Cerpen Warih Wisatsana (Kompas, 08 Desember 2024)
SUDAH lama ia menduga batuk yang berulang menderanya bukanlah penyakit biasa. Sejenis virus langka diam-diam menyelinap ke saluran pernapasan dan membuat tenggorokannya serasa disayat nyeri berkali.
“Radang sialan,” demikian sungutnya. Demam yang juga merundung tubuhnya tak kunjung hilang meski bertubi-tubi antibiotik yang diresepkan dokter telah ditelannya. Namun, sebagaimana hari-hari sebelumnya, kami bertiga tak sepenuhnya percaya atas batuk menahun yang dikeluhkannya. Bahkan, Teguh, si pendiam yang tak pedulian dan sering tersenyum sendiri itu, malahan menduga bahwa Aluk sengaja mengulum merica atau pecahan cengkeh agar dirinya tersedak. Lalu, ia pun terbatuk-batuk….
Begitulah prasangka itu terus hidup dalam kepalanya. Bahkan, Teguh sering mengatakan batuk-batuk Aluk membuat peluh dingin deras menetes dari keningnya yang pias.
Aku sendiri terhanyut dalam sangsi. Memang, Aluk batuk, tetapi bukan karena sakit radang kronis atau demam yang menahun, melainkan gangguan pikiran juga perasaannya yang melodramatis sekaligus psikosomatis. Sementara Nia Molehyanti, satu-satunya kawan perempuan di permukiman kami, meski sering menggerutu, selalu sigap mengulurkan segelas air putih kepada Aluk kalau ia terbatuk-batuk. Barangkali juga lantaran pandangan bening mata Nia itulah seketika batuk Aluk terhenti. Selalu begitu. Seringkali membuatku cemburu….
Demikianlah cerita kami setiap pagi. Bertemu di ruang yang sama, di meja makan yang itu-itu juga dan anehnya kami selalu memilih tempat duduk yang sama. Lalu bercakap-cakap aneka hal; dari suara cicak bercinta yang mengganggu tidur kami semalaman; jendela kamar diketuk orang dini hari; atau gaduhnya anak-anak di seberang jalan ketika akan berangkat ke sekolah. Percakapan kami ditingkahi perbantahan yang terkadang jadi seru, lalu diakhiri oleh sentakan batuk Aluk. Sialan memang!
Entah kenapa pula perbincangan kami berputar-putar sekitar itu-itu saja. Sesekali, aku menyadarinya dan berupaya mengalihkan perhatian mereka ke kisahan lainnya. Akan tetapi, akhirnya selalu bermuara ke cerita dahulu kala yang sama: bagaimana banjir besar melanda kampung kelahiran Nia puluhan tahun lalu. Ibunya hanyut bersama kedua kakak lelakinya, hilang digulung pusaran deras arus sungai yang meluap tiba-tiba. Walau sempat terseret, Nia akhirnya selamat. Tubuh mungilnya tersangkut juluran akar-akar pohon di tepian yang seolah telah bersiap merengkuhnya. Namun, cerita yang beredar, Nia diselamatkan seorang kakek.
Teguh sesekali menyela dengan nada heran seperti kemarin, bahwa kakek yang menyelamatkan Nia itu sesungguhnya adalah samaran mambang penghuni lubuk sungai. Nia diam saja, rekah bibirnya seperti mengiyakan. Lalu kami pun larut saling membantah dan menyanggah, berujung gugatan yang tak pernah ada jawabannya itu: bagaimana bisa belum genap seratus hari ibunya Nia hanyut, bapaknya tega kawin dengan adik istrinya sendiri, yang artinya bibi Nia?! Minta ampun….
“Bapakmu pasti ganteng, Don Juan, ya?” sela Aluk antara menyelidik dan merajuk nadanya, lalu diiringi batuk.
