Pulang

Cerpen Zahro Syaquilla AR (Radar Bromo, 03 Juli 2022)

 HARI ini adalah hari ketiga aku pulang. Pulang meninggalkan ibu dan ayahku yang masih muda. Mereka menangisiku, mereka tampaknya tak rela aku mati. Nenek dan kakekku juga menangisi kematianku. Mereka mengusap-usap batu nisan mungil milikku. Batu nisanku tanpa nama. Batu nisanku berwarna putih. Berukuran hanya sekitar 20×50 cm. Mereka belum menamaiku. Mungkin karena masih berduka, hingga sampai aku tiada, aku belum punya sebuah nama.

Malam itu ibuku melahirkanku di rumah sakit yang jauh dari rumahku. Maklum, rumahku berada di pelosok desa. Tidak ada bidan dan puskesmas, apalagi rumah sakit. Biasanya bayi-bayi di desaku hanya beruntung selamat di tangan seorang dukun bayi desa yang tangannya sudah keriput dan agak kasar. Namun, lain denganku, aku butuh pertolongan khusus. Aku tidak cukup hanya dilahirkan lewat dukun bayi itu. Aku dilahirkan di rumah sakit di kota. Namun, itu hanya barang beberapa jam saja. Tidak ditakdirkan hidup berlama-lama di dunia. Ya, aku mati. Mati terlilit oleh tali pusarku sendiri.

Setelah sembilan bulan ibuku susah payah menggembol-ku di perutnya, aku akhirnya keluar membawa kesedihan. Ah, itu bukan sepenuhnya kesalahanku. Aku tak tahu apa-apa. Yang aku rasakan hanya ketika aku diciptakan dari setetes air mani ibu dan ayahku, lalu berubah menjadi seonggok daging, kemudian mulai tampak mataku, lalu muncul sepasang tangan bak jelly yang membentuk, dan kepala yang mirip bola yang tak rata.

Ketika dilahirkan, aku dikeluarkan dengan susah payah. Katanya aku tidak bisa dilahirkan dengan normal. Badan dan leherku terlilit tali pusar. Ah… saat itu sangat terasa sakit. Padahal aku meminta kepada Tuhan untuk tetap tinggal di perut ibuku saja, tidak usah dilahirkan pun tidak apa-apa.

Kalau aku tetap di perut ibu, aku merasa sangat nyaman dengan lilitan itu. Lilitan itu memberikan kehangatan bagiku. Lilitan itu sebagai teman bagiku yang selalu menemaniku bermain ketika berada di perut ibu. Namun, hal itu sangat jauh berbeda ketika aku dipaksa keluar untuk dilahirkan ke dunia. Tali itu rasanya melilit dengan sangat erat, tubuhku yang gemuk seakan tertarik sampai ke bagian dalam. “Uhh… sakit, Bu! Aku tidak kuat. Aku tidak kuat!” Sampai akhirnya aku pun keluar dengan susah payah dan napas terengah-engah. Enam puluh menit aku merasakan hidup di dunia setelah sembilan bulan hidup di alam rahim.

Enam puluh menit aku merasakan hidup di dunia. Aku keluar dengan tangisan sejadi-jadinya. Orang-orang seisi ruangan yang penuh darah ibuku itu menyimpulkan kedua bibir mereka. Mereka tampak bahagia aku telah lahir. Lalu, aku dibawa ke suatu tempat untuk dimandikan. Begini rasanya air di dunia.

Akhirnya tubuhku telah bersih dari darah. Namun aku masih merasakan sakit. Sakit lilitan. Setelah dimandikan rasa sakit itu semakin menjadi-jadi. Aku mendengar sayup-sayup pembicaraan tentang perjuangan melepaskanku dari lilitan itu. Ya, katanya aku lahir tak normal, butuh perjuangan. Dan untuk hidup sekarang aku tak kuat untuk berlama-lama. Saat itu yang bisa kulakukan adalah memejamkan mata, mencoba mendengarkan di sekelililingku, dan merasakan kesakitan ini. Beberapa menit lagi.

