Seperti pagi di awal pekan sebelumnya, di benak Laela tetap sama. Ia berpikir hari ini tidak berbeda dengan hari-hari sebelum kemalangan itu menimpanya.
PEREMPUAN ini selalu bangun mendahului matahari, bergegas ke dapur, menjerang air, menuangkan kopi dan gula pada takaran yang selalu ia pastikan pas. Ketika air mendidih, ia mengguyurkan air panas ke cangkir. Mengepullah bau asap kopi yang khas. Pekat dan kental. Haryo selalu senang menikmati kopi dampit. Kini, sayangnya Laela hanya menghadapi meja kosong. Ia masih berharap ada sosok laki-laki yang duduk dengan tergesa, memoles selai pada selembar roti tawar, kemudian memakannya hanya separo. Percakapan pun akan dimulai setelah satu teguk kopi panas meluncur melewati kerongkongan Haryo. Lalu, ia akan tersenyum, sembari pergi berpamitan.
Laela akan mengantar Haryo hingga ambang teras. Tidak lupa, sebelum lelaki itu keluar melewati pintu, Laela akan mendahuluinya. Perempuan ini selalu merasa semua laki-laki sangat payah dalam menata dasi dan kerah baju. Kemudian upayanya itu akan diganjar dengan sebuah ciuman hangat di kening. Mereka berpelukan. Sebelum akhirnya Haryo harus pergi ke rumah istrinya. Perempuan yang seharusnya menyiapkan pagi dengan cinta.
“Aku pasti kembali pekan depan.” Begitulah salam perpisahan yang tak pernah luput setelah mereka berpelukan, tidak jarang berciuman. Kemudian, lelaki itu masuk ke tubuh mobil. Menderu suara Jeep Wrangler yang gagah. Deru suara yang lekat, yang melelehkan air mata Laela pagi ini.
“Aku mencintaimu di atas kata walaupun, bukan atas sebab-sebab yang selalu diutarakan laki-laki yang sering kamu tonton di sinetron.” Percakapan itu lekat, seperti bau kopi yang dihadapinya.
Laela menyeka air matanya. Kemudian ia masuk kembali ke kamar, mandi, dan berganti pakaian gaun hitam. Tidak lupa ia membawa topi dan kacamata hitam pula. Sambil menenteng sebuah payung, Laela pergi. Meski hari ini terlihat cerah, sejak kemalangan itu menimpa Laela, ia merasa setiap hari akan turun hujan dengan deras. Meski yang ada, deras air matanyalah yang justru jatuh membanjiri bumi.
Laela adalah seorang penulis puisi dan prosa yang pendiam. Sama seperti kebanyakan penulis lain, ia adalah seorang pelamun yang parah. Sedangkan Haryo adalah seorang dosen sekaligus motivator ulung. Tidak ada sejarah pertemuan atau tali persahabatan di antara mereka, sebelum sebuah seminar akbar di Kota Solo mempertemukan keduanya sebagai pembicara. Sialnya, Laela yang begitu payah berbicara di depan umum harus satu panel acara dengan seorang lelaki karismatik yang setiap ucapannya selalu memberikan energi bagi audiens. Namun, siapa kira, dari sinilah benih cinta itu hadir.
Seperti halnya manusia antisosial yang pendiam, Laela gagal menyembunyikan kegugupannya. Ia menjadi pembicara kedua. Sebuah urutan yang menurutnya tak adil. Mengapa dirinya selalu menjadi nomor dua. Kesialan tampaknya sudah ia rasakan begitu sang moderator begitu payah memandu seribu audiens di gedung Grha Saba Solo itu. Ketika gilirannya naik ke panggung, suasana yang sebelumnya riuh berenergi menjadi serasa kuburan. Tidak pernah ada yang suka pada materi soal proses kreatif penulis yang sunyi. Kesunyian yang dianggap meledak-ledak dalam batinnya, gagal ia terjemahkan dalam tutur kata. Maka, jangan heran, di lima belas menit pertama penampilannya, wajah-wajah jenuh dan pesimistis sudah membaur di sekujur tubuh ruangan besar itu.
Hingga Haryo melompat ke meja undangan utama, kemudian membacakan sebuah puisi. Audiens terkesima. Puisi yang Laela pikir berkisah tentang kesunyian, berhasil Haryo deklamasikan dengan gaya yang berbeda. Seperti pimpinan demonstran berorasi di depan gedung persidangan. Itulah salah satu sajak karya Nur Laela, begitulah Haryo mengakhiri deklamasinya. Kemudian secara spontan ia mengambil alih peran moderator yang payah. Hiduplah ruangan besar milik orang nomor satu Indonesia itu. Ini adalah awal yang manis, tapi sebenarnya menjadi sesak bagi Laela.
