Lelaki Tua di Dalam Karung

Cerpen Adam Gottar Parra (Koran Tempo, 01 September 2024)

BERAWAL dari sepucuk surat yang dikirim Bibi saya, yang meminta saya datang ke Bulago.

“Datanglah, kapan pun kamu sempat, tahun ini, atau tahun depan, tapi lebih cepat lebih baik, siapa tahu kamu masih bisa berjumpa dengan kakekmu, yang kini sudah berusia 100 tahun,” tulis Bibi Maryam Jasmine Asghar, yang kini tentu sudah menjadi penghuni makam di Talibo.

Setelah mengusap sudut mata yang basah (Termasuk seluruh penghuni rumah juga ikut menangis), saya melanjutkan membaca surat yang ditulis 39 tahun lalu itu dengan suara bergetar, “Setibanya di Stasiun Besar Bulago, kamu melanjutkan perjalanan dengan naik Trem ke Distrik Milosa (beli karcis di samping kanan gerbang stasiun. Hati-hati banyak calo dan copet, yang penampilannya sulit dibedakan. Jaga barang-barangmu!),” pesannya dalam tanda kurung.

Ia melanjutkan, “Keluarga kita tinggal di Magola, di belakang toko roti Baba Rum. Tanyakan kepada Kupta, si penjaga toko. Jelaskan kalau dirimu adalah cucu Syekh Fawzi Ali. Lelaki botak tanpa bulu alis itu akan mengantarkanmu ke tempat persembunyian keluarga kita, di sebuah ruangan bawah tanah, di bawah lapangan volly yang kini sudah ditumbuhi semak belukar, yang terletak di ujung sebuah gang sempit yang hanya cukup untuk dilalui sepeda dan keledai (sepeda motor tidak bisa lewat di sini karena di beberapa tempat di sepanjang lorong terdapat kubangan air dari limbah rumah tangga. Kalau sepeda ontel masih bisa diseberangkan dengan cara diangkat oleh pemiliknya. Sedangkan para pejalan kaki, khususnya perempuan dan anak-anak, harus bersedia turun ke parit. Para lelaki dewasa biasanya akan melompat, meskipun tidak jarang terpeleset dan jatuh, serta nyebur ke lumpur,” tulis Bibi Jasmin, yang memang senang bercerita itu.

Saat di madrasah dulu, kata Ibu saya suatu ketika, Bibi Jasmin pernah menjuarai lomba bercerita di sekolah. Ketika bercerita, mimik dan intonasinya menyatu. Ia bisa mengubah suaranya seperti suara laki-laki atau meniru suara binatang, padahal saat itu usianya belum genap 11 tahun. Ia juga akan menangis sampai keluar air mata saat menceritakan sesuatu yang sedih, kata Ibu saya mengenang adik perempuannya yang kemudian menjadi anggota tentara perempuan, di bawah pimpinan suaminya, Jend. Farid Asghar.

Saya lanjutkan membaca surat Bibi Jasmin, “Disebabkan oleh kondisi jalan yang rusak berat, terputus-putus oleh genangan air, warga setempat, khususnya anak-anak sekolah, akan selalu memakai sepatu boots saat melewati lorong,” tulisnya dengan nada prihatin.

“Memang, pihak Pemerintah Kota telah berkali-kali mengupayakan alat penyeberangan berupa jembatan dari balok-balok kayu. Tapi jarang bertahan lama, karena akan segera dicuri oleh warga, untuk dibuat menjadi perabot rumah tangga, atau kayu bakar sekaligus api pendiangan saat menghadapi musim dingin oleh mereka yang kehabisan persediaan batu bara. Maklum, ratusan keluarga yang bermukim di dekat danau di Distrik Milosa, sebagian besar adalah para pengungsi dan imigran gelap, yang hidupnya sangat miskin, dan bertahan hidup dari bantuan internasional dan pemerintah setempat. Selebihnya adalah bekerja serabutan, sebagai tukang cuci piring di restoran, petugas kebersihan, atau pedagang kakilima di kawasan kumuh Bozzinna. Dan, hampir semua keluarga di sini keadaannya kacau balau, perempuan dan laki-laki tidur numpuk dalam satu tenda atau kolong jembatan,” tulis Bibi, kehabisan tinta, lalu melanjutkan kalimat-kalimatnya dengan tinta merah.

