Cerpen Muram Batu (Jawa Pos, 22 Juli 2023)
SEJAK tidak ditinggali manusia lagi, rumah itu hanya dihuni oleh seekor anjing. Warna dindingnya yang dulu merah menyala kini telah bercampur hitam, seperti darah kotor. Tak ada yang berani melihat ke sana, apalagi anjing pincang yang berkutu banyak, yang menghuni rumah itu, sering menyalak tanpa pasal. Itulah sebab, ketika warga kampung terpaksa melewati rumah itu, mereka memilih untuk melihat barisan nisan yang berada tepat di seberangnya.
Dan, rumah kayu itu berada di sebuah daratan yang menjorok ke sungai, seperti tanjung. Dia tersendiri. Selain di seberangnya makam, bagian kiri kanan tak ada rumah lain, semak setinggi pinggang orang dewasa pun lebat di sisi jalan yang menjadi pembatas dataran dengan sungai. Dulu, di semak-semak itu ada semacam dermaga kecil, tempat rakit bersandar guna warga menyeberang ke desa sebelah. Namun, sejak ada jembatan yang berada di belahan lain, semacam dermaga serta rakit langsung ditinggal. Pun, semacam dermaga itu pula tempat anak-anak bermain air atau sekadar belajar berenang. Lalu di belakang rumah, di tanah yang menjorok, ada semacam undak-undak bagi emak-emak mencuci. Air mengalir. Berwarna kuning, tapi bening ketika diletakkan dalam ember atau wadah lainnya. Pagi dan petang adalah keramaian yang nyata di sana.
Tapi, itu dulu. Semua berubah sejak rumah tersebut terbelah dua. Bukan, bukan karena gerakan tanah yang rapuh karena tergerus air, bukan pula akibat sambaran petir atau longsor dan segala macam bencana alam lainnya, rumah itu terbelah karena dipotong. Adalah penghuninya yang bertikai menjadi sebab. Ketika jelang petang, ketika anak-anak dan emak-emak mulai berdatangan, saat itulah gergaji besar membelah rumah. Benar-benar dipotong menjadi dua bagian. Lurus dari depan ke belakang, seperti memakai penggaris. Rumah satu menjadi dua.
Pemilik pertama adalah perempuan. Dia anak tunggal sang pemilik rumah dengan istri pertamanya. Karena itu, dia unggul secara hukum negara. Dialah si pewaris sah karena segala kertas dan kelegalan adalah miliknya. Setelah rumah dipotong dua, akhirnya, dia semangat mengambil bagian yang sebelah kanan, yang ada meja makannya. Dia percaya, hasil jauh lebih penting dari proses. Makan bagi manusia itu, menurutnya, ya, makan. Jadi, bukan memasak! Untuk itu dia pilih bagian yang ada meja makannya.
Pemilik kedua adalah lelaki. Dia memilih bagian rumah sebelah kiri, yang ada dapurnya. Dia punya pikiran terbalik dibanding pemilik pertama. Baginya yang penting proses, bukan hasil. Untuk itu lebih penting dapur daripada meja makan. Makanan yang sehat dan enak itu berasal dari dapur, bukan meja makan! Lelaki ini juga anak tunggal, tapi dari istri kedua sang pemilik rumah yang dinikahi besar-besaran tanpa disertai secarik kertas pun. Dia didukung hukum adat. Sebagai lelaki, dialah yang menjadi pewaris sah.
Nyatanya kedua pemilik itu tak pernah tinggal di rumah tersebut, baik saat satu atau ketika sudah menjadi dua. Si perempuan tinggal di kota besar. Sang lelaki di kota besar yang lain. Keduanya langsung datang ketika si pemilik rumah mati. Keduanya sama-sama mendadak menjadi anak yang baik, menutupi luka sang ayah dari ibu mereka yang sama-sama penyelingkuh. Tapi itu tak lama, seiring makin berkurangnya pelayat, mereka menunjukkan diri; kembali demi rumah kayu yang megah itu. Masing-masing mengakui kepemilikan. Ngotot. Ribut. Bawa pendukung. Warga bingung, tanjung tenang itu menjadi rawan. Lalu, datanglah tokoh agama. Dia bawa pemecahan, rumah harus dibagi dua. Ya, ketika negara dan adat bertentangan, idealnya agama jadi penengah. Tak ada yang menentang. Keduanya menerima. Dan, ketika jelang petang, ketika anak-anak dan emak-emak mulai berdatangan, saat itulah gergaji besar membelah rumah itu. Benar-benar dipotong menjadi dua bagian. Lurus dari depan ke belakang, seperti memakai penggaris. Rumah satu menjadi dua.
