Barangkali kau sudah mendengar kabar kedatanganku di kota ini. Di kotamu yang telah menjadi bangunan museum ingatanku.
Januari yang basah, setelah malam perayaan tahun baru, kau tentu tak akan lupa. Dan perihal ingatan kota yang selalu kau impikan, aku juga tak bisa melupakannya. Di salah satu sudut rumah makan dekat kuil Kyoto, kita pernah membayangkan akan berbagi soba toshikosi, sambil menantikan beberapa harapan yang kau tulis di selembar kertas. Kemudian kita bersama memasukannya ke dalam buntalan omamori. Katamu, toshikosi yang panjang kelak bisa menjadi harapan panjang untuk masa depan. Namun sayangnya, katamu, kau tak pernah bisa menghabiskan semangkuk utuh. Akan kau bagi bersamaku. Sambil memintaku menyetel lagu George Benson, nothing’s gonna change my love for you.
“Tapi hei, bukankah kita sedang di Negeri Sakura? Apakah ini lagu yang cocok?” kataku. “Jika kau menyetel lagu Kokoro no Tomo atau bahkan Norwegian Wood aku bisa maklum, lantaran kau begitu gandrung pada Murakami.”
“Lagu yang kuat bisa kau dengarkan di mana saja dan kapan saja.” balasmu ketus. “Jadi, untuk saat ini atau nanti, kurasa lagu ini yang akan mengenang pertemuan kita.”
Aku akan memiringkan kepala, menatap matamu yang berbinar. Namun apakah lagu ini juga akan menggambarkan perasaanmu? Bisa jadi iya, namun bisa jadi bukan untukku.
Seketika lagu ini menggema dalam kepalaku. Mengalir, memenuhi setiap sudut tubuh. Suara George Benson yang kuat dengan alunan nada yang tenang, namun bertenaga membuatku terbayang kembali wajahmu. Lagu ini penuh, mengisi sepanjang perjalanan dari rumah, bandara, hingga dalam pesawat.
Kau masih sama. Kuharap kau masih sama. Setidaknya bertahun-tahun yang lalu, sepanjang malam pergantian tahun, kau selalu memintaku membayangkan momen itu. Membayangkan kita menuliskan harapan masing-masing pada secarik kertas yang dimasukkan ke dalam buntalan omamori. Kita akan saling terka. Sambil bertukar senyum curiga, apakah harapan kita sama?
Kau juga akan memintaku membayangkan kita berbagi semangkuk toshikosi. Mengapa kita harus berbagi? Katamu, jika satu saat kau tidak bisa menghabiskan seluruh usiamu, kau berharap bisa berbagi denganku. Ya itu harapan yang kubayangkan meluncur dari bibirmu yang mungil.
Sedangkan ketika malam bertambah, degup jantung kita seirama menantikan cahaya kembang api berpijar. Suara letusan itu, seringkali membuatku terjaga. Terbangun dalam sepi, dalam keadaan kenyataan yang tak semestinya.
Kini kita telah sadar. Dalam masa yang mengalir seperti aliran sungai, ia akan sulit untuk mengarusbalik. Namun sayangnya, hukum ingatan seringkali menantangnya. Meski tahun-tahun berlalu, bulan terbit dan tenggelam, kau dan kota ini masih sama saja. Berangsur sepi, dingin, namun masih berusaha untuk hidup. Atau kau sering mengatakan: menghabiskan hidup dalam dinginnya sepi.
Aku mengatakan kau masih berusaha untuk hidup. Lantaran seminggu yang lalu, aku mendengar kabarmu dari telpon di tengah malam oleh putrimu.
Saat itu aku baru saja terjaga oleh mimpi tentangmu. Mimpi yang seringkali kau bisikkan ketika kita masih bersama sebagai sepasang, ah, tidak bisa kukatakan sepasang. Lebih tepatnya sebagai sahabat dekat atau katamu sebagai sahabat hati.
“Maaf, jika saya mengganggu istirahat Saudara. Namun ini keadaannya begitu genting, kesehatan ibu drop lagi. Sekarang ini, kami sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Jika Bapak, ah maaf, jika Saudara berkenan, datanglah.” Di malam itu, suara putrimu mengalun tersendat-sendat. Ia seperti menahan geram atau malah menahan suaranya yang sesenggukkan.
