Cerpen Kurnia Effendi (Horison, Maret 2006)
PADA pemeriksaan kali ini, perut istriku yang buncit diolesi krim gel. Lalu dilakukan proses ultrasonografi dengan sebuah kamera diletakkan di atas permukaan perut yang sudah licin itu. Aku diminta memandang monitor kecil di meja dokter, yang dihubungkan dengan lensa alat itu. Lalu sebuah radio—atau alat semacam itu—memperdengarkan suara keresek-keresek, mirip pesan dari angkasa luar yang sulit dimengerti karena diombang-ambing gemuruh udara kotor.
Kulihat raster dengan jutaan dot dan pixel yang membentuk bayangan hitam dan putih. Sejujurnya, aku tak tahu itu gambar apa. Di mana kepala, yang mana anggota badan, tidak jelas posisinya, tapi sebaiknya kupercaya saja bahwa itu adalah potret segumpal janin yang diambil melalui berlapis-lapis serat daging. Lalu sang dokter tersenyum memandangku. Aku berusaha menunjukkan rasa bangga, bahwa akhirnya spermaku berhasil membuahi sel telur istriku.
“Dengarlah, ada degup jantung,” kata dokter.
Aku menajamkan telinga. “Suaranya samar-samar.”
“Ya, tapi cukup mudah dibedakan antara suara degup jantung dengan suara yang lain,” ujar dokter itu lagi.
Aku berusaha mengangguk. Berusaha yakin, meskipun sebenarnya sulit membedakan. Aku hanya tidak ingin mengecewakan perasaan dokter. Juga perasaan istriku, jika aku terus bertanya: yang mana degup jantung sang bayi? Bukankah ada suara-suara lain? Alasanku memercayai ucapan dokter itu juga disebabkan tidak ingin dianggap bodoh dan tidak mengerti. Yang dipasang itu alat canggih, sebagian sanggup melihat ke dalam rahim, sebagian bisa mendengar suara di dalam rahim.
“Memang ada dua detak jantung, yang lebih lambat milik ibunya.” Dokter itu kembali menjelaskan.
Istriku tersenyum. Seolah mengucapkan terima kasih dengan tatapan matanya yang lembut. Tatapan mata itulah yang pernah dan selalu membuatku terpesona. Membuat jantungku berdebur-debur. Dan saat itu, kurang lebih tiga tahun yang lalu, perasaanku luluh. Aku mencintainya sekaligus memercayai bahwa ia akan setia kepadaku. Maka dilaksanakanlah hari perkawinan untuk mengakhiri masa pacaran kami yang tak terlampau berlarut-larut. Dan sejak malam pertama aku menyampaikan kepadanya beberapa keinginan, antara lain memiliki beberapa anak yang sehat dan pintar.
Kugenggam tangan istriku, menyambut tatapan mata lembutnya. Untuk beberapa saat dokter membiarkan kami saling mengutarakan keterharuan. Sampai akhirnya ia melepas alat peneropong dari puncak perut istriku. Pemeriksaan berakhir dengan memberi resep berupa vitamin dan pesan-pesan agar menjaga kondisi tubuh demi kesehatan sang bayi dan ibunya. Tapi, di ujung perpisahan, sebelum kami membuka pintu dan keluar dari kamar periksa, dokter menyampaikan sesuatu yang kurasakan agak aneh.
“Tidakkah kalian dengar tadi, di antara dua detak jantung, kita juga mendengar detak arloji?”
“Detak arloji?” Aku mengerutkan kening, memandang istriku.
Istriku tersenyum. “Dokter hanya bermaksud bercanda, Mas.”
Aku menarik nafas lega. Dokter itu pun tertawa. Tapi, menurut telingaku, tawa dokter itu agak aneh. Kami pun berpisah. Aku mengucapkan terima kasih, layaknya seorang pasien kepada dokter yang merawatnya. Kugamit tangan istriku menjauh dari pintu. Kami menuju kasir untuk membayar biaya pemeriksaan. Sambil menunggu dibuatkan kuitansi, aku berbisik di telinga istriku.
“Apakah kamu mendengar suara detak arloji dari perutmu?”
“Hus!” Istriku mencubit lenganku. “Tidak mungkin. Memang detak jantung janin mirip suara detak arloji yang disekap di bawah bantal. Tapi dokter itu kan hanya ingin membuat kita lepas dari ketegangan.”
“Maksudmu, dia bercanda?”
“Tentu saja.”
“Tapi, bukankah cara bercanda dokter itu aneh?”
Istriku menerima kuitansi. Lalu menyeretku ke luar dari klinik, menuju tempat parkir. Masuk bersama-sama ke dalam mobil dari pintu masing-masing. Tapi aku tidak juga menyalakan mesin.
“Ayolah, sudah malam. Ada film bagus yang mau kutonton,” kata istriku.
