Cerpen Ucu Agustin
AKU terperangah, tengah malam ini Ayah mendatangiku sambil menyanggah.
“Saat kamu tak tahu, melesaplah bersama kawah hanya berbekal ini saja,” begitu ucapnya. Sesaat kemudian dia membuka tangannya. Kamu percaya? Sebuah pesan rahasia memancar dari sana.
Malam masih pucat dan hujan deras baru saja berhenti bergulat saat kutemukan selembar daun mahoni tergeletak gemetar sendirian di ujung halaman. Siapa yang mengirimnya? Sejak lebih dari dua puluh tahun lalu, tepatnya tahun 1980, sebatang rumput pun tak pernah bisa lagi tumbuh di halaman ini. Semacam ada sebuah dendam, seumpama pembalasan tak terucapkan, sebuah lantai memang sengaja diundang datang untuk menutupi tanah hitam yang menyebar mengelilingi seluruh pekarangan.
Seperti kue yang sejak dari proses cetak tak pernah mempunyai hak untuk protes, lantai itupun tak pernah ditanyai apakah ia mau menjadi penjajah abadi dari kehidupan tanah yang ada di bawahnya? Campuran kasar yang terdiri dari semen, pasir dan kerikil itu seolah ditempel begitu saja, direnggut keakuannya, diputus dari masa lalunya. Seolah mereka tidak mempunyai sejarah; kerikil diputus dari batunya, pasir digerus dari sungainya, semen ditambang dari pabriknya.
Lantas adonan itu dengan sewenang dicampur, disatukan dengan liatnya untuk kemudian ditemplok di tanah begitu saja, menutup semua energi hidup yang sebenarnya bisa saja mrumbul di atasnya. Tembok itu memutus segala dari asalnya. Saat segala dipisah dan sesuatu direnggut dari akarnya, masihkah sejarah memiliki maknanya?
Semuanya bermula dari sebuah pengakuan Ayah lebih dari dua puluh tahun silam. Pengakuan yang mengubah semua keadaan damai di keluarga kami menjadi agak mengerikan kemudian.
Malam itu Ayah mengumpulkan semua anggota keluarga. Dengan baju koko dan peci putihnya seperti biasa Ayah tampak berwibawa. Dengan cara yang aneh, setelah terlebih dahulu memandang satu persatu wajah anak dan istrinya, dengan cara yang sangat berrahasia ia mulai bercerita.
Katanya, awalnya adalah seorang tamu yang datang diantar angin, membawa sebuah berita dingin. Suatu informasi tentang dokumentasi jibril.
“Dialah pria itu,” ucap Ayah penuh rahasia.
“Dari keningnya tidak muncul cahaya, tapi harum tubuhnya bahkan bisa dicium dari jarak yang tak terkira.” Ayah menatap kami semua. Lalu bercerita tentang suatu kondisi dimana situasinya tak terbayangkan sama sekali.
Sepasukan bala tentara yang berperang, berbaju putih berjumbai-jumbai, dibantu batu yang entah kenapa tiba-tiba bisa beterbangan, burung-burung hudhud melayang-layang, angin lembut menenangkan keringat yang bercucuran. Di angkasa yang merah, puluhan pesawat riuh membelah langit, menghentak udara, membawa tabung-tabung yang isinya bara. Angkasa pecah, warnanya menyala merah. Pesawat serupa burung-burung besi itu tampak marah, dari angkasa mereka memborbardir tanah.
Tapi seorang pria berlari, meloloskan diri dari segala kegaduhan yang memeramnya menjadi hanya rahasia, dan tak seorang pun memperhatikannya. Dia membawa sebuah batu, sesuatu yang berasal dari gurun. Saat seorang pilot dari angkasa melihatnya dan menjadikannya target mangsa, segumpal awan mengurungnya, pesawatnya terhuyung, awan mempermainkannya dan lelaki itu batal menjadi korban.
“Lelaki itu terus berlari, menembus gurun, menyilet malam dan tak perduli pada gerak awan atau danau-danau air yang muncul berkerlipan dari persepsi halusinasi pikir yang terangsang didera rasa haus berkepanjangan. Lelaki itu terus berlari sampai dia bertemu denganku saat aku akan melakukan jumratul aqobah,” kata ayah.