Jarak sejauh ribuan kilometer saat itu terpangkas begitu saja. Guguran bunga sakura di pagi yang sudah kubayangkan kunikmati dengan secangkir teh dan setumpuk kenangan, seketika pupus sudah. Kini, setelah terpisah oleh ruang waktu yang membentang panjang, aku memutuskan untuk kembali ke kotamu. Kepadamu. Kepada hidup yang kau habiskan dalam dinginnya sepi.
Aku turun dari bus kota tepat di sebuah halte yang tak asing. Kau pernah bercerita, tempat ini dinamakan halte penantian terakhir. Konon, pernah ada kisah yang begitu terkenal di kotamu. Ialah kisah seorang lelaki yang tua yang menantikan kekasihnya di halte ini berpuluh tahun lamanya.
Kau menyebutnya sebagai Kakek Pengekal Ingatan. Kau yang masih kecil, kubayangkan berusia tujuh tahun, seringkali melewati halte ini bersama nenekmu yang galak. Kau menceritakan padaku hanya melewati, karena sepanjang usiamu, kukira kau baru sekali bertemu dengannya.
Hari itu kesedihan mengepungmu. Bunga-bunga bertaburan diselingi derai air mata mengantar jenazah nenekmu. Gerimis sore mengisyaratkan kesedihan langit. Di seberang jalan masuk pemakaman, kau melihat kakek pengekal ingatan memakai payung hitam. Matanya yang sayu telah banjir oleh air mata. Orang tuamu berteriak-teriak saat kau secara spontan lari menyeberang jalan. Dalam dingin sore yang mencengkram, kau memeluk tubuhnya yang rapuh. Kekosongan dalam jiwanya seperti kau rasakan juga. Kemudian, dalam hingar bingar keramaian yang tiba-tiba pecah, kakek itu menangis membalas pelukanku. Katamu, ia berbisik, mengenalkan bahwa namanya adalah Kakek Mardio. Ya, katamu ia memperpanjang nama juga sebagai Kakek Mardio si Pengekal Ingatan. Belakangan, aku sadar, kisah kakek dan nenekmu diabadikan oleh seorang penulis bernama Eka Kurniawan.
Sehari setelahnya, di tengah udara yang diselimuti kesedihan, kau menangis sambil berteriak-teriak tak keruan. Hari-hari berikutnya, kau selalu datang ke halte itu, menunggu kakek Mardio si Pengekal Ingatan datang. Namun apa lacur, ia tak pernah datang lagi. Hingga pertemuan kita, saat aku memberikan tumpukan puisi yang saban hari si kakek tulis untuk menunggu perempuan yang ia cinta dalam sunyi. Ialah aku, cucu kesayangan kakek Mardio yang bersetia menanti nenekmu.
Sejak pertemuan itu, lambat laun kita semakin akrab. Namun aku masih bersikeras menyembunyikan kabar Kakek Mardio yang sering kau tanyakan. Hingga mungkin saja kau lupa atau aku yang menganggapmu telah lupa.
Aku pun maklum, di tengah lupa, seringkali benih-benih cinta yang mungkin tidak diinginkan lahir begitu saja. Tepat di malam pergantian tahun, di kotamu, di salah satu kamar losmen Cemoro Sewu, kita memulai perbincangan itu.
Awalnya tentu saja kebodohan kekasihmu yang membatalkan perayaan tahun baru kalian. Pecah tangismu sore itu. Aku pun melihat kesempatan terbuka saat itu, nekat mengajakmu merayakan tahun baru. Anggap saja kita sebagai sepasang manusia yang sama-sama kesepian, ucapku kala itu.
“Dan saling membutuhkan juga kan?” kau pun tersipu memperlihatkan senyummu yang begitu menawan.
“Ya! Sebagai—”
“Sahabat hati, kan?” aku balas tersenyum mendengarnya. Naasnya, dari dulu hingga sekarang aku tak begitu paham makna sahabat hati bagimu.
Kedai mbah Cokro dan barangkali puluhan pasang muda-mudi yang datang di pelataran Cemoro Sewu kala itu, kurasa bisa kita jadikan saksi. Ketika malam bertambah, di tengah banyak orang yang menunggu malam pergantian tahun—sambil memegang kembang api yang diarahkan ke langit—kau merapatkan diri kepadaku. Tanganku nekat menggenggam tanganmu yang beku. Kemudian getaran jantungku semakin cepat. Genderang perang telah ditabuh. Keberanianku semakin berpacu. Aku merangkulmu, semakin mendekatkan tubuhmu di depanku. Wajahmu mendekat, hidung kita bersentuhan. Ingatanku mencatat, malam itu untuk pertama kalinya, kita berciuman di bawah hujan api yang berpijar di langit. Orang-orang pun bersorak riang, aku tak peduli atas dasar apa mereka bersorak. Untuk merayakan pergantian tahun, perihal ciuman kita, atau bahkan justru mereka juga ikut berciuman dalam remang malam.
