Cerita yang Belum Selesai….

Cerpen Ach Rofiq (Suara Merdeka, 25 Mei 2023)

HEI, kau kenapa? Mengapa kau terperangap seperti itu? Hei, kenapa kau menatapku jijik? Hei, tunggu! Kau mau pergi ke mana? Cerita ini belum selesai kuceritakan!

***

Aku sempat berpikir bahwa kronologi kelahiranku barangkali hampir sama seperti Al-masih, Jhon, atau bahkan Joko Tole, yang sama-sama terlahir dari ketidakmungkinan nalar manusia. Al-masih lahir tanpa perantara nutfah pria di rahim ibundanya, Maria, yang merupakan perempuan paling suci dan tak sekali pun disentuh lelaki. Jhon, Ibundanya, Al‚ Asyba, adalah perempuan yang mandul. Uban-uban tanda ketuaan juga sudah mengilap di kepala ayahnya, Zakariya. Sementara Joko Tole, lahir dari perkawinan mimpi yang dialami ibundanya, Potre Koneng dengan Adi Poday.

Tapi, ah… ternyata tidak! Faktanya aku berawal dari air mani yang ditumpahkan di sembarang tempat, tersebab dari dua sosok manusia yang apalagi kalau bukan manusia bejat! Sekali lagi, bejat! Kata lelaki tua yang merawatku dan kemudian kusebut Empu, aku ditemukan di pinggir kali, terbungkus plastik dengan rapi. Di sekujur tubuhku berlumur darah dari rahim yang semestinya kusebut bunda. Tak ada suara azan dan ikamah yang semestinya digemakan oleh sosok ayah di dekat telinga. Tak ada setetes pun air susu yang kuhisap dari payudara. Tak ada pula ciuman kasih yang hinggap di kepala. Tak ada, tak ada, dan, ah… tak ada!

Kemudian, Empu membawaku pulang, merawatku dengan penuh kasih sayang, menempati sebuah gubuk yang berdiri tegak di pinggir ladang. Hingga kemudian aku tumbuh menjadi bocah ingusan. Katanya, aku berbadan kurus tapi berwajah tampan.

Satu hal yang kutahu setelah aku bisa melihat dengan sempurna: ternyata Empu adalah pengrajin keris. Banyak jenis keris ia buat dengan bahan besi yang katanya bermacam-macam, diambil dari daerah-daerah yang berbeda dan mempunyai khasiat yang berbeda pula. Ada Besi Kuning yang katanya berasal dari China, ada Besi Kulosani dari Pulau Asin, ada pula Besi Sambojo yang berasal dari Negeri Kamboja dan semacamya.

Saat usiaku genap berumur 10 tahun, Empu mulai mengajariku membuat keris. Kata Empu, keris adalah warisan leluhur yang mesti dirawat dan harus tetap dilestarikan, warisan budaya yang bernilai seni tinggi, yang tidak hanya bermakna kuno atau kolot, dan tidak identik dengan pertumpahan darah. Empu bilang, keris adalah ruh dan simbol kewibawaan juga kehormatan.

Aku sangat sungguh-sungguh ketika Empu mengajariku membuat keris: menempa besi untuk dijadikan bahan dasar. Kata Empu, saat proses itulah pamor dimasukkan pada besi itu. Keringatku bercucuran, menggabungkan plat-plat besi saat proses pemanasan, lalu kupukul dengan kuat kepingan besi itu yang kata Empu biasanya paling tidak harus terdiri dari 150 lapisan untuk menjadi sebuah keris.

Huh, seandainya aku seperti Joko Tole yang pernah dikisahkan oleh Empu, pasti akan sangat gampang bagiku, aku hanya perlu memasukkan tanganku ke dalam bara api, lalu kupijit-pijit besi itu, dalam sekejap, jadilah sebuah keris, seperti apa yang dilakukan Joko Tole saat masih kecil, saat masih diasuh Empu Kelleng.

Setelah itu, aku diajari untuk memperhalus bahan dasar keris itu dengan gerinda, lalu ditambahkan tembaga atau emas, dan kemudian ada proses kinatah [1] dan warangka [2]. Dan terakhir, keris itu akan dioleskan atau langsung dicelupkan pada cairan arsenikum yang dicampur air jeruk nipis.

Dari sekian banyak keris yang Empu buat dengan julukan yang berbeda-beda, seperti Se Serrang Lebat, Se Saang, Se Cena Mabuk, Nogo Besuki, Se Jarum Kerras, Se Wahyuningsih dan masih banyak lagi, aku lebih takjub pada keris yang dipajang Empu di samping pintu kamar, yaitu Keris Se Dhamar, karena aku pernah melihat sendiri, suatu malam, keris itu mengeluarkan cahaya yang sangat terang, serupa cahaya bulan yang purna.