Ayah bilang, awalnya, saat pertama kali ia mendengar pengakuan lelaki tersebut, ia merasa masygul. Segala yang diceritakan lelaki yang ditemuinya di atas gurun, terasa cukup aneh dan mustahil. Sebagaimana kami mendengar cerita itu dari Ayah, pertama kali mendengar pengakuannya, Ayah juga memang tak percaya pada apa yang dikatakan sang lelaki yang mengaku bernama Jibril. Katanya, lelaki itu berlari, dari Kuwait, melewati Irak, menyeberang aneka selat, dan dia mengaku tak tahu kemana lari kaki membawanya. Ia hanya tahu, sesuatu harus diselamatkannya.
“Sesuatu apa?” tanya Ayah padanya. Tapi lelaki itu diam saja. Ia hanya bercerita bahwa ia sangat kesepian. Sepanjang pelariannya, seorang manusia pun tiada ia jumpa kecuali Ayah. Tentu saja Ayah tak mau diperdaya dengan mudah. Mana bisa lelaki itu tak bisa melihat manusia? Sementara jamaah haji yang ingin melontar iblis di jumroh yang terletak di kota Mina itu begitu banyaknya.
Namun lelaki itu hanya bilang, di kota kecil sebelah timur laut Mekkah itu ia sungguh tak melihat siapa-siapa, tidak juga di sekitar masjid besar Khoif di mana dulu Ibrahim menyembelih Ismail. Ayah masih tak percaya dengan pengakuannya, ia mencoba mengamit lengan seorang temannya dan menanyakan pada lelaki itu apakah kini ia melihat manusia lain selain dirinya? Lelaki yang mengaku bernama Jibril itu menggeleng dan pada Ayah ia hanya bilang, “Aku sama sekali tak melihatnya!”
Ketika Ayah hampir marah dan membentaknya dengan pertanyaan, “Sungguhkah?” lelaki itu hanya menjawab, “Terserah!” Katanya, tentang percaya itu bukan urusannya. Siapa yang mampu mengontrol pikir? Siapa yang bisa mengatur persepsi? Siapa yang dapat melarang pendapat? Lelaki itu hanya berusaha memegang tangan Ayah, dan sesuatu lantas ia usapkan di sana.
Ketika Ayah pulang dari ibadah haji, kami memang melihat sesuatu telah terjadi. Ada banyak perubahan yang terlihat pada diri Ayah. Malam-malam ketika kami tertidur, ayah bangun dan mengambil air wudhu, namun ia jarang kembali sampai ke ujung sajadah. Waktunya ia habiskan di kamar mandi, bercakap-cakap dengan lantai dan air, menanyai dinding.
Siang-siang ketika gedung dan pabrik menyedot orang untuk datang dan menyerahkan hidup pada pekerjaan, ayah hanya diam. Tanpa sarapan, tanpa sepatah ucapan. Hanya setelah kami pergi, Ayah bergerak, melakukan sesuatu yang sepertinya sangat rahasia. Ibu bercerita, setelah semua anaknya keluar rumah, Ayah hanya terus-terusan mendekami tanah, mendekatkan telinganya secara bergiliran ke sana.
“Seperti ada sesuatu yang diintainya,” begitu Ibu. “Layaknya seorang intelijen yang mendapat pesan, ayah kalian selalu menuliskan sesuatu pada tangannya setelah meletakkan kupingnya berjam-jam di atas tanah. Ketika Ibu tanya ada apa, ayahmu hanya menjawab singkat: Rahasia!”
Dan kasih yang diteledorkan bisa menjelma kekesalan. Kakak paling sulung tak senang dengan apa yang Ayah lakukan. Setelah delapan bulan ayah menjadi misteri keluarga, ia memperingatkannya. Kami diminta berkumpul, dan dia menanyai Ayah tentang apa yang sebenarnya terjadi. Tapi Ayah hanya diam saja, baru setelah aku menanyainya, ia mau ber-“nyanyi” untuk kami.
“Jibril tak mau seluruh pesannya didengar kalian!” ungkapnya. Dan kami terhenyak. Ini pasti ada yang salah.
“Siapakah Jibril, Ayah?” Tanyaku lagi.
Dan ayahku tiba-tiba marah. Dia kesal, karena menyangka bahwa pengetahuan agamaku payah. Tapi kesalahpahaman itu berhasil terpecahkan. Ayah menyadari bahwa aku bertanya tentang lelaki yang menemuinya di Mina, sewaktu ia menunaikan ibadah haji setengah tahun silam. Dan ayah terengah. Ia bilang, ia bersalah!