Meskipun sering mengusut tingkah polah bapaknya yang berlebihan dan durjana itu, kami mencoba menahan diri. Tak bertanya berkali kenapa Nia memilih tidak menikah, sebatang kara menjalani hari-hari hingga berakhir di tempat ini, hidup di sini bersama kami.
Begitulah, bila percakapan kami kian tak masuk akal. Bila Aluk mulai terbuai haru atau cemburu pada Nia yang ganjil. Teguh gelisah tentang hakikat nasib yang mempertemukan kami, seraya berulang bertanya apa arti masa depan. Atau saat mata Nia berkaca-kaca kemudian terisak, aku segera menukas perbincangan. Mulai mengisahkan pengalaman masa lampauku berpuluh tahun lalu; jadi pelakon sandiwara di panggung sungguhan.
Sambil menggeser kursiku agar lebih fokus di tengah, dan tepat di mana cahaya matahari menerobos masuk, cerita seruku pun mengalir. Suaraku bergetar, “Bukankah kita dipertemukan di sini oleh lakon sandiwara masing-masing?!” tanyaku memulai. Teguh, Aluk, dan Nina tampak tak sabar.
Beginilah lanjut kisahku. Pada masa muda dulu, awal tahun 1980-an kehidupan kesenian di Bali sedang gayeng oleh perhelatan tahunan lomba drama modern yang diadakan oleh sebuah kampus. Ada banyak kelompok, sanggar, dan grup teater yang terlibat, termasuk pula peserta dari berbagai perguruan tinggi di Bali.
Sahabatku, penyair lepasan sebuah institut kesenian di Jakarta, Esdi Abba, entah kenapa begitu yakin memberi peran sebagai kepala kantor kepadaku. Sudah kusampaikan berulang kepadanya, bahwa aku belum pernah sekalipun bermain teater, bahkan naik panggung untuk keperluan apa pun. Akan tetapi, ia tak goyah, tetap yakin bahwa aku paling pas bermain sebagai kepala kantor yang culas, sesuai karakter wajahku yang tirus.
“Ahh, jangan-jangan karena ia tahu bahwa kamu sungguh mengagumi puisi-puisinya,” cetus Aluk. Rupanya hafal benar ia dengan dugaanku yang pernah kusampaikan dahulu. “Atau mungkin lantaran tak ada orang lain yang mau sebagai figuran, selintas saja tampil di panggung,” sergah Teguh terkekeh.
“Bayangkan saja,” bisik serakku, sambil menatap Aluk, Teguh, dan Nia. “Bagaimana seseorang pada suatu hari terbangun dari tidur tiba-tiba menyadari dirinya telah berubah menjadi sesosok makhluk mengerikan”. Mata Nia masih berbinar meski mulai nanar. Sementara Aluk bibirnya mulai terbuka menganga, Teguh senyum sekilas cemas.
Melintas dalam ingatanku kini kejadian di atas panggung dengan tata lampu yang membayang remang. Ya, ketika aku mengetuk kamar itu, lalu begitu saja pintu terbuka, seketika aku terperanjat menyaksikan bahwa tubuh karyawanku menggelepar-gelepar di ranjang. Sekian puluh tentakel, lengan-lengan gurita terulur liar dari tubuhnya, menggapai-gapai hendak meraihku.
Berulang Esdi Abba mengingatkan dalam latihan, “Gunakan imajinasimu, ikuti absurditas ini. Berhenti bernalar mencari jawab lakon ini sebagai peristiwa biasa. Ini pergolakan batin—hayati saja, jangan banyak tanya. Coba hirup udara ruang ini seakan penuh bau amis.”
“Lalu setelah pintu itu terbuka, dan lengan-lengan gurita itu menggapai-gapaimu, bagaimana selanjutnya? Apakah kamu terjerat, lalu bergulat untuk melepaskan diri?” tanya Aluk penuh ingin tahu, berseling dengan tanya Nia yang hampir serupa.
