Ibuk

Cerpen Windy Estiningrum (Radar Bromo, 10 Oktober 2021)

MATAHARI belum juga menampakkan wajahnya, tapi perempuan di akhir 30 tahunan itu sudah sibuk di dapur rumah kontrakannya. Rumah kecil di ujung gang yang dekat dengan emplasemen pabrik tebu.

Telur dadar yang dicampur tepung terigu sudah tersaji di piring meja makan usang pemberian kerabat saat pindahan. Sedang Bapak, suaminya sedang memindahkan nasi yang masih mengepulkan asap dari dandang ke bakul.

Saat semburat merah di langit timur, Ibuk, perempuan itu biasa disapa, mengambil kelor di samping dapurnya. Lalu, pepaya muda, dan kemangi yang dijadikan pagar dekat dapur. Dengan campuran bawang merah, bawang putih, dan kunci, sayur mayur yang dipetiknya berubah menjadi panganan enak dan menyehatkan.

Setelah nasi, sayur, dan lauk tersaji di meja makan, Ibuk membangunkan empat penghuni rumah lainnya. Si kecil yang tidur di kamar belakang dan Si Sulung serta dua sepupu lelakinya yang tidur di kamar depan.

Ya, anak Ibuk cuma dua. Si Sulung, lelaki berusia 11 tahun dan Si Bungsu, perempuan berusia 9 tahun. Sedangkan dua keponakannya, Dikhar, remaja lelaki yang baru masuk SMA dan Masyud, si gempal yang baru masuk SMP.

Bangun tidur, keempat bocah itu sudah tahu tugas masing-masing. Menyapu rumah, bersih-bersih kamar, menyapu halaman, menimba air untuk mandi dan cuci piring, atau hanya sekadar menyiapkan piring untuk sarapan penghuni rumah. Tidak ada yang iri, semua sudah jadi kesepakatan di awal.

Selesai mandi dan rapi dengan seragam masing-masing, keempatnya mulai menyantap sarapannya di ruang tamu. Duduk di sofa kuning penuh lubang yang hanya terlihat sponnya, sofa yang Ibuk beli dari pasar loak.

“Buk, besok telurku diceplok saja. Bosen didadar terus,” Si Sulung mulai protes.

“Iya, doain Ibuk dan Bapak dapat rezeki ya. Biar besok bisa makan telur ceplok,” jawab Ibuk sambil tersenyum.

Ya, telur dadar campuran tepung terigu, kubis, sawi putih, atau wortel adalah menu andalan Ibuk selain tempe dalam berbagai versi. Tempe goreng, orak-arik tempe, mendol tempe, sambel tumpang, lodeh tempe, bacem tempe, dan masih banyak lagi kreasi tempe buatan Ibuk.

Bukan Ibuk suka atau hanya bisa memasak semua itu. Tapi, tapi memang keterbatasan yang mengharuskannya berkreasi seperti itu. Tiga butir telur tidak akan cukup dibagi warga rumah, jika tidak dicampur tepung dan sayur mayur. Biar cukup mbaginya, begitu biasa Ibuk bilang.

“Makan seadanya dulu, yang penting gak ada yang telat bayar SPP. Toh semua yang Ibuk masak juga banyak gizinya,” itu selalu yang Ibuk nasihatkan.

Bagi Ibuk, pendidikan itu utama, pendidikan adalah tombak masa depan. Jika pendidikanmu tinggi, maka pekerjaan tidak akan sulit untuk didapatkan. Itu filosofinya.

***

Setiap siang, hanya ada Ibuk dan dua anaknya di rumah. Si Sulung kelas 6 dan Si Bungsu kelas 4. Ibuk adalah guru TK di sekolah yayasan milik PG. Sedang penghuni lainnya akan datang menjelang sore. Bahkan, bapak akan pulang jika malam sudah menjemput.

“Buk, kenapa Dikhar dan Masyud ikut kita? Kan ibuk sama bapaknya masih ada?” tanya Si Bungsu saat akan tidur siang bertiga di kamar belakang.

