Risalah Malin

Cerpen Edy Firmansyah (Suara Merdeka, 02 Maret 2023)

“AKU tidak ingin jadi polisi. Titik! Bisa dengar keputusanku sekarang?!” kata Malin menyalak. Ia mengatakan itu setelah diam seperti manekin, karena bapaknya terus-menerus ngomel tentang keinginannya agar ia jadi polisi.

“Apa alasanmu tidak ingin jadi polisi?” tanya bapaknya.

“Karena semua polisi itu jahat. Hanya ada tiga polisi jujur di negeri ini: Polisi Hoegeng, polisi tidur, dan patung polisi,” ujar Malin.

“Jaga mulutmu, Malin. Kau kurawat sejak bayi hingga sebesar sekarang semuanya dari gaji polisi. Polisi adalah profesi terhormat. Banyak anak muda yang ingin jadi polisi. Dengan jadi polisi, kau bisa menangkap penjahat. Lagi pula banyak polisi jujur selain polisi Hoegeng. Juga banyak yang pintar,” kata bapaknya tak kalah sengit.

“Temanku yang selalu juara satu di kelas dari SD sampai SMA tak ada satu pun yang bercita-cita jadi polisi. Mereka bercita-cita jadi dokter atau astronot,” bantah Malin.

“Maksudmu semua polisi itu bodoh, hah?!”

“Aku tidak bilang begitu. Aku hanya memberi contoh temanku.”

“Karena mereka belum pernah jadi polisi.”

“Aku tetap tak mau jadi polisi!”

Malin bangkit dari kursi. Meninggalkan ruang tamu. Terdengar suara pintu kamar dibanting. Keras sekali.

Sulaiman menarik napas panjang lantas mengembuskannya dengan kesal. Baru kali ini ia didebat anak bungsunya. Padahal waktu anak sulungnya disuruh mendaftar polisi tak satu pun kata terucap dari mulutnya. Ia hanya mengangguk siap. Dan jadilah dia polisi. Tentu saja tidak mudah. Karena tidak ada upaya mencari pekerjaan yang mudah. Toh, karena usahanya yang keras dan doa orang tua, dia diterima juga sebagai polisi.

Istrinya yang sedari tadi diam mendengar perdebatan bapak dan anak akhirnya angkat bicara.

“Sudahlah! Suatu saat dia akan berubah,” kata istrinya menenangkan suaminya.

“Makanya, jangan kau turutilah hobi anakmu itu bermain musik dan membaca buku. Lihat hasilnya sekarang, dia mulai jadi pembangkang,” kata Sulaiman.

“Justru membaca itu bagus. Bisa menjernihkan pikiran,” kata istrinya membela anaknya.

“Berteriak pada orang tua seperti barusan itu pikiran jernih? Itu pikiran jahat!”

“Mungkin dia ingin jadi pengarang atau musisi. Toh, semua profesi sama saja, sama mulia, yang penting bisa makan dan tak mengambil hak orang,” kata istrinya.

“Pengarang? Seperti Ladrak tetangga sebelah kita itu? Kau tahu apa yang digosipkan para tetangga di pos ronda? Dia itu melihara tuyul. Kalau malam duduk di depan layar laptopnya seperti pertapa. Kalau pagi ia terlihat tidur saja hingga siang. Tak bekerja. Molor seperti beruang. Orang seperti itu lebih cepat mati karena liver. Kau mau anakmu mati muda? Kalau polisi beda. Kita selalu olahraga. Lari pagi, kokang senjata, patroli, mengatur jalan raya. Dapat sehatnya juga bisa menikmati uang pensiunnya.”

“Nasib anak beda-beda. Bukankah sebaiknya kita tak boleh memaksanya. Lagi pula Malin tak pantas jadi polisi. Tubuhnya ceking. Jarang makan pula,” kata istrinya.