Seturut perintah sang sutradara, setelah adegan ketuk pintu, aku tunggang-langgang melompat keluar panggung seraya berteriak, “Ini kutukan, ini dosa turunan”. Aktor pemula itu menghilang dari tengah penonton, hanya gema suaraku terdengar sayup menjauh.
Ruang tempat kami berkumpul seketika hening. Bukan hanya Nia, Aluk dan Teguh rupanya tercekam juga adegan terakhirku itu. Kuyakin suaraku masih memukau sewaktu menirukan pekikan ketakutan di atas panggung dahulu.
Begitulah kami mengulang hari demi hari selama bertahun-tahun. Aku tak begitu tahu mengapa setiap kali menceritakan masa lalu, selalu adegan berakting itu yang nongol. Apakah kini hidup ini semua soal bagaimana berakting dengan baik, untuk bersiasat dengan usia?
Setelah itu, kami kembali ke kamar masing-masing. Bersiap menyambut peristiwa penting. Selalu tidak jauh beda seperti akhir pekan sebelumnya. Sebentar siang hingga petang pasti akan berdatangan tetamu entah dari mana. Membawa bungkusan ini dan bingkisan itu, lalu meminta foto bersama dengan wajah kami yang diarahkan tampil sepenuh semringah.
“Karunia Semesta”, begitu seru kami kepada siapa pun yang bertanya, kenapa kami dipertemukan di sini, di rumah yang dulu teduh dan indah itu. Rumah yang sebenarnya bagiku kian terasa kusam dan menjemukan.
Ya, rumah ini memang kini begitu menyedihkan. Pohon-pohon membesar mengepung sekitar, menjulang dengan dahan dan ranting tanpa dedaunan. Lebih menakutkan lagi, akar-akarnya merayap menerobos permukaan bumi, meretakkan sebagian dinding kamar kami.
Sejak menyadari itu, sejak ketukan dini hari di jendela kamar semakin menjadi-jadi, kuyakini ketetapan hatiku. Terlebih lagi, terang kenangan sering kini membayangi, bagaimana menyenangkannya berlatih drama dahulu kala itu.
Sekelebat ingatan, ketika kami memperdebatkan keganjilan tokoh-tokoh dalam naskah drama tersebut. Melahirkan sekian pertanyaan hakiki, perihal sangkan-paran kehidupan, yang tak sepenuhnya dapat dijawab, bahkan hingga usiaku setua ini.
Maka sepagi ini, sebagaimana tekadku bermalam-malam merencanakan ini semua, aku sudah bersiap di seberang jalan. Begitu bus sekolah berhenti, dan anak-anak berlomba memasukinya, segera pula aku menyusup menyelinap bersama para ibu yang turut menghantar mereka.
Sewaktu bus mulai bergerak, anak-anak serentak bersorak. Sukacita benar mereka, sepanjang jalan bercakap dan bernyanyi, demikian pula para ibu.
Aku duduk di bagian kanan, tepat di sisi jendela. Seorang ibu muda di sebelahku, anak lakinya terlihat termangu, tak bersuara apa pun. Pandangnya jauh ke depan, terpusat sepenuh ke depan seperti tatapku kini pada pemandangan di luar jendela sana.
Bus melaju. Pohon-pohon, rumah-rumah warna-warni berkejaran, kian samar menjauh. Seiring ingatanku datang bergantian, sekian kenangan berduyun berdesakan. Rumah Wreda Rahayu yang kutinggal, bersisian gema batuk Aluk dan suara rajukan Nia.
Perlahan mulai membayang pula di jendela, wajah kedua anak lelakiku. Suatu petang mereka mengantarku ke bangunan yang kukira indah itu…. Mereka berjanji kembali, namun ternyata tak kunjung datang lagi….
Tersadar oleh suara teguran, bus ternyata telah kosong, tak ada anak-anak, tak ada siapa pun. Sungguh, seketika itu aku nanar, tak tahu akan ke mana dan lupa siapa nama diriku sebenarnya.
“Bapak akan ke mana, nama anak Bapak siapa”. Begitu berulang. ***
.
.