“Kalau Dikhar, dia di sini karena ibu sama bapaknya gak punya uang buat sekolahnya. Kasihan kan kalau Dikhar gak sekolah,” jawab Ibuk sambil menatap manik Si Bungsu. Si Bungsu hanya bisa mengangguk seolah mengerti apa yang dikatakan ibunya.

“Kalau Masyud, biar bisa deket dengan sekolahnya. Kan rumahnya Masyud jauh dari sekolahnya,” Si Bungsu kembali mengangguk mendengarkan penjelasan sang ibu.

“Buk, tadi temenku ada yang bawa mainan baru di sekolah. Bagus,” Si Sulung bercerita.

“Mas pengen?” tanya Ibuk menatap Si Sulung.

“Pengen,” jawab Si Sulung.

“Ibuk gak janji beli mainan itu sekarang. Tapi kalau Ibuk dan Bapak punya rezeki, nanti kita beli mainan yang mas sukai,” ibu melingkarkan tangannya di belakang tubuh dua anaknya, Si Bungsu di tangan kiri dan Si Sulung di tangan kanan.

“Gak usah, Mas bisa pinjam mainannya teman mas. Uangnya Ibuk buat bayar sekolahnya Dikhar, aku, sama adik aja. Sama buat beli telur. Mas pengen makan telur ceplok.”

Mendengar jawaban anak sulungnya, ibuk terharu. Air matanya menetes, direngkuhnya dua anak kecil itu dalam dekapannya.

***

Tahun telah berganti, rumah kontrakan di ujung gang sudah ditinggalkan. Keluarga kecil itu menghuni rumah baru di depan gang. Rumahnya tetap ngontrak, tapi lebih besar dan lebih layak huni. Rumah minimalis modern dengan dapur dan kamar mandi di dalam. Dengan air yang menggunakan pompa listrik untuk mengisi bak mandinya.

Si Sulung dan Bungsu sudah berseragam putih abu-abu. Ibuk tetaplah Ibuk. Perempuan yang tak pernah lelah untuk memperjuangkan anak-anaknya. Perempuan yang rela banting tulang siang dan malam agar anaknya terus bisa sekolah.

Di rumah kontrakan baru ini pun keluarga Ibuk dan Bapak tidak tinggal berempat dengan Si Sulung dan Si Bungsu. Di antara mereka ada adik lelaki Bapak yang ikut tinggal. Om Yon namanya.

Lelaki yang keluarganya harus kandas, karena badai perceraian itu ikut tinggal bersama Bapak. Tak ada keberatan dari Ibuk saat Bapak mengutarakan niatnya untuk menampung sementara Om Yon di rumah kontrakan kecil itu.

Ibúk percaya, Tuhan Mahakaya. Dia punya cara sendiri untuk mencukupkan, hingga melebihkan rezeki hamba-Nya. Jangan takut miskin. Sebab tidak ada orang miskin, karena menolong saudaranya. Itu prinsip yang dipegang oleh Ibúk. Ibúk percaya akan selalu ada rezeki yang datang saat kita menolong orang lain.

Nyatanya, rumah kecil Ibúk tidak hanya pernah disinggahi Om Yon saja. Selepas Om Yon menikah lagi dan tinggal bersama istri barunya, masih ada adik-adik Bapak yang lain yang beberapa saat tinggal bersama keluarga kecil itu.

Tapi, tak pernah ada keberatan sedikitpun di hati Ibúk menampung keluarga Bapak. Sebab, ibu telah mematrikan hati, keluarga Bapak adalah keluarganya. Maka, kewajiban Ibúk untuk menolong keluarga yang membutuhkan.

Jiwa sosial Ibuk tumbuh subur di hati Si Sulung dan Si Bungsu. Kepercayaan jika akan selalu ada rezeki untuk menolong saudara selalu tersimpan di hati anak-anak Ibuk.

Tidak ada yang pernah mengeluh karena harus berbagi ruang pribadi dengan saudara-saudaranya. Tidak ada yang pernah mengeluh walau harus makan seadanya. Sebab, mereka tahu, apa yang mereka keluarkan akan dapat balasan berlipat dari sang pemberi kehidupan. ***

.

Probolinggo, 7 Juli 2021

.

.

Arsip Cerpen di Indonesia