Ada sebuah batu, yang diletakkan lelaki bernama Jibril pada tangan Ayah dulu. Tapi batu itu terjatuh dan hilang! Sejak itulah Ayah selalu mencarinya. Ia menanyai sesama batu, mencari tahu lewat dinding, mendengar bisik-bisik dari bawah tanah, dan setiap hari Ayah merasa sesuatu memanggil-manggilnya dari alam bawah sana. Panggilan batu itu tak bisa dicegahnya. Ayah selalu ingin pergi ke tempat di mana batu itu berada. Itulah sebabya ia selalu mendekam, berlama-lama di pelukan lumpur yang keras dan hitam.
Tapi dengan menyesal Ayah bilang ia tidak bisa menceritakan apa yang ia dengar, karena bila hal tersebut tersiar keluar, segala tatanan yang sudah ada bisa saja hancur seketika. Batu tersebut isinya adalah dokumentasi, bersifat rahasia dan bisa menghancurkan bila jatuh ke tangan yang salah. Ayah juga bilang, ia tidak bisa berhenti mencarinya.
Kami terhenyak! Kakak paling sulung mendadak murung. Dan kesedihan itu membuatnya terrasuk sesuatu yang jahat.
Sejak mengetahui bahwa dua bulan telah lewat dan Ayah tiada berubah, seluruh tanah yang ada di pekarangan ia sulap. Tukang bangunan didatangkan, tetumbuhan diberantas, aneka lubang serangga ditumpas. Campuran padat dilebat dan menjelmalah lantai itu… serupa tembok cina yang tebal dan sangat keras yang membuat Ayah tak bisa lagi mengintip ke dunia di balik tanah melalui kupingnya.
Ayah jatuh sakit, paru-parunya menyempit. Ia terlalu sering mencari daerah bertanah lembab dan mendekapkan seluruh tubuhnya di sana, menguping cerita dari sebagian dokumentasi Jibril yang raib karena keteledorannya. Setahun kemudian ia meninggal, kesedihan menyelimuti yang ditinggal. Tapi hidup berlanjut, meski di halaman, kami tak lagi bisa menanami tumbuh-tumbuhan.
Dua puluh tahun masa itu telah berlalu, tapi lantai yang didatangkan kakak sulungku tetap angkuh membatu. Dan sehelai daun mahoni? Apakah artinya? Mengapa pagi ini aku begitu gemetar melihatnya?
***
Ayah menjadi gila karena membawa benda dari tanah suci yang pusaka. Demikian kabar yang disebar kakak tertua. Padahal siapapun mestinya sudah tahu, bahkan sebuah batu, tak boleh dilarikan ke tempat lain dari tempat “haram”, dari tanah kota suci mekah yang dikeramatkan. Siapa saja yang nekad menyelundupkannya, sebuah kutuk pasti akan ia pikul selamanya. “Dan kita harus mensucikannya,” demikian ucap kakak sulung, sambil setiap tahun terus memperbaharui tembok di halaman rumah kami.
Tapi di manakah daun mahoni biasanya tumbuh? Sedang tempat kami tinggal adalah sebuah kota dan selembar kelopaknya yang tak berdaya, terkapar segar pagi ini di lantai yang dibawahnya dulu adalah tanah landai?
Aku, ya, aku hanya punya pikiran, bahwa selembar daun itu adalah utusan. Sebuah pesan dari suatu sub bab yang mungkin tercantum dalam dokumen Jibril yang sempat raib dan menghilang. Lingkungan harus diselamatkan! ***
.
.
UCU AGUSTIN. Lahir di Sukabumi, Agustus 1976. Alumnus Jurusan Aqidah Filsafat IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, ini pernah menjadi wartawan Radio 68H, dan bekerja sebagai penulis drama radio untuk sebuah lembaga non-pemerintah di Jakarta. Cerpen-cerpennya dipublikasikan di berbagai media massa nasional, seperti Republika, Media Indonesia, dan Koran Tempo. Ia juga banyak menulis dongeng anak, dan yang telah terbit sebagai buku, antara lain Petualangan Salman dan Muhi, Kegalauan Sebuah Sungai, Kisah si Kikir, Cerita Embi, dan Masjid yang Bersedih. Kini bekerja pada sebuah LSM di Jakarta.
.
Dokumen Jibril. Dokumen Jibril. Dokumen Jibril. Dokumen Jibril. Dokumen Jibril.