Cerpen Musa Hasyim (Suara Merdeka, 15 Juni 2023)
KUBURAN Sri masih basah. Air mata keluarga besarnya belum kering, sama belum keringnya dengan desas-desus bahwa Sri mati bukan karena bunuh diri, melainkan karena Palung Gantung.
Aku jelas menolak kabar itu. Sebagai dokter spesialis kejiwaan lulusan Amerika Serikat, aku menjunjung tinggi rasionalitas dan ilmu pengetahuan modern. Selama aku meneliti tentang otak manusia dan seluk-beluknya, aku belum pernah mendapati pasien bunuh diri gara-gara ada sejenis makhluk astral berupa cahaya yang memprovokasi otak sang penyintas penyakit gangguan kejiwaan.
Aku menghormati adat dan masyarakat Gunung Kidul, tapi untuk Palung Gantung, aku masih belum menemukan titik temu. Sebenarnya aku bisa juga mengaitkan fenomena intensitas angka bunuh diri yang tinggi dengan gejala efek domino di daerah itu. Apakah penyakit jiwa memang bisa ditularkan dari satu orang ke orang lain? Aku bisa menyebutnya demikian, karena Sri gantung diri tak lama setelah sepupunya juga melilitkan tali ke lehernya dengan sengaja. Bedanya Sri gantung diri di kamar, sedangkan sepupunya itu gantung diri di hutan belakang rumahnya.
Namun soal Palung Gantung, aku sama sekali tidak bisa menerimanya. Aku justru menyalahkan orang tua Sri. Sri memilih jalan kelam itu karena rencana pernikahanku dengannya ditolak mentah-mentah oleh orang tuanya, hanya karena aku pernah digosipkan menjadi ateis. Aku tahu, orang tuanya tidak mau anak semata wayangnya itu menikah dengan seorang pria bermata sipit dari keluarga penganut agama Nasrani taat. Kata ateis yang disematkan padaku hanya sebagai pemanis saja atas alasan mereka, biar keluarga besar mereka tidak disangka intoleran dengan penganut agama lain. Karena ateis tidak memiliki tempat di masyarakat.
Selain itu, orang tua Sri sering menyalahkanku yang selalu membujuk agar Joko, sepupu Sri, sebelum gantung diri untuk dibawa ke klinik tempatku praktik. Mereka menolak segala bentuk pengobatan modern, katanya dunia kedokteran modern adalah turunan setan. Sementara orang tua Sri yakin betul, Joko dirasuki Palung Gantung akibat berani durhaka pada orang tua yang sebenarnya juga durhaka karena sering memukul Joko jika tidak membawa uang dari kota. Jadi sebenarnya siapa yang setan dan siapa yang malaikat?
Saat kuburan Sri masih dikerumuni pelayat, aku sengaja tidak menampakkan diri. Aku tidak ingin orang tua Sri juga turut menyalahkanku karena pernah sekali aku membawa Sri ke klinikku diam-diam seperti yang aku lakukan pada Joko. Aku memberinya beberapa pil penenang namun jiwanya sudah telanjur ditelan ombak keputusasaan kronis. Orang tua Sri menyadari aksiku sampai kemudian semua perangkat komunikasi Sri disita orang tuanya. Aku semakin sulit menemui atau sekadar tahu kondisi kejiwaan Sri sampai kabar memilukan itu datang dari asistenku di klinik yang kebetulan satu desa dengan Sri.
Kata Winarti, asistenku itu, Sri ditemukan gantung diri setelah semalaman hilang. Dia berjalan-jalan seorang diri di hutan. Setelah kembali ke rumah, Sri dikurung seharian di kamar. Ketika orang tua Sri terpaksa ke sawah, Sri ditinggal seorang diri dengan pintu terkunci dari luar. Orang tua Sri jelas-jelas sudah menyingkirkan semua benda tajam termasuk segala jenis tali supaya nasib Sri tidak serupa dengan sepupunya. Sri memang gantung diri tidak dengan tali tapi dia masih menyimpan baju daster panjangnya, daster hadiah dariku pada ulang tahun kedua puluhnya itu lebih dari cukup untuk menarik paksa leher putihnya dari langit-langit kamarnya yang rendah. Lidahnya menjulur panjang begitu Sri ditemukan sudah tidak bernyawa dan Palung Gantung dianggap sebagai satu-satunya biang kerok. Barangkali aku juga akan jadi sasaran, jika mereka tahu daster panjang itu adalah benda pemberianku.
