LOLONGAN anjing dan suara gagak saling bersahutan, menggema pada setiap langkah Durakmat yang sedang berjalan pulang. Dia tertawa kemenangan, setelah dia memberi kepedihan pada orang yang dia bunuh. Lelaki separuh baya itu tampak lebih gagah dengan jaket yang penuh sobekan, celana pendek berwana hitam, serta celurit berlumuran darah yang menggantung di tangan sebelah kanan.
Durakmat mulai melihat gubuk kecil, rumah sekaligus tempat persembunyian bersama keluarganya. Sengaja gubuk kecil tersebut berada di tengah hutan, jauh dari pemukiman rumah, agar para polisi segan untuk menangkapnya, mengingat dia adalah seorang pembunuh.
Tiada senyum istri yang senantiasa menunggu kepulangannya. Pikiran-pikiran aneh pun berkelabat dalam otaknya. Namun, dia tetap berpikir positif, mungkin saja istri dan anaknya sudah terlelap.
Suara isakan Sayadi, anak tunggal Durakmat yang berusia 15 tahun, menggema di telinganya, kala dia mulai memasuki gubuk kecil. Kini jelas, perihal perasaan tidak enak yang menghantui. Durakmat membuka pintu pelan. Darahnya mulai mendidih, kala dia saksikan langsung kejadian yang begitu memilukan.
Istri yang sangat Durakmat cintai. Kini, dengan jelas terkapar berlumuran darah di depan matanya. Lehernya hampir putus, dengan darah yang terus bercucuran. Ada bekas sabitan di perutnya, yang ditandai dengan darah dari baju kumuh. Celurit sangkolan dari bapaknya yang juga seorang pembunuh, yang awalnya terpampang di dinding gubuk, tergeletak penuh darah di samping mayat perempuan itu. Sayadi menangis semakin keras, mata Durakmat mulai meneteskan airmata. Namun, sekilat dia hapus. Lantaran dia tidak mau, Sayadi melihat bapaknya yang seorang pembunuh menangis, meratapi istri yang sudah tidak bernyawa.
“Kenapa kau menangis? Kau adalah anak dari seorang pembunuh! Kau yang meneruskan hobi membunuhku, jangan lagi aku melihat kau menangis! Hanya karena Ibumu yang sudah mati karena dibunuh!” bentak Durakmat pada anaknya yang terus menangis, membuat Sayadi sadar dan menghentikan tangisnya.
“Sekarang beritahu Bapakmu ini, siapa yang membunuh Ibumu?”
“Aku tidak tahu, Pak. Aku baru saja datang dari berburu binatang. Yang aku tahu, Ibu sudah terkapar, dan Ibu menyebut nama Dulla di akhir napasnya,” Sayadi menjelaskan. Membuat mata Durakmat terbelalak setengah tak percaya. Dia tidak habis pikir, sahabatnya adalah dalang dari kejadian ini.
“Sudah kuduga,” Durakmat menghela napas, lantas mengambil celurit sangkolan yang telah merenggut nyawa istrinya. Dia berdiri dengan gagah, mengacungkan-acungkan celuritnya, sambil berteriak lantang.
“Anjing! Lancang sekali Dulla membunuh istriku dengan celurit ini. Aku tidak akan berhenti mencabik-cabik dagingnya, sebelum nyawa dibalas dengan nyawa!”
“Sayadi…, kau kubur mayat Ibumu, biar aku yang membunuh pembunuh itu!” Durakmat menendang pintu yang menghalangi langkahnya, dia benar-benar geram. Dia menyusuri rumput ilalang, di bawah langit yang tidak bersahabat. Bergelantungan celurit sangkolan penuh darah di tangan kanannya, menyatu dengan hati yang gelap, semakin gelap perihal tragedi yang baru disaksikan. Umpatan-umpatan sering dia lontarkan, di setiap langkah membalas nyawa.
Di pesisir pantai yang sunyi—terletak di tepi hutan yang tak terlalu jauh dari kediaman Durakmat. Di sana, tempat persembunyian Dulla. Dia tinggal sebatang kara. Biasanya, dia tinggal bersama istri yang cantik. Namun sekarang, dia benar-benar sendiri sebab istrinya telah mati.
Sebatang rokok menemani malam Dulla, yang dengan beberapa isapan saja, sudah membawa ketenangan. Hingga larut malam ini, dia menyadari langkah Durakmat tergesa-gesa menghampirinya. Tidak seperti biasanya, Durakmat menghampirinya pada tengah malam dengan membawa celurit kesayangan yang penuh darah. Dia mencoba mengamati dan mereka-reka. Beberapa umpatan telah menyadarkannya, bahwa Durakmat akan segera membunuhnya.
“Dulla Anjing! Sekarang ambil celuritmu, kita buktikan siapa pembunuh yang akan mati di tangan pembunuh!” Umpat Durakmat, membuat Dulla serba kebingungan.
“Tunggu! Babi apa yang telah merasukimu? Kau datang untuk berduel celurit denganku dan pastinya kau akan membunuhku,” tanya Dulla. Di pipinya yang sebelah kiri, berbekas luka sabitan lama, sebagai penghargaan bagi dia yang mempunyai pengalaman banyak tentang bunuh-membunuh.