“Apakah kamu tidak merasakan bahwa cara dokter bercanda itu aneh?”
“Ya, mungkin juga. Tapi itu tergantung dari mana kita menilainya. Anggap saja memang bercanda, dan tidak aneh.”
Aku menyalakan mesin. Mobil melaju meninggalkan halaman parkir menuju rumah. Jarak antara rumah sakit bersalin dengan tempat tinggal kami tidak terlalu jauh. Hanya pada jam-jam tertentu, misalnya saat orang-orang pulang kantor, kendaraan begitu padat dan berjalan dengan merayap. Terutama oleh kendaraan umum yang tidak tertib, berhenti tanpa benar-benar menepi. Kondisi itu pula yang menyebabkan aku memilih klinik ibu dan anak itu. Seandainya istriku mendadak harus dilarikan ke tempat persalinan, tidak perlu menempuh risiko kelamaan di perjalanan.
Aku, boleh jadi, termasuk seorang pencemas. Pilihan klinik terdekat semata-mata untuk menghindari kepanikan bila istriku mulai merasa mulas menjelang melahirkan. Aku bisa mencapainya dengan lekas. Akhir-akhir ini aku memang sering diserang tremor saat terjebak kemacetan lalu lintas. Di saat seperti itu, aku mencoba menelepon kawanku yang senggang, agar mengajakku ngobrol untuk melupakan rasa panik yang menyerang dari banyak penjuru. Bisa dibayangkan, bagaimana jika dua hal datang bersamaan: istriku mulai kontraksi dan lalu lintas di jalan raya macet!
Boleh jadi, aku juga seorang yang perasa. Banyak hal sepele yang sering kupikirkan berlarut-larut. Ada sesuatu yang tiba-tiba menimpakan perasaan bersalah, padahal tidak seharusnya demikian. Kadang-kadang menjadi semacam empati yang berlebihan. Seperti saat ini, yang kupikirkan mungkin soal detak arloji. Tapi, jangan-jangan istriku sengaja menyembunyikan kekhawatiran tentang arloji dalam perutnya.
Hanya seperempat jam perjalanan, kami sudah mencapai pintu pagar halaman. Pembantu membukakan pintu pagar, dan menyampaikan bahwa tadi ada tamu menitipkan barang.
“Laki-laki atau perempuan?” tanyaku.
“Laki-laki. Katanya orang dekat Bapak.”
“Siapa namanya?” tanya istriku.
“Dia tidak menyebutkan nama, Bu. Tapi tampaknya mengenal Bapak dengan baik.”
“Kira-kira siapa?” Istriku memandang ke arahku. “Apakah ada yang janji mau datang?”
Aku berusaha mengingat. Memang ada kalanya aku lupa beberapa janji. Terutama jika itu direncanakan jauh-jauh hari. Kadang-kadang, di kantor pun, tiba-tiba ada seorang atau beberapa relasi muncul. Resepsionis kantor mengatakan, tamu itu sudah dijanjikan bertemu seminggu atau dua minggu sebelumnya. Barulah kemudian aku ingat. Kadang-kadang, memang, aku lupa menuliskannya di dalam agenda, karena janji itu dibuat saat aku sedang berada dalam perjalanan di luar kantor. Lalu biasanya aku menyebut sebuah hari yang kuanggap kosong.
“Aku tidak ingat, siapa yang janji malam ini datang. Tapi jadwal dokter kan memang hari ini? Mungkin ia datang tanpa rencana,” kataku akhirnya.
“Tapi kenapa ia tidak menunggu? Mungkinkah tetangga kita?”
Boleh jadi, pikirku. Seorang tetangga bisa saja akan mengulang kunjungannya, toh tidak terlalu jauh rumahnya. Tapi, mengapa pembantu kami tidak mengenalnya? Aku hanya mengangkat bahu. Lalu aku memberi isyarat kepada pembantu agar mendekat.
“Tolong tutup kembali pagarnya.” Aku bergegas membuka pintu mobil untuk istriku, lalu membantunya turun. Bagiku, wanita hamil senantiasa menimbulkan perasaan iba. Aku sering bersyukur menjadi laki-laki. Tapi pernah di suatu malam, tiba-tiba saja, aku ingin menjadi perempuan. Dan mencoba membayangkan ada seorang bayi yang bergelung di dalam lambung. Mungkin karena aku merasa tak tega jika istriku harus melangkah dengan beban berat yang menggantung, sampai punggungnya agak melengkung ke belakang untuk membuatnya seimbang.
