Menanti Hari Ayah di Kazan

Cerpen Hash Mimi (Koran Tempo, 25 Juni 2023)

GALINA Mikhailovna melingkari tanggal hari itu. Sudah genap 390 hari Alexander Aronov, suaminya, tidak pulang. Janjinya, pada hari ke-393, dia akan pulang. Tepatnya pada hari Minggu tanggal 17 Oktober. Hari istimewa. Galina sudah tak sabar lagi menunggu kedatangannya.

Sasha, begitu Galina biasa memanggilnya, sudah setahun lebih pergi menunaikan tugasnya sebagai staf atase pertahanan Kedutaan Federasi Rusia di Astana, Kazakhstan. Kata Bibi Marina, tetangganya, “Itu waktu yang sebentar, Galya.”

Namun, Galina merasa sekian ratus hari itu terasa menyiksanya. Dia mencoba mengalihkan perhatian dengan menyibukkan waktunya untuk hal-hal lain: mengurus Vladimir—putra semata wayangnya—mengatur keperluan sehari-hari, mengajar piano tiga sekali seminggu di sekolah musik di dekat sekolah TK anaknya, juga menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman-teman pada akhir pekan. Akan tetapi, dia tetap merasa ada yang kurang. Kesibukan-kesibukan itu ternyata masih menyisakan ruang kosong dalam hatinya. Semua jejak Sasha ada dalam tiap inci rumah. Setiap kali dia melihat bantalnya di tempat tidur, baju-bajunya di lemari pakaian, cangkir kopi kesayangannya, justru semakin menambah kerinduan mendalam terhadap suaminya. Bahkan dia merindukan suara suaminya memanggilnya, “Galya, Galyusha.”

Galina pernah memimpikan pernikahan yang penuh cinta, seperti kisah cinta ala negeri dongeng, berbakti sepenuhnya untuk suami dan keluarga. Dia berharap hanya ada Sasha dan Vladimir dalam dunianya, hari-harinya dipenuhi oleh kehangatan dan keceriaan bersama mereka. Sayangnya, suaminya sering sibuk dengan pekerjaan, meninggalkannya dalam kesendirian.

Seharusnya Galina mengikuti suaminya berdinas ke luar negeri. Pada masa-masa awal pernikahan, dia pernah mempertanyakan hal itu. Akan tetapi, Sasha memiliki alasan lain.

“Galya percayalah kepadaku. Aku melakukan semua ini demi keluarga kita juga. Aku ingin melindungi kalian. Tidak semua hal perlu kita ketahui. Sedikit tahu, sedikit risiko. Dan itu lebih baik.”

Argumen-argumen itu tidak pernah berujung pada titik terang. Galina tidak pernah tahu apa yang terjadi sebenarnya. Dia hanya tahu penempatan di luar negeri cuma penempatan di atas kertas, termasuk penempatan dia di Astana saat ini. Kenyataannya, dia berada di mana, di belahan dunia mana, hanya Tuhan yang tahu.

Pada akhirnya, dia terpaksa menyetujui setelah Sasha meyakinkan dia.

“Percayalah kepadaku, sekali ini saja. Tinggal bersama keluargamu, orang tuamu, dan teman-temanmu adalah jauh lebih baik dan aman. Mereka bagian dari hidupmu juga, kan. Aku berjanji akan tiba waktunya kita semua berkumpul bersama layaknya keluarga yang normal.”

Galina hanya bisa pasrah, berusaha memercayai janji itu. Seperti saat Sasha melamarnya di depan api unggun pada perayaan malam tahun baru di tahun terakhir mereka di kampus. Galina menerima proposalnya karena dia percaya Sasha dapat memberi masa depan yang baik untuknya.

Bukan berarti Sasha tidak memenuhi tanggung jawab keseluruhan sebagai suami. Galina tidak pernah kekurangan materi. Sasha pun tidak pernah lupa hari ulang tahunnya. Jika Sasha sedang berada di Kazan, dia tidak pernah melewatkan makan siang di rumah, di tengah-tengah kesibukannya di kantor. Dia juga selalu menyempatkan diri bermain dengan Vladimir atau membawanya berjalan-jalan ke taman dan tempat hiburan. Akan tetapi, hari-hari seperti itu sangatlah jarang.