Aku ingin pulang. Aku ingin kembali bersama Tuhan saja. Aku ingin mengadu. Aku tidak mau hidup di dunia. Aku sekarang merasa sakit. Butuh penyembuhan dari malaikat di surga. Bukan malaikat di dunia.

“Tuhan… aku sakit, aku ingin pulang. Aku ingin di surga saja. Aku tidak ingin hadir di dunia.”

“Bagaimana dengan ibu dan ayahmu? Mereka menanti dan mengharapkanmu.”

“Tidak Tuhan, aku tidak diharapkan, aku terpaksa di dunia ini. Aku juga malas. Aku sakit Tuhan, tempatkanlah aku di surge-Mu.”

Tinggal lima menit menuju kematianku. Saat itu aku gunakan waktu untuk merenung sejenak apa yang telah dilakukan ibu dan ayah ketika ibu mengandungku. Mengapa sekarang aku merasakan sakit yang begitu sakit, sampai-sampai terlilit tali pusarku sendiri. Aku teringat mereka benar-benar menjagaku, meski awalnya aku tak diharapkan. Ayah dan ibu asal-asalan menghadirkanku di kandungan ibu. Tapi akhirnya mereka sangat menyayangiku. Aku tak tahu apa yang membuat mereka berubah pikiran.

Masih merenung dan mengingat-ingat, sampai akhirnya aku teringat apa yang telah dilakukan ibu ketika aku berumur tujuh bulan di kandungan ibu, tapi aku tidak tahu apakah hal itu yang membuat aku tak bisa hidup lebih lama.

“Supi… supi….”

Dalemwonten napa, Bu?”

“Oalah Nduk, ayo-ayo ndang siapno kreweng. Mana, mana suamimu?”

“Itu ada di kamar, Bu.”

“Suruh dia keluar, suruh cari kreweng buat kamu gigit. Itu! Itu liat sekarang gerhana, buat bayimu iki biar selamat.”

Malam itu ada gerhana bulan. Aku mencoba mengintip tapi tak dapat. Ibu menggunakan jaket yang tebal sehingga penglihatanku tak bisa tembus mengintip apa yang terjadi. Ibu dan ayah mulai sibuk. Nenekku lebih sibuk lagi. Meski ia berjalan sudah terseok-seok tapi ia tetap semangat menyiapkan segala keperluan untuk ibu waktu itu. Mereka percaya, ketika gerhana bulan tiba, ibu-ibu hamil harus melakukan ritual menggigit kreweng lalu memutari di bawah dipan agar bayinya tidak diambil raksasa bulan. Itulah wejangan sesepuh desa.

Ibu dengan polosnya menuruti hal itu. Ia gigit kreweng berukuran sekitar 5×5 cm yang sedikit kotor itu. Ia mulai merangkak dengan susah payah karena terganjal perut buncitnya.

Ahh hahaha… badanku terbalik dan aku takut terjatuh ketika ibu merangkak. Lumayan lama ibu memutari dipan itu. Hingga aku sedikit pusing. Setelah itu, nenek menanak nasi liwet. Aku tak tahu bagaimana rasanya. Setelah matang, nenek membagi-bagikannya kepada tetangga kanan kiri rumah. Dan mereka mau-mau saja memakan nasi aneh itu.

Sehari, dua hari setelah malam itu, aku merasakan tali pusarku semakin panjang. Ia menemaniku dengan cara melilit tubuhku. Ia memberikanku kehangatan. Ketika aku bergerak, tali itu ikut bergerak dan semakin melilit. Untuk diam aku tak enak, untuk bergerak semakin melilit. Ia selalu mengikutiku.

Aku heran, mengapa ia melilitku? Ah… mungkin ia ingin menemaniku saja pikirku.

Kejadian demi kejadian mengiringi perjalanan ketika ibu mengandungku. Kejadian-kejadian itu ada yang menyenangkan dan ada juga yang menyakitkan.

Ayahku mempunyai kebiasaan menembak burung. Ketika ibu mengandung, kebiasaan ayah itu dilarang. Ayah pun marah-marah pada ibu. Ibu sampai dipukul. Tak hanya itu, sangking jengkelnya, ayah sampai menjotos perut ibu.