Ya. Kadang-kadang terasa benar tugas laki-laki begitu mudah, sementara yang menanggung akibatnya adalah perempuan. Rasanya, aku hanya perlu meniduri istriku, dengan tujuan saling memberi kenikmatan. Dan kini, perut istriku menggelembung, berjalan dengan lebih perlahan, dan dapat dipastikan akan semakin sulit berbaring karena harus memilih posisi terbaik. Sementara itu, setiap aku ingin mencumbunya, ia selalu memberikan tubuhnya meski dengan agak susah payah. Kini aku percaya kepada pilihanku: perempuan yang menjadi istriku itu memang akan setia. Nrimo dan selalu berusaha memberikan kegembiraan kepada suami.
Kutuntun istriku yang sesungguhnya masih sanggup berjalan dengan baik, menuju ke ruang tamu. Ada sebuah sofa berwarna hijau, warna kesukaan istriku, yang langsung menerima tubuhnya. Bagian yang ditimpa pantatnya menjadi cekung oleh bobot yang tidak ringan, tapi aku percaya bentuk sofa itu akan kembali seperti semula begitu istriku bangkit. Itu sofa mahal, dengan bahan yang bermutu tinggi. Kubeli pada sebuah pameran furnitur internasional, karena jatuh suka pada pandangan pertama.
“Yati, tolong ambilkan minum,” ujar istriku kepada pembantu.
Seketika aku teringat ucapan Yati di pintu pagar. Ada tamu menitipkan barang. Aku pun mencari-cari di mana ia meletakkan titipan itu. Yang terbayang dalam kepalaku adalah bungkusan besar, berupa kotak kubus atau bentuk tak teratur karena terbuat dari bahan yang lunak. Tapi tak tampak olehku barang itu. Lebih-lebih untuk menerka siapa orang itu. Dia mengaku orang dekat. Seseorang yang mengenal dekat. Tapi, kenapa Yati tidak tahu namanya? Mungkin saja teman lama, jauh sebelum Yati bekerja di sini.
Ketika Yati datang dari dapur dengan membawa minum, aku segera memburunya dengan pertanyaan. “Di mana kamu letakkan titipannya?”
“Oh, maaf, saya taruh di atas televisi.”
Di atas televisi? Pikiranku segera membayangkan bahwa barang itu kecil saja. Atau mungkin sepucuk surat. Atau, boleh jadi, uang yang dibungkus amplop agak tebal. Tapi, siapa yang berjanji memberiku uang?
Kuhampiri televisi yang belum dinyalakan kembali setelah kami tinggal pergi tadi. Yati tentu lebih suka menyalakan televisi yang kami sediakan di belakang. Di atas televisi itu kulihat ada sebuah kubus, yang kuperkirakan berukuran 6 x 6 x 6 sentimeter. Hanya dibungkus dengan kertas sampul cokelat tipis yang biasa ditemukan di toko-toko buku. Kuambil dan menimbang dengan tangan, benda apa kiranya di dalam kotak itu?
Secara logika, benda itu tidak membahayakan, karena ukuran dan bentuknya tidak mirip dengan bom. Tapi, yang kemudian membuatku agak gemetar dan berpikiran macam-macam, adalah suara yang terbit dari dalam kotak itu. Oh, bukan, tidak ada suara yang tembus keluar! Kurasa hanya terbawa halusinasi saja.
“Ketemu barangnya?” tanya istriku dari ruang tamu.
“Ada. Tapi belum kubuka.” Aku menghampiri istriku, menunjukkan barang titipan itu. “Apakah sebaiknya dibuka? Tidak tertulis apa pun di luarnya.”
“Cobalah dibuka. Apa maksudnya dikirimkan kepadamu, kalau tidak untuk dibuka dan dimiliki?” Benda itu segera berpindah ke tangan istriku.
Aku merebutnya. “Biar aku yang membuka!”
Istriku merebutnya kembali. “Berikan padaku! Aku ingin membukanya.”
Beberapa saat kami saling berebut. Benda itu berpindah-pindah dengan cepat. Istriku mungkin setengah bercanda, menggodaku. Tapi, entah kenapa, aku agak serius menanggapinya.
“Sini, aku saja yang membuka! Kamu sedang hamil, kalau ada sesuatu malah repot.”
“Apa yang repot?” Istriku memandang dengan aneh.
Boleh jadi, pikiran yang melintas sesaat itu, sekadar mengada-ada. Ya, apa yang repot dengan membuka bungkusan yang kukira sudah mulai robek karena perebutan tadi? Tapi, seandainya benda itu bisa bergerak dan menerkam, tentu istriku yang akan menjadi korban, sedangkan ia tengah hamil, tengah mengandung anak kami. Apa yang akan terjadi jika istriku menjadi santapan benda itu? Kami akan kehilangan kesempatan beranak-pinak? Padahal, sejak awal aku sudah mengutarakan kepada istriku untuk memberikan beberapa anak yang sehat dan pintar.