***

Galina menatap ke luar jendela sambil menikmati teh dan keik sharlotka yang dipanggangnya tadi pagi. Sasha menyukai keik apel buatan Galina ini karena rasanya mirip dengan buatan ibunya, mengingatkan masa kecil Sasha di St. Petersburg. Galina tersenyum, pipinya terasa hangat walaupun angin musim gugur yang dingin menyelusup melalui sela-sela jendela dan menusuk kulit wajahnya. Semalam salju pertama sudah turun. Sisa-sisa salju masih memenuhi ruas jalan. Di kejauhan tampak kubah Masjid Kul Sharif yang biru seperti warna langit, juga seperti warna mata Sasha. Dia teringat akan rencananya untuk pergi ke toko Paman Ibrahimov yang lokasinya tidak jauh dari masjid itu. Toko cokelat dan bakeri Paman Ibrahimov paling terkenal serta terenak di Kazan. Galina sudah menjadi langganannya sejak kecil. Dia ingin membeli cokelat istimewa untuk Sasha yang berjanji pulang pada Hari Ayah. Galina ingin mempersembahkan hadiah terbaik untuk menyambut kedatangannya yang tinggal beberapa hari lagi. Ekspresi kerinduan tampak pada setiap detail persiapan. Apartemen sudah dibenahi dan dihiasi, bunga-bunga mawar putih serta anggrek ungu sudah dipesan dan akan ditebar di setiap sudut ruang. Persiapan sudah matang.

Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang, sudah saatnya menjemput Vladimir dari sekolah TK dekat rumah. Ketika Galina hendak mengunci pintu, Anton Belksy—tetangganya yang pelukis itu—terlihat ke luar dari kamar apartemennya.

“Hai, Galina, mau menjemput Vladimir?”

“Iya, ini sudah waktunya menjemput Vevo,” jawab Galina dengan menyebutkan nama panggilan untuk Vladimir.

“Mau kuantar? Kalau tidak salah, mobilmu ada di bengkel sejak dua hari lalu.”

Sebelum Galina menjawab tiba-tiba terdengar nada notifikasi masuk melalui ponselnya. Dia membaca sekilas, tampak pesan dari Sasha yang mengirim detail penerbangannya. Bibirnya melengkung ke atas.

“Anton, terima kasih. Saya dapat menjemputnya sendiri. Sekolahnya dekat, hanya beberapa blok dari sini. Oh ya, Sasha akan pulang pada hari Minggu. Saya pasti akan sangat sibuk jadi tidak bisa mengunjungi pameran lukisanmu pada pekan depan. Maaf.”

Anton mengangguk, lalu tersenyum tipis, terlihat jelas kekecewaan di raut wajahnya. Setelah mengucapkan selamat tinggal, Galina bergegas pergi. Baginya, Anton sudah terlalu baik. Dia selalu menjadi yang pertama menolong setiap kali Galina memerlukan bantuan saat suaminya tidak ada di rumah. Dia merupakan teman yang nyaman diajak berbicara, berbeda dengan suaminya yang hemat dengan kata-kata. Percakapan di rumah dengan Sasha lebih banyak seputar Vladimir dan hari-harinya yang membosankan. Sedangkan dengan Anton, Galina dapat membicarakan banyak topik, salah satunya lukisan. Dia pernah mengunjungi studio Anton untuk menikmati gaya lukisan-lukisan kontemporernya. Saat ini, nama Anton Belsky sedang naik daun sebagai sosok yang menjanjikan di dunia seni rupa kontemporer. Galina merasa beruntung dapat mengenalnya.

Menurut Galina, tidak ada yang salah dengan hal itu. Sejauh ini dia tidak pernah melampaui batas. Dia paham bahwa tindakan yang tidak bertanggung jawab hanya akan membawa bencana. Selain itu, bagaimana jika ternyata Sasha memantaunya dari kejauhan?

