Anak Bawang dan Bola Kaki

DALAM kesejukan subuh, Mamak sudah ada di dapur. Menghadap ke meja kayu tua yang dilapisi plastik bersih licin berkilau diterpa sinar lampu kuning.

Mamak sedang menghajar adonan-adonan tepung terigu di singgasana pagi, membuat roti goreng untuk jualanku di depan pagar sekolah. Bunyi gemerincing minyak panas tercelup adonan roti menjadi tanda aku harus segera bangun dan bersiap-siap. “Selagi masih panas mengepul!” Begitu kata Mamak selalu.

“A Ming, jangan lupa! Seratus rupiah itu kalau dua roti goreng, kalau satu saja, berarti hanya lima puluh rupiah!” Mamak masih sempat menjerit dari dalam ketika aku sudah siap membalik badan keluar dari pintu rumah. Di tangan kananku siaga keranjang plastik hijau, ada puluhan roti goreng panas dengan wangi minyak kelapa yang manis. Badanku sedikit condong ke kanan, berat.

“Iya Mak, diulang-ulang terus kalau Mamak bicara!” keluhku sedikit jengkel. Mamak selalu meremehkan kemampuanku berhitung. Padahal aku sudah cukup mahir, Mas Yono tetangga samping rumah setiap sore mengajarku berhitung dan membaca. Dengan langkah digagah-gagahkan aku melangkah keluar pintu. “Mak, aku pergi!”

“A Ming! Ingat! Kalau lima roti goreng itu sama dengan dua ratus lima puluh rupiah!” Mamak masih juga menjerit hal yang sama dari dalam. Aku hanya menggeram jengkel, menutup pintu rumah. Aduh Mamak… betul-betul aku dipandang bodoh oleh Mamak.

***

Aku duduk di bawah pohon yang paling dekat dengan gerbang sekolah. Aku berhitung dengan lincah, kalau roti goreng ini semua habis terjual, pasti Mamak tidak akan keberatan untuk menyisihkan seratus rupiah ke dalam celenganku.

A Cung punya bola plastik berwarna biru, dan susah sekali untuk meminjamnya. Mau ikut bermain bersama, A Cung juga selalu menolak. Katanya aku terlalu pendek, terlalu kecil, sekali hadang saja aku jatuh. Sambil tertawa-tawa A Cung memanggilku anak bawang. Terkekeh aku membayangkan, kalau aku akan punya bola kaki sendiri. Sudah kutanya harganya di toko mainan depan gang, lima ratus rupiah. Sebentar lagi… anak bawang punya bola kaki! Aku akan pamer ala Marco van Basten!

Sisa dua belas roti! Aku kembali menutup keranjang dengan kain perlak bersih kotak-kotak bergaris merah. Mamak selalu berpesan, kalau jualan harus bersih. Kasihan yang makan kalau kena debu. Rencengan uang logam di dalam kantong celanaku juga semakin berat. Aku tidak pernah salah hitung! Jangan pernah meremehkan A Ming alias Mintono!

Pintu gerbang sudah ditutup, lonceng juga sudah dibunyikan oleh Pak Bujang, pelajaran sudah dimulai. Aku harus cepat pergi dari sini, dalam perjalanan pulang lewat pantai Losari, biasanya jualanku akan habis. Dipanggil oleh ibu-ibu di jalan atau oleh tukang becak.

Aku sudah berjalan cukup jauh, ketika tiba-tiba, di depanku berdiri beberapa anak besar berseragam abu-abu. Pasti anak SMA yang bolos memanjat tembok samping sekolah. Aku seperti sudah menendang A Cung dengan bola kaki baruku, pasti akan habis roti goreng ini. Aku bisa cepat kembali ke Mamak dan mengisi ulang keranjang dengan roti goreng yang masih panas. Kereta kedua, hehe…

Yang paling gagah di antara mereka, dengan kancing baju terbuka sampai ke dada, dengan gayanya yang paling asyik, seperti Ryan Hidayat, membuka tutup keranjang, menyingkirkan perlak, “Ayo tancap! Bos yang bayar!”

Tersenyum-senyum aku dibuatnya. Tandas! Sisa sehelai koran berminyak di dasar keranjang. “Dua belas roti kali lima puluh rupiah, semuanya enam ratus rupiah.” Senyumku merekah, ramah kepada bos.

Bos menaruh uang seribu rupiah di telapak tanganku. Terkagum-kagum aku menatap birunya uang itu. Aku berhitung cepat, terbayang wajah Mas Yono yang tegas. “Kembali empat ratus rupiah,” aku segera merogoh ke kantong celanaku yang dijahit khusus oleh Mamak. Kantong yang dalam, supaya uang jualanku aman di dalam.

Tangan bos kembali terulur, menyentuh pundakku dengan lembut. “Kembaliannya, buat kamu saja dik.” Senyumnya penuh kasih.

Aku terpana, melongo, mungkin hampir menangis. “Terima kasih kak,” kataku pelan, uang kertas yang terlipat dua dengan hati-hati segera kumasukkan ke dalam kantong.

Bos dan teman-temannya melambai, berjalan menjauh dengan mulut masih mengunyah roti goreng enak buatan Mamak. Aku masih berdiri di tempatku, empat ratus rupiah tambah seratus rupiah komisi dari Mamak, itu artinya sama dengan bola kaki idamanku!

Aku berlari pulang, melayang-layang. Di atas meja dapur Mamak, kupamerkan keranjang kosongku dan semua uang hasil jualan. Terutama uang seribu rupiah itu, juga pesan bahwa aku berhak atas kembaliannya.

Mamak tersenyum senang, sambil membuka lipatan uang seribuan itu. Wajah Mamak sekejap saja berubah menjadi pasi, air mata Mamak jatuh berlinang-linang.

“A Ming, uangnya sobek, hanya separuh…” ***

Kota Daeng puluhan tahun yang lalu.

CAROLINE WONG. Besar di Rantepao, Tanah Toraja. Sarjana Perhotelan dari UK Petra Surabaya. Mencintai pagi di lengkungan pantai.

Arsip Cerpen di Indonesia