“Maaf, Bibi kehabisan tinta, sehingga terpaksa pakai tinta merah. Semoga matamu tidak terganggu, Igfar sayang…” tulisnya. Tujuh baris berikutnya tidak terbaca, tulisannya tinggal potongan-potongan kata dan huruf. Air hujan di atas pelana kuda telah menghapus kalimat-kalimat Bibi dalam suratnya.

Pada alinea berikutnya Bibi menulis, “Ah, kenapa Bibi bercerita soal ini, padahal tujuanku hanya meminta kamu datang, menengok keluarga kita, yang kini makin tidak menentu akibat perang yang tak berkesudahan. Masjid-masjid dibakar, pertokoan dijarah, rumah-rumah penduduk diratakan dengan tanah, oleh mereka yang mengklaim dirinya sebagai wakil Allah di bumi, sehingga merasa berhak melakukan apa saja terhadap orang lain yang dianggapnya kafir,” tulis Bibi dengan nada kesal.

“Karena tidak kuat menghadapi tekanan sedemikian rupa, kami pun terpaksa mengungsi dari kota ke kota, atau negara tetangga yang juga sedang berkonflik, sembari menunggu kabar burung dari PBB, tentang nasib kami yang kian terpuruk dari waktu ke waktu, sehingga ratusan orang terpaksa mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, karena tidak sanggup lagi menanggung beban hidup yang sangat berat, dari hidup normal dan berkecukupan menjadi gembel yang minum air kali. Keadaan itulah yang membuat jembatan darurat dari kayu tidak pernah bertahan lama,” tulis Bibi Jasmin panjang-lebar, seperti seorang pengarang. Tetapi, sesungguhnya Bibi tidak sedang mengarang karena yang diceritakannya sebuah kenyataan.

Ia melanjutkan, “Saat menulis surat ini, kami sedang bersiap-siap untuk pindah, mungkin ke Bolara. Di bekas lapangan volly, yang menjadi atap ruangan bawah tanah, sudah menunggu dua ekor keledai, yang akan mengangkut barang-barang bawaan kami, juga barang-barang peninggalan ibumu yang masih tersimpan dalam peti kayu. Dua keledai tua yang nyaris dimusnahkan oleh pemiliknya, karena sudah tidak produktif lagi bekerja di tempat penggilingan gandum itu, kami peroleh dengan harga murah. Kami menukarnya dengan segenggam batu permata murahan, yang kami bawa dari rumah saat meninggalkan kampung halaman kita di Honara tempo hari.”

Sampai di sini, isi surat Bibi Jasmin mulai kacau balau dan melompat ke mana-mana; tentu akan membuat Anda bingung dan tak konsentrasi mendengarnya.

“Setelah ledakan demi ledakan terdengar seperti bunyi letupan biji sorgum yang digoreng tanpa minyak di dalam kaleng (seperti yang kita alami di tempat pengungsian di pinggir sungai waktu itu, pada malam ketika kamu tiba-tiba menghilang dari kemah…), kami sampai sekarang belum mengetahui secara pasti perihal sebab musabab kepergianmu yang sangat mendadak itu. Apakah kamu ditangkap atau kamu sendiri yang memilih kabur, karena tidak sanggup lagi menanggung beban hidup yang sangat berat di tempat pengungsian, yang lebih buruk daripada nasib binatang, jangankan tidur, untuk kencing dan berak pun kita harus membungkus kotoran sendiri dengan kantong keresek yang dijatuhkan dari helikopter,” tulis Bibi dengan nada getir.