Saat usiaku genap 20 tahun, genap pula umur Empu: genap, tuntas dan tak akan bertambah lagi. Empu mengembuskan napas terakhirnya setelah sekian lama sakit, Empu meninggal dalam keadaan tersenyum sambil memeluk Keris Se Dhamar itu. Aku sangat bersyukur, Empu telah mengenalkanku pada keris, dengan proses pembuatan keris itu, aku bisa belajar bagaimana dinamika kehidupan, mulai dari ditempa, diukir, dibengkok-bengkokkan, di-ini-itu dan semacamnya hingga akhirnya menjadi keris.

Sepeninggal Empu, aku melanjutkan pekerjaan Empu sebagai pengrajin keris, jika tidak, aku takut benda pusaka itu akan lenyap dari bumi. Aku juga mulai banyak berinteraksi dengan orang-orang, mulai mengenal bagaimana mereka, tentang bangunan rumah yang berbentuk taneyan lanjhang [3], tentang organisasi kemasyarakatan yang sudah dianggap layaknya agama, tentang ajaran Islam yang terimplementasi dengan baik dalam perilaku sehari-hari, bahkan pada tradisi dan mitos-mitos yang beredar, dan tentang banyak hal lainnya.

Beberapa tahun berselang, aku menemukan sosok wanita cerdas, baik, cantik pula. Sebagaimana lelaki dewasa pada umumnya, akhirnya aku jatuh cinta untuk pertama kalinya. Setelah sekian lama pendekatan, akhirnya wanita itu mau kunikahi tanpa proses ngagene [4], araba paghar [5], dan prosesi-prosesi lain yang biasa dilakukan pada umumnya, karena memang aku tidak mempunyai keluarga. Dia pun begitu, aku langsung dinikahkan oleh keyaji [6] setempat, tanpa melangsungkan gabay [7]. Dan, ah semuanya tak seindah yang kubayangkan, aku, sebagai suami, diperlakukan selayaknya pembantu dan pemuas nafsunya saja.

Jika pagi, aku harus bangun lebih dini untuk menyiapkan sarapan pagi, lepas itu aku masih lanjut mencuci. Kemudian, akan kudengar omelan pedas dan bantingan guci, istriku akan mengamuk meminta jatah uang belanja, beberapa tamparan akan hinggap di pipi sambil berkata bahwa aku adalah suami yang durhaka, yang lalai tehadap nafkah istrinya. Lalu, dia memaksaku untuk bersetubuh dan dialah yang pegang kendali. Setelah itu, ia akan pergi berkeluyuran.

Jika siang, aku harus jeda membuat keris lalu pulang untuk menyiapkan makan siang. Jika tidak, istriku lagi-lagi akan mengamuk, membanting guci, dan menampar pipi sambil berkata bahwa aku adalah suami yang durhaka, yang lalai tehadap nafkah istrinya, lepas itu ia akan memaksaku untuk bersetubuh dan dialah yang pegang kendali. Setelah itu, dia akan tidur sambil mendengarkan kendhingan sambil memintaku untuk memijit.

Jika sore, jika malam, alasan yang membuatku tetap bertahan adalah: cinta. Apalagi, dia telah mengandung anak pertamaku.

Singkat cerita, akhirnya anak pertamaku lahir, laki-laki. Betapa sungguh aku sangat bahagia saat itu. Anak itu aku rawat dengan penuh tanggung jawab, agar nasib mengerikan yang menimpaku, dulu, tidak terjadi pada anak pertamaku itu.

Setelah melahirkan seorang anak, kukira istriku akan berubah, nyatanya tidak! Ia semakin berulah tak tentu arah. Tak setetes pun air susunya ia berikan pada anaknya. Hingga terpaksa aku memberikan susu kemasan yang kubeli di toko sebelah. Ia tak mau mengurusi anaknya sendiri, ia tak peduli, seolah semuanya adalah tanggungan suami, tanpa campur tangan seorang istri. Bisa dibayangkan betapa tersiksanya aku saat itu, di samping melayani permintaan istri yang tetap sama saja seperti yang dulu, aku juga masih merawat anakku: meredakan tangisnya, menggendongnya, menyuapinya, memandikannya, membersihan bekas kencingnya.

Suatu hari, aku sangat senang karena istriku mau menemani anakku untuk pertama kalinya. Akhirnya, aku membuat keris pesanan orang dengan tenang. Sepulangnya, saat jarak rumah masih tinggal beberapa langkah, aku langsung terperanjat ketika mendengar tangisan anakku. Aku berlari dan uh, betapa murkanya aku saat itu. Istriku tidur bermesraan dengan laki-laki lain dengan tubuh yang tak sehelai kainpun melekat, tanpa memedulikan anaknya yang menangis histeris di sampingnya. Kuambil sebilah celurit dan kubacok laki-laki bajingan itu tanpa ampun. Setelah itu, kutampar istriku dan kutalak saat itu juga: talak tiga! Tanpa ampun! Dan tak akan pernah kuberi ampun!

