DI JEMBATAN BAMBU WAE LAING; COMPANG

DI JEMBATAN BAMBU WAE LAING

.

Tak ada beton dan tembok

penyangga bercat cokelat tua.

Tak ada atap meringkas tatap

menuju bentang kebebasan.

.

Dua batu besar bertukar pandang

sembari menongkat peradaban

di mana mimpi-mimpi melintas.

.

Lekuk sungai adalah takdir mengalir.

Kami duduk mencatat buih puisi

mendahului batang-batang waktu

yang lapuk, juga separuh kesia-siaan

nyangkut di akar-akar gondang dan aren.

.

Sekali lagi

.

ingin kami senandungkan warisan

ayah ibu, terjun ke sungai,

melingsir pitawat bening sebelum

merantau dalam bab-bab peristiwa.

.

Hidup tak punya pilihan kecuali

menyigi tungkai menjauh dari kisah ini.

Tapi ketabahan kau lapangkan,

senantiasa memanggil pulang

semerdu suara ibu.

.

Kami deltakan pulau-pulau bila rindu

membuncah. Buih puisi mendahului,

kelak kami basuh asap dan debu kota

yang menghablur ingatan di kepala,

.

sekali lagi,

.

kidungkan tembang sahaja,

berharap batu-batu teguh berdiri,

bambu-bambu masih terbelintang,

tak dihanyut langgam musim

.

dan kami tak lupa merunut arah,

rebahkan belulang lelah, di sini,

berjengkolet di rahim kenangan

tanpa busana

tanpa mawas

tanpa was-was.

.

Poka, Mei 2021

.

COMPANG

.

Di atas lempeng hitam, kata-kata tak

kunjung padam. Bias bulan ungu

mencium jampi tumpah di bibir batu.

Reliqui-reliqui waktu adalah ingatan

tentang merah mawar—

merah yang mengair serupa air,

air yang mengalir dari mata mawar.

.

Di sini obor-obor harapan membelah

malam bagai lentera prajurit.

Di sebelang kiri lingkaran, kambing dan

kerbau menjejakkan riwayat lara

sebelum dihunus dengan perut

menengadah awan dan punggung

mencium amis kotoran sendiri.

.

Tiang-tiang penyangga di empat

penjuru seumpama tempat tertambat

tali-tali keraguan yang mengikat

kaki hewan agar tak terlepas,

agar tak raib berkat

sebab kerongkongan langit

masih menanggung dahaga merah.

.

Lalu batu tanah dan batu sungai

mengukuhkan nama-nama moyang

yang mati tanpa dihunus kegetiran

dan mantra-mantra kembang kempis

di kantung suara.

.

Sabda kehidupan abadi di nisan.

Bibir pendeta melafaznya setiap kali

ibu bulan membajui musim dengan

kulit kerbau atau kambing,

“Berkat semesta dan restu leluhur

menudungi kita dari langit, hujan dan

rawi bergantian membuahi ladang kita.”

.

—Jaminan usai kematian lepas kematian

telanjangkan kebesaran kurban,

sedang di atas lempeng hitam peradaban,

mereka masih bebatuan, menenggak

darah, berbagi jamuan bersama dewa

secara cuma-cuma,

.

secara diam-diam.

.

Poka, April 2021

.

Compang: altar adatiah masyarakat Manggarai, Nusa Tenggara Timur, biasanya terletak di pusaran kampung dan menjadi pusat pelaksanaan berbagai macam ritual adatiah, misalnya pemberian sesajian kepada leluhur, penyembelihan kurban dalam acara-acara akbar. Masyarakat Manggarai mempercayai compang sebagai pelindung kampung dari berbagai marabahaya.

Petrus Nandi lahir di Pantar, Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur, 30 Juli 1997. Lulusan Fakultas Filsafat STFK Ledalero ini menetap di kampung halamannya. Ia bergiat di Kelas Puisi Bekasi (KPB).

Arsip Cerpen di Indonesia