahanan dalam Bus Kota (Nanopedia).
.
.