Tidak sampai di situ, perempuan bejat itu masih berulah, ia mempermasalahkan anakku yang ikut bersamaku. Semakin sempurnalah derita hidup saat aku kalah di pengadilan, anakku ia ambil alih. Dan, tidak, tidak! Ah! Perempuan bejat itu juga melaporkaanku pada polisi karena telah membacok lelaki bajingan itu, hingga akhirnya aku dipejara selama beberapa bulan.

Aku sudah tak tentu arah, kutinggalkan kampung dan mengembara ke mana-mana. Hingga akhirnya aku hanya bisa bergantung pada tangan: menengadah meminta belah kasih seseorang yang lewat di jalan. Tidur di bawah kolong jembatan. Gelap, pengap dan bau menjijikkan. Terkadang, nasi atau roti busuk aku makan, minum air hujan, beberapa bulan tak pernah berganti pakaian. Mengerikan bukan?

Setelah itu….

Hei, kau kenapa? Mengapa kau terperangap seperti itu? Hei, kenapa kau menatapku jijik? Hei, tunggu! Kau mau pergi ke mana? Cerita ini belum selesai kuceritakan! Hahaha…

Sudah kuduga, kau akan terperangap dan lalu pergi begitu saja. Kau akan jijik mendengar cerita hidupku yang baru separuhnya kuceritakan ini. Ya, ya, ya, aku paham, tidak akan ada yang mau hidup denganku selain Empu. Terima kasih, kau sudah menjadi penyempurna rumus derita yang menjamah diri tiada henti.

Di sini, setelah sekian tahun hanya mengemis dan tinggal di kolong jembatan, akhirnya aku berhasil mendapatkan pekerjaan; kuli bangunan, dan aku menyewa sebuah kontrakan di pojokan kota itu. Kau tak tahu itu, aku memang menyembunyikannya darimu. Kau hanya mengenalku di sosial media. Dirimu cantik, baik lagi. Jadi, sangat tidak pantas bila berdekatan denganku, dengan alasan apa pun itu! Silakan pergi! Aku ikhlas sepenuh hati!

Tadi sore, kau megajakku bertemu untuk pertama kalinya di alun-alun kota ini, bukan? Tadi, kaupegang tanganku sambil kaupandangi terus wajahku. Katamu, aku tampan setampan-tampannya, aku baik sebaik baiknya, aku wangi sewangi-wanginya. Lalu, kauajak diriku duduk di tepian alun-alun kota ini. Dan, ah kau tak henti-henti tersenyum ranum sambil memandangi wajahku, aku bergetar.

Betapa sungguh aku terkejut setelah kau mengungkapkan perasaan cinta. Secepat itu? Kita baru kenal tiga bulan! Di sosial media lagi! Aku kasihan padamu, hidupku mengerikan! Kau sanggup memasukinya? Dengan terpaksa, kutolak cintamu. Dan, ah dari matamu mengalir buliran-buliran bening. Tubuhmu berguncang sambil sesengguan meminta sebuah alasan. Ah aku tidak sanggup melihatmu seperti itu. Tidak, tidak! Aku tidak sanggup. Akhirnya, kuceritakan hidupku yang mengerikan itu padamu dengan sangat terpaksa. Baru separuhnya aku bercerita, kau tetiba terperangap, benar-benar terperangap, tak berkutik, hanya menatapku seperti orang jijik, lalu meninggalkanku begitu saja. ***

.

.

Catatan:

[1] Kinatah: Proses pengukiran besi jika perlu diukir dan harus disesuaikan dengan pesanan.

[2] Warangka: Proses pembuatan sarung keris yang terbuat dari kayu.

[3] Taneyan lanjhang: Pola pemukiman tradisional orang Madura yang memanjang, rumah-rumah berdiri dengan rapi dengan halaman di tegah-tengahnya.

[4] Ngagene: Adat Madura, tahap penjajakan untuk mengetahui seberapa besar peluang calon mempelai pria bisa diterima oleh pihak keluarga wanita dengan mengirim seorang utusan.

[5] Araba paghar: Adat Madura, perkenalan antara dua pihak keluarga dan membicarakan tentang pertunangan atau lamaran.

[6] Keyaji: Kiai kampung atau imam di masjid.

[7] Gabay: Acara pesta pernikahan.

[8] Kendhingan: Musik tradisional Madura, biasanya ada penyanyi sindennya, alat musik gamelan, gendang, gong, dan lain-lain.

.

Judul utuh cerpen di atas adalah Cerita yang Belum Selesai dan Perempuan yang Terperangkap di Alun-Alun Kota.

.

.

Ach Rofiq, mahasiswa Instika Sumenep dan mantan Pustakawan Lubangsa. Cerpennya terpilih sebagai salah satu pemenang pada Lomba Cerpen Pancasila 2022 yang diadakan oleh UPT Pusat Pengkajian Pancasila Universitas Negeri Malang dalam HUT Ke-77 RI.

.
Cerita yang Belum Selesai….  Cerita yang Belum Selesai…. Cerita yang Belum Selesai…. Cerita yang Belum Selesai…. Cerita yang Belum Selesai…. Cerita yang Belum Selesai….
Arsip Cerpen di Indonesia