Sesuatu dari Hutan Pengkok

Cerpen Vera Safitri (Kompas, 15 Desember 2024)

DI dalam hutan Pengkok, saat sebuah air mata kemarahan jatuh ke tanah, terjadi sesuatu yang misterius. Tanah yang basah oleh tetesan itu akan menggeliat pelan, dan dari retakannya muncul tunas. Perlahan, tunas itu membesar, berubah bentuk, sampai akhirnya memekarkan makhluk menyerupai sosok manusia—seorang tua renta yang berjongkok di atas tanah dengan tubuh membungkuk.

Sosok itu tumbuh cepat, seperti waktu yang melesat ke depan. Setiap kali amarah atau dendam sang pemilik air mata menguat, sosok renta itu memudakan diri. Kulitnya yang keriput perlahan menegang, rambut putihnya memudar menjadi hitam, punggungnya yang bungkuk tegak kembali. Dalam beberapa waktu, dia berubah menjadi pemuda yang pendiam, matanya gelap dan penuh amarah yang dipendam.

Aku percaya karena kakekku yang mengatakannya. Itu sebabnya setiap aku dan Kakek melewati hutan Pengkok dengan sepeda, kami wajib membunyikan bel tiga kali, lalu menggaruk tubuh sendiri tiga kali juga. Kenapa? Nanti aku lanjut ceritakan.

Suatu hari, pemuda itu muncul di desa. Langkah kakinya tenang, tanpa suara. Tak seorang pun tahu dari mana asalnya. Wajahnya seolah terlupakan di benak mereka sekaligus familier, seperti kenalan lama yang tak bisa diingat nama dan asal-usulnya. Penduduk desa hanya merasakan bahwa ia adalah bagian dari mereka—tanpa tanya, tanpa curiga.

Saat diajak bicara, tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut pemuda itu, seolah ia kehilangan suara sejak dilahirkan. Namun, para penduduk tak merasa ngeri, juga tak merasa penasaran.

“Saat itu Kakek masih kecil. Lebih muda darimu, lebih pintar darimu, lebih tampan darimu.”

Aku ingat bahwa aku memutar bola mataku saat mendengarnya. Kami telah jauh meninggalkan hutan Pengkok di belakang, tapi jalanan masih sunyi dan penuh lubang. Kakek memboncengku dengan sepeda saat dia menceritakan kisah itu. Jalan rusak yang kami lalui membuat suaranya bergetar.

Katanya, seiring berjalannya waktu, penduduk desa mulai terbiasa dengan kehadiran pemuda bisu itu. Ia hanya “ada”—seperti pohon di pinggir jalan atau batu di sungai. Tak berbicara, tak meminta apa pun. Ia melakukan hal-hal yang biasa dilakukan penduduk desa. Namun, tak ada satu penduduk pun yang tahu ke mana pemuda itu kembali saat hari sudah petang.

Waktu berlalu, mungkin beberapa minggu, atau bulan, atau tahun, Kakek bilang ia tak yakin karena waktu terasa panjang, tapi juga singkat dilalui saat kita masih kecil.

Namun, hal aneh mulai terjadi. Beberapa warga desa merasa gatal di kulit mereka. Awalnya hanya sebuah lingkaran merah kecil yang muncul di lengan atau leher, dan mereka pikir itu hanyalah panu atau jamur kulit biasa.

Tak disangka, lingkaran-lingkaran itu semakin banyak dan semakin besar. Rasa gatal berubah menjadi panas yang membakar, dan pada puncaknya, lingkaran itu mulai melepaskan spora. Spora yang halus, menyerupai jamur pada roti kadaluwarsa, tapi lebih menyeramkan. Berwarna hitam pekat dan terus tumbuh hingga menutupi sebagian besar kulit mereka.

Saat keadaan desa mulai riuh itulah, pemuda dari hutan Pengkok itu akhirnya bertemu dengan si pemilik air mata kemarahan yang telah menghidupkannya. Dan pemuda itu, untuk pertama kalinya berbicara.

“Bari, namamu Bari.”

Pohon-pohon yang kulalui mulai berwarna gelap, jalanan mulai bergeronjal. Di sebelah kiri jalan ada kali kecil yang mengalir deras berwarna kuning kecoklatan. Sekira 20 km lagi aku akan melewati hutan Pengkok.

Dia remaja laki-laki berusia 13 tahun. Saat pertama kali Bari dan ibunya pindah ke desa itu bertahun-tahun lalu, pipinya tembam dan betisnya bulat. Kedua matanya punya sorot mata bocah kota. Orang bilang mereka tadinya tinggal di Bogor. Orang bilang ayahnya dibunuh orang, tapi ada juga yang bilang ia bunuh diri. Tak begitu pasti. Tapi sejak itu, Bari dan ibunya pindah ke desa itu, menempati rumah warisan kakak dari nenek ibunya. Sebuah harta berharga yang diam-diam jadi sandaran terakhir mereka.

Bari yang kini bertemu dengan pemuda dari hutan Pengkok itu sudah tidak lagi tembam dan betisnya sudah tidak lagi bulat. Sorot matanya bahkan jauh lebih menyedihkan dari semua bocah di desa itu.