“Mungkin benda di dalamnya berbahaya…”
“Tidak mungkin.” Istriku tertawa. Lalu dengan cekatan tangannya segera membuka bungkusan itu. Aku agak berdebar. Bukan agak, melainkan sungguh-sungguh berdebar. Sampai selesai bungkusan itu terkelupas, aku merasa menahan napas.
“Arloji!” seru istriku. “Wah, ini mahal.”
“Arloji?” Aku mendekat, meskipun masih dengan jantung yang berdebar. Pantas aku seperti mendengar suara dari dalam kotak itu. Meskipun tidak seharusnya suara itu menembus karton tebal berlapis beludru. “Coba kulihat.”
Kotak beserta isinya itu diberikan kepadaku. Aku memandang arloji bagus itu. Berantai logam dengan bilah-bilah yang cantik. Warna dasar pada lingkaran tempat jarum berputar kombinasi antara abu-abu dan hitam. Titik-titik di atas angka berupa fosfor yang pasti akan menyala di dalam gelap. Mereknya agak sulit dibaca karena bentuk tipografinya agak aneh. Tapi pasti bukan jam murahan. Pertanyaan yang kemudian berkerumun di kepala adalah: Siapa pengirimnya? Siapa yang memberikannya? Dalam rangka apa orang itu mengirim arloji kepadaku?
“Coba dicari, mungkin ada surat atau suatu pesan dari pengirimnya.”
Arloji itu dilepas dari kotak dan terurailah selipat kertas. Aku segera membuka dengan cekatan namun tetap hati-hati. Ternyata itu hanya sebuah pesan dari produsennya, keterangan mengenai ketangguhan arloji, yang tertulis dalam tiga bahasa. Aku tidak menemukan sepucuk surat atau kartu di dalamnya. Tidak ada apa pun yang bermaksud mengucapkan sesuatu. Saat ini aku memang tidak sedang berulang tahun. Tidak pula naik pangkat. Jika itu sebagai tanda mata, layaknya dipertautkan dengan peristiwa tertentu.
“Yati!” Istriku memanggil pembantu, yang segera tergopoh-gopoh menghampiri. “Apakah kamu bisa menyebut ciri-ciri orang yang menitipkan hadiah ini?”
“Orangnya tinggi, lebih tinggi dari Bapak. Kulitnya hitam, hidungnya mancung.”
“Apakah matanya tajam?” tanyaku memotong.
Yati tampak mengingat. “Mungkin. Tadi saya memang agak takut saat berpandangan dengannya.”
Aku bisa menyebut beberapa nama. Tapi perlu lebih terperinci lagi. “Apakah ada bekas luka pada pelipisnya?”
Yati kembali seperti mengingat-ingat. Lalu menggeleng. “Tidak.”
Aku segera menggugurkan beberapa nama.
“Apakah ia memakai baju batik?”
“Tidak. Tapi pakaiannya bermotif bunga-bunga….”
“Oh, aku tahu. Tapi sebentar, apakah ia mengenakan kacamata minus?”
“Tidak,” sahut Yati. Maka gugur lagi sebuah nama yang siap terloncat dari bibirku.
“Sudahlah, Mas. Mengapa kita jadi repot memikirkan dia? Lebih baik kita simpan dulu arloji itu. Siapa tahu besok pagi dia akan menelepon. Bukankah ia mencarimu?”
Aku setuju dengan usul istriku. Kami tak perlu menghabiskan waktu dan memeras otak mengingat seseorang yang—kukira—memang tidak bermaksud ingin diingat. Alangkah bodoh si pengharap ucapan terima kasih itu jika ia memberikan sesuatu tanpa tanda-tanda tentang dirinya. Ia pasti orang yang hatinya bersih, berbuat dengan ikhlas dan tidak ingin dikenang oleh siapa pun.
Sisa malam, setelah digunakan oleh istriku untuk menonton film seri favoritnya, segera kami gunakan untuk istirahat. Keletihan siang hari di kantor, dilanjutkan dengan antre di rumah sakit, membuat mata segera ingin mengatup. Aku segera merindukan ranjang. Tapi yang kemudian membuatku sulit tidur, adalah suara detak arloji di telingaku.
Aku tergeragap, bangkit mendadak, seperti terjaga dari mimpi. Padahal belum sempat tidur. Mungkinkah di bawah bantal ada arloji? Kunyalakan lampu kamar agar lebih terang dan mencoba mengingat, di mana istriku meletakkan arloji hadiah tadi? Aku tidak bermaksud membangunkannya, aku mencarinya sendiri, dan segera mendapatkan benda itu di atas meja rias. Jadi, bukan arloji itu yang berdetak di relung telingaku.
Ah, kukira itu ilusi saja. Aku membalik bantal dan kembali merebahkan kepala di atasnya. Aku baru saja hampir terlelap ketika detak arloji mulai terdengar samar-samar. Aku hampir bangkit untuk memastikan sumbernya, tapi tiba-tiba terpikir untuk menyimak lebih jauh. Justru saat itulah, akhirnya aku tertidur. Seperti dituntun nada hipnotis.
