Cerpen Rinanda Tesniana (Suara Merdeka, 28 Mei 2023)
SEEKOR Monyet berbulu kelabu, berdasi merah, dan berjas abu-abu jatuh cinta untuk pertama kalinya pada sebuah kotak yang di dalamnya berisi kayu. Si Monyet terpesona dengan bentuk kayu berujung bulat kecokelatan yang ditemukannya di tengah hutan. Monyet membawa benda itu pulang ke sarangnya.
Di sana ia mengamati benda persegi itu dengan penuh minat. Di sisi kanan dan kiri kotak itu berwarna kecokelatan, serupa warna ujung kayunya. Monyet mengambil satu batang kayu, melihatnya dengan rasa penasaran, dan mencoba peruntungan. Ia menggesekkan ujung kayu dengan kertas cokelat di bagian kanan kotak. Dan wow, gesekan itu menghasilkan percikan merah menari yang terus menari hingga ujung kayu habis. Monyet terkesima melihat Penari Merah yang dihasilkan kayu dalam kotak itu.
Mendadak Monyet merindukan si Penari Merah yang baru saja ditemuinya. Monyet membuka kembali kotak kayu itu lalu mengambil satu kayu lagi dengan perlahan. Ia menghayati setiap gerakan yang dilakukannya. Si Monyet kembali menggesekkan ujung kayu pada kertas cokelat di sisi kiri kotak. Kembali, si Penari Merah muncul. Dia menari dengan gerakan yang membuat Monyet terkesima. Meliuk-liuk hingga memaksa Monyet melonggarkan ikatan dasinya dan melepas jas abu-abu yang dikenakannya. Monyet merasa gerah hingga si Penari Merah perlahan meredup lalu hilang sama sekali.
Monyet memegang dadanya, merasakan debaran yang teramat cepat. Gerakan penari merah tadi berkelebat dalam benaknya, menghasilkan semu merah di kedua pipi kelabunya. Si Monyet merasakan ada jutaan kupu-kupu terbang di bagian bawah tubuhnya. Dia ingin melihat penari merah itu lagi dan lagi.
Ah, namun Monyet tidak akan menghabiskan batang-batang kayu itu cepat-cepat. Ia ingin menikmati setiap rasa rindu yang bersarang di dadanya lamat-lamat. Menengok Penari Merah itu meliuk-liuk setiap saat adalah inginnya, tetapi bagaimana jika batang-batang kayu itu cepat habis? Ke mana Monyet akan mencarinya lagi? Maka Monyet memutuskan untuk menyimpan kotak kayu berisi kekasihnya‚ begitulah ia menyebut si Penari Merah‚ ke bawah bantal.
Belum lagi Monyet sempat menyimpan sang kekasih, Keledai masuk ke dalam sarangnya. “Hai, sahabatku, apa yang kau lakukan?” Keledai dengan suara berat bertanya.
Monyet terkejut dan mendadak gugup. Ia tak pernah menyimpan rahasia apa pun dari Keledai, sahabatnya. Gerakan tangannya di belakang tubuh dilihat oleh Keledai. Ia menatap Monyet dengan rasa curiga.
“Kau menyembunyikan apa dari aku, Monyet?”
“Ti-tidak ada, Kedelai. Aku tidak menyembunyikan apa-apa.”
Monyet makin kuat menggenggam kotak kayu itu. Ia berharap Keledai tidak mencurigainya lalu menemukan kotak itu. Lalu menemukan Penari Merah itu. Lalu jatuh cinta pula pada kekasih barunya itu. Tidak, tidak. Monyet tidak akan membiarkan itu terjadi.
Keledai yang sudah bertahun-tahun menjadi sahabat Monyet tahu betul gelagat temannya itu jika berdusta. Ia melangkah maju, Monyet malah mundur. Ia mendekat, Monyet menjauh. Ia maju lagi, Monyet mundur lagi.
“Sahabatku, kau tidak akan bisa menyembunyikan apa-apa dariku. Jujur saja, kau menyimpan apa di belakangmu?”
Dahi Monyet berkeringat. Dia belum mau menunjukkan kotak kayu yang berisi kekasihnya. Ia sudah biasa berbohong pada semua makhluk, tetapi tidak dengan Kedelai.
“Ayolah! Kau tahu, kan, aku selalu bisa menyimpan semua rahasiamu. Rahasia yang paling busuk sekalipun!” Keledai tertawa keras.
Monyet tak bisa lagi menahan diri lama-lama. Ia terpaksa membuka rahasia sang kekasih di depan Keledai. “Ini. Ia adalah kekasihku.”
“Kekasih?” Mata Keledai membesar melihat kotak yang belum pernah ia lihat sebelumnya. “Apa istimewanya kekasihmu ini?”
Monyet menjadi antusias. Tampaknya Keledai tak berniat merebut kekasihnya. Malah ia terlihat ingin tahu. Tak ada salahnya kan menunjukkan kehebatan kekasihnya di depan Keledai. Ah, hati Monyet membuncah membayangkan goyangan Penari Merah.
“Lihat ini!”
Monyet mengulangi lagi kegiatan tadi. Ia mengambil sebatang kayu dari dalam kotak, kemudian menggesekkannya hingga Penari Merah muncul lagi. Meliuk-liuk dengan gerakan aduhai yang membuat hati Monyet tak karuan. Hingga Penari Merah menghilang, Monyet masih khusyuk menatap kekasihnya itu.
“Wah, hebat sekali kekasihmu.” Keledai kagum. Dia agak iri dengan Monyet karena memiliki kekasih yang pandai menari.
“Bagaimana kalau kamu tunjukkan satu aksi kekasihmu lagi?” Keledai belum puas.