***

Besok, Hari Ayah. Hari istimewa bagi semua kaum Adam di Rusia. Senja itu, Galina membeli sekotak cokelat di toko Paman Ibrahimov. Lalu, dia membungkusnya dengan kertas bercorak paling manis dengan paduan pita warna ungu kesukaannya dan pita putih kesukaan Sasha. Dengan riang, dia berjalan menyusuri tepian Sungai Kazanka sebelum melanjutkan perjalanan pulang menuju Stasiun Metro Kremlyovskaya. Hatinya sedang hangat sehingga dia tidak memedulikan udara dingin yang menusuk tulang dan mulai menyergap. Dia bahkan berharap dapat mengirim surat dengan memasukkannya ke dalam botol, kemudian dilemparkan ke anak Sungai Volga itu yang akan membawa suratnya ke Kazakhstan. Mungkin, itu akan meninggalkan kesan mendalam untuk Sasha. Selama ini, puluhan surel dan ratusan chat hanya dibalas dengan kalimat-kalimat singkat. Sedangkan, untaian kalimat yang hendak diutarakan Galina sepanjang aliran Sungai Volga. Galina tertawa memikirkan ide konyol itu. Di zaman seperti ini, mana ada surat dikirim sungai.

Dia menghela napas. Pikirnya, lebih baik berfokus ke hari esok, hari spesial. Dia mengalihkan perhatian dan menata hatinya dengan mulai bersenandung kecil, menyanyikan lagu tradisional Rusia, “Katyusha.”

“Rastsvetali yabloni i grushi

Poplyli tumany nad rekoy

Vykhodila na bereg Katyusha

Na vysokiy bereg, na krutoy.”

(Pohon apel dan pohon pir mulai bermekaran/kabut sungai mulai mengalir mengambang, dia keluar dan pergi ke darat, Katyusha/di tepian yang tinggi, di tepian yang curam).

Dia sungguh merindukannya, seperti seorang prajurit di medan perang yang merindukan kekasihnya dalam lagu Katyusha itu. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, terlihat pesan WhatsApp dari Sasha. Dengan berdebar, dia mulai membaca.

“Galya, maafkan aku, sepertinya aku harus menunda lagi jadwal pulang besok. Ada hal mendesak dan penting yang harus segera ditangani di kantor. Nanti malam, aku akan menghubungimu lewat video call.”

Wajahnya memerah, air matanya mulai tumpah.

“Aku membencimu, Sashaaa!” teriaknya kencang hingga mengejutkan burung-burung yang sedang hinggap di atas tiang listrik. Seketika sekujur tubuhnya menggigil. Sekarang dia benar-benar merasa kedinginan. Hatinya seakan-akan mulai ikut membeku seperti bekunya permukaan air sungai di musim dingin.

Tangannya lalu siap melempar hadiah cokelat itu ke dalam sungai. Akan tetapi, tiba-tiba dia teringat Anton Belksy, tetangganya yang baik itu. Apakah sebaiknya dia memberikan cokelat ini untuk Anton? Anton dapat membantunya melupakan kesedihan dan membunuh rasa kesepian. Tentu saja dia akan senang menerima cokelat ini. Bukankah pada Hari Ayah, teman-teman pria juga berhak mendapat hadiah?

Untuk beberapa saat Galina terpaku di tepi Sungai Kazanka, seakan-akan berusaha mendalami setiap jawaban. Mencari kebahagiaan sesaat atau memeluk hadiah erat-erat hingga dapat diberikan kepada orang yang tepat. Apakah kisah cintanya termasuk kisah yang layak untuk diperjuangkan? Dipandangnya sekali lagi hadiah itu. Paduan warna ungu dan putih adalah salah satu simbol cintanya dan Sasha. Galina tersenyum, dia suka paduan warna itu.

Adapun di salah satu sudut kamar apartemen tampak seorang pria sibuk menuliskan pesan dalam kode-kode rahasia, melaporkan rencana kepulangan Alexander Aronov pada Hari Ayah. ***

.

.

Hash Mimi adalah seorang ibu rumah tangga yang ingin menjelajahi dunia melalui buku yang dibaca dan kisah yang ditulisnya.

.
Menanti Hari Ayah di Kazan. Menanti Hari Ayah di Kazan. Menanti Hari Ayah di Kazan.
Arsip Cerpen di Indonesia