“Makanya suruh dia pergi ke gym. Dia harus jadi polisi,” kata Sulaiman menutup diskusi.

Hari telah malam. Dan dia mematikan lampu. Masuk kamar. Istrinya mau tak mau menyusul juga.

***

Setelah mengunci diri dalam kamar dan merasa bapak dan ibunya telah tidur, Malin membuka buku mantra yang dicurinya dari perpustakaan kota. Buku itu sebenarnya ada di ruang bawah tanah karena pengaruhnya yang berbahaya dan Malin berhasil menyelinap ke ruangan itu dan mencurinya. Malin tahu risiko menyelinap ke ruang terlarang itu. Tapi ia telah mengabaikan risiko itu, karena rasa putus asanya terus-menerus dirongrong bapaknya untuk jadi polisi. Sebuah profesi yang tak pernah ia sukai. Meskipun ia terlahir dari keluarga polisi. Ibunya pensiunan polwan. Bapaknya pensiunan polisi. Kakaknya polisi. Tapi Malin tak suka jadi polisi. Tak suka diperintah, juga tak suka memerintah.

Dalam buku mantra itu ada mantra yang bisa menciptakan cermin ajaib yang bisa menjawab semua persoalan duniawi. Sebenarnya ia bisa meminta pendapat saudaranya. Tapi ia yakin saudaranya atau tetangga akan tetap mendukung bapaknya agar ia jadi polisi. Karena itu ia ingin menjadikan cermin di dalam kamarnya menjadi cermin ajaib. Agar cermin itu yang bisa dimintai pendapat.

Percobaan pertama ketika membaca mantra itu gagal. Ia mengubah cermin kamarnya menjadi pintu ajaib dan mendadak seekor babi hutan melompat masuk ke kamarnya. Ia nyaris mati diseruduk. Beruntunglah ia sigap dan berhasil mengembalikan babi rusa itu ke dalam cermin. Baru pada percobaan yang kedua ia berhasil mengubah cerminnya menjadi cermin ajaib yang bisa berbicara.

“Apa yang menjadi keluh kesahmu, anak muda, sehingga kau perlu menghidupkan aku lagi,” kata cermin ajaib.

“Wahai cermin, agar aku tak terus-menerus dipaksa menjadi polisi, apa yang harus aku lakukan?” Malin bertanya dengan suara gemetar. Saat itu tepat pukul dua belas malam.

“Gampang. Ganti kelamin saja,” kata cermin sambil tertawa. Malin ikut tertawa. Mulanya ia menganggap itu jawaban konyol. Tapi setelah dia pikir agak lama, jawaban itu sangat masuk akal. Bukankah tak ada polisi yang banci?

Sejak malam itu keinginannya untuk berganti kelamin makin kuat, bahkan telah menjadi obsesi. Atas bantuan cermin ajaib, ia mendapatkan banyak sekali informasi tentang pergantian kelamin, mulai dari tempat, orang yang sukses berganti kelamin hingga biayanya.

Maka sebulan setelah perdebatan panjang dengan bapaknya, Malin memutuskan kabur dari rumah dengan mencuri semua perhiasan ibunya. Ia kemudian menjual semuanya dan terbang ke Singapura menuju tempat praktik dokter bedah plastik paling tersohor di negeri singa putih itu. Niatnya sudah bulat untuk ganti kelamin.

Ketika ia kembali dari pelariannya, gemparlah seisi rumah. Bapaknya berkali-kali pingsan dan harus berkali-kali pula keluar-masuk rumah sakit. Sementara ibunya tak berhenti menangis. Sejak saat itu pula tak ada lagi perbincangan soal menjadi polisi. Bapaknya dikirim ke rumah sakit jiwa karena depresi akut.

Rumah menjadi sepi. Ibunya jadi jarang keluar rumah. Entah karena malu atau dirundung pilu, tak ada yang tahu.

