Cerpen Dee Lestari (2004)
SEHARUSNYA ada pepatah bijak yang berbunyi: “Bila engkau ingin satu, maka jangan ambil dua. Karena satu menggenap kan, tapi dua melenyapkan.” Sekalipun ganjil terdengar, tapi itu penting. Pepatah bukan sekadar kembang gula susastra. Dibutuhkan pengalaman pahit untuk memformulasikannya. Dibutuhkan orang yang setengah mati berakit-rakit ke hulu agar tahu nikmatnya berenang santai ke tepian. Dibutuhkan orang yang tersungkur jatuh dan harus lagi tertimpa tangga. Dibutuhkan sebelanga susu hanya untuk dirusak setitik nila. Dibutuhkan seorang Hera yang mencari Herman.
Gadis berumur tiga belas tahun itu favorit semua orang, termasuk aku, sekalipun dia bukan adik kandungku melainkan adik sahabatku. Hera yang manis dan manut. Tak ada pergolakan berarti dalam hidup remaja belasan tahun yang taat kepada orang tua, negara, dan agama.
Sampai satu sore kami bicara-bicara tentang Herman Felany di teras rumahnya; filmnya yang baru kami tonton; kumisnya yang mengagumkan; yang mengilhamiku beserta seluruh teman abangnya membuat kompetisi untuk dulu-duluan menumbuhkan kumis menyerupai Herman. Hera, yang cuma menontoni kami bicara, dengan polos tahu-tahu berujar, dia belum pernah punya teman bernama Herman. Teman-teman abangnya yang lain tidak mengindahkan, kecuali aku. Kusempatkan berbisik di kupingnya: pasti ada di sekolah, kamu cari saja.
Seminggu kemudian, Hera kembali kepadaku dan melaporkan bahwa ternyata tidak ada yang bernama Herman di sekolahnya, bahkan guru-guru sekalipun. Aku cukup tersentak. Ratusan siswa, puluhan guru, tidak ada yang bernama Herman? Budi banyak, Ahmad banyak, bahkan Ludwig juga ada, tapi tidak Herman. Aku jadi tersadar, aku juga tidak punya kenalan bernama Herman.
Hera melebarkan sayap, mencari Herman di lingkungan rumah. Dia mendatangi Pak RT dan Pak Lurah. Tetap tidak ada Herman atau Pak Herman atau Dik Herman. Aku menawarkan RT dan kelurahanku, kami berdua mencari, dan tetap tidak kami temukan Herman. Hera mulai mencari tahu ke sanak saudaranya, teman-temannya, adakah yang kenal seseorang bernama Herman? Ajaibnya, tidak ada. Beberapa orang memiliki unsur Herman atau ke-“herman-herman”-an dalam namanya: Feri Hermansyah, Dudi Hermanto, Indra Hermadi, Hermawan Adi, tapi Hera tak terpuaskan. Dia menginginkan seorang Herman sejati.
Tentu tak setiap hari kami disibukkan oleh pencarian Herman. Waktu berlalu, dan Hera sudah siap lulus SMA. Hera, yang ingin jadi dokter anak, berpamitan akan kuliah di Jakarta. Semoga bertemu Herman! Demikian ucapan terakhirku sebelum Hera naik ke gerbong kereta.
Beberapa tahun kemudian, anak pertamaku lahir. Baru saja kukhayalkan kunjungan kami ke dokter Hera yang cakap, tiba-tiba kudengar kabar Hera drop out. Ternyata, si anak sempurna itu sudah berubah jadi manusia biasa. Katanya, Hera terkenal suka gonta-ganti pasangan. Satu kali, dia kena batunya. Hera hamil di luar nikah. Ironisnya, pengetahuannya sebagai calon dokter gagal menuntunnya untuk berbuat masuk akal. Karena takut diamuk, Hera ke dukun. Perutnya digilas dan digerus. Tak ada janin yang keluar, hanya darah dan kerusakan permanen di rahim. Hera sakit keras lalu terpaksa pulang.
Lama Hera mendekam seperti tahanan rumah. Wajah manisnya berubah pahit sekian lama. Dia lantas dikirim ke beberapa pesantren. Baru setelah dia dinilai sembuh luar dalam, lahir-batin, Hera diizinkan untuk punya cita-cita. Dan Hera memilih terbang. Aku menemuinya saat dia pamit mau ikut pendidikan pramugari. Supaya ketemu Herman di angkasa? Aku bercanda. Hera tertawa, entah itu berarti iya, atau tidak, atau menertawakanku. Seakan-akan pertanyaan tadi langsung mengklasifikasikanku ke dalam kantong sampah bernama “masa lalu” yang ingin ditinggalkannya secepat mungkin.
