Kacang Merah Panggang dan Fettuccine Alfredo Pagi Ini

SETIAP menginap di hotel bintang lima, Emel akan mencari sarapan yang sama. Kacang merah panggang dan fettuccine alfredo.

Ia tidak ingat sejak kapan kebiasaan itu bermula. Yang ia ingat hanyalah bahwa pada satu masa dalam hidupnya pernah ada tangan seorang yang tidak dikenalnya, yang menariknya dari kengerian frustrasi yang dalam, mengeringkan air matanya, mendudukkannya di kursi pada satu pagi dengan dua jenis makanan itu di mejanya, yang diakui orang itu memiliki magi hadirkan suasana bahagia masa kecil, dan lupakan duka lara tanpa harapan sekalipun.

Sejak itu dia selalu bermimpi menolong seorang yang tidak dikenalnya agar beban utang budi kemanusiaannya sedikit berkurang.

Lalu, tibalah musim pandemi. Dunia diperkenalkan dengan keberadaan virus tak kasatmata, tapi berkuasa. Dalam hitungan hari sungai-sungai di Kota Wuhan, Venesia menjadi jernih. London dan New York seperti kota mati. Orang Jakarta dapat melihat langit biru.

Lantas, pemerintah mengumumkan cuci tangan lebih sering. Tinggal di rumah saja agar tak berpapasan virus di jalan. Menjaga jarak fisik dengan keluarga bahkan pacar.

Pengumuman itu membuat pembantu rumah tangganya mendadak ingin pulang kampung. Ia ingin berada di tengah keluarganya pada masa krisis ini.

Tak sanggup mengurus perut sendiri, tak mau bolak-balik ke minimarket dan memasak, ia pun hijrah ke hotel yang dekat apartemennya, memboyong peralatan yang diperlukan, dan bekerja dari sana. Kamarnya berukuran 4 meter x 6 meter. Hotel itu menyediakan sarapan, makan siang dan makan malam. Namun, ia tidak berharap kacang merah panggang dan fettuccine alfredo untuk sarapan. Ini darurat.

Bulan pertama tamu hotel cukup ramai. Tempat makan mengatakan itu. Wajah-wajah kaukasoid, oriental, Arab, India. Mungkin mereka jurnalis jarak jauh yang tidak mudik karena alasan situasi pandemi.

Bulan kedua tamu lebih berkurang, dan bulan ketiga manajemen memberitahu hotel akan tutup sementara. Emel belum berpikir apa-apa ketika orang yang sama mengumumkan satu guest house yang buka di sekitar hotel. Tanpa bertanya ia pindah ke sana. Kacang merah panggang dan fettuccine alfredo makin jauh dari harapan.

Hari pertama sarapan di guest house ia mendapati tiga wajah yang menghuni hotel yang sama dengannya. Seorang perempuan bule, laki-laki berwajah oriental, dan seorang kreol—dari Prancis kalau ia tak salah duga—yang seluruh tubuhnya tampaknya berbulu, kecuali sekitar mata, telapak tangan, dan kaki.

Seminggu, pada satu sarapan pagi, hanya tersisa dia dan si kreol di ruang makan. Hari berikutnya, dia duduk di tempat biasanya ketika si kreol berdiri di depan mejanya dengan wajah tercukur rapi yang menampakkan pipinya yang pucat.

“Hai,” sapanya. Tangan kanannya memegang piring besar, tangan kirinya cangkir kopi. Emel tahu maksud si kreol dan merasa enggan, tetapi dia berusaha bersikap sopan.

“Hai,” jawabnya.

“Boleh saya…,” si kreol menunjuk kursi di depan Emel dengan dagunya.

Sekali lagi ia merasa enggan, tetapi dia berpikir bersikap enggan di masa pandemi bukan sikap yang terpuji. Di masa ini setiap orang perlu teman sehingga dia tidak akan mati sendiri tanpa diketahui.

Maka ia pun mengangguk, yang disambar si kreol dengan menaruh dua benda di tangannya di meja, lalu menarik kursi ke belakang, dan berkata, “Chris,” setelah pantatnya menclok di kursi.

Lagi-lagi untuk alasan yang sama, ia menjawab dengan bibir hampir terkatup, “Emel.” Si kreol mengulangi perkataannya, berkata, “Imel”, dan Emel tidak mengoreksinya.

