Manuskrip yang Terbakar

Cerpen Beri Hanna (Koran Tempo, 04 Desember 2022)

NENEK saya berumur tujuh belas tahun ketika diperkosa tentara Jepang. Waktu itu, wilayah-wilayah besar Indonesia diduduki dan dikuasai Jepang. Apa-apa yang dikatakan dan diperintah harus segera ditindak sesuai dengan kemauan mereka. Sedangkan pemukim-pemukim yang lugu dan di bawah kuasa patuh, meski tidak rela.

Mau tidak mau, ketika rumah-rumah digeledah dan seorang Jepang bernama Hakamoto melihat nenek saya, ia langsung maju sambil mendongak lalu memojokkan nenek.

“Nama?” tanya Hakamoto, membentak.

Nenek gemetar tapi tetap menyebutkan namanya dengan terbata-bata. Lalu, tanpa dapat melawan, dia diminta ikut ke mana pun Hakamoto ingin.

“Buka baju!” perintah Hakamoto, tegas membentak.

Nenek saya langsung meriang. Ia ingin menolak, menghalau tangan Hakamoto yang cepat menggerayanginya. Tapi, panas-dingin suhu badan tak menentu dan getaran pada tubuh yang mendadak muncul karena ketakutan telah menyiksa untuk takluk pada perintah Hakamoto.

Nenek tidak berdaya menahan sesuatu yang ingin diucapnya. Terlebih ia ingin berteriak “setan!” di dekat telinga Hakamoto yang memperkosa, lalu menggilir tubuhnya kepada teman-teman tentara Jepang. Tapi, pada kenyataannya, seperti juga kebanyakan orang, nenek saya diam dan patuh mengikuti perintah, tetap menundukkan kepala.

Kerap setelah kejadian itu, baik nenek maupun perempuan yang seumur dengannya, ditelanjangi di depan orang ramai sebelum diperkosa dan diperlakukan seperti binatang. Tidak jarang, mereka yang diperkosa mendapat ungkapan kata kasar, juga diludahi hingga dikencingi. Kadang-kadang, Hakamoto dan tentara Jepang meminta perempuan yang sudah diperkosa untuk menelan air kencing yang dibuang ke dalam mulut mereka.

“Haram kencing kami jatuh ke tanah!” teriak Hakamoto di depan orang ramai yang menundukkan kepala.

Sejak saat itu, orang-orang tahu Hakamoto gila. Dan tidak heran ia bisa melakukan apa saja, karena tentu ia melakukannya dengan tidak sadar.

Pada suatu waktu, Hakamoto menangkap perempuan lugu di sembarang tempat, lalu diperintah untuk kawin dengan anjing, lalu kuda, lalu manusia yang baru mati.

“Ingat,” kata Hakamoto, “Tidak berhasil membuat kelamin mayat berdiri berarti menentang kemauan saya!”

Karena perempuan lugu itu tidak mungkin berhasil, Hakamoto menyiapkan ganjaran berat. Beberapa orang yang hampir mati karena lelah bekerja tanpa henti dikumpulkan Hakamoto hanya untuk memaksa mereka mengeluarkan air keringat, ludah, dan kencing. Setelah terkumpul di gentong, perempuan yang tadi tidak berhasil memenuhi keinginan Hakamoto ditarik dan dipaksa meminum air campuran itu, tanpa sisa. Ini menjadi tontonan yang membuat orang-orang putus asa dan seperti dibunuh sebelum dapat melawan.

Memang orang-orang telah menganggap Hakamoto gila, tetapi melawan orang gila sama saja dengan menjadi gila. Begitu juga dengan mengikuti perintah orang gila, sadar atau tidak, orang-orang sudah menjadi gila.

Karena berentetan pemikiran tentang kegilaan dan perlakuan aneh Hakamoto dan tentara-tentara Jepang, orang-orang menjadi bimbang dan semakin tidak mengerti dengan kehidupan. Apa dan bagaimana cara menjalani hidup, mereka tidak pernah mengerti bahkan sejak kali pertama Jepang datang. Terlebih sekadar tegur sapa antara satu dan satu lainnya. Dalam kebingungan-kebingungan ini, ditambah dengan banyak peristiwa aneh yang lebih banyak sering terjadi, termasuk juga penyiksaan, pembantaian tanpa ampun, sepakatlah sebagian orang bahwa hidup dan mati ada di tangan Jepang.