Raga Sri memang sudah tidak tertanam lagi di badannya, tapi aku masih yakin, Sri belum meninggal. Dia hanya istirahat sejenak dari permasalahan hidupnya, lalu kembali menemuiku. Setelah itu, aku akan bawa Sri kabur ke Amerika Serikat kalau perlu. Aku sudah mengantongi kartu hijau sakti. Di sana, Sri tidak perlu takut Palung Gantung karena tidak ada hal yang lebih menakutkan di dunia, selain setan berwujud manusia yang selalu mengekangnya atas pilihan hidup.
Ketika semua pelayat sudah berlalu, giliranku untuk mendekati gundukan tanah di ujung itu. Lagi-lagi, aku masih belum menerima kenyataan Sri sudah tiada. Berkali-kali aku mencoba mengajak Sri bercakap-cakap dan dia bangkit dari kasur tanah dalam, aku yakin. Aku memulai banyak obrolan untuk dirinya. Dia tertawa, begitu pula denganku. Selepas kami tertawa, aku mengajak Sri pergi ke sebuah tempat yang selama ini aku rencanakan.
Sebelum aku menghidupkan mesin mobil yang kuparkirkan cukup jauh dari TPU, aku terlebih dahulu melihat cahaya putih melesat dari langit dan menembus sampai dalam mobil. Anehnya, mobilku tidak kenapa-kenapa. Sri menyuruhku supaya tidak naik mobil. Dia mengajakku jalan kaki saja. Katanya, cahaya itu merupakan Palung Gantung. Aku disuruh sebisa mungkin menghindari apa pun benda atau tempat yang disentuh Palung Gantung.
“Bukankah kamu tidak percaya Palung Gantung, Sri? Jika begitu kamu lebih memilih memercayai keluargamu yang menolak dirimu berobat ke klinikku?”
Sri tidak menjawab. Sri yang aku lihat adalah sosok asli atau hanya imajinasiku? Seorang dokter jiwa mana boleh berhalusinasi begini. Tapi aku yakin seratus persen, Sri di hadapanku adalah Sri yang aku kenal, hanya saja dia sedikit pucat. Aku memaksa Sri masuk ke mobil. Berkali-kali aku membujuk Sri untuk melupakan semua tentang Palung Gantung. Aku bisa membuat Sri lebih rasional, jika aku bawa dia ke kota metropolitan macam New York atau Los Angeles atau di mana pun itu.
Aku mengemudi namun Sri tetap diam. Apakah dia marah karena aku lebih memilih mobil ketimbang menghindari Palung Gantung. Aku tidak akan gantung diri hanya melihat Palung Gantung atau menyentuh benda yang tersentuh oleh cahaya Palung Gantung. Mungkin saja cahaya itu adalah sorot pantulan kilat yang sangat cepat ingin mencumbu tanah, namun malah menyasar ke arah mobilku.
“Sri, kamu bunuh diri bukan karena Palung Gantung, melainkan jiwamu sedang sakit dan butuh perawatan namun kamu tidak diobati dengan baik. Sama seperti tanaman yang jarang disiram air, lama-lama ia akan mati. Jiwamu tidak pernah disirami cinta, hanya ketakutan dan keputusasaan yang menyerbumu semacam hama.”
Sri masih diam. Sekonyong-konyong, telepon di samping kemudiku berbunyi. Ada puluhan, tidak, ratusan panggilan masuk. Mulai dari nomor dengan nama yang kukenal sampai nomor tak dikenal. Aku mengabaikan, aku terus saja fokus mengemudi, sementara Sri masih teguh pada pendiriannya untuk tetap bisu, meski jelas-jelas dia bisa berbicara. Kesunyian saat menyetir adalah hal terburuk, namun lebih buruk lagi ketika deru ponsel terus bergetar meminta untuk diangkat segera. Siapa gerangan yang menelepon berkali-kali, tidakkah dia harusnya bosan karena aku menolak panggilan itu.
“Hei, dokter sialan, kembalikan jenazah anakku sekarang juga atau aku akan melaporkanmu ke polisi!” begitu suara di telepon.
Aku tak peduli, aku terus saja mengemudi sampai menemukan tempat paling indah untuk berpamitan dengan bumi. Di ujung jurang sana, aku menancapkan gas sangat kencang sampai pembatas jalan aku labas. Aku melayang bersama mobil, Sri, dan mungkin juga Palung Gantung yang masih memojok di kursi belakang. Aku hanya melihat cahaya lain begitu terang di depan mata.
“Sri, ayo pergi ke tempat yang di dalamnya tidak akan pernah ada orang yang membuat kita kecewa. Kita bisa hidup bahagia di sana tanpa menanggung beban derita seperti ini akibat cinta kita yang tak kunjung dapat restu,” bisikku, sementara Sri tersenyum jahat. ***
.
.