***
BELUM terdengar azan subuh sewaktu kudengar dering telepon. Dengan setengah mengantuk aku meraba-raba permukaan meja di sisi tempat tidur. Aku bukan pemain komedi dalam sebuah film kocak yang ternyata keliru mendengar dering weker, oleh karena itu, yang kutemukan adalah benar dering telepon. Buktinya, ketika kuangkat, ada seseorang yang berbicara di seberang.
“Halo, selamat pagi. Maaf mengganggu.”
“Oh, siapa ini?” Suaraku serak. Mencoba mengumpulkan kesadaran.
Kudengar dia menyebutkan nama. Memang kurang jelas, tapi aku malu minta penjelasan. Penelepon itu menanyakan beberapa hal yang menunjukkan bahwa ia begitu dekat hubungannya denganku. Seperti sahabat lama. Atau seseorang yang memang tinggal hanya berantara beberapa rumah saja dari sini. Bisa jadi semacam kawan kantor yang hampir setiap hari bertemu dan mengobrol. Aku menjawab dengan tanpa dibuat-buat, namun sesungguhnya kesal karena telah mengganggu kenikmatan tidurku. Seandainya ia tinggal di Jepang, ada perbedaan waktu dua jam, boleh jadi ia lupa langit Indonesia masih gelap.
“Maaf sekali lagi karena telah mengganggu. Mudah-mudahan kirimanku sudah diterima. Selamat pagi,” katanya menutup telepon.
Aku terperanjat tapi terlambat. Telepon di seberang sudah diletakkan. Aku menoleh ke belakang, istriku masih meringkuk di bawah selimut dengan perut yang membusung. Aku pun meletakkan telepon yang sunyi kembali.
Diakah yang memberiku arloji?
Aku lekas bangun dan mandi di luar rencana. Dengan rambut basah dan badan yang segar, mungkin segera kuingat suara seseorang yang sok akrab itu. Aku mencoba menderetkan berpuluh nama yang nada suaranya mirip penelepon itu. Juga mengingat nama yang diucapkan secara tidak jelas itu. Usahaku tetap membentur tembok kabur.
“Pagi tadi aku ditelepon seseorang,” kataku sambil memasang dasi. Istriku berhenti menyeduh kopi, memandangku.
“Siapa?”
“Itulah yang menjadi persoalan, aku tak kenal siapa dia.” Aku duduk menghadap meja makan. Disergap rasa sedih atas kebodohanku.
“Kenapa tidak ditanya?”
“Sudah. Tapi tidak terdengar jelas.”
“Laki-laki atau perempuan?” Istriku mulai menyelidik.
“Laki-laki. Ya, kukira laki-laki.”
Wajah istriku tampak tidak puas dengan jawabanku. Mungkin karena aku menjawab dengan kata “kukira”. Menimbulkan teka-teki.
“Atau ada kawan laki-lakimu yang suaranya mirip perempuan?”
“Ada beberapa. Tapi pasti bukan mereka. Dan yang kudengar tadi suara laki-laki.”
Istriku duduk di depanku. Ikut gelisah. “Ngomong apa dia?”
“Agaknya dia tahu banyak tentang kita. Bisa jadi dia juga temanmu. Tapi yang paling membuat heran adalah kata-kata sebelum menutup telepon.”
Mata istriku tak berkedip. Menunggu ucapanku selanjutnya.
“Ia bilang, mudah-mudahan aku telah menerima kirimannya.”
“Jadi dia yang mengirim arloji semalam?” tanya istriku.
Aku tidak menjawab. Aku mulai cemas dengan waktu yang terus beringsut. Sebentar lagi lalu lintas Jakarta memadat dan aku akan terlambat tiba di kantor. Akhirnya aku hanya menghabiskan kopi dalam cangkirku. Aku menolak sarapan dan bergegas ke kantor.
Di kantor aku menjadi lebih siaga dibanding hari-hari sebelumnya. Aku diam-diam, sambil bekerja, memperhatikan setiap teman kantor: siapa kira-kira yang mirip dengan ciri-ciri tamu semalam? Bahkan ketika bercakap dengan mereka, sengaja kusinggung tentang arloji, atau gangguan telepon di pagi buta. Tapi tak seorang pun terpancing untuk membahasnya, bahkan bertanya lebih lanjut pun tidak. Aku bagai menepuk angin.
