Rumah Kaca

IBUNYA bilang, rumah kaca itu kosong belaka. Dua penghuninya—lelaki paruh baya dengan anak perempuannya—telah pindah ke luar kota. Disaksikan RT setempat, warga mendobrak pintu rumah setelah seminggu lamanya dua orang itu tidak tampak batang hidungnya.

“Ke mana?”

“Sidoarjo, mungkin.”

“Dari mana Ibu tahu?” kejar Bimana.

“Yang lelaki berasal dari sana sebelum menikahi istrinya yang meninggal itu.”

Bimana berpikir, ibunya sesungguhnya tidak tahu apa-apa. Ia hanya berasumsi atau bahkan mengarang saja, meski yang dikatakannya tampak sebagai kemungkinan yang bisa dilogika. Jauh lebih masuk akal dari mulut orang-orang yang mengatakan bahwa lelaki paruh baya dan si gadis mati gegara dihantui arwah perempuan yang meninggal di rumah kaca mereka. Mengenai mati dengan cara apa, tak seorang pun mampu menjelaskannya.

Olok-olokan bahkan muncul dari seorang berandal kampung, arwah itu mewujud sebuah sosok mengerikan dengan mulut begitu besar yang kemudian menyantap suami dan anak gadisnya dengan lahap. Sebagaimana bahan candaan, ujung kalimat ditutup dengan tawa kencang dari ia dan beberapa yang mendengarkannya. Kecuali Bimana.

Ya, istri lelaki paruh baya itu ditemukan oleh anak gadisnya dengan jerat tali di leher pada pagi-pagi buta. Ia menangis terisak-isak, meski masih sambil meladeni penasaran para pelayat yang datang.

“Ibumu punya masalah di rumah? Denganmu atau ayahmu?” tanya Bimana.

“Ia dan Ayah bahkan sorenya keluar untuk makan malam merayakan ulang tahun perak pernikahan mereka.”

Tapi tidak mungkin bunuh diri dilakukan oleh seseorang yang merasa baik-baik saja bukan, batin Bimana. Si gadis awalnya tampak dari kaca tembus pandang yang merupakan bagian depan rumahnya. Gorden selalu tersibak di siang hari dan menampakkan ia tengah membaca buku, merajut, atau mengurus kucing-kucing peliharaan. Sesuatu yang membuatnya nyaris di rumah sepanjang hari dan tidak banyak bergaul dengan lelaki-perempuan seumuran.

Untung ibu Bimana kenal dengan ayah si gadis. Dari sana kemudian ia mendapatkan nomor telepon yang kemudian suatu hari dihubunginya.

***

“Kau bilang pada Queen tidak ingin diganggu. Ingin mengenang masa-masa kita pacaran dulu. Tapi ternyata membawaku ke sini hanya untuk mengajak bertengkar.”

“Jangan kau kira aku melupakan begitu saja gaun berenda di mobilmu tempo hari. Kau berutang penjelasan padaku.”

Prasetyo membuang muka dari Pramesti istrinya. Ia tentu saja menyalahkan perempuan itu, selingkuhannya, yang sepertinya sengaja mencari perkara. Selama ini hubungan mereka begitu rapi. Bahkan anak lelaki dari perempuan itu sampai tidak tahu sama sekali. Setiap Prasetyo datang ke rumah mereka, lelaki muda itu pasti mengira hanya urusan jual beli belaka.

Jika pun mereka pergi berdua, tidak pernah semobil dari rumah. Prasetyo menunggunya di tempat penitipan. Dan perempuan itu tiba beberapa saat kemudian dengan motor matiknya. Kaus kadang kemejanya dirangkap jaket. Separuh wajah ke bawah ditutup masker. Lalu sarung tangan, kacamata hitam.

Setelah menerima karcis bertuliskan angka dari petugas penitipan motor, Prasetyo dan kekasihnya naik mobil berdua. Ke arah hotel luar kota. Di sana tidak ada satu pun yang mengenal mereka. Hanya saja, akhir-akhir ini makna hubungan mulai keluar dari urusan senang-senang dan ranjang. Perempuan itu mulai mendesak adanya pernikahan. Tak jarang, ujung-ujungnya mereka berselisih paham.

Gaun berenda hanyalah salah satunya. Sebelumnya perempuan itu kerap menelepon malam-malam, sesuatu yang di awal hubungan Prasetyo jelaskan sebagai pantangan. Untung saja namanya tersimpan dalam daftar kontak sebagai ‘Joko Blantik Motor’.

Tapi Pramesti mulai curiga karena telepon itu diangkat setelah lebih dulu menjauh darinya. Disusul gaun perempuan yang tertinggal di dalam mobil suaminya waktu ia beres-beres pagi, setelah malamnya tidak pulang dengan alasan dinas luar. Pertengkaran di ujung restoran dengan temaram lilin malam itu adalah puncaknya.

Suami istri itu pulang tanpa saling berkata apa-apa. Di hadapan anak gadisnya yang membukakan mereka pintu, Pramesti memasang senyum manis sekali. Malamnya keduanya tidur saling membelakangi. Prasetyo dengan tembok warna kuning gading. Pramesti dengan meja kamar yang di atasnya berisi foto pernikahan mereka. Hari ini tepat di tanggal dan bulan dari pernikahan itu. Tapi suaminya tak mengatakan apa-apa. Ia yakin lelaki itu sudah melupakan peristiwa bersejarah dalam hidup mereka. Di pikirannya pastilah perempuan pemilik gaun berenda dengan belahan dada yang begitu rendah.

Malam menjelang dini hari, Pramesti tak terlelap sama sekali.