Sejak dia menemukan ibunya duduk terdiam dengan tatapan kosong di pojok dapur rumah mereka. Bari seperti dihinggapi parasit, badannya mengecil, suaranya melemah, langkahnya makin cepat seolah ingin lari ke suatu tempat. Dia tahu sesuatu terjadi pada ibunya. Sesuatu yang cukup besar untuk mengubah kehidupan mereka berdua.

Ia ingat, hari itu, saat membuka pintu rumahnya, seluruh ruangan penuh bau asap rokok. Tapi tak ada perokok di rumah itu. Hal ini membuat Bari berpikir bahwa rumahnya baru saja kedatangan tamu. “Mungkin laki-laki,” pikirnya.

Namun, saat memasuki rumahnya yang tak perlu lebih dari 10 langkah untuk ditelusuri itu, ia menemukan ibunya duduk di pojok dapur, hanya mengenakan kaus oblong dan celana dalam.

Sejak saat itu, ibunya hanya bisa makan, tidur, dan buang air besar. Seolah-olah sebagian dari dirinya telah pergi, meninggalkan cangkang kosong yang hanya bertahan hidup karena kebiasaan. Pernah ibunya memasak, tapi itu hanya sekali. Setelah itu, semua kembali seperti semula—hanya diam dan kosong.

Bari pernah bekerja di toko bangunan, tapi tak lama kemudian berhenti. Pekerjaan itu tak cocok untuknya. Tak ada yang bisa menjaga rumah, tak ada yang bisa merawat ibunya, jadi dia beralih menjadi buruh tani serabutan, mencari rumput pakan ternak, memetik sayuran, dan sesekali mencari bekicot untuk dijual ke warung. Pekerjaan ini lebih cocok untuknya, bisa pulang sewaktu-waktu, lebih fleksibel.

Hingga suatu hari, ia menemukan ibunya dicengkeram oleh seorang laki-laki di dalam rumah mereka. Mendadak seluruh dunia menghilang dari pandanganya. Hanya ibunya dan pria itu yang bisa dia lihat. Bari berlari mengayunkan arit yang dia bawa ke pinggang lelaki itu. Darah mengucur. Lelaki itu berbalik, meneriakkan sesuatu, mengatakan sesuatu, tetapi seketika Bari tak bisa mendengarnya. Seperti suara dari dalam mimpi yang tidak dia pahami.

Tanpa diduga, seorang lelaki lain muncul dari dapur mereka, lalu satu orang lagi, lalu satu orang lagi, lalu satu orang lagi, lalu satu orang lagi, lalu satu orang lagi. Bari mengayunkan aritnya. Mereka mundur sedikit-sedikit. Dunia perlahan muncul kembali di pandangannya. Bari kini sadar, para lelaki yang dia hadapi itu adalah tetangganya. Darah dari pinggang lelaki itu terus mengucur dan dia mulai berteriak kesakitan. Langkahnya gontai dan dia mulai berlari pergi. Mereka berlari pergi.

Di samping kiri jalan yang aku lewati adalah hutan Pengkok itu. Hawanya sejuk, anginnya tenang. Tanahnya hitam gelap, terlihat lembab meski dilihat dari balik kaca mobil. Aku membunyikan klakson mobilku tiga kali. Lalu menggaruk tubuhku tiga kali juga. Kenapa? Nanti aku lanjut ceritakan.

“Hanya kau yang tahu siapa aku,” kata pemuda dari hutan Pengkok itu.

Bari tak menatap mata pemuda itu. Kakinya melangkah mundur sedikit. Pemuda itu tahu sesuatu terjadi di kepala Bari. Dia juga tahu bahwa ini bukan pertama kalinya Bari melihat pemuda dari hutan Pengkok itu.

Selama ini Bari memang memperhatikannya. Tak seperti penduduk lain, pemuda itu tak familier bagi Bari dan keganjilan yang ada padanya membuat Bari penasaran.

Bari menggenggam karung berisi sedikit rumput dan arit yang dia bawa, menjatuhkannya ke tanah.

“Apa semua ini ulahmu?”

“Ini ulahmu,” kata pemuda itu.

Bari menatap mata pemuda itu, dia juga menatap keningnya, menatap lehernya, menatap pundak pemuda itu, lalu kembali lagi ke matanya.

“Bagaimana bisa ini ulahku? Aku hidup seperti biasa, bekerja seperti biasa, aku juga tidak punya kekuatan apa-apa. Bagaimana bisa itu ulahku?” ujar Bari sambil gemetar. Ia tahu dirinya takut, juga ragu, dan tidak sepenuhnya percaya dengan semua yang barusan dia lontarkan.

Keheningan yang terjalin di antara mereka terasa tegang, dan Bari merasakan sesuatu yang aneh menyusup ke dalam pikirannya.

Setelah beberapa saat, pemuda itu berbicara lagi, lebih pelan, lebih lembut.

“Amarahmu, Bari,” kata pemuda itu, “adalah apa yang menghidupkan aku. Kau yang memanggilku dari dalam tanah.”