Saat menerima telepon, relasi atau kawan, kupingku mencari-cari nada suara yang mirip dengan penelepon tadi pagi. Setiap kali merasa hampir sama, aku jadi ragu-ragu. Karena tidak mungkin dia yang kucari. Orang-orang itu hanya berhubungan dalam hal pekerjaan, atau bahkan sama sekali tidak pernah bicara secara pribadi. Mereka adalah teman-teman yang terbentuk karena hubungan perusahaan. Maka, menjelang istirahat siang, perasaan dan tubuhku terasa letih. Saat aku mencoba memisahkan diri dari dokumen-dokumen di mejaku, ada telepon dari rumah.
“Baru saja ada seorang laki-laki yang menanyakan, apakah ada kiriman yang salah alamat?” kata istriku.
“Siapa dia?”
“Dia tinggal masih satu kompleks dengan kita. Nomor rumahnya kebalikan dari nomor rumah kita. Kebetulan pula, namanya hanya beda satu huruf dengan namamu.”
Astaga! Bisa jadi demikian. Orang yang mengantarkan paket semalam telah keliru melihat nomor rumah, dan merasa yakin karena nama yang nyaris tidak berbeda dalam sekali sebut. Tapi… paket itu telah dibuka. Ah, bagaimana mungkin diberikan dalam keadaan sudah berantakan?
“Semoga dia seorang pemaaf.”
Selanjutnya aku tidak lagi membuang waktu untuk meyelidiki seseorang yang telah mengirim arloji itu. Untuk sementara sudah terjawab. Tinggal memikirkan cara meminta maaf karena telah membuka paket yang salah alamat. Akan tetapi, kenapa pengirimnya juga bisa salah memutar nomor telepon? Bukankah aku tadi menerima telepon dari pengirim paket itu?
***
“NAMA saya Bustamam.” Orang itu berdiri di depan pintu rumah yang kubuka begitu kudengar ketukan beberapa kali. Ia datang terlampau malam. Aku telah mengenakan piyama, mengira orang itu bakal menunda kunjungan.
Saat ia memeperkenalkan diri, sebenarnya sedikit membuatku kaget. Mengira nama kami sama. Tapi karena ia mengatupkan bibir ketika tiba di ujung namanya, berarti menunjukkan perbedaan. Namaku Bustaman, tanpa berakhir dengan katupan bibir. Tapi, benar adanya, namanya hanya berbeda satu huruf denganku.
“Silakan masuk.” Aku memberi isyarat dengan tanganku, agar dia mau duduk di sofa ruang tamu. Ia pun duduk tanpa ragu-ragu. Untuk waktu yang kelewat larut, seharusnya dia ragu-ragu.
Aku segera masuk ke kamar untuk mengambil arloji yang kami terima semalam. Aku tidak lagi memikirkan siapa pengirimnya, karena sudah menemukan seseorang yang seharusnya menerima kiriman. Namun begitu arloji sudah tergenggam di tangan, giliran aku yang menjadi ragu-ragu. Apakah benar dia yang seharusnya menerima kiriman itu?
Bukan karena arloji itu terlihat mahal harganya. Tetapi seandainya ada orang lain lagi yang menanyakan arloji itu, bagaimana aku menjawabnya setelah melakukan kebodohan dengan memberikan ini kepada orang yang barangkali keliru? Dalam waktu singkat aku harus menemukan akal, setidaknya demi mendapatkan keyakinan bahwa Bustamam yang berhak.
“Bapak tinggal di mana?” tanyaku sambil tersenyum.
Ia pun menyebutkan nama jalan dan sepasang angka yang merupakan kebalikan dari nomor rumahku. Ya, itulah informasi yang disebutkan istriku tadi siang.
“Apakah ini kiriman yang seharusnya Bapak terima?” Aku menunjukkan sebuah arloji.
“Ya, benar. Mereknya pasti….” Bustamam menyebut sebuah merek yang cukup terkenal. Aku sendiri masih susah mengeja karena bentuk tipografinya yang agak aneh.
“Kira-kira Bapak bisa menyebutkan nama pengirimnya?” Pertanyaan ini terdengar tidak sopan, tapi demi kehati-hatian terpaksa kulontarkan. Setidaknya aku akan bisa menjawab bila istriku bertanya ini-itu soal arloji yang akan segera pindah tangan ini.
“Tentu saja. Syarif namanya. Ia seorang dokter kandungan.” Ah, ia begitu tangkas menyebut sebuah nama. Tetapi aku terkejut mendengarnya.
“Syarif Budiman?” Aku menatap sepasang matanya.
“Rupanya Bapak kenal juga?” Bustamam tersenyum. Ia terlihat sedikit bangga karena pengirimnya orang yang juga kukenal.
“Tentu, jika yang dimaksud adalah dokter kandungan yang berpraktik di rumah bersalin…” Aku menyebut nama sebuah rumah sakit ibu dan anak tempat istriku biasa memeriksakan kandungan.