Aku yang saat itu sedang nyenyak tidur di dalam perut ibu lalu terhentak bangun dan mendengar tangisan ibu. Aku juga merasa sakit saat itu. Mungkin karena ayah telah menjotos perut ibuku.

Menjalankan ritual-ritual, menghindari larangan-larangan, dan mengadakan selamatan-selamatan telah dilakukan oleh keluargaku. Acara-acara selamatan yang melibatkan doa-doa dari tetangga ketika umurkku tiga bulan dan berlanjut tujuh bulan telah dilakukan dengan khusyuk. Namun, sebenarnya mereka tak tahu apa makna selamatan itu yang sesungguhnya, apakah memang harus dilakukan atau tidak? Bahkan untuk melaksanakan itu ayah, ibu, bahkan nenek dan kakek aku sampai mencari pinjaman uang. Itu semua hanya satu tujuan, yakni agar aku selamat. Selamat ketika aku dilahirkan.

“Tinggal beberapa detik lagi.”

Tuhan kembali membisikkan suaranya yang lembut ke telingaku. Kegalauan malah membuncah pada diriku yang semu. Apakah aku benar-benar mau tinggal di surga? Apakah tidak tinggal di dunia saja? Dengan napas yang semakin payah, lalu aku menjawabnya dengan pasrah. Aku ingin tinggal di surga saja, bukan di dunia.

Dekapan pertama dan terakhir oleh ibu. Hangat, hangat sekali. Dekapan itu yang terakhir. Ya, di dekapan ibuku aku menghembuskan napas terakhir. Napas yang sangat lirih. Aku dengan tubuh tak berdaya digoyang-goyang oleh ibu. Ibu tak percaya aku meninggalkannya.

Terasa hawa dingin mulai masuk celah-celah jendela ruang bersalin yang sempit dan pengap. Ibu menangis tersedu-sedu ketika aku dibawa ke rumah oleh ayah untuk dimakamkan. Aku bisa melihat ayah meneteskan air matanya. Aku bisa melihat nenek dan kakek menangis tak percaya. Berbeda dengan ibu, ayah, nenek, dan kakek yang menangisi kepergian aku, ada malaikat yang berubah-ubah bentuk bunga itu tersenyum datang menjemput. Ia menggendongku dengan sangat lembut.

Sesampainya di rumah, aku dimandikan lagi. Selesai dimandikan, keluarga di rumah mulai melakukan hal aneh-aneh lagi seperti ketika aku masih berada di kandungan. Bau kemenyan yang menyengat tak bisa membuatku tersenyum. Ah… sampai mati pun aku masih diistimewakan dengan hal-hal yang aneh. Satu genteng rumah pun diambil kemudian dipecahkan lalu dibuang ke atap rumah.

Bunga-bunga beraneka warna mulai diruncing. Cantik sekali. Tubuhku mulai dibungkus dan dilapisi kain putih bersih berukuran sekitar satu meter sebanyak lima lembar. Setelah dililit dengan sahabatku sendiri, sekarang tubuh aku dibungkus kain itu, kain kafan katanya. Hangat tapi terasa sesak lagi. Wajah mungilku dengan mata terpejam itu kemudian diusap-usap oleh para tetangga yang nyelawat.

Sekarang aku telah hidup bahagia di sini, di surga. Tuhan mengizinkan aku melihat ayah dan ibu melalui awan tipis berlubang yang ada di pelataran surga. Ketika aku bermain-main terdengar dari pengeras suara surga, suara ibu aku meraung-raung sampai di telinga,

“Anakku… jangan tinggalkan ibu.”

Aku hanya bisa berkedip-kedip dan melihat malaikat berwujud bunga rupa-rupa saat itu. Ia tersenyum. Aku hanya menyesali perbuatan ibu yang telah berusaha untuk menghadirkanku dengan berbagai cara, tetapi aku malah pergi meninggalkannya dengan takdir yang lain, pulang. ***

.

.

Zahro Syaquilla AR. Lahir di Pasuruan, Jawa Timur, 5 Juli 1994. Bukunya yang sudah terbit, Siwi Cinta Bahasa Daerah.

.

Pulang (9). Pulang (9). Pulang (9). Pulang (9). Pulang (9). Pulang (9).

Arsip Cerpen di Indonesia