Bari terdiam, jantungnya berdegup kencang. Ia ingat sebuah malam di mana ia berencana untuk membunuh para lelaki yang ia temui hari itu. Namun, keberaniannya tak sebanyak kemarahannya. Menyadari hal itu membuatnya semakin marah.

Bari tak sadar melangkahkan kakinya masuk ke dalam hutan Pengkok. Ia terduduk menenangkan kakinya yang gemetar karena takut. Sebenarnya, Bari takut sekali. Rasanya seperti semua tempat di bumi ini sudah tak cocok lagi untuknya. Ia ingin pergi jauh ke dalam kepalanya, kepada kenangan akan ayah dan ibunya, kepada perasaan bahwa ia tak sendirian. Di malam itulah Bari menangis, sejadi-jadinya.

“Jika kau ingin aku kembali,” lanjut pemuda itu, langkahnya maju mendekati Bari, “kau harus memaafkan kemarahan yang ada di hatimu.”

Bari merasa air matanya menggenang di sudut matanya. Dadanya terasa sesak, seolah sesuatu di dalamnya berusaha keluar. Ia menatap tanah di bawah kakinya, mencoba mencari jawaban di sana, namun yang ia temukan hanyalah bayangan kesedihan dan kemarahan.

Ia menengok ke rumah Pak Bandi yang ramai. Selain warga yang ingin menonton penyakit aneh itu, ada wartawan dan para dokter yang ikut mencari tahu tentang penyakit itu. Pak Bandi adalah salah satu dari beberapa warga yang mengidap penyakit kulit mengerikan. Bari bisa mendengar napas Pak Bandi yang tersengal dari tempatnya berdiri. Pada hari yang tak bisa ia lupakan itu, Pak Bandi adalah salah satu yang ada di rumahnya.

Bari menunduk, merasakan air mata yang akhirnya jatuh membasahi pipinya. Kemarahan menghantam hatinya berkali-kali.

“Aku tidak bisa memaafkannya, tidak akan,” katanya.

Dan seolah-olah terhubung langsung dengan kemarahan di hati Bari, pemuda di depannya mulai berubah. Awalnya, perubahan itu hanya terasa samar. Garis-garis halus di wajah pemuda itu mulai memudar. Kulitnya yang tadinya terlihat seperti lelaki matang, sekarang tampak lebih halus, lebih segar.

Bari menyaksikan dengan kengerian yang semakin besar. Tubuh pemuda itu semakin mengecil, wajahnya semakin muda, hingga akhirnya mereka berada dalam rentang usia yang sama.

Mata Bari terkunci pada sosok pemuda itu yang kini tak berbeda jauh darinya. Wajah pemuda itu kini memiliki fitur-fitur yang lebih lembut, tapi tetap misterius. Rahang yang tadinya kokoh kini lebih tirus, seakan hidup baru sedang merajut kembali dirinya dari awal.

Bari menelan ludah, tubuhnya terasa lemah. Suara sengal napas Pak Bandi makin mengeras. Bari gemetar ketakutan. Saat hendak berlari, telapak kakinya tak sengaja mengenai arit yang ia jatuhkan tadi. Ia pun berlari menjauh sekencang-kencangnya, dengan luka menganga di telapak kakinya.

Sedangkan menggaruk tubuh tiga kali adalah simbol memohon perlindungan agar segala perbuatan jahat yang pernah kita lakukan selama hidup tak berubah menjadi kutukan.

Kakekku meninggal tadi pagi. Sepanjang perjalanan menuju ke rumahnya, aku mengingat kisah itu, lalu menceritakannya lagi kepadamu. Dia bilang, membunyikan bel saat melewati hutan Pengkok adalah penanda agar pemuda itu kembali ke asalnya. Sedangkan menggaruk tubuh tiga kali adalah simbol memohon perlindungan agar segala perbuatan jahat yang pernah kita lakukan selama hidup tak berubah menjadi kutukan.

Kini aku memandangi wajah sang pengisah itu terbaring di meja pemandian. Aku menyiramkan air hangat ke tubuhnya pelan. Mengusap lembut kulitnya dengan sabun, mulai dari kulit kepala sampai bekas luka di telapak kakinya. ***

.

.

Vera Safitri, penulis buku anak, editor lepas. Menulis esai di detik.com, Solopos, Tribun Jateng, Majalah Basis, dll. Saat ini bekerja di cnnindonesia.com

Made Ruta, lahir di Gianyar pada 31 Desember 1962. Ia menyelesaikan pendidikan S-1 Seni Rupa di ISI Yogyakarta (1988) dan S-2 Kajian Budaya di UNUD Denpasar (2005). Sejak 1993, ia menjadi dosen tetap di ISI Denpasar. Made Ruta telah meraih penghargaan, termasuk Penghargaan Sketsa Terbaik dari STSRI Yogyakarta (1982) dan “Pratisara Affandi Adhi Karya” dari STSRI Yogyakarta (1985).

.

.

Sesuatu dari Hutan Pengkok. Sesuatu dari Hutan Pengkok. Sesuatu dari Hutan Pengkok. Sesuatu dari Hutan Pengkok. Sesuatu dari Hutan Pengkok. 
Arsip Cerpen di Indonesia