“Jangan! Nanti dia cepat habis. Kau lihatlah, jumlahnya tidak banyak.” Monyet menunjukkan isi kotak yang sudah tidak lagi penuh.
“Satu lagi saja. Aku belum puas melihat dia menari.”
Karena Monyet enggan bertengkar dengan Keledai, maka ia setuju untuk menggesekkan lagi sebatang kayu agar Penari Merah muncul. Dan lagi-lagi goyangan Penari Merah membius dua sahabat itu.
“Aku ada ide!” Keledai berteriak girang. “Bagaimana kalau kita panggil lagi Penari Merah, lalu kita suruh dia menari pada kayu yang lebih besar. Agar kekasihmu itu tidak cepat pergi.”
“Bagaimana caranya?” tanya Monyet bingung.
“Begini.”
Keledai menyeret Monyet ke luar sarang. Lalu ia menyiapkan sebuah kayu besar, dan mengambil sebuah kayu kecil milik Monyet sebatang. Setelah menggesekkan kayu itu sampai Penari Merah muncul, Keledai mendekatkannya ke kayu besar hingga Penari Merah muncul di kayu besar itu. Monyet ternganga. Kali ini kekasihnya muncul dalam wujud yang lebih besar. Goyangannya juga lebih meliuk-liuk. Membuat Monyet terpesona lagi dan lagi.
“Ideku bagus, kan? Penari Merah tampak lebih memesona kini, dan dia akan menari lebih lama.”
Monyet mengangguk tanpa menoleh pada Keledai. Tentu saja melihat goyangan kekasihnya lebih menarik daripada berterima kasih kepada sahabatnya itu.
Lihatlah Penari Merah, tariannya mengikuti arah angin. Bergoyang ke kanan dan ke kiri. Lalu ke kanan dan ke kiri. Monyet semakin mendekat ke arah Penari Merah. Makin dekat dengan sang kekasih, badannya semakin hangat. Ah, detak jantung Monyet mulai tidak teratur. Semakin hangat tubuhnya, semakin cepat pula jantungnya bekerja. Semakin meliuk goyangan si Penari Merah, semakin terasa sesak area bawah tubuhnya.
Namun sayang sekali, kekasihnya perlahan menghilang. Goyangannya tidak lagi secepat tadi. Meredup, mengecil, kemudian menghilang sama sekali menyisakan debu hitam beterbangan.
Monyet kecewa, sebab dia ingin melihat sang kekasih menari lagi. Ia tak bisa menyembunyikan rasa kecewa dengan membuang napas kasar sehingga sang sahabat iba padanya.
“Apa kau belum puas, sahabatku? Kau ingin melihat kekasihmu lebih lama lagi?” Keledai bertanya.
“Benar, Keledai. Rasanya terlalu cepat Penari Merah pergi. Aku baru saja merasa hangat di seluruh badan karena kehadirannya.”
“Bagaimana kalau aku membantumu, agar kau bisa lebih lama melihat Penari Merah, kekasihmu?”
“Bagaimana caranya?” Monyet bertanya antusias.
“Tunggu!”
Keledai mengumpulkan lebih banyak kayu. Dipungutinya ranting-ranting jatuh di sepanjang hutan, lalu membawanya ke depan sarang Monyet. ”
Aku rasa sudah cukup, sahabatku. Kau bisa menggesekkan lagi kayu kecil itu agar Penari Merah besar bisa muncul di kayu yang telah aku kumpulkan ini.”
Monyet menggeleng tidak puas. “Belum, Keledai. Aku ingin Penari Merah menari untukku semalam suntuk. Aku ingin merasakan kehangatan di tubuhku hingga pagi. Jadi, mari kita kumpulkan kayu lebih banyak.”
“Tapi ini sudah cukup banyak.”
Monyet menggeleng tegas. Tanpa menunggu sanggahan Keledai, dia bergerak sendiri mengumpulkan kayu lebih banyak dan lebih banyak lagi. Hingga malam Monyet baru selesai bekerja.
“Sekarang, bersiaplah, sayangku. Kita akan bertemu semalaman. Kau akan menari untukku sampai kelelahan!”
Monyet mengeluarkan sebatang kayu kecil lalu menggesekkannya. Setelah Penari Merah kecil terlihat, cepat dia memindahkannya ke kayu besar yang sudah disusun sejajar di atas tanah.
Penari Merah besar segera saja muncul. Seperti tadi, dia meliuk-liuk ditiup angin. Menyajikan goyangan-goyangan yang membuat Monyet tak bisa berkedip. Semakin malam Penari Merah semakin merajalela. Ia melahap ranting kayu yang kecil dengan cepat.
Monyet menari mengiringi gerakan kekasihnya. Penari Merah terus bergoyang mengikuti arah angin. Tubuhnya semakin lama semakin besar hingga menghabiskan batang-batang kayu yang telah dikumpulkan Monyet dan Kedelai. Seakan tak cukup, Penari Merah mulai menari di pohon-pohon besar di sekitar sarang Monyet. Gerakannya memang semakin memesona tetapi Kedelai waswas melihatnya.
“Kekasihmu sudah terlalu besar, Monyet. Aku takut!”
Monyet tak mendengar. Dia sibuk bergoyang ke sana-kemari. Tak dihiraukannya Keledai yang lari tunggang-langgang menjauhinya. Monyet terus berjoget meski Penari Merah semakin membesar, menyisakan abu-abu beterbangan dari pepohonan yang menghidupkannya. Monyet terus berjoget dan berjoget seperti orang gila hingga dia tak sadar, Penari Merah telah lebur bersama dirinya. Menjadi abu. ***
.
.