Segelas Teh, Hujan, dan Patah Hati

Agustus 2018

AKU sama sekali tidak mencintaimu, mungkin sangat berat mengatakan ini. Mengingat kisah panjang kita yang hampir tiada cacat. Tapi, lebih berat lagi ketika kukatakan aku mencintaimu, namun itu malah membuat kita terluka. Luka yang berkali-kali kita garuk dengan angkuh. Sebab kita tahu hubungan kita hanya sampai di selokan. Kita hanya bisa terkapar setelah mengucapkan cinta, dan berjanji tak saling meninggalkan. Saat itu pula kita sadar, kita memang harus saling melupakan dan meninggalkan.

Kenyataannya kau telah memilih lelaki yang lain, kau memilih untuk patuh pada posisimu, dan tak membangkang pada orangtuamu, kau memilih untuk berkata ‘iya’ kepada kondisi yang memaksamu untuk berlari dari otak dan hatiku. Kau, dalam artian yang lebih berbahaya mampu memilih untuk meninggalkanku, lantas memberikanku semacam fatamorgana bahwa kita akan hidup bahagia sampai pada saat nanti meteor menghantam bumi, lalu kita mati di pinggir pantai saat menikmati matahari tenggelam yang sebenarnya adalah meteor yang jatuh.

“Kita lantas memilih untuk mati,” katamu tiba-tiba.

Aku tahu, hidup tak memberikanmu pilihan, hidup tak pernah semudah jatuh cinta. Namun, jatuh cinta juga tak pernah memberikan kita hal yang mudah dalam hidup. Kita mesti berjuang untuk merasa tetap jatuh cinta, bukan?

“Apa yang bisa kuperjuangkan untuk mengagalkan pertunanganmu?” tanyaku mendesak.

“Tidak ada,” katamu datar.

September 2018

Pada satu mimpi kelam dari masa laluyang merangkak dari tulang ekorku sampai kemudian menyuntik otakku dengan kata-kata yang pernah kau ucapkan perlahan dan lembut, seperti ruh yang pelan-pelan menyembul dari tubuh Adam dan berwujud menjadi Hawa.

“Aku mencintaimu,” katamu.

“Tidak, aku tidak bisa,” jawabku dingin, “berhentilah menyakiti dirimu, melukai perasaanmu dan jangan pernah mudah menyebutkan cinta jika kau tahu kita takkan pernah bersama lagi setelah ini”

Aku benar tega, bukan? Namun,  lagi-lagi aku merasa akan lebih tega jika aku katakan aku mencintaimu lantas melanjutkan hubungan gelap dengamu, tapi kau akan tetap bersama lelaki yang meminangmu, lelaki yang tak bisa kau tolak semudah menolak tawaran penjual koran di lampu merah. Kau tak bisa melawan takdir, dan aku juga lebih memilih melawan hasratku ketimbang melawan takdir. Aku tak bisa membangun hubungan gelap.

“Mencintai bagi kita berdua adalah bersahabat dengan kehilangan” aku berkata saat hendak pergi “cobalah bernafas dan tidur yang nyenyak, sesekali kau boleh menyeduh teh di depan jendela saat hujan deras dan petir.”

“Apakah kau benar-benar tidak mencintaiku? Bagaimana aku bisa sedemikian cepat untuk melupakanmu?” tanyamu.

“Ketika kau menyeduh teh dan menyaksikan petir,” sambungku tanpa menjawab tanyamu, “Petir, begitulah kehilangan bersautan, bercabang, mengejutkan, dan dingin. Kerapkali petir datang menusuk dan hilang dalam sekejap setelah meninggalkan bekas dan sengatan”

“Apakah kau kecewa denganku?”

“Harapan selalu ada, meskipun berkali-kali kita dipecundangi oleh harapan. Sebab kita adalah manusia yang tak lelah berharap. Kita ketagihan untuk berharap, seperti candu. Kau tahu kenapa? Karena memang kita menyadari diri kita sendiri terlalu lemah diharapkan agar tidak terjatuh dalam kekecewaan dan rasa kehilangan yang sama.”

