Puisi-puisi Fileski Walidha Tanjung (Majalah Sastra Pusat Edisi 29/2024)
LADANG YANG LUPA NAMA
.
Dulu, cangkul itu bernyanyi seperti pagi,
menyulam tanah jadi lumbung doa.
Kini, ia berkarat di sudut rumah mewah,
tanpa mau merasakan terik sang surya
.
Kita tinggalkan padi,
merantau dalam janji kota-kota besar,
menukar lumpur dengan beton,
menyulam rembulan dengan benang buatan asing.
.
Desa kini bertopi emas,
tapi sawahnya kosong,
menunggu nafas yang tak pernah kembali.
.
Anak-anak kita tak kenal ladang,
tak mengerti harum jerami.
Mereka lebih hafal merk-merk branded
daripada isyarat hujan.
.
Siapa yang akan menanam waktu
ketika akar lupa pulang?
Siapa yang akan memanen cinta
ketika rumah hanya jadi pajangan foto di masa bujang?
.
Di sini, kita kaya dalam hampa,
kesenjangan tumbuh seperti rumput liar,
dan ladang itu, ah,
telah melupakan nama kita.
.
2024
.
.
.
TUHAN KITA ADALAH ANGKA-ANGKA
.
Di altar logam, mereka sujud,
menyebut nama Tuhan yang tercetak angka.
Keringat menjadi pajangan,
keringnya harga diri menjadi persembahan.
.
Dosa dilipat seperti surat kontrak,
disegel janji palsu,
dan diarak di jalanan pasar.
Orang-orang menjual jiwa,
menawarkan hati dengan senyum plastik.
.
Di ruang rapat, meja-meja berbisik:
“Berapakah harga sebuah kejujuran?”
Di trotoar malam, tubuh-tubuh melangkah:
“Berapa nilai sebuah kehormatan?”
.
Uang, pahlawan dalam dompet,
menumbangkan iman di medan akuntansi.
Kebenaran adalah komoditas,
laku keras di lelang angan-angan
.
Dan ketika langit menghisap nafas terakhir,
hanya sunyi yang tak dijual
dalam hiruk-pikuk dunia yang hilang akal.
.
2024
.
.
.
ANAK-ANAK YANG TERPERANGKAP LAYAR
.
Mereka lahir dari pelukan algoritma,
dibesarkan oleh jari-jari yang mengetuk hampa.
Sekolah hanyalah jeda,
sebuah ruang yang tak pernah mereka masuki
karena dunia sudah terlipat dalam layar kaca.
.
Ponsel itu, ibu kedua
yang tak pernah memeluk,
hanya mengisi kekosongan
dengan cahaya dingin dan suara asing.
.
Orang tua, sibuk membangun istana dari waktu,
tapi lupa menganyam selimut kasih sayangnya.
Di meja makan yang sepi,
anak-anak bercakap dengan game,
memanah mimpi mereka sendiri.
.
Mereka tidak bolos sekolah,
tapi tersesat di labirin maya,
menempuh level-level yang tak ada ujungnya.
.
2024
.
.
.
SURGA YANG SEMPIT
.
Mereka berjalan dengan kitab-kitab di tangan,
menyandang kata suci di dada,
tapi tak membawa cinta di hatinya.
Lidahnya sebilah pedang,
mengiris perselisihan dan melantangkan bara
.
Di bawah langit yang satu,
mereka mendirikan tembok-tembok
dari doa yang melupakan makna.
Pintu surga dijadikan piala,
hanya untuk dipamerkan,
bukan untuk seluruh umat manusia.
.
Mereka mabuk dalam bayang-bayang dogma,
mengira iman adalah senjata,
bukan sebagai lentera.
Padahal Tuhan tak butuh tentara.
.
Di tengah gaduh keyakinan,
senandung toleransi pun terdiam,
tak lagi punya rumah
dalam relung jiwa-jiwa yang sempit.
.
2024
.
.
.
CERMIN YANG LUPA WAJAH
.
Di pesta-pesta layar, mereka menari,
mengenakan topeng dengan kilauan palsu.
Kebahagiaan adalah sorakan penonton,
bukan nada yang tumbuh dari dalam jiwa.
.
Mereka menjahit tawa di pakaian mahal,
memahat senyum di foto berfilter,
tapi menangis dalam sunyi,
karena bahagia telah menjadi sandiwara.
.
Haus, selalu haus,
pada pujian yang tak mengisi jiwa.
Cermin menjadi altar,
memantulkan bayang-bayang yang lupa wajah.
.
Di dunia yang congkak ini,
kemanusiaan terjatuh di tepi panggung.
Tak ada lagi tangan yang saling menggenggam,
hanya bertepuk untuk diri sendiri.
.
Dan ketika layar mati,
apa yang tersisa
selain kehampaan yang ditinggalkan cahaya.
.
2024
.
.