Kedua pemilik itu pun langsung pulang ke kota mereka masing-masing. Warga pergi. Keramaian terhenti. Saat itulah muncul anjing itu, pincang dan berkutu banyak, yang sering menyalak tanpa pasal. Dia tinggal di rumah yang telah menjadi dua itu. Rumah berwarna merah menyala yang secara perlahan bercampur hitam, seperti darah kotor.
Entah bagaimana caranya, anjing itu tetap sehat meskipun tak ada yang memberi makan. Seandainya tidak pincang, tentu dia sangat gagah. Tubuhnya pas, tidak kegemukan atau kekurusan. Pun dia lincah, terbukti dia bisa berada di sisi rumah kiri atau sisi kanan rumah, tidak sekadar tidur atau bermain dengan ekor. Kalau ditepikan soal pincang, hanya kutu yang menjadikannya terlihat tak sehat. Kutu-kutunya begitu tampak, seperti bulir padi petani yang menumpuk terkena hujan.
Keberadaan anjing itu pula yang menyebabkan rumah potong itu belum terjual. Padahal, kedua pewaris memang tidak berniat untuk tinggal di sana. Bagi mereka adalah hak kepemilikan, dan ketika itu sudah didapat, lembaran uanglah yang jadi harapan. Masalah meja makan atau dapur, itu juga sekadar pemetaan. Tidak ada yang lebih penting dari itu. Maka, masing-masing dari mereka memasang iklan. Masing-masing dari mereka pun setia menanti kabar dari calon pembeli tanpa harus menginjakkan kaki lagi di rumah warisan itu.
Beberapa calon pembeli sempat datang, melihat-lihat, tapi hanya sampai pagar. Beberapa dari mereka mencoba masuk ke halaman, tapi anjing kampung itu selalu menyalak. Calon pembeli terusir tanpa bisa melihat bagian dalam rumah, baik sisi kanan maupun sisi kiri. Lalu beredar kabar kalau rumah itu tidak laku karena berseberangan dengan makam dan dekat sungai. Fengsuinya tidak bagus. Ragam alasan lain juga muncul, dua di antaranya soal cat yang mirip darah kotor dan bentuk rumah yang terpotong. Padahal, soal cat bisa diganti dan pasal bentuk dapat dirobohkan lalu dibangun yang baru.
Calon pembeli yang agak jujur hanya Tuan Takur, juragan tanah dari desa tetangga. Bagaimanapun tanah rumah potong itu cukup luas, pas untuk dijadikan kompleks perumahan karena letaknya di sisi sungai. Jadi, masalah pembuangan akhir sudah gampang terselesaikan; buang saja ke sungai. Soal makam, itu juga masalah gampang, bisa saja dia beli sekalian perkuburan umum itu dan memindahkan penghuninya ke tempat lain. Tapi itu tadi, dia batal membeli. Katanya, rumah itu telah dihuni anjing: najis! Banyak penyakit, memakan banyak biaya, perlu upacara-upacara agar anjing dan kutu-kutunya tidak jadi hantu.
Maka, setelah bertahun-tahun rumah satu itu menjadi dua, tetap saja tidak terjual. Semak semakin menyemak. Onak semakin meninggi. Orang-orang pun mulai menghindar, tidak lagi ramai. Keramaian malah nyata di seberang, tepatnya di pemakaman, sudah padat dan seperti tidak akan muat kalau ada lima orang lagi yang mati.
“Tidak masalah kalau kalian mau menjadikan rumahku dan halamannya sebagai makam umum, tapi harus ada dana pengganti yang sesuai,” kata pewaris yang laki-laki.
“Aku juga tidak masalah selama ada ganti untungnya,” ujar pewaris yang perempuan.
“Kalian bisa wakafkan. Amal kalian akan dibalas Tuhan….”