Si kreol memperkenalkan diri sebagai jurnalis politik yang bekerja untuk beberapa media di negeri ‘Paman Sam’, tiga tahun di Jakarta, memutuskan tinggal ketika beberapa rekan pulang kampung di awal pandemi. Ia seorang Yahudi, lahir dan besar di New York, punya tiga anak dan sudah hidup berpisah dengan istri selama ini. Ia hanya punya kesempatan menelepon tiga anak mereka tiap Minggu, Rabu, dan Jumat malam.

“Tak ada alasan bagiku untuk pulang,” katanya tertawa.

Emel menaikkan alisnya, membatin, kenapa kamu ceritakan semua seperti mengaku dosa?

Sarapan berlalu tanpa Emel mengatakan sesuatu tentang dirinya. Di kamarnya, ia mengirim e-mail ke temannya di Manila, berkisah apa yang terjadi saat ia sarapan tadi. Kawannya menjawab, meramal bahwa pada hari ketujuh mereka sarapan bersama, si kreol akan mengajak Emel untuk tidur bersama. Lalu, Emel tertawa.

Tiap kali mereka di meja makan, si kreol mengisi kepala Emel dengan konten apa saja tentang dunia sekelilingnya. Tentang kawan, atasan, anggota keluarga, yang meninggal karena covid-19.

Pada sarapan ke sekian, Emel merasa nyaman untuk berbagi cerita mati yang diberitakan di grup-grup Whatsapp di ponselnya. Karena seringnya, tak lagi ada air mata mengintai di ujung-ujung mata dan hati kian terasa datar dan biasa.

Hari ketujuh berlalu. Ramalan kawannya di Manila tentang si kreol, gugur.

Lalu, terjadilah pemerintah mengumumkan membeludaknya kasus positif. Orang-orang sakit bermunculan seperti jamur di musim hujan, memadati rumah sakit, tak menyisakan kamar bagi pasien baru yang bergelimpangan di lorong-lorong dan halaman-halaman rumah sakit, tak terlayani.

Orang-orang bermatian seratus, dua ratus, lima ratus, seribu, dalam sehari. Orang-orang tak sempat lagi bercerita cerita-cerita mereka yang mati. Lagi pula mereka sudah mati. Bukankah cerita orang hidup lebih penting daripada yang mati?

Lalu, Emel bercerita tentang pekerjaannya di perusahaan IT di Italia. Seandainya pandemi tak menghadang dia akan sudah berada di Cile sekarang. Ia putus dari tunangannya yang bekerja di kota berbeda karena terlalu memaksakan pernikahan di masa pandemi.

Si kreol bercerita istrinya sedang menjalin hubungan dengan seorang laki-laki dan hatinya tak dapat merasakan apa-apa mendengarnya. Sambil tertawa dia mengeluh bahwa hatinya sudah terkena covid-19 lebih dulu.

Berdua mereka mengeluh, marah, kecewa, dan semua perasaan menjadi satu sampai pada satu pagi selepas sarapan, si kreol dengan wajah yang tidak bisa dijelaskan di sini bertanya ke depan wajah Emel, “Kamu mau tidur denganku?”

Emel membeku di kursinya. Bukan hari ketujuh, tetapi hari kesembilan puluh, batinnya seolah-olah berkata kepada temannya di Manila.

Emel masih membatu ketika si kreol mendorong kursinya ke belakang, berkata entah apa dan meninggalkan Emel sendirian di kursinya.

Di kamarnya, Emel tercenung. Suara si kreol berdengung di dalam kepalanya. Sepanjang hari dia merenungkan pertanyaan itu. Dia tak melapor kepada kawannya di Manila. Dia tidak marah kepada si kreol. Tidak merasa terhina. Dia merasa heran karena sepertinya dia pun telah mati rasa.

Esok pagi di meja makan, kursi si kreol kosong. Mungkin dia sarapan di luar atau pada jam berbeda daripada jam biasa, pikir Emel. Dia kembali ke kamar dengan hati kosong tanpa satu cerita pun.