Bila suatu hari Hakamoto datang, dia bisa menjadi setan gila yang berkehendak semaunya. Dia tahu apa yang dia lakukan, meski dia tidak sadar. Maka dari itu, orang-orang tidak lagi mementingkan kehidupan, termasuk nenek saya yang akhirnya mati setelah diperkosa berkali-kali lalu dipanggang hidup-hidup.

Suatu hari sebelum tragedi pembakaran, nenek saya sedang melamuni hari-hari dari pemerkosaan tiada henti yang menimpanya. Sedangkan kakek saya, yang waktu itu sering ditempeleng karena banyak tidak tahu apa-apa selain menulis, bertemu nenek saya untuk pertama kalinya. Mereka saling memandang dan suasana cepat berubah seperti mobil yang melaju kencang lalu hilang keseimbangan di tengah jalan lengang. Keputusan tak dapat ditindak untuk selamat, kecuali menabrak. Begitulah kakek dan nenek bersepakat bahwa mereka sesungguhnya mobil yang tak dapat dikendalikan, alias mau tidak mau, lebih baik saling menabrakkan diri satu sama lain.

Dari pertemuan itu, kakek mengungkapkan keinginannya menjadi pengarang dan perasaannya yang ingin tahu rasanya kawin. Nenek saya tidak tahu apa-apa soal karang-mengarang, kecuali kawin. Maka dari itu, nenek menunjukkannya kepada kakek hal yang benar-benar bisa dilakukan, di luar imajinasi dan dunia karang-mengarang. Dan hari itu, mereka kawin di tengah-tengah rasa takut dihantui Hakamoto dan tentara-tentara Jepang.

“Ayo geser ke sana,” bisik kakek.

“Ya, agak ke sana lagi, yah,” bisik nenek.

“Tanggung, setelah ini kita geser lebih ke sana.”

“Ada suara Jepang,” desis nenek. “Ayo kita geser lagi ke sana.” Begitu seterusnya mereka bergeser ke tempat-tempat jauh.

Berbulan-bulan kemudian, setelah lolos dan selalu sembunyi di hutan serta berpindah-pindah tempat untuk bercinta, akhirnya nenek saya melahirkan. Sebelum ini, nenek juga sudah berkali-kali melahirkan. Hanya setiap anak yang lahir tidak diketahui nasibnya. Dan karena ini pertama kalinya nenek bisa mengurus bayi, ia sadar bahwa bayi perlu kebutuhan gizi, seperti susu dan lainnya.

Kakek yang menganggap bayi dapat tumbuh semudah cerita-cerita yang didapat pembaca (tentu saja suatu saat nanti, kakek pernah membayangkan tahun-tahun ketika semua orang lebih sibuk membaca) tak berdaya berhadapan dengan realitas di luar fiksi.

“Bayi kita tak akan berhenti menangis kecuali diberi susu,” kata nenek.

“Aku tidak punya susu, tapi kamu punya susu,” jawab kakek.

Nenek marah. Ia tak mengira kakek akan berkata demikian. Dengan kebencian dan kemarahan yang selama ini terpendam atas perbuatan tentara Jepang, tangan nenek bergetar-getar seperti mendapat kekuatan sehingga keras seperti beton. Saat itu nenek tidak dapat mengendalikan emosi untuk bergerak cepat dan apa yang selama ini terpendam akhirnya keluar lewat tangannya, menempeleng kakek persis Jepang menempelengnya. Kakek tersungkur dan merasa otaknya terguncang, bergeser dari tempat semestinya.

“Kau, sudah gila rupanya!”

Ketika kakek bangkit, nenek langsung menempeleng kepala kakek satu kali lagi. Kakek tersungkur lagi dan kali ini benar-benar merasakan guncangan hebat pada otaknya. Ia yakin otak itu tidak hanya bergeser, tapi remuk berantakan dan berceceran ke dalam perutnya.

