Puisi-puisi Raudal Tanjung Banua (Koran Tempo, 31 Maret-01 April 2018)

Ikan-Ikan dalam Lubuk
Jika air seperti waktu
Maka kami hidup berlimpah waktu
Karena sebagai ikan-ikan dalam lubuk
Air memutar kami dan kami memusari air
Tapi bertahun-tahun hidup di lubuk
batu, kami tak pernah bisa
ke hilir atau ke hulu
Hidup kami berputar sealur arus
Di selingkung dinding buta
Tubuh dan pandangan kami tertumbuk
Kekal, hingga berlumut sisik dan sirip
Mengapa tak menyelam?
Kadang kami dengar sengau akar pohon
Di celah batu retak
Kami pun menyelam ke dasar yang gelap
Dan hari kehari makin terasa
Segalanya mengeras dangkal
Air baru seperti waktu jika mengalir,
Bisik pohon sambil menjatuhkan
Daun-daunnya yang kuning
Dan mengembun daun yang hijau
Kami ingin ke luar dari liang batu pertapaan
Atau kutukan ini, apakah bedanya?
Satu persatu kami menghilang
Jadi santapan hantu siluman
Toh sepotong langit di atas sana
Bergeming, menguntit tanpa cakrawala
Luasnya tak lebih setampah
Karena tercipta dari mulut lubuk kami sendiri
yang menganga sejak semula
menadah takdirnya
“Ayo mulai!”
“Kita harus ke luar!”
“Takdir kita bukan di sini!”
Kami sudah tak tahan
Kepanasan dalam deru gemuruh jeram
Maka suatu malam, di bawah sinar bulan
Kami berlompatan ke aliran air
yang bergelora. Sisik kami berkilau keperakan
Karena dasar yang gelap, geriap dinding buta
telah kami tinggalkan.
Kami terbanting, hanyut mengikut
anak-anak sungai, galur-galur air
bandar galian, panjang tak berujung
Dihempang duri, jala dan lumpur
diintai mata-mata kail
Tapi kami tak mungkin berbalik pulang,
Ke lubuk batu limpahan waktu
yang terbuang karena bujuk-rayu
nyanyian katak-katak bengkong
(Konon bertahun-tahun kemudian
Lubuk batu itu menjelma jadi lubuk hantu
Berdenyut sepi sepanjang malam
Seorang pemasang bubu yang tersesat
Mendapati tengkorak kepala ikan
Terperangkap dalam bilah-bilah bambu tangkapannya.
Maka berkisahlah ia
Bersaksi, sebagaimana kusalin
dalam puisi yang sedang kau baca ini)
2007/2018
Perginya Seorang Pelaut Muda
1
kucintai laut
karena merdeka
2
kemudian ia nyalakan lentera
kemudian ia pejamkan mata
(sampan bocor tak mungkin ditimba)
3
di ambin, perempuan membuka sanggul
selimut bayi di susuan
4
kucemburui laut
karena buta
5
di teluk, sampan-sampan terantuk
induk semang pulang mengantuk
6
saya cintai kau
karena berduka
7
semua yang di pantai pandai berbisik
sebab angin tak dapat dilihat
8
bayi itu sehat
dan tumbuh sekuat dayung
9
kucintai engkau karena seperti ayahmu
rakus menyusu
10
seorang anak menjelma
pulau hijau di laut biru
11
berita tiba-tiba (tapi sudah diduga):
induk semang mati tamasya
tercekik akar liar dekat laguna
12
kulunaskan sudah
karena kucintai laut dan kubenci
13
selamat tinggal: sampan bocor ayah,
jendela yang diketuk, batuk-batuk ibu
(muslihat-muslihat itu)
2018
Raudal Tanjung Banua, lahir di Lansano, Pesisir Selatan, Sumatera Barat, 19 Januari 1975. Menetap di Yogyakarta, mengelola Komunitas Rumahlebah dan Akar Indonesia. Buku puisinya Gugusan Mata Ibu dan Api Bawah Tanah.