Pada bagian ini, seluruh penghuni rumah menangis terisak-isak membayangkan nasib kami pada waktu itu.

Saya melanjutkan, “Tetapi, menurut cerita segelintir orang yang melihatmu terakhir kali, apakah cerita itu benar atau karangan semata (meskipun kami sangat yakin bahwa cerita itu benar; tak ada untungnya juga mereka hendak membohong kami, yang sudah menderita ini), katanya, kamu diajak pergi oleh seorang perempuan berseragam.”

Maksud Bibi adalah Chelsea, wanita yang kini menjadi istriku.

“Hanya itu kabar yang kami ketahui tentang kamu,” tulisnya dalam surat yang kertasnya telah menguning itu.

Di halaman berikutnya Bibi Jasmin menulis, “Igfar… Setelah memperoleh dua ekor keledai itu, kami sedang mencari waktu yang tepat untuk berangkat, kemungkinan di malam hari, ketika tentara Sabilillah sudah meninggalkan lorong-lorong kota. Kami akan menyamar sebagai pedagang keliling, yang hendak memasarkan barang ke desa-desa terdekat. Tentu kami akan sangat bersyukur jika berhasil menyeberang ke perbatasan, walaupun menurut kabarnya di sana banyak binatang buas, tapi itu lebih baik daripada hidup di bawah todongan sangkur dan senjata. Rencananya, kakekmu, Syekh Fawzi, akan kami masukkan ke dalam karung goni, lalu meletakkannya di punggung keledai. Kami sudah membicarakan ihwal penyamaran itu dengan kakekmu, dan beliau menyetujui. Rupanya dia takut juga ditembak mati, walaupun usianya sudah satu abad. Padahal, sebenarnya, mengingat usia beliau yang sudah uzur dan puas dengan asam garamnya kehidupan, seharusnya beliau tidak takut mati. Lebih cepat lebih baik, untuk meringankan beban kami yang kini hidup merana di tempat pengungsian,” keluh Bibi, “Berkali-kali ia tersesat di tengah ladang kapas, lupa jalan kembali ke kemah, sehingga merepotkan petugas UNHCR, untuk mencarinya. Kata mereka, kakekmu sudah pikun.”

“Tetapi, anehnya, dia masih saja berdoa minta panjang umur. Itu yang membuat kami kerap menggerutu setiap mendengarnya berdoa dengan suara lantang sehabis salat, hingga terdengar sampai ke ujung lorong, dari suaranya yang keluar lewat cerobong asap (telinga kakek sudah lama tuli akibat terkena popor senjata waktu ikut berebut makanan di kamp pengungsi di pelabuhan beberapa waktu lalu. Mungkin itu sebabnya sehingga kakekmu selalu bersuara lantang, termasuk saat berdoa),” tulis Bibi.

Dalam surat yang lain, ditulis di tempat dan waktu berbeda (Tapi dikirim dalam waktu bersamaan dengan amplop yang sama), Bibi menulis, “Di dalam karung goni di punggung keledai, meringkuk tubuh kakekmu bersama beberapa potong roti tawar dan sebotol air minum. Jika hendak buang air, ia tinggal menarik tali rafia yang ujungnya terikat pada genta kuningan yang tergantung di leher keledai. Jika genta berkerincing tak lazim, kami pun akan segera mencari tempat sepi, lalu mengeluarkan kakek dari dalam karung, untuk buang air. Setelah itu, berangkat lagi.” tutur Bibi, “Semoga saja batuknya tidak sering kumat agar tidak mengundang kecurigaan orang-orang di sepanjang jalan,” tulis Bibi.