“Kau memang Anjing pintar Dulla! Setelah kau membunuh istri tercintaku, sekarang kau berlagak tidak tau apa-apa tentang apa yang baru kau lakukan!”
“Apa katamu? Aku membunuh istrimu! Mana tega aku membunuh istri tercinta sahabatku sendiri. Aku memang pembunuh! Tapi aku tidak sekejam itu Durakmat! Aku tidak mempunyai alasan untuk membunuh istrimu!”
“Anjing! Tentu kau akan balas dendam! Karena beberapa hari yang lalu, aku yang membunuh istrimu!” Durakmat kembali mengingat ketika darah istri Dulla, sahabatnya. Membanjiri celurit yang dia miliki, beberapa hari silam.
***
Istri Dulla kerap mengumpat dengan nama binatang dan menganggap Dulla yang mandul. Sedangkan dia pun tidak tahu, siapa sebenarnya yang mandul. Karena perihal itu pula, istri Dulla selalu selingkuh. Walau ketika itu pula, Dulla membunuh lelaki yang selingkuh dengan istrinya.
Ide gila bermunculan di kepala Dulla. Dia menyuruh Durakmat untuk datang ke tempat persembunyiannya dan berselingkuh dengan istrinya.
“Bila terbukti aku yang mandul, aku akan menceraikan istriku. Namun apabila istriku yang sebenarnya mandul, kau boleh membunuhnya Durakmat,” ucap Dulla waktu itu. Mata mereka bersitatap.
Istri Dulla menebar pesona dengan tubuh moleknya. Dia setengah telanjang. Semua serba merah—kutang merah dan celana dalam merah, memancing kejantanan Durakmat. Istri Dulla melumat bibir Durakmat dengan bibirnya. Lantas tubuh mereka menyatu, suara desahan pun bermunculan, seperti berirama dengan gemuruh ombak yang berisik.
“Kau sangat licik! Kau sudah membuat aku bahagia dengan tubuhmu. Bagaimana dengan suamimu, apakah dia tak dapat memenuhi nafsumu?” Durakmat mengawali percakapan.
“Aku sudah bosan dengan suamiku, yang tak punya variasi dalam bercinta. Dia hanya sibuk memikirkan bagaimana cara membunuh, tanpa harus berpikir, bagaimana cara membunuh gejolak nafsuku yang tinggi,” istri Dulla tersenyum manja.
“Ah! Perihal itu tak masuk akal. Mana mungkin bajingan seperti Dulla loyo di atas ranjang. Kau mungkin sudah tak mencintainya, sebab dia tak dapat memberikanmu keturunan.”
“Kau bodoh! Bukankah kau tidak membutuhkan kondom dan aku tidak membutuhkan pil kb, agar kita dapat bercinta dengan kenikmatan tiada tara ini.”
Tidak ada yang harus dikhawatirkan lagi, bagi Durakmat. Dia telah mengetahui, siapa yang mandul sebenarnya. Dia meraih celurit yang dia sembunyikan di kolong ranjang.
‘Cratt!’
Bersama dengan kenikmatan yang diraih oleh mereka, celurit Durakmat juga telah menyobek dada istri Dulla. Darah mengalir deras, istri Dulla mati dengan mata melotot. Durakmat tertawa puas, setelah kenikmatan dan perintah sahabatnya, telah dia selesaikan.
***
Pertarungan sesama pembunuh, ditandai dengan duel celurit yang menghasilkan bunyi kematian. Beberapa sabitan mengenai Durakmat, namun dia masih hidup, dengan napas yang tersengal-sengal. Dia kelelahan setelah memenangkan pertarungan sesama pembunuh. Kepala Dulla putus, Durakmat memegang kepala itu di tangan kiri dan tangan kanan memegang celurit sangkolan yang haus darah. Tangannya bergetar dahsyat, karena baru kali ini dia membunuh sahabatnya sendiri. Dia tersungkur lemas dan mungkin juga akan segera mati.
“Kau mengkalungkan celurit di leher sendiri, Bapak!” Suara yang datang, entah dari arah mana. Namun, Durakmat mengenali suara itu, berasal dari Sayadi, anaknya.
Sayadi tertawa puas, melihat bapaknya kewalahan membunuh sahabatnya. Dia menghampiri bapaknya itu, dan mendekatkan celuritnya di leher bapaknya.
“Anak anjing! Jadi kau membunuh ibumu sendiri!”
“Dasar Bapak bodoh! Mana mungkin aku membunuh Ibu yang telah melahirkanku. Ibu yang menyuruhku untuk membunuh dirinya. Karenamu, Pak, Ibu kerap menangis meratapi suaminya yang seorang pembunuh!”
“Anjing!” Umpat Durakmat bersamaan dengan kepalanya yang putus di tangan Sayadi, anaknya sendiri. Sekarang, terbongkar siapa yang membunuh. Dan kelicikan pantas menjadi pembunuh yang ditakuti dari semua pembunuh. ***