“Ah, benar!” Bustamam seperti terlompat kegirangan, tetapi sesungguhnya dia tetap berada di tempat duduknya. “Jadi begini ceritanya. Dia berjanji memberikan arloji kepada kami setelah anak kami lahir. Ini merupakan kado tradisi dari dia kepada setiap bayi yang lahir dari perut pasiennya. Dia dokter kandungan yang luar biasa. Bertangan dingin, istilahnya. Anak kami lahir melalui tangannya empat hari yang lalu dalam keadaan sehat. Saat kami meninggalkan rumah sakit, dia berjanji akan mengirimkan sebuah arloji sebagai tanda mata.”
Aku merasa terpesona dengan ceritanya. Tidak luar biasa, tetapi justru mengandung unsur yang tidak biasa. Seandainya memang ada dokter yang berlaku murah hati, tentu kenang-kenangannya bukan berupa arloji. Ada banyak benda yang lebih sesuai. Misalnya boneka, payung, buku tentang merawat bayi, botol susu, atau apalah. Tapi arloji?
Dan kemarin Dokter Syarif Budiman juga menyebut arloji di akhir pemeriksaan kandungan istriku. Ia mengatakan, mungkin bercanda, bahwa selain mendengar detak jantung bayi di perut istriku juga terdengar detak arloji. Adakah hubungannya dengan peristiwa ini?
“Apa kata Dokter Syarif tentang arloji ini?” tanyaku penasaran.
“Ia menjanjikan akan memberikan arloji setelah anak kami lahir. Ah, dia dokter yang suka bercanda. Menyebut anak kami sebagai anak arloji.”
Apakah anakku juga akan disebutnya sebagai anak arloji? Dan kami akan dikiriminya arloji juga? Kulihat Bustamam agak tak sabar menungguku memberikan arlojinya. Atau karena ia merasa sungkan telah bertamu kelewat malam? Akhirnya kuputuskan untuk segera meyerahkan arloji itu kepadanya.
“Maaf, bungkusnya sudah dibuang. Tapi memang tidak tertera nama, baik pengirim maupun yang dikirim.”
“Oh, tak jadi soal,” jawab Bustamam sigap. Tentu tak jadi soal, pikirku geram, karena yang akan diterimanya adalah sebuah jam mahal.
Lalu, untuk berjaga-jaga, aku pun meminta nomor teleponnya. Kupikir ini semacam kewaspadaan yang wajar untuk peristiwa serah terima barang berharga, meskipun tidak secara tertulis. Selebihnya aku percaya saja.
Aku merasa tak ingin menunda waktu lagi untuk mengusirnya. Maksudku membiarkannya pamit dan berlalu dari rumahku. Sekadar untuk tidak menyesal telah memberikan benda berharga kepada orang yang mungkin saja hanya mengaku-ngaku. Tapi, rasanya juga bukan sebuah rekayasa, mengingat tak banyak orang tahu mengenai arloji itu, selain istriku dan Yati. Kecurigaan terhadap Yati juga terasa berlebihan, karena sepanjang yang kutahu, dia jujur dan tak pernah usil terhadap majikannya.
“Terima kasih.” Bustamam menjabat tanganku erat-erat dan meninggalkan pintu. Aku masih mencoba melihat langkahnya menjauh.
Kini aku merasa lega. Menyimpan arloji selama sehari semalam menjadi semacam beban. Mungkin aku akan segera dapat tidur nyenyak, menyusul istriku yang tak terusik oleh percakapan kami di ruang tamu. Selain percakapan kami bukan berupa teriakan, jarak antara ruang tamu dengan kamar tidak terlalu dekat.
Begitu merebahkan diri di sisi tubuh istriku, mendadak aku terperanjat. Aku pun duduk dan tertegun. Rasanya aku kini kenal dengan suara orang yang meneleponku menjelang subuh. Ya, suara Dokter Syarif. Ah, kenapa tidak segera kukenali sejak ucapannya yang pertama? Aku pun tersenyum sendiri menyadari kebodohan itu. Perasaanku kini lega. Tapi mendadak terperanjat lagi. Muncul pertanyaan: siapakah yang mengirimkan arloji itu ke rumah? Tentu bukan Dokter Syarif, karena saat kiriman itu diterima oleh Yati, Dokter Syarif sedang memeriksa istriku. Tapi… orangnya lebih tinggi dariku, kulitnya hitam hidungnya mancung… sama dengan ciri-ciri fisik Dokter Syarif!
Cita-citaku untuk tidur nyenyak kini berantakan.
***
KEGELISAHAN sebagai calon ayah akhirnya terjadi padaku. Istriku telah satu jam masuk ruang bersalin, dan aku mencoba membaca majalah di ruang tunggu. Semula ingin menemani istriku dalam ruang persalinan, tapi merasa tak tahan melihat darah. Sekarang aku sedang berada dalam kegelisahan seorang calon ayah. Kebahagiaan yang mendebarkan.