***

“Bagaimana kau bisa sampai hamil? Apa kau tidak minum pil yang aku belikan?”

“Aku lupa. Dan ketika telat datang bulan, dari test pack aku tahu telah berbadan dua.”

Menikah bukan sesuatu yang menakutkan. Tapi itu adalah sesuatu yang menyebalkan apabila gadis tersebut hanyalah salah satu dari sederet kekasihmu dan kau mendekatinya sekadar untuk memenangkan taruhan dengan teman-temanmu.

“Kau aborsi saja.”

“Ini anak kita. Kau tega sekali.”

“Sudahlah, jangan drama. Kita melakukannya atas dasar suka sama suka. Aku tidak terpikir untuk menikah dalam waktu dekat.”

“Kau ini egois sekali. Selama ini kita berhubungan sembunyi-sembunyi. Dan sekarang kau mencoba lari. Tapi kupastikan Ayah akan segera tahu hal ini.”

“Kau berani mengancamku?”

Lelaki muda itu naik darah. Kepalanya dipenuhi kebuntuan dan satu-satunya jalan yang dilihatnya adalah membanting kekasihnya ke atas ranjang. Menutup kepalanya dengan bantal. Sampai dirasanya gadis itu tidak bernapas lagi.

Gadis tadi mengetuk pintu rumahnya malam sekali. Untung saja rumah sepi karena ibunya tengah berada di luar kota. Ditanyainya kenapa tidak menelepon dulu, dijawabnya pastilah kau akan banyak alasan. Menghindar sebagaimana hari-hari belakangan. Padahal ada sesuatu yang harus segera dibicarakan.

Tidak disangka si lelaki, yang dimaksud segera adalah kehamilan, sesuatu yang bahkan tidak pernah ia pikirkan, sebagai kemungkinan terjauh sekalipun. Lebih-lebih pernikahan.

Tanpa menunggu pagi tiba, dicangkulnya halaman belakang rumahnya. Di atas tanah, ia tanami pohon mangga untuk sekaligus menghilangkan jejak.

***

“Kau perempuan yang tidak sabaran.” Demikian lelaki itu selalu bilang. Padahal menurut Rahayu, sudah tidak ada lagi yang semestinya ditunggu. Lelaki itu sudah bebas sekarang.

“Kau selalu mengatakan hal yang sama sejak setahun lalu.”

“Aku punya anak yang begitu dekat dengan ibunya. Butuh waktu dan juga cara baginya untuk dapat menerimamu.”

“Waktu? Sampai berapa lama lagi? Dan tentang cara, kau bahkan melarangku ke rumahmu untuk dapat mengenal dan mendekatinya.”

“Kau ini berisik sekali. Tampak macam perempuan murahan saja.”

“Kau bilang aku murahan?”

“Aku tahu. Kau dikejar-kejar gundul sialan itu. Sudah berapa kali kau tidur dengannya? Berbeda dengan istriku. Ia saja bahkan tidak pernah berani menjawab kalau kukasih tahu.”

“Jadi, kau membanding-bandingkan aku dengan hantu?!”

Malam itu mereka tidak jadi berkencan. Rahayu memaksa pulang dan diturunkan di tengah jalan. Di puncak kekesalan, ia menekan sejumlah tombol di ponselnya. Lelaki parlente berumur datang dengan beberapa pengawalnya selang satu jam kemudian.

“Persoalan gampang melenyapkannya. Tapi, tidak gratis, tentu saja.” Lelaki itu mengerling nakal ke arah Rahayu.

***

Sebenarnya Bimana lebih suka jika ibunya berbisnis dengan lelaki paruh baya yang dulu. Ia tidak menyebalkan dan genit seperti lelaki yang akhir-akhir ini kerap bertamu ke rumahnya dan mengatakan ia adalah rekan kerja yang baru. Bimana mencurigai mereka ada main. Tentu bukan masalah bagi ibunya setelah ayah Bimana meninggal dalam sebuah kecelakaan tragis lima tahun lalu. Tapi tidak bagi lelaki yang baru, karena konon ia sudah memiliki keluarga.

“Ia dari luar kota. Istrinya tidak akan sampai mengendusnya.”

“Jadi menurut Ibu, tidak apa-apa dekat dengan pria beristri?”

Perempuan paruh baya itu melenggang ringan ke kamarnya. Bimana betul-betul kesal. Setengah hati ia menuju ke arah pintu yang diketuk seseorang dari luar.

“Ibu tidak ada, Pak Badrun.” Itu yang terlisan. Tapi, dalam hatinya ia mengumpat-umpat lelaki botak tersebut.

“Tapi, Rahayu bilang di telepon tadi, ia menungguku di rumah.”

“Baru saja ia dijemput lelaki dengan mobil Jeep,” kata Bimana asal-asalan. Ada bayangan pertengkaran berujung perpisahan di benaknya. Memang itu yang diinginkannya.

“Ke mana? Bagaimana ciri-ciri lela…”

Begitu saja Bimana menutup pintu. Masih sempat didengarnya suara orang menyumpah-serapah, disusul deru mesin yang berangsur menjauh. Sebagaimana ibunya, Bimana pun pergi ke kamarnya. Menyalakan televisi, iklan susu bayi. Hatinya gundah dan tak mampu ia cegah.

Pandangan Bimana terarah ke belakang rumah. Kepada pohon mangga dengan tunasnya. Seketika bayangan Queen dan rumah kaca memenuhi kepalanya. (M-2)

Pasini, mitra BPS Kabupaten Ngawi sebagai tenaga entri data. Menulis cerpen yang pernah termuat di sejumlah media cetak dan daring.

Arsip Cerpen di Indonesia