KISAH PENUNGGANG KUDA
: kepada Satrio Hans
.
perjalanan ini bermula dari kesepian
di atas pelana kuda di kemarau musim kemarin barangkali
kita perlu mengingat lorong teduh yang didiami bangsa jin
.
satu di antaranya menyambutmu dari mulut goa di ngarai
menghendaki seorang musafir tertelan ke perut bumi
dan aku yang menggerutu di kepalamu membayangkan sebaliknya
.
“tapal itu dipijakkan ke jalan Allah,” katamu, “aku bertandang padamu.”
“kuterima kedatanganmu, wahai tamu Allah,” sambut seorang muslim
.
kudamu tak mungkin bisa lewat, kau mengetahuinya sejak mula
tetapi, mungkin kau tak pernah membayangkan yang satu ini:
.
betapa mustahil bagi musafir tanpa air dan suluk syair safar
apalagi untuk sebuah perjalanan gelap dan amat rahasia
terlebih lorong itu persis dunia yang penuh tipu daya
demikianlah sebelum akhirnya seorang wanita menawarkan hatinya
.
aku mengetahui satu hal yang berbahaya darinya
lidah bercabang lagi berbisa desisnya menggema di mulut sahara
aku mengetahui satu hal yang mengerikan darinya
tubuhnya sebatang pedang yang kelak menyayat mayatnya
.
“duhai nasibmu, nang, kelana dicincang segala lena di pelana
duhai nasibmu, nang, kelana dicincang segala lena di pelana!”
.
apa yang kuketahui bersusulan dengan firasat dan lesat
seekor kuda lain yang larinya gemuruh kematian
.
maka, perjalanan ini lagi-lagi berlanjut dengan kesepian di atas pelana kuda
di kemarau musim kemarin, barangkali kita perlu mengenang
lorong yang jalan keluarnya diciptakan sepanjang perjalananmu padaku
.
Dihyang, 2021
.
COWONGAN
.
di kemarau ini, selalu ada yang menunggu
menanggalkan musim di langit
dan menjatuhkannya lewat tangan boneka
.
batok siwur kau rias menjadi putri
yang bisa menebak arah angin
kekeringan pun tiada mungkin
.
dibiarkan berlama-lama di atas petak sawah
sebab duka hanya tergaris di gerimis
amis sesaji yang menghidu dewi sri
.
dan kita meniup mantra ke anak-anak saat
menyaksikan waktu yang berjatuhan
dari sunyi yang melapangkan tiap balong
.
di kemarau ini, selalu ada yang menunggu
siapa yang meruntuhkan langit itu
di hadapanku?
.
Banjarnegara, 2021
.
Cowongan berasal dari kata cowong (Sanskerta) yang berarti lesu. Tradisi cowongan berangkat dari musim kemarau panjang yang membuat hasil tani layu, nyaris mati. Masyarakat Banyumas Raya kemudian memanggil hujan lewat boneka dari siwur.
Siwur ialah gayung yang terbuat dari batok kelapa dan bambu.