Dengan terhuyung-huyung kakek berdiri, lalu nenek berteriak meminta kakek pergi. Kakek berjalan pelan, menjauh. Kakek tak begitu pasti mendengar apa yang diteriaki nenek, tapi dapat menduga itu semacam paksaan untuk kakek agar segera mencari susu dan segala kebutuhan lain, karena fiksi dan karang-mengarang tidak pernah berguna bagi nenek.

Di sepanjang jalan dengan langkah terhuyung, kakek tak begitu sadar tapi dapat membayangkan bagaimana cerita baru yang akan ia garap: “Suatu hari tokoh kakek dihadang tentara Jepang. Mereka bersenjata dan hendak menaklukkan tokoh kakek. Tetapi, tokoh kakek lebih dulu melompat dengan lincah, menghindari lecutan cambuk tentara Jepang. Tokoh kakek tidak hanya menghindar, tapi dengan mudah menangkap lalu membolak-balikkan tubuh tentara Jepang. Karena merasa kurang puas, tokoh kakek menelanjangi tentara Jepang yang sejak pertama dibolak-balikkan telah meminta ampun. Tentara Jepang mengakui kehebatan tokoh kakek. Mereka menangis, dibiarkan kedinginan di tengah hutan”.

Kakek tertawa, tapi masih berjalan terhuyung. Sambil terus memikirkan cerita itu, kakek tidak sadar langkah huyung membawanya ke arah yang salah karena sekawanan Jepang tiba-tiba telah menghadang, persis seperti apa yang dibayangkan dalam cerita barusan. Saat itu tubuh kakek langsung diguncang-guncang dan kepalanya diremas kuat sehingga otak yang dirasa telah hancur kini menjadi bubur.

Tanpa mampu mengucapkan apa-apa—saat ini kakek masih berpikir yang terjadi kepadanya adalah rangkaian cerita karangannya—karena takut cerita yang dibayangkan akan hilang, kakek digelandang dan diminta mengaku apa yang disembunyikan dalam pikirannya. Kakek disiksa dan dipaksa bicara, hingga akhirnya tahulah tentara-tentara Jepang bahwa kakek dan nenek saya selama ini bersembunyi untuk dapat kawin dan mengarang. Kakek juga sudah tidak bisa mengelak ketika diminta menunjukkan tempat persembunyian.

Setelah bersama-sama berjalan masuk ke hutan menuju tempat persembunyian, nenek saya kaget dan berteriak “setan Jepang!” dan langsung mengambil sikap patuh. Saat itulah, di hadapan kakek, tentara-tentara Jepang menunjukkan kuasa mereka atas segalanya. Nenek saya diminta berjongkok, sementara kepalanya diinjak. Sebelum digilir bergantian, tentara Jepang memaksa kakek memperkosa nenek dengan gaya anjing. Nenek pasrah, diam dan patuh. Begitu juga ketika digilir. Karena tidak menangis selama dipaksa, tentara Jepang kurang puas dan berpikir apa pun caranya, nenek harus menangis dan mengakui siapa yang berkuasa. Tapi, karena nenek masih tidak menangis ataupun mengucapkan sesuatu—selain tadi “setan Jepang”—setelah disiksa, akhirnya nenek disiksa hingga dipanggang dalam keadaan diam—seperti patung—memandang bayinya yang juga tidak menangis.

Kakek saya, yang waktu itu hanya bisa melihat, tahu bahwa setelah ini ia akan menyusul nenek. Akan tetapi, sebelum itu terjadi, kakek memohon diberi kesempatan untuk menyelesaikan manuskrip. Seorang tentara Jepang bertanya dan kakek menjawab, “Ini semacam cerita yang perlu dibaca banyak orang.” Inilah yang membuat tentara Jepang marah dan melaporkan kejadian ini kepada Hakamoto. Hakamoto pun marah dan dengan bersemangat ia lari membawa cambuk.

