Cerpen Vinny Soemantri (Pikiran Rakyat, 30 Desember 2023)
SOROT mata mereka meredup bagai pendar lilin yang hampir padam. Awalnya kami ragu memainkan alat musik kendang pada situasi seperti ini. Beberapa di antara mereka tertidur di kursi tanpa menghiraukan keberadaan kami.
Sebenarnya maison de retraite Les Genevriers adalah rumah jompo ketiga yang kami datangi, dua tahun sebelumnya kami pernah datang menghibur mereka dengan beberapa personel yang berbeda. Meskipun demikian kami diingatkan kembali, bahwa penghuni maison de retraite Les Genevriers sangat berbeda dengan penghuni dua rumah jompo sebelumnya.
Maison de retraite Martres Tolosane di Saint Vidian dan maison de retraite Orelia di Saint Gaudens adalah dua panti jompo yang kami kunjungi sebelum maison de retraite Les Genevriers di Saint Martory, ketiganya berada di Prancis Selatan.
Penghuni panti Orelia dan Tolosane rata-rata sehat dan masih beraktivitas normal, usia mereka berkisar 70 hingga 102 tahun, mudah merespon penampilan kami. Sedangkan panti jompo Les Genevriers penghuninya banyak penderita alzheimer, sulit merespon keadaan di sekelilingnya, ada pula yang stroke dan sakit karena lanjut usia.
Keraguan kembali menyemak, bagaimana mungkin tampil menghibur di hadapan penonton yang kondisinya seperti itu? Apakah mereka akan merespon? Sementara alam pikirnya mengembara di dunianya masing-masing.
Kembali fokus pada pertunjukan, berusaha mengabaikan suasana hati, tugas kami menghibur dan membangkitkan kehangatan di aula panti jompo yang cukup luas. “Semangat, ingat misi kita, ayo tampilkan yang terbaik!” kataku, sebagai anak panggung harus selalu siap dalam situasi apa pun. Setidaknya ucapanku memberi semangat kepada para nayaga dan penari yang sudah kuanggap seperti anak sendiri
Misi sosial ini dilakukan setelah menyelesaikan misi budaya, diawali dari perhelatan akbar Holiday World di Kota Praha, Republik Ceko, setelah itu kami terbang ke Prancis memulai dengan misi budaya acara Journee Indonesie di Kota Martres de Re viere. Acara tersebut pun menggalang donasi pendidikan untuk anak-anak Indonesia yang tidak mampu melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, diprakasai Association les Amis de I’Indonesie.
Sudah menjadi tradisi lembaga seni budaya Manikam Khatulistiwa yang saya dirikan, di dalam setiap kegiatan seni budaya yang diusung selalu diselipkan misi sosial. Diawali penampilan tari merak yang menjadi ikon Kota Bandung, gerakannya energik dengan kostum berwarna-warni. Sayapnya yang lebar dipadupadankan sulaman benang sewama emas terlihat lebih megah, sedangkan mahkotanya di pasang payet dan ornamen senada dengan bajunya.
Musik pun dimainkan, para penari bergerak lincah sesuai irama memamerkan sayapnya yang indah. Vanya dan Ita melakukan gerakan improvisasi mendekati kursi penghuni panti, dan tanpa diduga mereka merespons. Tiba giliran para musisi, Acil meniup sulingnya dengan merdu menjiwai, lalu Uluk sumringah memainkan kendang berirama riang, sementara suara khas kecapi dipetik oleh Enda dengan ekspresif.
Seketika Acil sembunyi di balik pilar, tak kuasa menahan isak tangis.
“Ibu, terima kasih sudah bawa Acil ke tempat ini.” Ia terpancing oleh seorang nenek penderita alzheimer yang rnerespon suara sulingnya dengan tatapan kosong disertai seulas senyum di bibirnya, padahal awalnya ia hanya berdiam diri tidak bergerak.
“Kamu bermain dengan hati, Cil, jadi perasaan mereka tergugah,” jawabku sambil memeluk Acil sejenak dan menepuk pundaknya memberi isyarat agar melanjutkan penampilannya.
Kejadian tak terduga terjadi pada Daniel, pria muda asal Dayak bertubuh kekar dengan tato di tangannya. Ia memainkan sape sambil bernyanyi, terisak halus menahan rasa haru. Daniel sanggup menghidupkan suasana penghuni panti. Chili, salah seorang dari kami mengabadikan setiap momen indah dan haru dalam kameranya.
“Ayo, ganti kostum tari blaktek, kalian tampil lagi setelah Ibu Ken dan Ibu Mega menari,” aku mengingatkan Vanya dan Ita yang turut larut dalam suasana haru, masih mengenakan kostum tari merak. Sebagai anak panggung mereka sudah terlatih mengganti kostum dengan cepat tanpa bantuan. Kurang dari 10 menit mereka sudah kembali dari ruang ganti dengan kostum tari blantek.