Pada pertemuan kami berikut, Hera sudah berseragam pramugari sungguhan. Cantik sekali. “Mau terbang sampai kapan, kapan ada niat menikah,” tanyaku. Hera tersenyum setengah mendengus sambil menggeleng kenes, seolah merespons, pertanyaan sekonyol “adakah garam yang tak asin?” Aku mengartikannya sebagai “tidak”. Hera telah bermetamorforsis menjadi perempuan modern yang tak terjangkau ukuran sosialku.
“Sudah ketemu Herman?” tanyaku lagi. Kembali Hera tertawa lepas. Dia lalu bercerita, sejak tahunan lalu dia sudah stop mencari, apalagi menyusuri daftar nama, karena bukan itu yang dia mau. Hera ingin langsung bertemu dengan seseorang, menjabat tangannya, lalu orang itu berkata: Herman. “Kamu membuat pencarian ini tambah susah,” kataku. “Lebih alami lebih seru,” jawabnya mantap. Dan tetap dia meninggalkan nomor telepon, kalau-kalau alam menentukan akulah yang menemukan Herman untuknya.
Tentu tidak kupikirkan Herman setiap saat. Lebih sering aku berpikir tentang Hera. Sahabatku bercerita kalau adik perempuannya itu menjalin hubungan terlarang dengan pak pilot yang sudah beranak lima. “Namanya Herman?” Aku bertanya, karena kalau iya, rasanya aku bisa sedikit maklum. Bukan, namanya Bajuri. Pak pilot Bajuri ini sebentar lagi akan menceraikan istrinya demi hidup tenteram dengan Hera. Tak ada yang memberi restu—termasuk aku, karena nama orang itu Bajuri, bukan Herman.
Semakin sering aku berpikir tentang Hera. Kabarnya, dia keguguran kandungan dua kali, dan akhirnya mogok hamil sama sekali. Tak lama, pak pilot dan Hera bercerai—atau putus cinta saja, tidak kutahu pasti. Hera, yang sudah berkorban pindah ke maskapai lain, tahu-tahu kehilangan pekerjaan karena perusahaannya gulung tikar. Lalu, Hera sekarang di mana? Aku bertanya kepada sahabatku. Di Jakarta, tidak pulang-pulang, mungkin malu, dia sudah tidak pernah sowan dengan bapak-ibu sejak kumpul kebo sama pilot gaek itu, demikian sahabatku menjawab. Biarkan saja, katanya, nasib sialnya itu gara-gara tidak diberi restu.
Tak kusangka, justru akulah yang harus menemui Hera lebih dulu. Sebenarnya, keluarga Hera tahu dia di mana, tapi pura-pura tidak tahu. Hera berdagang kain batik dari pintu ke pintu, sesekali menyambi menjadi sales barang elektronik. Mukanya lelah dan cahaya matanya lenyap diisap kecewa. Saat kutemui, Hera menghabiskan satu jam hanya untuk menangis, dan berjam-jam untuk berkesah dan berkeluh. Lama tak ada yang mendengarkannya. Hera bilang, dia kecewa dengan hidup. Hidup tidak adil. Hidup itu kejam. Hidup itu ini, hidup itu itu… sampai kosakatanya habis. Barulah aku berkesempatan bicara bahwa telah kutemukan Herman untuknya.
Barangkali, itu kabar baik pertama yang pernah dia terima selama bertahun-tahun. Tanpa berpikir, Hera ikut menemui teman mertuaku bernama Ny. Herman. Suaminyalah yang bernama Herman. Tulen, tanpa campuran “to”, “syah”, atau yang lainnya. Ditemukan secara alami, sesuai pesanan. Bukan lihat buku telepon, atau daftar kelurahan.
Akan tetapi, Ny. Herman yang kutemui sebulanan lalu sudah berubah. Tak lagi ceriwis dan murah senyum. Pak Herman baru saja meninggal seminggu lalu. Pergi meninggalkan istri yang tak punya siapa-siapa lagi di dunia, pergi meninggalkan Hera tanpa sempat berjabat tangan dan berkata: Herman. Ny. Herman menangis, Hera menangis, dan aku ikut murung. Seolah, ada dua janda yang ditinggal mati.