Setelahnya, waktu terasa begitu cepat. Hujan mengguyur deras dalam perjalanan. Kita basah kuyup, menepi-masuk ke dalam salah satu losmen. Dalam tubuh yang masih terbungkus baju yang basah, kita duduk bersebelahan di dalam kamar. Kita berbincang dalam kepungan dingin. Kemudian kau mengeluarkan dua buntalan kain—basah—yang telah dirajut dengan begitu indah. Kau menyebutnya sebagai omamori. Katamu, ini adalah pemberian mendiang ibumu sebelum meninggal. Lekas kau menyerahkan salah satu padaku. Kemudian mengambil dua lembar tisu dari dalam ransel.
“Di Jepang, ketika malam pergantian tahun, orang-orang menuliskan harapan mereka dalam secarik kertas kemudian memasukkannya ke dalam ini.” kau mengatakan bahwa Jepang, guguran sakura, Soba Toshikosi di sebuah kedai dekat kuil di Kyoto, dan hal-hal lain di masa depan bersama seorang kekasih adalah impian terbesarmu saat itu.
Setelahnya, kau menunjuk buntalan kain yang kau sebut omamori, sambil menyodorkan lipstik berwarna merah muda. “Kau harus berjanji padaku, akan menjaga harapan yang kau tulis sampai kapanpun.”
Aku pun mengangguk, meraih lipstikmu, dan mulai menulis. Kita saling lempar senyum, ketika memasukkan tisu itu. Kemudian, waktu mengalir bak aliran sungai. Segalanya terjadi begitu saja. Kita saling melepas baju, kemudian kamar itu seketika memadamkan cahaya.
Kini, berpuluh tahun kemudian, alunan lagu dari George Benson itu masih kental terngiang dalam benakku. Kau telah menikah, beranak, dan bercucu. Namun melihatmu terkapar di ranjang putih ruang ICU dengan selang oksigen menempel di hidung membuatku begitu nelangsa. Aku melihatmu semakin kurus dengan rambut yang telah jarang beruban. Matamu sedikit mengatup seperti menyambut kedatanganku. Di sekeliling, suamimu memegang erat tanganmu, ia duduk di kursi roda. Putrimu berdiri menggenggam erat tangan suaminya. Meski seharusnya terlihat hangat, aku melihatmu seperti menghabiskan hidup dalam dinginnya sepi—seperti yang kau katakan saat itu padaku. Bayangan itu tercipta begitu saja.
“Dalam tidur (maksudnya: koma), Ibu berkali-kali menggumamkan sebuah nama yang tak dikenali Bapak. Aku baru sadar, itu adalah sebuah nama yang kukira pernah hidup di masa lalunya.” putrimu berbisik sambil menahan tangis padaku. Pandang matanya menuntunku untuk melihat buntalan kain lusuh di meja dekat ranjang.
Tanganku gemetar mengeluarkan buntalan kain yang sama dari saku jaket. Kurasakan pandang mataku mulai basah. Orang-orang di sekelilingmu melihatku berjalan pelan ke arahmu. Dengan tangan gemetar, aku meletakkan buntalan kain yang kubawa di sebelah buntalan kainmu.
“Kapan aku bisa melihat isi harapanmu? Apakah ini sebuah rahasia besar?” ucapku kala itu.
“Ya! Ini adalah sebuah rahasia yang hanya diketahui aku dan Tuhan.” Kau menjawab ketus. “Namun, kau akan tahu, jika harapan itu telah terkabul, tisu di dalamnya pasti sudah kutunjukkan padamu.”
“Kalau tidak?”
“Ah tidak mungkin.” Kau diam sejenak. “Mungkin saat itu, aku sudah berada di ujung—ah, tentu saja saat itu kau orang pertama yang boleh membukanya.”
Aku melihat sekeliling. Melihat orang-orang yang begitu mencintaimu. Air mataku telah banjir. Dengan tangan gemetar, aku membuka buntalan omamori di mejamu. Dadaku serasa meledak. Jantungku nyaris berhenti membaca tulisan berwarna merah muda di tisu itu: Aku ingin bertemu dengan Kakek Pengekal Ingatan, meski hanya untuk sekali waktu. Aku ingin mengatakan padanya, kalau nenek pernah cinta padanya. ***