Setelah acara itu, Haryo terhitung tiga kali menulis di media cetak nasional. Dua esai bersambung dan satu feature pembaca tentang kisah proses kreatif seorang penulis. Nahasnya, ketiga tulisan itu mengupas tentang bagaimana pengalaman Haryo bercumbu dengan karya dan proses kreatif Nur Laela. Bahkan, di feature yang sempat menjadi perbincangan itu, terang-terangan ia beri judul: Bercumbu dengan Calon Nominator Nobel dari Indonesia. Setiap kali mengenang tiga tulisan yang diam-diam Laela bingkai di kamarnya, dadanya malah semakin sesak.
Setelah tulisan Haryo meledak menjadi perbincangan para pengamat sastra hingga akademisi, karya Laela yang kental mengupas lokalitas tentang reyog diburu oleh banyak orang. Seperti sudah digariskan oleh Tuhan, karya-karya Laela memang benar-benar menarik. Bahkan, di buku kedua dan ketiganya, Laela berhasil menyabet dua penghargaan bergengsi tanah air.
“Nur Laela, Optimisme Indonesia Kembali Menembus Nominasi Nobel.” Begitulah salah satu media cetak memuat esai tentang karya Laela setelah buku terakhirnya berhasil menembus pasar internasional.
Ketika dua penulis melakukan percumbuan karya di media, mereka pun sering kali bertemu di dunia nyata. Awalnya mereka secara tidak sengaja kembali bertemu sebagai pembicara dalam satu acara yang sama. Selanjutnya, mereka justru sengaja merancang pertemuan. Dan, begitulah cinta, tersusun oleh pertemuan-pertemuan dan sering kali berakhir menyedihkan.
Kini, Laela menjalani hari dalam kepungan kesedihan yang dalam. Setiap hari, ia datang ke sebuah pemakaman. Menabur bunga dan berdoa di makam yang selalu sama. Kemudian, di akhir perjumpaan dua kekasih beda dunia itu, selalu saja Laela tak kuasa menumpahkan air matanya.
Namun, hari ini adalah hari yang berbeda. Ketika langit pagi yang awalnya cerah mendadak muram tertutup awan hitam. Gerimis tiba-tiba menciptakan dingin yang memeluk bumi dengan sempurna. Laela yang mengenakan pakaian serba pintu rumah. Ia menimbang keputusannya datang ke rumah yang selalu hadir dalam cerita Haryo.
Laela membawa bingkisan bunga yang terselip sebuah surat. Dengan tangan gemetar, ia memencet bel. Kemudian, tubuhnya berbalik memunggungi pintu. Di seberang rumah ini ada taman. Hanya dengan berjalan lima puluh langkah dari gerbang rumah, maka sampailah di taman yang di tengah-tengahnya ada kedai kopi berarsitektur kuno. Tidak jauh dari taman, hanya berjarak lima ratus meter, terdapat pemakaman yang saban hari Laela kunjungi. Laela diam memandangi taman itu, sambil membayangkan peta lokasi dan jarak pemakaman dengan rumah ini. Hal itu justru membuatnya semakin sedih sekaligus dikepung rasa bersalah yang dalam.
Tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka. Laela masih diam, memunggungi muka pintu.
“Ya? Ada yang bisa saya bantu, Mbak?” Suara itu begitu halus. Namun, tidak membuat Laela membalikkan badan. Ia justru memejamkan matanya kuatkuat.
“Mbak, mau bertemu dengan siapa ya?” ulang si tuan rumah.
Kebulatan niat Laela untuk datang ke rumah ini sejak awal, menjelma menjadi tenaga yang membuatnya memberanikan diri membalikkan badan. Di depannya, seorang perempuan yang lebih tua darinya, berdiri penuh tanya. Keriput di wajahnya bukanlah tanda usia yang telah menua. Namun, lebih seperti guratan kesedihan yang diperam dalam waktu sangat lama. Ia menggendong bayi laki-laki. Laela memperkirakan usianya sekitar satu tahun. Astaga, tiba-tiba kesedihan dalam dada Laela memuncak melihat tatap mata bayi itu.
Laela melepas bingkisan bunga yang dipegangnya hingga jatuh ke lantai begitu saja. Spontan ia memeluk perempuan di hadapannya, memeluk bayi di gendongan perempuan itu. Laela menangis, sambil berbisik ke telinga perempuan itu: Mbak, maafkan saya.
Laela bersimpuh di depan perempuan itu. Ia menangis sejadijadinya.
“Maafkan saya, Mbak…,” ucap Laela, tanpa memandang wajah perempuan di hadapannya. Ia pun tak berani memandang lagi wajah bayi yang digendong perempuan itu. Laela tak berani memandang tatap mata bayi laki-laki itu lantaran sangat mirip dengan tatapan ayahnya, Haryo. ***