Cerpen Ribut Achwandi (Suara Merdeka, 12 Februari 2023)
“TAK ada istilah mantan bagi seorang pejabat,” Perkataan itu meluncur begitu lancar dari mulut Wakcala. Para undangan yang memenuhi pendapa rumahnya mendadak terdiam. Tatapan mereka penuh tertuju pada wajah Wakcala.
Kedua ujung garis bibir Wakcala seketika memanjang ke arah samping. Pipinya yang semula nyaris lekat dengan tulang menyembul. Tampak pula lipatan-lipatan pada lekuk antara pipi dan ujung bibirnya. Lalu, kepalanya mengangguk-angguk kecil.
“Begini Bapak-bapak, saya sudah pensiun sejak dua tahun lalu. Setelah pensiun, saya tidak lagi menjabat apapun di tempat saya bekerja dulu. Sebagai seorang mantan pejabat, saya tidak mau dong menyia-nyiakan masa senja saya dengan nyeruput kopi tanpa kesibukan. Makanya, saya bikin perusahaan. Dan, di perusahaan ini saya masih punya kesempatan untuk menjadi pejabat penting di sini. Jadi, Bapak-bapak nggak perlu kuwatir. Saya tidak akan merebut kesempatan Bapak-bapak untuk jadi pejabat. Silakan saja ambil kursi saya di kantor yang dulu. Kursi itu sudah bebas tugas untuk menopang pantat saya,” kelakar Wakcala disambut gelak tawa seluruh hadirin.
Oleh semua orang yang hadir, Wakcala dikenal sebagai seorang pensiunan pegawai yang berkelas. Selain karena jabatan terakhirnya, yaitu sebagai Kepala Dinas, kekayaan Wakcala juga boleh dibilang berlebih-lebih. Itu bisa dilihat dari rumahnya.
Di kampung tempat Wakcala tinggal, bangunan rumahnya tampak paling mewah di antara deretan rumah-rumah lain. Berlantai tiga, dilengkapi kolam renang dan taman di ruang tengah. Belum lagi, gaya arsitektur khas Eropa abad kesembilan belas dengan pilar-pilar yang besar dan tinggi. Halaman rumahnya ditumbuhi rumput yang selalu tampak hijau segar. Bahkan, jarak antara pintu gerbang dan teras rumahnya bisa ditempuh dengan lima puluh langkah kaki.
Belum lagi mobil pribadinya yang terparkir di garasi khusus, Rolls-Royce Phantom. Mobil yang hanya dimiliki oleh beberapa gelintir orang pesohor negeri ini. Mobil itu, kata Wakcala sambil mengenang saat kali pertama ia menungganginya, ia beli setelah purna tugas. Setelah ia mendirikan sebuah perusahaan jasa konstruksi dan pengadaan barang. Lebih tepatnya lagi, setelah perusahaannya menangani beberapa proyek besar di sejumlah kota.
“Alhamdulillah, setelah perusahaan yang pertama saya dirikan, kami masih bisa ikut berkontribusi bagi pembangunan. Ini tidak lain berkat kepercayaan Bapak-bapak yang selama ini memakai jasa kami. Bulan lalu saja, kami baru menyelesaikan proyek dari Pak Bupati. Nilainya, fantastis! Lima ratus miliar!” lanjut Wakcala berbangga diri.
Itu baru satu proyek. Belum proyek-proyek lainnya yang tentu saja tidak akan ia sebut satu per satu malam itu. Apa yang dikatakannya sekadar penyedap rasa untuk membuat Pak Bupati merasa tersanjung. Lebih-lebih di hadapan para tetamu yang hadir.
Sebagai orang yang pernah menjabat sebagai Kepala Dinas yang menangani masalah keuangan daerah, Wakcala tahu betul seluk-beluk keuangan daerah. Cukup lama ia bertahan di posisi itu. Jauh sebelum Pak Bupati menduduki kursinya di kantor Bupati. Malahan, Wakcala pula yang dulu menjadi orang yang memuluskan jalannya dua orang Bupati lama duduk di atas singgasananya. Pun yang sekarang.
