Ramalan Nian Gao

Cerpen Dody Widianto (Suara Merdeka, 15 Januari 2023)

DI Sam Poo Kong, ketika tetabuhan gendang dan gong terdengar meriah dari para pemain barongsai yang sedang berlatih untuk perayaan Imlek di halaman kelenteng lima hari lagi, alisku mengerut melihat gulungan kertas kecil di tanganku yang terbungkus plastik dari dalam nian gao [1]. Kata penjualnya aku belum boleh memakannya. Boleh dibuka dan dimakan hanya nanti bersama orang tercinta. Namun, ketika penjual bazar makanan bilang di dalam kue yang kupesan ini ada kertas ramalannya, aku jadi tak sabar.

Mataku mendadak membulat. Gulungan kertas dalam kue yang lengket dan manis itu berbunyi xingyun [2]. Aku memasukkan kertas ramalan dalam dompet. Berjalan pelan di antara kerumunan orang sambil meletakkan ujung telunjukku di dagu. Sesekali melirik melihat hidangan yusheng [3]. Tetapi aku tahu, Eyon, pacarku lebih suka dibawakan manisan buah. Dan Imlek tahun ini tepat dengan tanggal kelahiranya. Aku ingin menunjukkan kertas ramalan di depannya nanti. Tepat saat tabuh tahun baru berdentum di antara nyala kembang api. Juga tiupan lilin dengan angka dua puluh delapan. Ia pasti senang.

Di sepanjang jalan keluar arah kelenteng, pandanganku tiba-tiba berhenti. Sosok laki-laki berjalan pelan mendekat. Paham dia siapa. Bahkan ketika dia berjalan lebih cepat lalu jarak kami hanya setengah meter. Kami saling pandang dan ia berucap, xin nian quai lie [4].

“Apa ini tidak terlalu cepat? Masih lima hari bukan?”

Eyon tak menjawab, menarik lenganku lalu membawa kami masuk lagi ke dalam kelenteng. Dua bungkusan kue yang baru saja kupesan buru-buru aku masukkan ke dalam tas. Eyon memberikanku hio, menyulutnya lalu aku mengikuti gerakannya. Dalam sembahyang, kami memohon agar tahun baru ini dijauhkan dari malapetaka dan selalu dekat dengan keberuntungan.

Sebetulnya ini belum sore benar, tetapi gerimis membuat langit terlihat agak gelap. Aku tak tahu kenapa Eyon tiba-tiba datang menyusulku. Katanya tahun baru kali ia ingin lebih dekat dengan Tuhan. Eyon membawaku keluar kelenteng setelah kami bercakap cukup lama di halaman sambil terus melihat dan mencicipi bazar makanan di sepanjang jalan.

“Nanti malam aku boleh mampir ke rumah?”

Anggukan kepalaku sudah cukup menjadi jawaban. Eyon memang sering bermain ke rumah. Apalagi adikku, Jiao yang baru masuk kelas satu SD, sangat suka bermain catur dengannya hingga tengah malam. Kebetulan papa dan mama juga sedang pulang kampung. Aku rasa Eyon tak akan sungkan.

Di depan meja makan, ketika beberapa hidangan mi dan salad buah sedang aku persiapkan, sebuah ketukan di pintu depan terdengar. Aku menyuruh adikku untuk membukakannya lalu menyilakannya masuk.

Benar, Eyon datang. Meletakkan di meja makan anggur dan pir yang ia bawa dalam kantong plastik. Tak cukup waktu lama hingga kami telah duduk manis dan mulut kami hanyut dalam hidangan mi kuah yang aku masak sendiri bersama cacahan sawi. Jiao tak bersuara ketika makan mi. Ia sangat doyan.

Tiba-tiba aku ingat kue kuil pemberian seseorang di bazar makanan kemarin. Satu lagi belum dibelah. Tak sabar ingin kutunjukkan pada Eyon. Bisa jadi kue kedua berisi ramalan keberuntungan seperti milikku.

“Kau mau kue?”

“Boleh.”

Aku kembali setelah mengambil kue di dalam tas. Di depan Eyon dan Jiao, dengan pisau aku membelah kue tadi. Lalu benar, ada gulungan kertas kecil dalam kue. Jiao kaget. Tak biasanya kue dari vihara berisikan hal-hal aneh.

“Apa itu, Kak?”

Aku tak menjawab. Ingin membuat penasaran Eyon dan Jiao. Kedua tanganku aku tangkupkan ke dada, tepat saat gulungan kertas itu juga ada di dalamnya. Bibirku merapal doa. Eyon mengerutkan dahi melihatku. Jiao diam saja.

“Selamat berbahagia. Kamu beruntung. Lihat.”

Eyon melihat gulungan kertas kecil tadi bertuliskan “beruntung”. Dia tersenyum ke arahku. Terlebih lagi Jiao. Dia berteriak hebat dan ingin ikut datang ke kelenteng lagi. Ingin ikut membeli dan mendapat kertas ramalan sepertiku.

“Semoga ini bukan sekadar ramalan,” Eyon berbisik di depanku.

Lima hari setelah Eyon berucap itu, tepat saat tabuhan kendang dan gong terdengar membelah langit kota, juga tepat di hari kelahirannya, teleponku berdering. Sebuah panggilan dari nomor yang tak kukenal. Di sana, suara laki-laki terdengar mengiba. Kutanya sekali lagi, takut jika ini sebuah lelucon. Sekarang banyak telepon penipuan. Namun, lelaki itu terus memohon kepadaku datang secepatnya ke sebuah rumah sakit. Eyon tertabrak truk.

Ponsel masih menempel di telinga. Entah kenapa tiba-tiba aku ingat keculasanku beberapa tahun lalu. Demi merebut hati Eyon dari karibku Elen, aku pernah mendatangi seorang dukun. Berusaha memasukkan sehelai rambutku yang terbakar dalam minumannya bersama senandung mantra. Mencari cara agar Elen menjauh dari Eyon. Membuat Eyon terus bahagia di sampingku. Tak kusangka, satu kue kuil yang akan aku hidangkan untuk Eyon berisi ramalan buruk. Aku tak tega lalu mengganti dengan kertas ramalan yang satu lagi.

Dulu, aku tak begitu percaya karma. Namun, sekarang aku rasa Tuhan sedang menuntut balas semuanya. Ketika tiba-tiba suara pria di telepon itu berucap jika Eyon telah tiada. ***

.

.

Catatan:

[1] nian gao: kue keranjang

[2] xingyun: beruntung

[3] yusheng: salad ikan segar dengan irisan sayuran

[4] xi nian quai lie: selamat tahun baru

.

.

—Dody Widianto lahir di Surabaya. Karya cerpennya banyak tersebar di berbagai antologi penerbit dan media massa. Buku kumpulan cerpen terbarunya, “Daff, Ron, dan Seekor Capung yang Menyimpan Dialog Rindu Kita” (Airiz Publishing, Yogyakarta 2021).

.
Ramalan Nian Gao. Ramalan Nian Gao. Ramalan Nian Gao.
Arsip Cerpen di Indonesia