Tidak ada jawaban. Kedua pewaris itu tampaknya kompak untuk menutup mulut. Pun, mereka kompak membiarkan rumah itu tetap menjadi dua. Pemuka agama yang bicara soal makam wakaf tadi pun mundur.
Masalahnya, anjing itu juga menyalak ketika kedua pewaris itu melewati pagar rumah. Bahkan, terlihat lebih marah. Gonggongannya tiada henti. Gerakannya tak terkendali. Kutu-kutunya pun seperti berlompatan.
“Anjing siapa ini!” teriak si perempuan.
“Binatang! Tak tahu adat!” teriak si lelaki tak mau kalah.
Keduanya cepat-cepat menutup pagar. Persis para calon pembeli, mereka pun hanya bisa melihat rumah dari jauh.
“Pantas saja mereka ajak kita bicara di makam dan tak mau masuk ke rumah kita. Rupanya gara-gara anjing ini!” kata si lelaki.
Si perempuan tak membalas. Dia malah lari ke mobilnya sambil teriak, “Kauurus anjing itu!”
Dan, anjing pincang berkutu itu terus menyalak. Dia berhenti ketika dua pewaris telah hilang, pergi dengan mobil masing-masing. Sepi. Tak ada orang. Tak ada keramaian. Anjing itu kembali ke dalam rumah. Dia kelilingi setiap sisi rumah itu, baik sebelah kanan dan kiri. Lalu, dia kembali ke beranda, duduk dengan awas, tepat di tengah-tengah rumah satu yang telah menjadi dua tersebut.
Nyatanya tak sampai dua bulan setelah kejadian tersebut, anjing itu mati. Tepatnya ketika ada warga yang mati dan dimakamkan di seberang rumah. Para pengantar mayat melihat anjing itu kaku tepat di bagian tengah rumah yang dipotong tersebut. Warga menerobos pagar. Sinar kaget langsung mengemuka, tak ada kutu pada anjing itu. Tubuhnya bersih dan tak ada bau bangkai.
“Dia baru saja mati, tapi ke mana kutu-kutu itu?”
Tidak ada yang menjawab. Warga sibuk dengan pikiran masing-masing. Mereka bingung, mau diapakan bangkai anjing itu. Dimakamkan di seberang sangat tidak mungkin, selain lahan yang tersisa hanya untuk empat liang lagi, sangat tidak pas makam orang digabung dengan anjing. Kalau dibuang ke sungai, lebih bahaya lagi, tubuh anjing akan mengurai dan tentu bisa menimbulkan penyakit.
“Kita tanam di rumah ini saja!”
“Kalau ditanam di sini, berarti rumah ini tak mungkin jadi pemakaman,” balas yang lain.
Tidak ada yang menjawab. Warga sibuk dengan pikiran masing-masing. Mereka bingung. Tapi, seseorang dari mereka malah bergerak cepat. Mengambil cangkul dari penggali kubur, mengorek tanah di rumah itu, tepat di bagian depan dan di tengah-tengah. Selesai lubang tercipta, cepat dia balut bangkai itu dengan kain putih. Tak ada yang tahu dari mana orang itu mendapatkan kain, tetapi warga kampung tahu kalau mata lelaki itu basah. Air matanya menetes, membasahi tanah. Pun, ada isak ketika bangkai anjing berbalut kain putih itu sudah di dalam lubang. Cepat dia tutup lubang itu dengan tanah. Cepat dia taburi dengan bunga-bunga. Sekali lagi, warga tak tahu dari mana bunga itu. Warga hanya tahu, lelaki itu tak kelihatan lagi setelah semuanya selesai.
“Siapa dia, sepertinya bukan warga kita?” kata seorang warga.
“Sepertinya aku pernah lihat, tapi di mana ya?”
Warga sibuk dengan pikiran masing-masing. Pun ketika meninggalkan halaman rumah itu, mereka tetap bingung. Lalu, “Mirip bapak pemilik rumah, tapi lebih muda….” kata seorang warga dengan nada menggantung.
Tak ada yang menjawab. Warga sibuk dengan pikiran masing-masing.
Sejak tidak ditinggali manusia lagi, rumah itu hanya dihuni oleh seekor anjing. Warna dindingnya seperti darah kotor. Tapi… itu dulu. ***
.
.