Kini dan Esok

Cerpen Jaroslav Hašek (Koran Tempo, 12 Februari 2023)

SAAT itu sudah pukul lima sore ketika Juraj Vručić akhirnya berhasil melepaskan diri dengan susah payah dari semak belukar berduri, rumput-rumput ilalang panjang, dan pohon ek muda yang tumbuh lebat di dataran rendah tepi Sungai Dráva.

Dia mendapati dirinya berada di jalur berpasir yang rata oleh jejak gerobak dan bekas diinjak-injak kuku ternak. Di sini dia juga memiliki pandangan yang lebih baik ke sekelilingnya. Jalan setapak berpasir berkelok-kelok di antara pohon-pohon dedalu membentuk pemandangan yang di ujungnya dia bisa melihat sebuah desa di kejauhan: rumah-rumah putih mungil, pohon buah-buahan kehijauan, menara merah dari sebuah gereja kecil, dan ladang jagung dengan batang-batang yang bergoyang tertiup angin.

Juraj Vručić menarik napas dalam-dalam dan duduk sejenak di atas rumput. Dia menatap lekat ke arah desa dan tersenyum puas ketika dia melihat bukit-bukit biru menjulang di kejauhan di belakangnya. Dari kebun anggur di atas sanalah anggur merah yang diminumnya pagi itu di Varaždín berasal.

“Anggur itu! Kau minum sebotol dan kau merasakannya menekan kakimu. Kemudian kau minum sebotol lagi, dan kau merasakannya menghangatkanmu serta pikiran gembira muncul dari kaki ke kepalamu. Kau minum botol yang ketiga dan kau akan mulai bernyanyi; kau bahkan membuat lagu sendiri. Saat kau minum botol keempat, setiap pembuluh darah di tubuhmu mulai bergetar dan kau merasa ingin menyelam. Kemudian kau pergi ke luar dan yang ingin kau lakukan adalah pulang ke Sudovčina, tetapi kau salah belok dan menemukan dirimu berada di jalan menuju Ormoz, ke arah Styria.

Lalu tiba-tiba, kau punya ide bagus: kau berada di jalur yang salah; kau harus melewati Štefanec, Semovec, Zamxak, Ebanovec, dan kemudian pulang ke Sudovčina. Kau pun kembali ke Varaždín, mengelilingi kastel, melewati barak, dan mencari jalan menuju Štefanec. Kau bertanya arah jalan, tertawa, bergoyang dari satu sisi ke sisi lain, orang yang kau tanya juga tertawa, dan akhirnya kau berada di suatu tempat, berjalan ke arah Sungai Dráva. Ada jalan setapak yang bercabang ke segala arah. Ada jalur yang mengarah langsung ke sungai.

Dan anggur terkutuk dalam dirimu itu sepertinya ingin melompat. Kau menemukan dirimu tersandung dan di sanalah kau berada dengan tangan terjerat di antara belukar berduri yang menusukmu. Begitu kau berdiri, tanganmu tersangkut dahan pohon ek kecil atau kau jatuh di semak berduri. Tetapi di sinilah kau akhirnya berada, di jalan berpasir. “Terima kasih, Tuhan! Dan kau bisa melihat desa!”

Juraj Vručić mengatakan semua itu kepada dirinya sendiri saat dia duduk di persimpangan jalan. Dia menatap desa sekali lagi dan menatap langit biru. “Hari ini aku pulang terlambat dari pasar. Di pagi hari, aku menyiapkan kuda dan pergi ke Varaždín. Ya, kuda betina. Dan seekor anak kuda berlari di samping kuda betina itu. Anak kuda yang cantik! Aku berkata kepada buruhku, ‘Cepatlah naik agar kita bisa sampai ke Varaždín dan mendapatkan harga yang bagus untuk anak kuda itu.’ Jadi, kami pergi dan menjual anak kuda seharga 60 gulden. Aku menyuruh buruhku pulang, lalu aku minum-minum dulu sedikit.”

Juraj Vručić berhenti berbicara ke langit dan menoleh ke pohon alder yang daunnya lebat. “Anak kuda yang cantik! Tidak seperti kuda tetanggaku yang menabrak tiang dan robek perutnya. Dokter menjahitnya meski tidak terlalu banyak. Terpujilah santo pelindungku, akhirnya aku ada di sini. Betapa banyak gadis cantik yang tadi kulihat di pasar dan betapa bagusnya pasar itu! Aku akan bangun sekarang dan pergi.”

Vručić berdiri dengan susah payah, membuat tanda salib, dan meraba tas kulitnya dengan hati-hati.

“Uangnya masih ada,” katanya tertawa, lalu berjalan perlahan di sepanjang jalan berpasir.

Pada pukul enam sore, dia baru tiba di Štefanec. Dia bisa saja sampai di sana lebih awal, tetapi dia terjatuh ke gerombol pohon jagung saat dia berusaha melihat seberapa besar tongkolnya. Dan saat terkapar di ladang jagung, dia menunda perjalanannya dengan menimbang-nimbang gadis mana yang akan dia pilih jika dia belum menikah di antara gadis-gadis cantik yang tadi dia lihat di pasar. Akhirnya, dia bangun dan bergumam, “Terserahlah.” Lalu dia melanjutkan perjalanan ke Štefanec.

Di Štefanec, dia berjalan perlahan melintasi desa sampai di ujung, lalu berhenti. Perhatiannya tertuju pada tanda jerami yang terbuat dari batang jagung yang tergantung di atas gerbang sebuah rumah.