Esoknya dan esoknya lagi, kursi si kreol masih kosong sampai pegawai guest house memberitahu Emel bahwa dua kemarin si kreol ke luar seharian dan pulang tengah malam, dan sejak itu belum keluar kamar.

Emel mendengarkan dan sesuatu di kepalanya berputar-putar. Dia keluar dari kursinya dan mengajak pegawai itu ikut dengannya, ke kamar si kreol.

Ia menggedor pintu kamar. Tak ada jawaban. Menggedor lebih keras dan memanggil nama si kreol beberapa kali. Sepi. Tak terdengar gerakan dari dalam. Lalu tangannya menampar pintu dengan sekuat emosinya.

Lalu keajaiban terjadi. Gerendel pintu diputar. Pintu terbuka. Wajah si kreol muncul di pintu. Matanya kuyu, tangannya menahan pintu, berkata, “Aku sakit. Pergilah.” “Kamu sakit,” ulang Emel sambil mendorong pintu.

Si kreol berjalan masuk dan menjatuhkan dirinya ke kasur. Kacau di dalam kamar seperti perang dingin antarbarang. Buku, kacamata, dompet, benda-benda kecil di atas meja saling menatap benci. Pakaian, celana panjang, handuk, kain-kain yang tak bernama berkelahi di atas kasur dan lantai. Kondisi yang sangat berbahaya.

Tak sadar Emel menutup mulutnya yang bermasker. Ia menyentuh lengan si kreol dan terkejut karena panasnya. Ia menatap mata si pegawai, yang sedang menatapnya dengan sinar gundah yang tak dijelaskan, memintanya untuk menyiapkan satu kamar bersih untuk si kreol. Pegawai itu mengangguk sekali, dan berlalu.

“Kamu demam. Sejak kapan?”

Si kreol menjawab dia sudah menelan beberapa tablet antipiretik semalam dan pagi. Seharian dia bersin-bersin, batuk, sesak napas, badan nyeri, dan lupa makan. Emel kesal mendengar jawaban kekanak-kanakan dan tidak bertanggung jawab seperti ini dari seorang dewasa.

Pegawai muncul. Si kreol dibimbing untuk pindah ke kamar bersih, sementara kamarnya disemprot disinfektan. Emel mencari pakaian baru dan pasukannya untuk si kreol yang mungkin selama ini tidak mandi. Ia sediakan sarapan dan air putih panas setelah memerintahkan pegawai untuk merebus jahe, daun salam, dan temulawak.

Dengan kepala dingin ia mengosongkan kamarnya dari botol-botol tablet beragam vitamin dan suplemen, dipindahkan ke kamar si kreol. Ia menghubungi dokter, mengukur suhu tubuh, mencatat, membeli masker tambahan dan oksigen, menunggu si kreol berjemur di lantai atas, membeli buah-buahan, mengatur menu makan tiga kali sehari. Ia mengecek kondisi kamar dan kamar mandi di kamar si kreol yang dibersihkan pegawai.

Selama 10 hari Emel mendapat kerja ekstra yang dia lakukan dengan kesungguhan dan ketelitian. Pada pagi kesebelas, dia mengetuk pintu kamar si kreol dan tidak mendengar jawaban. Ia menemukan orang yang dicarinya di ruang makan, sedang menunggunya.

“Terima kasih,” ucap si kreol menyambut Emel yang sudah duduk di seberang mejanya, sambil menyentuh lengan Emel.

Tangan Emel menutup tangan si kreol yang menyentuh lengannya, berkata bahwa itulah segala yang ingin dia lakukan kepada lima kawan koleganya, dua sepupunya, seorang pamannya, dan sahabat masa kecilnya yang pergi dalam sunyi, di musim pandemi ini.

“Maaf atas ucapanku yang dulu,” kata si kreol, yang dijawab Emel dengan senyuman.

Sejurus seorang pegawai guest house sudah berdiri di dekat mereka. Ia mengucapkan selamat pagi dengan riang lalu menaruh dua piring ke atas meja. Secepat itu Emel memandang dua jenis makanan yang tersaji di atas piring. Dalam 2 detik tangisnya merebak. ***

Ita Siregar, penulis dan tinggal di Balige. Buku terakhirnya ialah buku puisi Ia Dinamai Perempuan terbit pada Juli 2020.

Arsip Cerpen di Indonesia