Sewaktu ponselku berbunyi, aku seperti terlompat, padahal sesungguhnya tetap berada pada tempat dudukku. Mungkin jantungku yang melompat karena dalam kondisi yang memang mendebarkan.
“Pak Bustaman? Benarkah ini Pak Bustaman?” Suara di seberang terdengar gugup dan putus asa.
“Ya, benar. Siapa ini?”
“Bustamam. Saya mau menyampaikan berita duka. Saya tertimpa musibah….”
Aduh! Kalimat berikutnya nyaris tidak tertangkap dengan jelas. Aku merasa ada gangguan terhadap jaringan telepon. Aku pun tergesa-gesa keluar dari ruang tunggu untuk mendapatkan sinyal yang baik. Aku ke beranda dan mencoba menyimak kata-kata Bustamam. O, ternyata selebihnya adalah suara isak tangis.
“Tenang, Bung, jangan panik. Apa yang sesungguhnya terjadi?”
Aku tidak mendengar apa-apa. Agaknya Bustamam sedang berusaha menghentikan tangisnya.
“Bayi kami meninggal….”
“Ya Tuhan!” Aku benar-benar kaget. Itu tentu kesedihan luar biasa. Bayinya baru berumur sebulan. “Kami turut berduka. Kalau boleh tahu, karena sakit atau….”
“Semalaman demam tinggi dan kejang. Tapi ada yang perlu Bapak tahu. Arloji dari Dokter Syarif juga mati. Entah sebelumnya atau sesudahnya.”
Kembali terdengar isak tangis Bustamam, sampai akhirnya sambungan telepon diputus. Aku masih tertegun beberapa lama di beranda. Ada rasa sedih yang tajam mengiris hati. Setidaknya, walau baru sekali bertemu dengan Bustamam, ada ikatan emosional. Entah melalui Dokter Syarif yang juga menangani istriku, atau oleh kiriman arloji yang salah alamat.
Aku terperanjat karena teringat istriku masih berada dalam ruang persalinan. Aku bergegas masuk ke ruang tunggu dan ragu-ragu. Apakah akan mengetuk pintu untuk ikut masuk? Atau tetap menunggu di luar? Aku kembali duduk dengan kegelisahan seorang calon ayah. Dengan majalah terbuka namun tak satu huruf pun masuk dalam kepala. Kegelisahan itu ditambah dengan kesedihan atas berita yang baru kuterima.
Entah berapa puluh menit, yang terasa seperti berhari-hari, akhirnya aku menerima kabar gembira. Dokter Syarif keluar dari ruang bersalin, jemarinya sudah bebas dari sarung tangan karet. Matanya mencari-cari sebelum akhirnya hinggap ke wajahku dan tersenyum.
“Pak Bustaman, selamat! Anak Anda sudah lahir dalam keadaan sehat. Laki-laki!” Tangannya menggenggam tanganku begitu kuat.
“Bagaimana dengan ibunya?” tanyaku gugup di antara kegembiraan yang menyeruak.
“Ibunya juga selamat, tapi mungkin masih terlampau letih. Tentu saja. Bayi Anda hampir empat kilogram.”
Aku mengucapkan syukur kepada Tuhan. Akhirnya si pencemas ini berhasil menjadi seorang ayah. “Terima kasih, Dokter.”
“Ya. Anak arloji telah lahir, haha.” Dokter Syarif menepuk pundakku seraya tertawa. Tapi hatiku justru mengerut mendengar ucapannya. Anak arloji? Anak Bustamam juga anak arloji. Almarhum anak Bustamam!
“Dokter….” ucapanku tersangkut di tenggorokan.
“Sabar. Tak sampai setengah jam bayi Anda dapat dilihat melalui jendela di ujung sana.” Dokter Syarif salah menafsirkan kelanjutan ucapanku. “Oh, ya. Sebelum saya lupa, ini kenang-kenangan dari saya.”
Tangannya masuk ke dalam saku jas putih dan keluar lagi dengan sebuah kotak arloji. Begitu cepat. Bahkan seperti tak pernah melakukan gerakan tangan masuk dan keluar dari saku. Sejenak darahku tersirap. Tapi wajah Dokter Syarif justru tersenyum sangat bahagia. Ia memberikan kotak arloji itu kepadaku.
Tanganku tidak berdaya untuk menolak. Aku menerimanya dengan gemetar. Menerima kotak arloji yang sama seperti yang pernah kuberikan kepada Bustamam. Rasanya aku sudah tak mampu tersenyum. Mungkin, bahkan, dengan wajah yang pucat. ***
.
.
Jakarta, 28 Februari 2006
.
Anak Arloji. Anak Arloji. Anak Arloji. Anak Arloji. Anak Arloji. Anak Arloji. Anak Arloji. Anak Arloji. Anak Arloji.