Cerpen Widya Amanda (Kaltim Post, 11 Juni 2023)
EMPAT tahun lalu, aku bertemu seseorang di sebuah toko tanaman. Ia jatuh hati padaku tanpa alasan, lantas membawaku pergi bersamanya. Meletakkanku di sebuah tempat yang sering diterpa angin dari pagi hingga sore. Di sebuah tempat yang mengantarkan cukup sinar matahari. Di sebuah tempat aku bisa melihat sedikit dunia luar yang kosong, sekaligus tempat aku bisa melihat seluruh kehidupan. Kehidupannya maksudku.
Seseorang yang membawaku empat tahun lalu. Seseorang yang setiap pagi dan sore berada di depanku. Bersenandung sebuah lagu yang tak jelas nadanya. Mengalirkan air dari daun menyusuri batang hingga ke akar. Memberikan beberapa semprot asupan yang membuatku terasa segar. Pagi ini ia mengeluarkan energi positif, entah mengapa. Aku tidak terlalu penasaran. Energi positifnya yang terpenting. Energi positif membantuku tetap dalam keadaan yang baik seharusnya.
“Karl pulang hari ini, Bon.”
Ah, itu alasannya.
“Aku tidak sabar bertemu dengannya.”
Ya, pergilah.
“Aku pakai baju apa, ya?”
Pakai apapun sama saja.
Ia selalu berbicara apa saja saat menyemprotkan air padaku. Untuk kesekian kalinya aku mendengar nama Karl disebut berulang kali sembari menikmati air yang meluncur melewati batang sebelum berakhir di tanah yang sesak. Namun, itu terakhir kalinya ia menyebut nama Karl padaku setelah sebelumnya pulang dengan keadaan berantakan, bahkan nyaris nangis darah. Ia hanya mengatakan Karl bajingan dan aku langsung mengerti.
Saat ia menggeluti hobi baru untuk melupakan Karl, mulai membangun sebuah usaha, melakukan banyak hal untuk meraih mimpinya, menangis jam dua pagi karena merasa dunia sangat jahat, aku menyaksikan semuanya dari sudut ruangan. Seperti itu aku mengetahui seluruh kehidupannya. Menemani setiap langkahnya.
Hingga suatu ketika, di siang hari mendung, entah darimana ia datang sembari membawa sebuah gumpalan kapas jutek yang dianggapnya lucu dalam dekapannya.
“Bonobonoya.”
Buntalan kapas itu mengeong. Pasti mengejek namaku.
“Aku membawa teman baru untuk kita.”
Bagaimana caranya pohon berteman dengan kucing?
“Namanya Mono.”
Bagaimana bisa dia mendapat nama estetik begitu sementara namaku seperti lelucon?
Ia terlihat bahagia melepaskan Mono berkeliaran di dalam rumah. Ia menyemprotku seadanya dan langsung menghampiri Mono. Bermain dengan Mono. Bercerita dengan Mono. Peranku sebagai tumbuhan pajangan kembali seutuhnya. Bukan lagi tumbuhan teman cerita.
Suatu ketika, Mono melompat ke tempatku bersemayam. Ia mengamatiku dari depan dan belakang.
“Meong.”
Tolong ucapkan sesuatu selain meong.
Kaki depannya menyentuh daunku. “Meong.”
Itu bukan mainan.
Aku merasakan terjadinya sebuah pergeseran. Perlahan tapi pasti. Dan entah bagaimana, secara tiba-tiba, aku tergelincir jatuh ke lantai. Suara pecahan pot yang sudah hancur berkeping-keping seolah memenuhi isi rumah. Rasanya seluruh tangkaiku akan patah kalau diangkat begitu saja. Suara kaki terdengar bergegas dari arah dapur.
“Astaga, kok bisa jatuh?”
Kucing sialan itu mengeong tanpa rasa bersalah di atas sana. Perempuan itu melangkah perlahan mengambil Mono. “Mono nggak kena beling, kan?”
Aku lah yang seharusnya dikhawatirkan di sini. Aku korban di sini.
Ia membawa Mono ke tempat lain sebelum kembali ke tempat kejadian perkara. Mengambil tubuhku yang nyaris berantakan dan penuh tanah, lantas meletakkanku di tempat semula dengan posisi terkulai lemas. Ia mengambil beberapa peralatan untuk membersihkan kekacauan yang dilakukan si buntalan kapas. Membersihkan semuanya, lantas kembali mengangkatku. Ia membawaku melewati dapur. Pintu belakang.
Oh, tidak. Dia akan membuangku? Begitu saja?
Aku diletakkan di atas sebuah meja kayu di halaman belakang. Ia pergi entah ke mana. Angin berembus kencang. Dedaunan pohon mangga di belakang rumah tampak bergoyang-goyang. Perempuan itu kembali dengan sebuah cangkul dan tangan yang sudah dilapisi. Ia berjalan ke arah pohon mangga.
Dari pohon mangga, mengambil beberapa langkah dan menancapkan cangkulnya ke tanah yang dipenuhi rumput hijau itu sebelum mulai membongkarnya. Rumput-rumput yang terkena penggusuran pasti melayangkan protes, namun tetap saja ia tidak bisa mendengarnya.
Usai menciptakan sebuah lubang di sana, ia melangkah mendekat. Mengambilku dengan perlahan dan membawaku seperti bayi yang baru keluar. Ia meletakkanku di dalam lubang ciptaannya dengan hati-hati. Mengais tanah sedikit demi sedikit hingga akarku tertutup sempurna.
“Emang udah waktunya kamu di luar, Bon.”
Apa dia tidak pernah mencari tahu tentang kodrat sebatang bonsai?
“Nggak apa, aku bisa cerita sama Mono kalau malam.”
Aku kehabisan respons. Ia menepuk-nepuk bagian atas tanah yang sudah menutupi akarku dengan sempurna. Dari kejauhan, aku mendengar suara Mono mengeong. Perempuan itu lantas langsung berdiri.
“Mono, jangan keluar. Mau hujan.” Ia berseru sambil setengah berlari menghampiri makhluk aneh yang seperti mengejekku dari pintu belakang. Melepaskan sarung tangannya, menggendong buntalan sialan tersebut, lantas masuk ke dalam dan menutup pintu.
Halaman belakang rumah yang luas, tapi kosong. Hanya ada sebatang pohon mangga tua beberapa langkah di sampingku. Langit semakin gelap, angin berembus semakin kencang. Pertama kalinya aku merasakan angin yang bertiup sangat banyak. Rintik hujan turun perlahan mengenai daun-daun mungilku. Kalau sudah ditanam di tanah begini, akarku pasti menyerap lebih banyak air.
Merasakan lebih banyak angin, menyerap lebih banyak air. Rasanya aku seperti dibebaskan dari pot kecil sesak itu. Rintik hujan mulai bertambah banyak. Daun-daun mungilku kualahan. Aku tidak pernah menerima air sebanyak ini. Terlalu banyak. Aku dibebaskan, tapi membuatku kualahan, sekaligus kesepian. Juga kehilangan identitas. Kalau sudah dilepas di tanah begini, I’m not bonsai anymore. Bukankah begitu? Lantas, apa sebutan untukku sekarang? ***
.
.