Karena merasa kesepian itulah Malin makin sering keluar malam dan pulang saat dini hari. Dan ia tak merasa bersalah atas perubahan drastis di rumahnya itu. Malah sebaliknya keinginannya untuk tidak jadi polisi adalah keputusan yang tepat. Kini ia menyaksikan sendiri betapa ia dan teman-temannya sering kena gebuk petugas kalau mangkal di pinggir jalan.

Pernah juga ia ditampar. Malah ia melihat dengan mata kepalanya sendiri salah seorang temannya dibakar hanya karena dituduh mencuri telepon seluler. Tuduhan yang kemudian sama sekali tidak terbukti. Tidak ada polisi yang datang menyelamatkan temannya itu. Berganti kelamin membuat dia dapat melihat kebobrokan dunia dari sudut pandang yang berbeda. Pernah ia mendengar perbincangan ibunya dengan kakaknya soal dirinya.

“Kenapa Malin memilih ganti kelamin, Bu?”

“Entahlah. Kau tanya sendiri pada adikmu,” kata Ibu.

“Malas aku bertanya pada orang gila,” kata kakaknya. “Seandainya ia bukan adikku sudah kutembak tempurung kakinya,” lanjutnya.

Mendengar itu Malin tersenyum. Benar, kan, kataku, semua polisi itu jahat.

Dan dia makin sering keluar malam bahkan jarang pulang. Kalau pulang ke rumah banyak sekali temannya datang berkunjung dan kerap memanggilnya dengan manja: Melinda. Mungkin karena jijik atau jengkel atau marah, ibunya mendadak berteriak.

“Pergi kau dari sini Malin. Dan jangan kembali sebelum kau kembali menjadi laki-laki. Aku lebih baik punya anak kelinci daripada punya anak banci.”

Ini kali pertama Malin mendengar ibunya murka. Tapi karena keputusannya sudah bulat, sedangkan mengembalikan burung pinguinnya yang sudah dipotong jelas tidak mungkin lagi, maka dengan berat hati ia memutuskan pergi. Toh, dengan tidak melihatnya lagi, ibunya akan berkurang sedihnya.

Sebenarnya Malin sangat sedih meninggalkan rumahnya. Meninggalkan segala kenangan di dalamnya. Tapi takdir tak bisa dihela. Hanya cermin ajaib yang selalu menghiburnya.

“Sudahlah. Jangan terlalu bersedih. Nanti cantikmu hilang,” kata cermin itu.

“Apakah aku cantik, wahai cermin?”

“Kau wanita tercantik di jagat raya ini, Melinda,” kata cermin.

Dan setiap kali mendengar kata cantik dadanya membusung. Menindih kesedihannya yang kadang muncul.

Namun kala hendak tidur, gema suara kutukan ibunya bahwa ibunya lebih memilih punya anak kelinci daripada banci sering membuatnya menangis. Ia takut menjadi kelinci. Ia takut tulah sang ibu.

***

Melinda bercermin sambil mengenakan seragamnya. Wajahnya cerah. Senyumnya merekah. Tak lupa ia menyematkan pluit di bahunya. Juga memasang nama dadanya: Melinda Sulaiman. Setelah melihat jam tangannya, ia bergegas keluar dari rumah kontrakannya untuk berangkat. Ia sadar dirinya keliru dan bapaknya benar. Banyak polisi jujur di negeri ini selain polisi tidur dan patung polisi. Salah satunya polisi cepek. Profesi yang kini dijalaninya setiap pagi hingga sore hari. ***

.

.

Edy Firmansyah, kelahiran Pamekasan, Madura. Kumpulan cerpennya yang pernah terbit adalah “Selaput Dara Lastri” (IBC, Oktober 2010); “Yasima Ingin Jadi Juru Masak Nippon” (Cantrik Pustaka, 2021).

.
Risalah Malin. Risalah Malin. Risalah Malin. Risalah Malin. Risalah Malin.
Arsip Cerpen di Indonesia