Sebagai Kepala Dinas yang menangani masalah keuangan daerah, Wakcala boleh dibilang seperti penjaga brankas. Ia tahu betul siapa-siapa saja yang menggunakan uang itu dan untuk keperluan apa. Ia tahu berapa yang digunakan dan yang diselipkan di saku orang-orang. Ia tahu betul tempat-tempat uang itu tercecer.
Tetapi, demi menyelamatkan muka teman-temannya, ia memilih diam. Bukan karena ia takut. Bukan karena ia enggan. Yang terpenting baginya, berkas-berkas yang terlapor tak menunjukkan sesuatu yang aneh. Tampak logis disertai dengan bukti-bukti yang dapat menangguhkan kecurigaan.
Seperti malam itu, lirikan Wakcala tampak wajar saja kepada Pak Bupati. Bahasa tubuhnya terlihat luwes. Menampakkan seorang pejabat senior yang kharismatik. Angka lima ratus miliar diucapkan ringan saja. Hanya untuk menunjukkan bahwa usahanya dan kekayaannya saat ini menjadi tampak wajar di depan mata orang-orang.
“Perlu Bapak-bapak ketahui, selain perusahaan jasa konstruksi dan pengadaan barang, saya juga dipercaya oleh seorang sahabat baik saya untuk ikut mengelola biro perjalanan wisata. Biro ini khusus melayani perjalanan wisata ke mancanegara. Jadi, kalau Bapak-bapak punya rencana berlibur ke luar negeri bersama keluarga, rekan-rekan sekantor, atau hanya sendirian, silakan saja hubungi kami. Ada paket-paket khusus untuk Bapak-bapak, juga layanan ekstra,” janjinya.
Setelah mengucapkan itu, Wakcala segera melirik ke arah Pak Bupati sekali lagi. Ia menangkap wajah Pak Bupati tampak berbinar. Tak mau kehilangan momen, Wakcala langsung menyambut wajah penuh harap itu. Ia katakan, “Khusus Pak Bupati, kami sudah siapkan paket tersendiri. Ya, sekalian untuk promo. Maklum, menjadi orang penting seperti Pak Bupati ini banyak kesibukan. Perlulah sesekali berlibur. Ya kan, Pak?”
Pak Bupati tampak manggut-manggut sambil tersenyum. Seketika itu, wajah Pak Bupati makin tampak bercahaya.
“Pak Bupati mau piknik ke mana, Pak? Boleh pilih!” seru Wakcala. “Keliling Eropa? Atau ke Mesir? Maroko juga keren, Pak. Atau ke Miami?”
Pak Bupati hanya membentangkan tangannya lebar-lebar dan menengadahkan kedua telapak tangannya sambil tertawa. Wakcala tertawa kecil. Kemudian melanjutkan pembicaraannya.
“Baiklah, itu kita bicarakan nanti saja ya, Pak Bupati?” tanyanya.
Usai merayu Pak Bupati, Wakcala yang berdiri di atas panggung kecil itu masih saja sibuk berbicara. Kepada seluruh hadirin ia katakan, jika di balik semua perusahaan yang didirikan dan ia kelola itu ada sebuah lembaga sosial yang ia dirikan pula. Sebuah yayasan untuk anak-anak yatim piatu.
“Saya sudah tua. Sisa umur saya mungkin tak banyak. Maka, sudah saatnya saya melakukan kerja-kerja sosial. Ya, supaya imbanglah antara urusan dunia dan akhirat. Makanya, saya dirikan sebuah yayasan untuk anak yatim piatu. Supaya anak-anak yatim ini dapat perhatian lebih. Silakan, kalau Bapak-bapak hendak mendonasikan sebagian hartanya, bisa salurkan kepada kami,” ajak Wakcala.