Sepulang dari sana, aku tak banyak bicara, hanya sekali sebelum kami berpisah, “Bahkan untuk menemukan seorang Herman buatmu, saya gagal.”
Hera menunduk, dan hampir berbisik kudengar dia berkata, “Abang, dari aku kecil dahulu, cuma Abang yang selalu peduli kepadaku. Dan aku selalu sayang sama Abang, tapi Abang seperti buta. Tolong, jangan lagi mencarikan Herman. Jangan lagi bertanya soal Herman. Karena sebetulnya aku tidak butuh Herman. Aku butuh orang seperti Abang.”
Aku tidak langsung paham arti ucapannya, tapi tanganku refleks menjauh ketika Hera meraih jemariku. Sepertinya, ada yang salah. Dia selalu kukenang sebagai Hera yang mencari Herman. Bukan mencari aku. Segalanya salah hari itu. Kakiku berjalan cepat meninggalkannya, yang lamat-lamat kudengar memanggil namaku.
Sejak hari itu, aku berusaha berhenti memikirkan Hera. Tidak gampang, sungguh. Aku begitu terbiasa memikirkannya. Saat Herman Felany sesekali muncul di televisi, atau kubaca nama Herman di surat kabar, atau bersentuhan dengan segala yang berhubungan dengan Hera, maka kudengar lagi suaranya sore itu, memanggil namaku. Dan betapapun punggung ini ingin berbalik, aku tahu lebih baik untuk terus berjalan. Terus berjalan.
Kini, sering aku bertanya, akankah segalanya berbeda, jika hari itu aku memilih menghadapi Hera dan isi hatinya? Bila aku terus mencarikan Herman bukan itu sesungguhnya berusaha sekalipun yang dia cari? Bila aku berani mengakui bahwa pencarian Herman adalah alasanku untuk sekadar menemuinya?
Seratus hari. Kuselipkan cetakan Surah Ya Sin itu ke dalam tas. Bersalaman dengan sahabatku dan keluarganya seolah untuk kali terakhir. Karena rasa-rasanya, aku tidak akan kuat kembali lagi. Setiap malam selama seratus hari terakhir mataku basah, sejak mendengar kabar duka dari sahabatku tentang Hera yang satu hari pergi dan tak kembali.
Teman Hera yang bersamanya kali terakhir bercerita bahwa dia dan Hera didatangi seorang pria yang tertarik pada wajah Hera dan menawarkannya jadi model iklan. Hera sama sekali tidak tertarik. Dia terima kartu nama yang diberikan pria itu dengan sebelah mata. Namun, setelah beberapa lama, Hera seperti tersadar akan sesuatu. Tepatnya, ketika benar-benar membaca kartu nama tadi. Dia berlari mengejar pria itu, dan tak pernah kembali. Jasad Hera ditemukan dua hari kemudian, tersangkut di tengah jurang. Dibuang dari mobil bernomor polisi Surabaya, demikian keterangan seorang saksi mata. Kubaca berita itu di pojok halaman depan sebuah koran merah.
Sahabatku bahkan sempat menunjukkan kartu nama yang menjadi petunjuk lenyapnya Hera. Saat kubaca nama yang tertera di sana, seketika aku dapat merasakan kaki Hera yang berlari, sekuat tenaga, mengejar satu-satunya impian yang terwujud dalam hidupnya yang bergelimang kecewa, mengajak pemilik kartu nama itu berkenalan sekali lagi. Demi mendengar sepotong nama disebut: Herman.
Kubayangkan wajah cantik itu berseri.
Herman Suherman.
Kebahagiaan Hera pasti berlipat dengan ditemukannya seorang Herman kuadrat, tanpa tahu bahwa satu Herman menggenapinya, tetapi dua dapat membunuhnya.
Aku juga tak tahu itu. Tidak ada yang tahu. Tak ada pepatah yang bisa jadi pemandu. Karena setidaknya, bila kudapatkan seorang Herman terlebih dahulu, Hera masih bernyawa. Dia mungkin ada di rumah ini, menemaniku melewati hari tua. Hingga tak perlu lagi aku berandai-andai tentang apa jadinya hidup memiliki dua cinta. Satu menggenapi, tetapi adakah dua akan membunuhku? Aku tak akan pernah tahu. ***
.
.
Untuk Fanny, yang mencari Herman.
.