“Mana babinya?” tanya Hakamoto begitu sampai di hutan. Semua tentara langsung menunjuk kakek yang tertunduk.

“Mana manuskrip karanganmu, Setan?”

Dengan bergetar, tangan kakek menyerahkannya.

“Masih belum selesai,” kata kakek.

“Saya tahu, Setan. Saya juga tahu bahwa kamu tidak akan menyelesaikannya,” ucap Hakamoto, lalu membakar manuskrip itu.

Kakek diam tidak melawan. Seperti kebanyakan orang, kakek patuh karena ia tahu Hakamoto gila dan sekadar tahu apa yang dilakukan, tetapi tentu saja tidak sadar.

Bagaimana nasib kakek dan bayinya setelah itu, saya tidak tahu. Saya rasa perlu melengkapi cerita itu menjadi utuh jika disetujui penerbit. Tetapi, alih-alih sependapat dengan apa yang saya harapkan, editor terang-terangan menolak dengan rendah hati mengatakan cerita itu tidak masuk akal. Ketika saya tanya bagian mana yang dimaksud? Editor menjawab, “Bagaimana cerita ini bisa ada jika manuskripnya telah dibakar oleh Hakamoto, si tokoh Jepang yang jahat itu?”

Saya mulai tidak tenang. Rasanya seperti ada bangunan runtuh di dalam dada ketika satu pertanyaan muncul merusak segalanya. Apa yang telah saya tulis selama beberapa tahun tidak pernah memuaskan. Saya tidak dapat mendengarkan saran dan masukan baik dari editor karena saya telanjur pusing. Saya tidak sadar ketika bergerak mengambil manuskrip lalu pergi tanpa berkata apa-apa. Memang, pada awalnya saya hanya mengarang tanpa sebelumnya pernah berpikir bagaimana logika cerita harus betul-betul diperhatikan. Hingga tahun-tahun berlalu setelah penolakan itu, saya melakukan segala hal untuk memperbaiki cerita.

Pada saat orang-orang ramai membicarakan sebuah sayembara novel, saya tertarik untuk turut serta mengirim cerita saya. Waktu itu draf semula yang pernah ditolak sudah saya perbaiki, baik plot, latar, kelogikaan, maupun keterangan lain yang diperlukan. Saya sudah menguji ke adik, kakak, ibu, dan ayah, juga beberapa tetangga yang pada akhirnya mengacungkan jempol untuk cerita saya. Mereka membuat saya yakin bahwa apa yang saya tulis telah mengedepankan sisi humanis, religi, serta menguak sejarah yang tidak main-main dan dianggap sebagai tawaran pembaruan dalam sastra. Sebelum tenggat, saya kirim manuskrip itu dengan judul “Manuskrip yang Terbakar”.

Seminggu sebelum pengumuman pemenang, pengada sayembara memberitakan hal mengejutkan. Di akun resmi mereka, dikatakan bahwa malang, tadi malam telah terjadi kebakaran besar. Bukan hanya satu, tapi seluruh manuskrip turut hangus terbakar. Mereka merasa sedih dan meminta maaf atas musibah yang tidak diinginkan ini.

Meski begitu, ada beberapa kabar baik, di antaranya pengumuman pemenang sayembara akan tetap berlangsung sesuai tanggal yang telah disepakati. Ini diberlakukan mengingat ketiga juri masih hafal judul dan isi cerita dari beberapa yang diunggulkan. Meskipun dalam kegamangan sebuah realitas cerita yang abadi berupa fisik, sebagian cerita memang membekas dan patut menjadi pemenang.

Saya gelisah menunggu tanggal pengumuman itu sambil berusaha mengingat apa yang sebetulnya telah saya tulis dalam naskah “Manuskrip yang Terbakar”. ***

.

.

Beri Hanna lahir di Bangko. Bergiat di Teater Tilik Sarira dan Kamar Kata Karanganyar.

.

Manuskrip yang Terbakar. Manuskrip yang Terbakar. Manuskrip yang Terbakar. Manuskrip yang Terbakar.

Arsip Cerpen di Indonesia