Pada Minggu pagi yang mendung itu sebenarnya kami tidak punya firasat apa-apa. Sepulang mengantar Chelsea ke pasar, saya kembali duduk di beranda menghabiskan sisa teh sambil menggosok-gosok cincin batu akik, hadiah dari seorang sahabat yang baru pulang umroh. Pada saat itulah terdengar derap kaki kuda di trotoar, dan beberapa detik kemudian sudah berhenti di depan gerbang, disusul suara benda yang jatuh ke tanah.

Semula aku mengira yang jatuh itu bungkusan berisi biji-bijian karena di daerah kami banyak penjual rempah keliling. Tetapi, betapa terkejutnya aku menyaksikan tubuh seorang pria tergeletak di tanah dengan mulut berbusa. Aku pun bergegas, menemui laki-laki malang itu, kemudian memegang pergelangan tangannya yang dingin. Di dahinya berbinar bintik-bintik keringat. Sebagai mantan dokter yang cukup lama berdinas di medan perang, aku memastikan bahwa pria penunggang kuda itu telah mengembuskan napas terakhir, beberapa detik sebelum terjatuh dari kuda.

Perhatian saya pun beralih pada sepucuk amplop surat di dalam tas kulitnya yang setengah terbuka. Dan saya amat terkejut manakala membaca nama dan alamat yang tertulis dengan mesin tik manual itu, yang tak lain adalah namaku sendiri: Kepada Ananda dr. Igfar Balkhi, d/a. Perumahan Dokter Negara No. 71, Balara City. Di sampul belakang tertera nama pengirimnya: Ny. Maryam Jasmine Asghar, di Kamp Pengungsi Madrastar Zaki, Bulago (meskipun di dalam surat dijelaskan bahwa itu adalah alamat palsu, untuk mengecoh pihak keamanan dan intelijen yang terus memata-matai pergerakan keluarga Syekh Fawzi dan menantunya, Jend. Farid Asghar, yang hingga kini masih misterius).

Belakangan kuketahui bahwa sejak Bibi Jasmin menitipkan surat itu kepada seorang kurir puluhan tahun silam, surat tersebut telah berkali-kali berpindah tangan. Pertama, Bibi Jasmin menitipkan kepada Ulwazan, seorang ABK kapal barang, yang kemudian tidak jadi berlabuh di Labuhan Poh, setelah lima hari berada di tengah laut, karena terjadi gempa bumi dan tsunami di bulan Agustus itu.

Selanjutnya kapal dagang yang membawa barang-barang selundupan itu meneruskan perjalanan ke timur. Saat berlabuh di Tidore, Ulwazan menitipkan surat tersebut kepada seorang nelayan buta huruf bernama Suhal, yang ditemuinya di pelabuhan. Si nelayan merasa bingung menerima amplop surat dari ABK yang berjalan terhuyung-huyung di dermaga itu. Di saku mantelnya menyembul tutup botol minuman keras. Karena tidak menemukan informasi yang jelas mengenai dua pembawa surat berikutnya, ditambah laki-laki berkuda yang tewas di depan rumah, saya tidak akan menyinggung bagian itu. Tapi langsung menuju ke pokok soal.

Di baris-baris terakhir yang dipenuhi coretan, karena Bibi menulis dalam keadaan tertekan, baru terungkap bahwa dua pria bersenjata telah menembak kakek kami yang sedang buang air besar di semak-semak. Lalu meninggalkannya begitu saja di sebuah dataran tandus yang dipenuhi serigala! ***

.

.

Adam Gottar Parra, di Praya, Lombok Tengah, 12 September 1967. Cerpen-cerpennya terbit di sejumlah media. Penulis tinggal di Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat.

.
.
Lelaki Tua di Dalam Karung. Lelaki Tua di Dalam Karung. Lelaki Tua di Dalam Karung. Lelaki Tua di Dalam Karung. Lelaki Tua di Dalam Karung. Lelaki Tua di Dalam Karung. Lelaki Tua di Dalam Karung. Lelaki Tua di Dalam Karung.
Arsip Cerpen di Indonesia