Laki-Laki Lain

Cerpen Budi Darma (1972)

SEBETULNYA urat-urat leher istri tidak perlu menggelembung-mengempis ketika istri melihat suami pulang. Juga darah suami tidak perlu melompat-lompat cepat dalam nadi-nadi ketika suami melihat istri tiduran di atas ranjang, berselimut tebal, dan berwajah putih seperti kertas tik. Hanya saja kebetulan mata istri berpapasan dengan mata suami, sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

Mata yang berpapasan dengan mata menyebabkan istri merasa usianya terpotong beberapa tahun, dan suami merasa berjalan di ruangan gelap tanpa ujung. Karena itu, istri melesatkan mata ke tempat lain, suami pun melesatkan mata ke tempat lain. Tepat pada waktu mata istri memacak jendela mata suami pun memacak jendela. Pandangan mata yang baru sekali terjadi menyebabkan biji-biji mata istri merasa akan meledak, dan usus suami merasa akan longsor.

Bergegas-gegas suami menarik mata dari jendela dan membersitkan mata ke jam tembok. Tubuh suami hampir terlempar ke atas ketika suami melihat jarum-jarum jam berputar ke kiri dengan kecepatan yang tidak pernah diduga. Suami segera maklum, perjalanan jarum yang begitu kurang ajar hanya dapat terjadi karena istri memacakkan mata ke sana. Kepala istri merasa terluka, dan istri tahu apa sebabnya. Maka, istri pun cepat-cepat memboyong mata ke arah langit-langit tua yang hampir kehilangan warna asli. Sekonyong-konyong langit-langit melompat ke bawah. Sebelum langit-langit tua menggebrak istri, istri cepat-cepat mengatupkan kelopak mata. Istri yang merasa bijak tahu, hanya karena suami memacak mata ke langit-langitlah, langit-langit melompat ke bawah. Suami yang juga melihat langit-langit melompat ke bawah segera menutup kelopak mata.

Hampir semua bagian-bagian tubuh istri merasa bengkok. Hampir semua bagian-bagian tubuh suami merasa mengecil, “Atas kuasa siapakah maka suami mengikuti lemparan-lemparan mata saya?” kata istri, diam-diam. “Atas kuasa siapakah maka istri mengikuti lemparan-lemparan peran mata saya?” kata suami, diam-diam.

Istri yang merasa bijak mengambil sebuah bantal tebal dan menutupkan bantal tebal di atas kepala. Untuk sementara suami merasa kehilangan minat untuk memperpanjang umur. Seluruh kekuatan mata menjadi kendur, dan seluruh dunia yang bagi suami sudah tua kelihatan putih, hanya putih. Suami tidak berminat menangkap warna-warna ungu, kuning, hitam hijau, dan entah warna-warna apa lagi.

Bukan hanya warna-warna yang hilang dari mata suami. Tubuh suami yang tadi kuat sekarang terasa kehilangan sumsum. Kepala suami melorot ke bawah dan tersampir dengan rela pada sandaran kursi. Seluruh permukaan kulit suami membanjirkan air asin, dingin mirip es.

Semangat istri merasa terempos-empos. Kuping istri mendengar desir-desir jantung. “Inilah pertanda suami mengalami kecelakaan,” kata istri, diam-diam.

Akan tetapi, istri lupa tubuhnya sedang sakit. Istri yang sudah sekian lama tidak pernah berdiri di depan kaca tidak tahu bahwa wajahnya hanyalah putih seputih kertas tik. Istri lupa bahwa selimut yang digelar di atas tubuh pernah disentuh suami. Dan, kelupaan yang paling jahanam: istri tetap membuka hidung lebar-lebar. Kelupaan inilah yang sebentar lagi mengembus segala kekuatan dari tubuh istri dan mengembalikan kekuatan suami ke tempat asal. Sebentar kemudian pertukaran kekuatan pun terjadi.

Dada istri merasa ditompangi sekian banyak laki-laki yang sudah berpengalaman menggilas-gilas tubuh-tubuh perempuan. Dan, bagi istri laki-laki ini sama saja dengan suami yang selamanya berusaha menghancurkan istri. Kekuatan dalam tubuh istri melesat keluar.

Mula-mula suami berpikir siapa yang akan mengubur mayat suami setelah ajal tiba. Namun, seberkas warna hitam melesat kembali ke dalam mata. Lalu, warna-warna kuning, hijau, biru, dan entah warna-warna apa lagi. Ketika sekawanan warna anggur melesat kembali ke dalam mata, suami merasa darah mulai mengalir lagi dalam tubuh. Dan, kembalilah semangat untuk hidup lama.

“Mengapakah sorot mata jahanam dilemparkan ke arah saya?” kata suami, diam-diam. Sorot mata istrilah yang paling ditakuti. Karena itu, selama perkawinan suami selalu menghindari mata istri.

Barulah sekarang suami memiliki kesempatan melihat istri yang matanya tertutup bantal dan tubuhnya tertutup selimut tebal. Hanya tangan-tangan istri tampak merentang dan membengkok, menyembul dari bawah selimut, membengkok dan berakhir di atas. Suami berusaha membayangkan rupa istri.

Akan tetapi, suami telah melakukan kesalahan yang paling besar dalam hidup. Kekuatan dalam tubuh berlompat-lompatan lagi keluar tanpa diketahui mengapa. Hanya istrilah yang tahu. Diam-diam istri kemasukan tenaga dengan kecepatan yang mengagumkan. Pada saat-saat seperti inilah istri berhasil melempar bantal dari atas kepala, mendepak selimut yang menutup tubuh, dan memasukkan udara segar ke dalam paru-paru, sebanyak mungkin.

Ketika istri bangun dari ranjang, betullah istri melihat suami sudah meninggalkan kursi dan membungkukkan tubuh.

“Bodoh benar, kau,” kata istri. “Kau tadi berusaha mengingat-ingat rupa saya, dan inilah hadiahnya.”

Barulah suami mengerti. Kekuatan suami merendah, merendah, merendah, dan begitu rupa istri tertancap secara lengkap dalam otak suami, hilanglah seluruh kekuatan suami. Dan, jatuhlah tubuh suami, mengembangkan warna-warna merah di atas lantai.

Istri mendengar detak-detak jantung, dan merasa darah dalam nadi-nadi menjadi hangat. Dendam yang selama ini membuah dalam mata akan disorotkan ke arah suami. Istri melompat-lompatkan kaki ke arah suami. Dan, ketika tubuh istri berdiri tegar di atas tubuh suami yang masih mengalirkan warna-warna merah, barulah istri mengetahui, tubuh di bawah bukanlah tubuh suami. ***

.
Laki-Laki Lain. Laki-Laki Lain. Laki-Laki Lain. Laki-Laki Lain.
Arsip Cerpen di Indonesia