Itu bukan tanda biasa seperti yang tergantung di luar bar lain atau lahan pertanian tempat orang bisa meminta petani mengambilkan segelas anggur. Itu tanda raksasa yang tergantung bergoyang di sebuah bar, berdesir tertiup angin, dan semakin lama Vručić melihat tanda itu, semakin hauslah dia. Dia tahu tempat ini. Ah, ya! Di atas pintu itu tertulis “Bar Antonin”. Berkali-kali dia pernah mampir di situ, tetapi kini dia melihat sesuatu yang lain tertulis di atas nama tempat usaha yang tak pernah dia perhatikan sebelumnya.

Dia mundur beberapa langkah agar bisa melihatnya dengan lebih baik, dan membaca:

.

Kini ada, esok tiada,

Itulah kebenaran yang nyata;

Di manakah kau? Tuhan akan bertanya,

Jika kau tak minum bersama.

.

“Kini ada, esok tiada,” kata Vručić kepada dirinya sendiri. “Itulah kebenaran yang nyata. Di manakah kau? Aneh, kenapa Tuhan bertanya di mana kau berada? Oh, aku mengerti. Dikatakan: Di manakah kau? Tuhan akan bertanya, jika kau tidak minum bersama. Aku tahu, Tuhan akan bertanya: ‘Mengapa kau tidak minum di bar ini?’ Kebenaran yang nyata. Sungguh dosa tak berampun jika melewati bar ini tanpa singgah minum anggur. Kini ada, besok tiada, dan Tuhan akan marah kepada kita.”

Vručić terdiam dan kemudian, tanpa memperhatikan kerumunan anak-anak desa yang berdiri di sekitarnya, dia berkata dengan suara lantang, “Juraj Vručić akan masuk untuk minum setengah liter anggur!” Dia masuk ke bar dan dalam waktu kurang dari seperempat jam sejak kedatangannya, dia telah mengosongkan sebotol anggur setengah liter di depannya.

“Kini ada, esok tiada,” kata Vručić. “Tuan, ambilkan sebotol lagi. Kita tidak ingin Tuhan marah kepada kita. Tepat sekali apa yang tertulis di atas pintu barmu itu.”

“Sungguh penafsiran yang bagus,” pikirnya, saat dia menenggak botol yang kedua. “Siapa pun yang tidak minum anggur selezat ini pastilah sungguh berdosa. Pendeta distrik kami mengatakan bahwa jika kita minum, berarti kita menyerahkan jiwa kepada iblis. Tetapi di sini tertulis: ‘Di manakah kau? Tuhan akan bertanya, jika kau tidak minum bersama.’ Di sini, kita justru berdosa jika tidak minum. Mengapa aku harus menjadi orang berdosa dengan sisa uang yang kupunya setelah menjual anak kudaku dengan harga tinggi? Baiklah kalau begitu, aku akan minum lagi satu liter penuh. Kini ada, esok tiada!”

Sudah pukul delapan malam ketika Vručić melanjutkan perjalanan pulang. Dia menatap sekali lagi tulisan di atas pintu, mendengus setuju, kemudian berjalan dengan langkah terhuyung-huyung ke Semovec. Malam mulai turun. Kawanan ternak telah pulang dari padang rumput. Di sekelilingnya terdengar gemerincing lonceng sapi, entakan kuku, dan bunyi cambuk. Para gembala berkuda berteriak kepada Vručić, “Kini ada, esok tiada!”

Dia berusaha berjalan lurus terus ke depan. Sesekali dia beristirahat; di atas tumpukan kerikil yang membuat dia terpeleset, di selokan tempat dia terjatuh saat menghindar dari terjangan kawanan ternak dan kuda.

Akhirnya, dia kehilangan arah. Tanpa sepengetahuannya, dia telah berbelok dari jalan utama ke jalur lain yang melintasi padang rumput terbentang di antara semak-semak, menuju ke arah Sungai Drava. Jalan pasir menghilang dalam kegelapan malam ditelan kabut yang bergulung melintasi padang rumput dan semak-semak.

Tidak menyadari semua ini, dia terus berjalan, memaksa menerjang ke depan sehingga semak belukar merobek pakaiannya.

Dalam kesunyian malam itu, dia pun sampailah di tepi Sungai Drava. Terdengar suara dari bibirnya, dengan melodi yang tak dikenal, “Kini ada, esok tiada. Itulah kebenaran yang nyata ….”

Dari dekat, kegelapan bergema dengan suara dengung arus sungai yang deras, berdebur dan berbuih.

Tanpa menyadarinya, Juraj Vručić telah berdiri di tepi Sungai Drava, di salah satu tepian tinggi yang dari tahun ke tahun terus melebar dan berlubang, kerap longsor siang dan malam.

“Kini ada, esok tiada,” terdengar kata-katanya.

Juraj Vručić telah mencapai ujung daratan di tubir sungai. Dia menyanyikan lagu itu sekali lagi. “Kini ada” terdengar dari tepi sungai dan “esok tiada” bergema dari bawah, lalu lenyap ditelan gemuruh sungai.

Juraj Vručić tersapu oleh arus liar Sungai Drava yang amat deras. Di tempat-tempat seperti itu, bahkan perenang ulung sekalipun tak akan sanggup berenang ke tempat yang aman.

Kini ada, esok tiada! ***

.

.

Jaroslav Hašek (1883-1924) adalah pengarang kenamaan kelahiran Praha, Republik Ceko, yang dikenal dunia, terutama melalui novel satire Prajurit Schweik. Semasa hidup, dia pernah masuk dinas militer Imperium Austro-Hongaria yang berkuasa di Praha, tapi kemudian melarikan diri ke Uni Soviet dan masuk Partai Komunis. Cerpen di atas merupakan satu dari ratusan cerpen bernuansa satire yang dia tulis, diterjemahkan oleh Anton Kurnia dari Here Today, Gone Tomorrow.

.
Kini dan Esok. Kini dan Esok. Kini dan Esok. Kini dan Esok.
Arsip Cerpen di Indonesia