“Bravo! Tres joli! Selamat! Bagus sekali!” teriak Carole, seusai pertunjukan tari blantek. Kejutan sepanjang penampilan, mereka bagaikan terbangun dari mimpi.
“Mereka sering dihibur oleh grup lain dari negara ini, tapi tidak pernah melihat sebahagia ini, merci beau coup!” Carole mengucapkan terima kasih berkali-kali seraya memelukku dengan tulus.
Carole, perempuan berusia 48 tahun kepala maison de retrete atau panji jompo kini ada di hadapanku. Dua tahun lalu kami berjumpa di tempat yang sama, bagaikan mimpi Carole ada di hadapanku.
Tersadar tiba giliranku tampil. Sebenarnya aku ingin di balik layar, lebih baik menata acara dan mengurus para seniman saja. Namun karena keterbatasan sponsor, peran ganda pun harus kulakukan.
La Vie en Rose, lagu klasik Prancis yang dipopulerkan Edith Piaf, penyanyi legendaris Prancis, kunyanyikan, lagu tempo dulu semasa mereka masih muda. Seketika aku teringat pada Danny, kakek tua keturunan Spanyol yang pandai bermain harmonika. Danny, kamu di mana? Dua tahun lalu dia memintaku menyanyikan La Vie en Rose.
Menurut cerita Carole, monsuier Danny memiliki dua orang anak yang mapan, ia memutuskan tinggal di rumah jompo dengan kesadaran hati. Secara ekonomi kondisinya terbilang mapan untuk membiayai hidup sendiri di panti jompo dan sebagian mendapat tunjangan dari pemerintah. Semenjak tinggal di rumah jompo berfasilitas bagus dan memiliki kawan senasib, hidupnya lebih bahagia, setidaknya itu yang ia ungkapkan pada penghuni panti. Terkadang anak-anaknya datang menjenguk, Danny tidak mau merepotkan dan ingin hidup mandiri.
“Danny yang manis sudah meninggal dunia sebelum Natal kemarin. Ia pergi saat tertidur, sungguh tak menyusahkan. Kami sangat kehilangan sebab Danny senang menghibur seisi penghuni maison de ratraite,” Carole menjawab pertanyaanku, ketika kutanyakan keberadaan Danny.
Beberapa saat aku terkesiap. Sebenarnya sudah kuduga hal ini terjadi, karena dua tahun yang lalu Danny sudah sangat renta.
Oh, Danny, sebenarnya aku ingin bernyanyi lagu kesayanganmu, dan ingin membelimu potongan koran dari negaraku yang memuat foto kita sedang berdansa dilengkapi berita perjalanan seni dua tahun lalu.
Kupandangi potongan koran yang kuselipkan di tas kecil. Alm terdiam beberapa saat, bening di sudut mataku mengembang. Kunyanyikan La Vie en Rose untukmu, Danny, biarpun kamu sudah tiada, bisik hatiku.
La Vie en Rose, menurut Teh Nelly, kakakku yang membantu mengatur perjalanan kami di Prancis, jika diartikan dalam bahasa Indonesia adalah sebuah perumpamaan untuk hidup bahagia dan berwarna, diibaratkan dengan bunga mawar yang indah. La Vie en Rose kunyanyikan diiringi instrumen tradisi Sunda, membuktikan bahwa Indonesia negara yang kaya budaya.
Tatapan mereka tertuju padaku. Bola mata yang redup berubah menjadi cahaya. Aku yakin, ingatan mereka pada lagu itu menerawang ke masa lalu, entah itu memori roman indah ataukah kerinduan terhadap keluarga.
Tangisku tidak bisa dibendung ketika seorang kakek kesulitan mengeluarkan suaranya ingin bernyanyi saat kusodorkan pengeras suara, bibirnya bergetar dan air mata mulai keluar, tatapannya terbersit sinar bahagia. Lirik La Vie en Rose ia nyanyikan terbata-bata, air mata haru pun kembali mengalir.
Carole berlari kecil menghampiriku dan memelukku lama sekali sambil terisak.
“Terima kasih, kalian sudah membuat mereka bahagia,” ucapnya hampir tak terdengar.
“Carole, aku yang berterima kasih padamu bisa tampil lagi di sini, pengalaman yang berharga.” Kali ini aku menggenggam kedua tangannya sambil kukecup. Perempuan berbola mata biru itu tersenyum dengan sisa airmata.
Pertunjukan yang mengharukan telah usai, maison de reitraite bagai dipenuhi lampu-lampu yang berkilau. Kami anak-anak panggung saling berpelukan penuh kasih.
“Ou est ma chambre? Di mana kamar saya? Di mana?” Seorang kakek berjalan terpongoh-pongoh, tersesat di koridor maison de reitraite menatap kuat padaku. ***
.
.
Prancis, 2019.
(Untuk Acil dan Mega yang telah usai menjalani kehidupan)
.
.