Begitu syahdu memang pidato Wakcala malam itu. Seluruh tamu mengharu biru. Merasakan betul kebahagiaan yang dirasakan Wakcala. Orang-orang tertegun mendengarkan setiap kata yang meluncur dari mulutnya. Di usia senjanya, masih saja Wakcala memikirkan hal-hal yang semestinya tidak perlu membuat pikirannya terganggu. Masih mau berbuat untuk masyarakat.
Wakcala, bagi orang-orang yang hadir, tampil begitu memesona. Seolah-olah ia adalah malaikat penolong yang dikirim Tuhan untuk masyarakat.
Usai turun dari panggung, ia bermaksud mengambil tempat duduk di samping Pak Bupati. Sebuah mobil mewah tiba di halaman. Terparkir di belakang mobil Pak Bupati. Semua mata memandang ke arah mobil mewah itu. Semua menebak-nebak, siapa yang terlambat datang.
Pintu mobil dibuka. Seorang lelaki dengan setelan jas turun. Sesegera mungkin Wakcala mendekati mobil itu. Menyalami lelaki muda itu. Lalu, tampak keduanya saling berbisik.
“Pak Cala, kenapa Bapak undang Pak Bupati?” bisik lelaki muda itu pada Wakcala.
“Tenang, Pak. Saya undang beliau supaya apa yang terjadi malam ini tak membuat ia curiga,” balas Wakcala lirih.
“Curiga?”
“Ya. Supaya ia tidak curiga kalau saat ini saya berada di pihak Bapak. Apalagi 2024 sudah di depan mata, Pak.”
“Lalu, apa langkah Pak Cala?”
“Bukankah sudah saya bilang beberapa waktu lalu? Saya akan menggalang dana dengan berbagai cara. Seperti malam ini,” jawab Wakcala.
“Cerdas!”
“Sudah saya katakan, tidak ada kata mantan bagi seorang pejabat. Lepas dari satu jabatan, cari jabatan lain. Bikin perusahaan, bikin yayasan, lalu nyalon. Begitu!”
Keduanya tampak tertawa lepas sambil berjalan menyusuri taman di halaman rumah Wakcala. Menuju pendapa. Pak Bupati dan sejumlah tamu lainnya berdiri menunggu lelaki muda yang bersama Wakcala. Lamat-lamat Pak Bupati mengenali lelaki muda yang terlambat datang itu. Tak lain, adalah pejabat penting di dewan rakyat.
Melihat cara Pak Bupati memandang, Wakcala lekas-lekas menjaga sikap. Keakrabannya dengan Pak Dewan seketika dibikin sewajar mungkin. Meski sesungguhnya, di dalam pikirannya saat itu, ia segera ingin membuat Pak Bupati tak lagi menduduki kursi empuknya di kantor Kabupaten.
Sebenarnya, ia bisa melakukan itu kapan saja. Toh, kartu truf di tangannya. Semua laporan keuangan daerah ada pada dia. Tetapi, lagi-lagi ia harus bertindak hati-hati. Salah memainkan kartu berarti bunuh diri!
Saat ini, lebih baik ia main aman. Sebab, ini bukan soal suka tidak suka. Akan tetapi, ini soal mencetak gol! Gol bagi Pak Dewan, gol bagi dirinya sendiri. Bola mesti dimain-mainkan. Kadang dipantul-pantulkan. Kadang mesti dielus-elus. Pun kadang mesti ditendang keras-keras sampai membentur dinding.
Ini soal bagaimana ia juga mesti membuat mesin-mesin pendulang laba terus berputar. Apalagi mesin-mesin itu sekarang digerakkan oleh banyak orang. Semakin banyak jumlah mereka, semakin banyak pula uang yang mesti dijadikan bahan bakarnya.
Ya, tak ada kata mantan bagi seorang pejabat. Usai dengan satu jabatan, berburu jabatan lainnya! Lalu, bagaimana dengan perkataan bahwa jabatan adalah titipan? Persetan dengan itu semua! ***
.
.