Kau lalu menangis, lantas memandang ujung-ujung kakimu sedang aku menyaksikan dengan keharuan yang tidak dibuat-buat. Setelah itu, kebanyakan kau hanya diam, dan aku perlahan megusap mata memastikan tak ada yang air mata dari kedua mataku. Tapi nihil.

Januari 2019

Harusnya manusia seperti koruptor, teroris, pemerkosa, dan manusia tanpa hati lainnya tidak dihukum gantung. Mereka semestinya dihukum untuk jatuh cinta. Sebab hukum gantung hanya berarti mati sekali saja, sedang jatuh cinta adalah cara untuk mati berkali-kali.

Berbulan-bulan kemudian, semua kembali normal. Aku tetap hidup, dan kau juga masih hidup. Belum ada yang mati diantara kita, hanya saja harapan kita pudar kemudian lantas mati tanpa kita sadari. Tak ada perjuangan diantara kita lagi, kau bakal menikah dengannya sebentar lagi. Sungguh sial, ketika semua melaju dengan lambat, sesuatu yang kita anggap bencana malah kita terima dengan lapang dada. Mungkin kau dan aku berujar dalam hati, “Tidak ada gunanya untuk berjuang, dan tak ada waktu lagi untuk kalah pada pertarungan yang sama.”

Barangkali, Tuhan mepertemukan kita hanya untuk mengajarkan hikmah ini: bahwa jatuh cinta bukan hanya risiko untuk saling berjuang, jatuh cinta juga bermakna bahwa kita memang harus menerima untuk kalah dan menyerah.

Apakah buruk jika harus kalah dan menyerah? Tentu saja tidak! Hidup juga tak harus selamanya menentang arus, kita bisa lelah dengan arus harapan, maka kita mesti berenang ketepi, atau terbawa arus dengan bahagia lantas menunggu untuk mati di arus terjal. Mencintai memang seironis itu, ya?

Mei 2018

Waktu mundur. Hujan rintik-rintik, kita tak pernah tahu akan berakhir di mana, yang kita tahu, kita hanya sedang bersenang-senang mandi hujan sedangkan orang lain berteduh. Banyak alasan untuk tidak berteduh, alasan kita adalah alasan konyol saat itu karena kita menginginkan basah bersama. Terlalu singkat waktu kita hanya untuk berteduh, kita kuyup, tapi kita bahagia, bukan?

“Aku heran, mengapa mereka takut hujan?” katamu mencibir orang-orang yang berteduh seperti sekumpulan kambing.

“Mereka barangkali memilih diam dan menyerah ketimbang harus melakukan tindakan berisiko”

Lalu kita kembali melaju dengan sepeda motor yang berjalan pelan, seakan-akan kita adalah magnet bagi rintik hujan. Jalanan sepi, orang-orang yang berteduh menatap kita aneh. Tapi peduli setan, cinta memang aneh, bukan?

Kau ingat itu, ya aku ingat. Ingatan indah masa lalu memang selalu menyakitkan ketimbang kenyataan pahit yang kita jalani saat ini. Kita membangun persepsi tentang dunia kita yang dipenuhi oleh kata-kata, sentuhan, dan nafas yang tersengal. Sampai kita lupa saling bertanya: kira-kira bagaimana cinta kita akan berakhir?

Agustus 2019

Kau telah menikah, setelah setahun bertunangan. Kau jangan takut, dan pastinya akan berbahagia dengannya. Kalian akan bertengkar kecil-kecilan seperti kita dahulu, dan sebagaimana pecinta lainnya. Kalian menjadi suami istri yang ideal, tentu saja semua butuh proses panjang dan melelahkan.

Hujan turun deras. Aku benar-benar heran, padahal langit sangat panas siang tadi, menjelang sore hujan deras tiada ampun mengguyur bumi. Kau tahu, aku akan menyeduh teh, dan menikmati hujan dengan damai. ***

 

Zulfikar R H Pohan, ketua Sanggar Daun Mekaum (SDM) Banda Aceh.

Arsip Cerpen di Indonesia